Tentang Seseorang

Ini tentang seseorang yang selalu ada. Seseorang yang selalu memasang telinga, yang menjadi pendengar paling sabar di setiap cerita. Baik suka maupun duka.

Kepada seseorang yang kuceritakan, ini adalah tulisan apresiasi untuk kamu yang telah berhasil kutemukan, setelah dahulu bergumam dalam pencarian.

Kepada seseorang yang kuceritakan, sebenarnya masih ada delapan soal biologi yang belum dan harus kuselesaikan. Tapi sejak mengerjakannya tadi, aku malah lebih ingin menuliskan ini, dibanding harus susah-susah mencari jawaban.

Kepada seseorang yang kuceritakan, kamu patut terharu karena ini sudah jam satu malam, dan aku masih menahan punggung yang sudah meronta ingin rebahan.

Teringat dulu, aku pernah mengunggah foto yang disertai pemikiranku. Kataku, semua orang seperti telah menemukan sahabat yang tak tergantikan. Sedangkan aku masih harus beradaptasi dengan jiwa-jiwa baru di masa putih abu. Kala itu, aku masih belum menemukan definisi sahabat di sekolah baru. Yang kupunya hanya sahabat putih biru, itupun baru kutemukan 6 bulan sebelum perpisahan.

Kemudian ketika melihat sekarang, setelah apa yang terjadi beberapa bulan belakangan, aku bersyukur garis takdir kita bertemu.

Aku tak benar-benar ingat kapan kiranya kita menjadi dekat. Tapi sekali lagi, melihat apa yang terjadi padaku di tahun kedua, aku bersyukur kamu ada. Aku tak benar-benar ingat atas alasan apa aku percaya untuk menceritakan semuanya padamu kali pertama. Yang kutahu, aku bersyukur telah bercerita.

Kuingat dulu kamu duduk di tembok pembatas di depan kelas, menunggu giliran seleksi ESDC. Satu hal yang tak kusesali, sikap SKSDku padamu saat itu. Kemudian kita dipertemukan lagi pada seksi bidang yang sama, dalam organisasi yang menjadi sejarah di hidup kita.

Sekarang kamu menjelma menjadi sosok paling mengerti, yang selalu memasang telinga tak peduli sepanjang apa aku bercerita. Sosok paling setia dan menerima. Sosok yang masih bertahan disaat semua orang pergi meninggalkan. Sosok yang menguatkan saat aku dijatuhkan. Sosok yang menemani saat jalanku terseok-seok seorang diri.

Kita berteman sejak kelas sepuluh. Baru satu tahun dan kupikir ini masih terlalu dini untuk memujamu seperti ini. Namun, yang kusyukuri tak ingin kulewati.

Di antara masalah-masalah yang kuhadapi, Tuhan masih baik dengan menjadikanmu sahabatku. Untuk itu, kubuatlah tulisan ini untukmu. Tulisan apresiasi yang disertai harapan agar persahabatan ini kekal hingga kelak. Tak peduli perbedaan besar yang tak dapat dielak.

Atas sikapmu yang tak pernah menghakimiku, atas waktumu yang terbuang untukku, atas eskrim, teh kotak, roti, kako, mango juice, dan mango float yang pernah kau beri secara cuma-cuma, atas lembaran tisu yang menjadi sampah setelah basah, atas pengertian yang kau berikan, atas pembelaan yang kau lakukan, atas materi yang kau ajarkan, atas obrolan larut malam yang baru saja kita habiskan, atas semua tumpanganmu untukku (untuk adikku), atas keberadaanmu saat aku di kantor polisi, atas senyum dan pelukan yang kau berikan, atas shopping time yang berkesan, atas semua yang tak tersebutkan, tanpa letih kuucapkan terima kasih.

Cang Nai Fang, semoga ini cukup manis untuk dikenang.

Semoga aku tidak membuat kesalahan 

dan semoga tidak ada yang membuat suasana jadi tidak nyaman. 

Cang Nai Fang, semoga kamu senang selalu kurepotkan. 

 

27 November 2018, pukul 1:52 malam. 

 

 

 

Advertisements

About My Journey

Seorang teman mengusulkan agar aku menulis tentang pengalamanku di dunia ini. Dunia tulis menulis. Aku akan menuliskannya ala-ala QnA di majalah gitu-gitu, deh, haha.

  • Kapan pertama kali menulis?

Well, aku pertama kali menulis cerita sejak kelas 1 atau 2 SD. Sekitar tahun 2009. Waktu itu, aku sedang semangat-semangatnya berimajinasi. Aku membuat serial Barbie. Banyak sekali tokoh ciptaanku yang visualnya seperti boneka Barbie. Aku menulis banyak judul untuk banyak konflik. Tapi setiap cerita tidak pernah lebih panjang dari satu halaman. Rata-rata, sih, setengah halaman. Yang kuceritakan seperti gelang tokoh Ditta yang hilang, tokoh Catty yang baru saja punya tetangga baru, dan lain-lain. Inspirasinya dari acara televisi Suami-Suami Takut Istri, hahaha. Aku suka nonton itu waktu kecil dulu, dan menjadikannya inspirasi komplek perumahan tokoh-tokoh Barbieku.

  • Kapan hobi nulisku mulai berkembang?

Waktu kelas 6 SD, aku terpilih menjadi delegasi Konferensi Anak Indonesia 2013 yang diadakan oleh Majalah Bobo. Seleksinya melalui karya tulis tentang Makanan Sehat Untukku. Aku menulis tentang Soto Banjar dan Ubi Ungu. Sepulangnya dari karantina di Jakarta, aku jadi kenal banyak teman-teman. Selain itu, aku juga aktif di sosial media facebook dan berkomunikasi dengan penulis-penulis cilik. Saat SD dulu, aku suka sekali membaca seri Kecil Kecil Punya Karya. Rata-rata penulisnya menggunakan facebook. Dari sana, aku belajar banyak dari teman-teman lain dan mendapatkan informasi lomba-lomba menulis.

Kemudian saat SMP, aku sering mewakili sekolahku untuk lomba menulis cerpen dan alhamdulillahnya selalu mendapat juara. Pernah menyabet juara harapan 2 se-kota Banjarmasin di Gerakan Literasi Menulis tahun 2015, kemudian juara 1 di perlombaan yang sama tahun 2016, menjadi pemenang ketiga tingkat kota Banjarmasin di FLS2N bidang Cipta Cerpen tahun 2016, juara 2 lomba menulis surat untuk walikota, jadi pengisi talkshow tentang menulis di acara Roadshow KKPK Goes To Korea di SD Muhammadiyah 8-10 akhir 2017 lalu, dan dua kali menjadi perwakilan provinsi untuk perlombaan tingkat nasional.

  • Pernah nerbitin buku? 

Aku punya tiga buah buku antologi. Belum ada buku solo, sih. Enggak punya waktu dan motivasi untuk mengerjakannya, hehe. Doakan saja. Buku pertamaku tidak dijual di toko buku manapun, karena merupakan antologi karya tulis yang hanya dimiliki delegasi KONFA2013. Buku keduaku, Tersesat di Kota Orang (Kecil-Kecil Punya Karya seri JuiceMe, Mizan 2015) merupakan proyek pertamaku dengan teman-teman sesama penulis yang kenal dari dunia maya. Buku ketigaku, Semua Karena Sayang (PECI Lintang Indiva, 2016) merupakan hasil dari mengikuti proyek salah satu teman penulisku. Kemudian, cerpenku juga pernah muncul di Majalah SOKA tahun 2016 lalu.

  • Suka duka saat menulis? 

Sukanya adalah ketika kita lancar sekali merealisasikan ide menjadi sebuah cerita. Enggak merasa terburu-buru adalah perasaan yang nyaman sekali. Kemudian ketika kita berhasil membuat satu karya (entah itu postingan blog, cerpen, artikel, puisi, atau opini) tentu kita merasa puas dan bangga, dong. Merasa senang sekali. Ketika tulisan kita dibaca orang lain apalagi jika itu bermanfaat untuk orang lain, duh bahagianya tiada kira.

Perasaan senang waktu berhasil mengalahkan rasa malas dan writer block. Perasaan senang ketika menang lomba. Serius. Perasaan senang ketika berhasil dalam perlombaan. Apalagi ketika lomba yang diikuti adalah event nasional, dan kita berhasil lolos seleksi melalui karya kita, duh bahagianya tiada kira.

Ada lagi, nih, perasaan senang ketika dapat komentar positif dari orang yang membaca tulisan kita. Pernah terjadi sama aku. Aku pernah dapat message dari orang yang enggak aku kenal, tapi dia kenal aku dari bukuku. Duh, seneng banget dong. Aku juga pernah diajak kenalan sama pembaca KKPK dari Banjarmasin, waktu itu jarang banget aku nemu teman seumuran yang sama-sama suka membaca di kotaku sendiri. Mungkin karena lingkup pertemananku waktu SD itu sempit kali, ya. Tapi yang jelas, orang itu sekarang jadi teman SMAku, dan kenalnya dari facebook ketika dia message aku setelah baca bukuku.

Aku juga pernah dapat message di blog dari orang yang enggak aku kenal, dia menyatakan perasaannya setelah baca blog aku. Komentar positif gitu, deh. Seneng bgt. Waktu baru masuk SMA, teman sekelasku yang baru aku kenal (orang yang beda dengan yang kenal di facebook) ternyata pernah dengar namaku sebagai penulis KKPK karena dia suka baca KKPK (padahal aku enggak punya buku KKPK selain antologi). Rasanya tentu kaget, enggak nyangka, berasa famous dan senang banget banget banget dong ya. Haha.

Terus, ketika guru SMA yang kupikir enggak tahu-menahu tentang keikutsertaanku dalam bidang tulis menulis, tiba-tiba mengontakku dan memintaku jadi perwakilan sekolah dalam lomba karya tulis. Kaget dan diam-diam senang, sih. Karena di SMA dikit banget yang tau tentang apa yang kuceritakan di sini.

Kalau dukanya enggak jauh-jauh dari writer block. Keadaan ketika kita buntu dan sama sekali enggak tahu bagaimana cara menuangkan isi pikiran. Kadang-kadang, enggak ada motivasi dan perasaan malas juga jadi musuh, sih. Tapi yang paling menorehkan sedih itu waktu aku gagal dalam perlombaan nasional 3 tahun berturut-turut sementara teman-temanku dapat berkumpul di ajang itu. Iri dan sedih banget.

  • Sering banget nyebut perlombaan nasional, apa sih yang dimaksud? 

Yang kumaksud disini Akademi Remaja Kreatif Indonesia atau ARKI (sekarang namanya jadi Festival Literasi Sekolah atau FLS), lomba nasional yang diadakan oleh penerbit Mizan. Aku merupakan alumni tahun 2015. Di ARKI, ada 3 cabang lomba yang bisa diikuti. Cipta Cerpen, Cipta Syair, dan Komik.

ARKI tentunya ajang tahunan yang sangat bergengsi dan besar. Untuk bisa menjadi akademia ARKI, kita harus mengirimkan karya terbaik sesuai tema untuk proses seleksi. Kemudian ketika lolos seleksi, kita akan mengikuti rangkaian acara selama kira-kira satu minggu di lokasi acara. Kemarin, aku di Jakarta untuk 4 hari 3 malam.

Di sana, kita dibagi jadi beberapa kelompok dan mengikuti pelatihan sesuai bidang yang kita ikuti, kemudian dilombakan kembali untuk menentukan juara yang akan diumumkan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain workshop dan lomba, ada juga talkshow, games, dan jalan-jalannya. Sangat berkesan, sih.

Waktu tahunku dulu, kami menginap di Twin Plaza Hotel Jakarta. Berkesempatan untuk mengunjungi kantor Kemendikbud, bertemu dan berfoto bersama (sempat group selfie juga) dengan bapak Anies Baswedan yang pada saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengunjungi Gramedia dengan konsep baru di Central Park Mall, belajar mendaur ulang kain bersama WWF, bertemu dengan pemateri-pemateri keren yang sukses di bidang cerpen, komik, dan syair.

Selain itu, yang tak kalah berkesan adalah kenangan bersama teman-teman di sana. Jadi kenal banyak penulis dan teman-teman keren lainnya. Snack party di lobby hotel malam pertama, tour ke lantai hotel paling atas yang menyeramkan di jam 12 malam bersama teman-teman, menginap ramai-ramai, dan masih banyak lagi.

Selain ARKI, seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku juga alumni Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2013. Di KONFA, kegiatannya juga enggak jauh berbeda dengan ARKI. Bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, belajar tentang pangan yang baik di Kebun Wisata Pasirmukti Bogor, meneliti makanan di Laboratorium MBRIO Bogor, merumuskan deklarasi di depan orangtua, Menteri, dan tamu penting lainnya, dan bersenang-senang di Botani Square juga Dufan bersama teman-teman.

Selanjutnya, event nasional yang kuikuti adalah Festival Literasi 2016 di Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka Hari Aksara Internasional. Kegiatannya adalah lomba merefleksikan cerita rakyat dalam bentuk drama, dan lomba membaca cerita rakyat. Berlangsung selama 4 hari 3 malam juga di pesisir kota Palu yang sekarang sudah hancur. Kisahku di sana sudah kuceritakan dalam postingan blogku yang berjudul Festival Literasi 2016 (bisa discroll ke bawah).

  • Kapan terakhir ikut lomba? 

Waktu ada acara Bulan Bahasa di sekolahku, aku menyabet posisi juara 1. Benar-benar enggak kusangka, sih, karena itu pertama kalinya aku menulis lagi setelah sekian lama. Tangan rasanya capek banget, apalagi kemarin terburu-buru karena mau nonton pensi. Ide juga baru dapat beberapa jam sebelum lomba dimulai. Ceritanya pun semakin mendekati ending semakin terlihat dipaksakan. Tapi, entah kenapa bisa mendapat perolehan nilai paling tinggi dari kedua juri.

Jujur, speechless waktu dapat kabar. Sedikit merasa tidak enak, sih, karena teman-teman yang ada di ruangan pada saat perlombaan tahu bahwa aku juga adalah koordinator panitia lomba cerpen tersebut. Perasaan takut muncul lagi, takut dianggap curang. Meski aku panitia merangkap peserta, yang mengambil hasil penjurian bukan aku. Aku pun tahu dari partner kerjaku dan saat tahu bahwa aku mendapat juara 1, speechless banget tapi takut juga. Haha. Senang sih. Tidak menyangka bisa jadi yang paling unggul, setidaknya di sekolahku sendiri.

  • Nanti kuliah mau ngambil Sastra Indonesia, dong? Gede nanti pengen jadi penulis ya? 

Err.., kayaknya enggak, deh. Enggak terlalu berminat di jurusan itu. Mungkin nanti Ilmu Komunikasi, atau Psikologi, atau mungkin Hubungan Internasional. Meski hobiku menulis, kurasa passionku enggak seratus persen di dunia ini. Entah, namanya juga masih mencari jati diri.

Pekerjaan penulis bukan suatu yang menjanjikan sih menurutku. Lebih ke hobi aja. Bakat, mungkin? Aku lebih tertarik kerja di redaksi majalah, atau di penerbit sebagai editor atau bahkan CEOnya hahaha.


Cukup sampai di sini saja Question n Answer ala-ala majalahnya. Semoga dari tulisanku kali ini ada yang dapat diambil manfaatnya, deh, haha.

See you in another chance!

Lots of Love, 

Salsa.

 

 

 

What Changes Me To Be Me

Sudah hampir setahun sejak postku yang berjudul How My Highschool Life Is Going. Banyak sekali yang berubah dalam satu tahun belakangan. Kelasku yang tadinya sangat kaku, kini mulai mencair dan menyatu. Pertemananku dengan teman-teman kelas lain yang sangat erat saat kelas 10 dulu, kini kian renggang. Bertegur sapa pun sudah jarang. Hubunganku juga sudah selesai. Banyak sekali yang terjadi yang turut mengubah aku menjadi seperti sekarang.

Beberapa bulan belakangan, aku mengalami gejala depresi. Entah, tapi yang jelas aku merasa sangat takut, tertekan, dan tidak bebas untuk bergerak. Aku selalu merasa diawasi, akan digunjing, dan pikiran-pikiran negatif lain memenuhi otakku.

September lalu, selama satu bulan penuh aku merasa sangat down. Aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku saat itu. Aku bukan lagi bagian dari OSIS (dimana aku merasa berorganisasi adalah passionku), aku menemukan fakta bahwa teman-teman dekat yang aku sangat nyaman bekerjasama dengan mereka hingga teman-teman yang tidak pernah punya masalah denganku ternyata tidak menyukaiku. Aku gugur dalam ajang lomba nasional, aku kehilangan kesempatan untuk bisa jadi murid pertukaran pelajar yang mana adalah impian terbesarku, dan orang penting dalam hidupku memutuskan untuk tidak bersamaku lagi.

Semua terjadi dalam satu hari. Aku merasa buruk sekali. Apalagi ketika teman yang kukenal terlihat sangat mudah mendapatkan dua hal yang hilang dariku. Apalagi ketika teman yang kukenal menggantikan posisiku. Apalagi ketika orang yang sangat kubutuhkan ternyata juga pergi meninggalkan.

Aku menjalaninya seorang diri. Aku mulai jadi pribadi yang tertutup, tetapi juga diam-diam mulai introspeksi diri. Ketika aku sudah mulai pulih, seorang teman yang lama tidak berbicara padahal kerapkali berpapasan di sekolah datang ke rumah. Ia menceritakan hal yang sayangnya membuatku kembali down. Maksudnya baik, untuk mengingatkan aku bahwa masih banyak orang-orang yang tidak suka padaku. Maksudnya baik, untuk mengutarakan hal-hal yang tidak ia suka tentangku secara langsung agar menghindari membicarakan tentangku di belakang.

Tapi dua hal yang tidak ia tahu,

Pertama, aku sangat excited menunggu kedatangannya. Dari hari-hari sebelumnya, aku sangat senang memikirkan rencana ia akan datang lagi ke rumahku setelah sekian lama. Kedua, saat itu aku sudah mulai bangkit dari keterpurukanku September lalu. Aku sudah mulai pulih dan mulai mengikhlaskan.

Darinya aku mengetahui bahwa hal-hal yang sudah berusaha kuubah masih dikomentari. Darinya aku mengetahui bahwa prosesku tidak terlihat. Darinya aku mengetahui bahwa caraku berkomunikasi mengusik seseorang. Darinya aku mengetahui bahwa hal yang kulakukan yang tidak berkaitan dengan siapapun, dianggap menyindir. Karenanya aku merasa, apa yang kulakukan selalu salah.

Hal ini berpengaruh pada emosiku. Ketika terjaga dari tidurku di malam yang sepi, aku merasa seperti monster di pikiran sedang menggerayangi. Mereka berlarian, berteriak nyaring, membuat kegaduhan di dalam otakku. Pikiran-pikiran buruk, perasaan takut, perasaan tertekan dan terbebani tak luput kehadirannya.

Aku takut untuk bercerita. Takut dianggap drama. Takut kembali digunjingkan.

Aku takut untuk bergerak, membagikan cerita. Takut ada yang salah paham. Takut dianggap salah. Takut disalahkan. Takut dianggap menyindir.

Aku sangat merasa dibenci oleh teman-temanku di sekolah. Betul-betul merasa. Aku takut untuk hal-hal yang tidak jelas. Semuanya terasa palsu.

Kemudian, terjadi beberapa hal yang menambah beban pikiranku. Berkaitan dengan aku yang selalu disalahkan. Berkaitan dengan orang penting di hidupku. Berkaitan dengan organisasi, berkaitan dengan teman ekstrakurikuler, berkaitan dengan teman yang datang kemarin. Banyak hal yang turut mendukung segala bentuk energi negatif untuk tetap ada pada diriku. Aku lelah akan semua itu.

Sangat sulit bagiku untuk mengungkapkan detail perasaan sejak kejadian itu. Bahkan untuk menuangkannya dalam tulisan pun aku masih merasa itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Bayangan tentang teman-teman yang akan menyalahkanku di hadapanku tentang apa yang kuperbuat selalu menghantui.

Hingga akhirnya aku membiarkan kalian membacanya di sini.

Inilah yang mengubahku. Inilah yang menyakitiku.

Ucapkan selamat tinggal pada aku yang dulu,

dan selamat datang untuk aku yang baru.

Selamat berjuang.

How My Highschool Life Is Going

Its been so longgggg i haven’t write. I dont know what to write! 

Baru-baru ini, nyawaku ilang lagi. Setelah akhir tahun lalu menghilangkan ponselku di Palu, tahun ini aku kembali dengan cerobohnya menghilangkan ponselku sendiri. Beneran ilang nih, enggak nyelap nyelip doang. Gak perlu dijelasin lah ya kronologisnya gimana, aku mau bahas efek yang kurasain setelah aku gak punya hp lagi.

Karena hpku ilang, hidupku sekarang bergantung pada laptop. Laptop yang dulu jarang banget kusentuh, sekarang tiap bangun tidur ampe mau tidur laptop selalu nyala. Aktif line dan instagram di laptop. Selain kedua sosmed tersebut, yang sering kubuka cuman dua, youtube dan facebook.

Kalau di hp dulu, facebook udah aku uninstall karena memorinya gak cukup. Jadi jarang buka facebook. Sekarang udah ga punya hp, balik lagi deh maenan facebook. Stalking my own timeline, looking back to how productive i was. Isi facebookku dulu jauh banget dari tautan joox biar dapet VIP gratis. Dulu, sekarang mah jangan ditanya.

Scrolling, scrolling, scrolling, jadi kangen nulis lagi. Udah lama hiatus dari nulis-nulis sejak sibuk UN pertengahan tahun tadi. Libur bulan Ramadhan, ada kejadian yang bikin aku cuman bisa ngepost blog satu kali. Kemudian masuk sekolah baru, disibukkan oleh pelajaran, OSIS, ekskul debat Bahasa Inggris, dan hp yang gak bisa lepas. Mau nulis gak ada waktu. Mau nulis gak punya ide.

Nah, berhubung sekarang lagi libur semester + natal + tahun baru, aku punya cukup banyak waktu luang untuk nulis lagi. Tapi tetep masih bingung mau mulai darimana. Jadilah nulis ini sebagai permulaan. Mumpung enggak sibuk dengan ponsel jugak. Pengennya sih produktif nulis lagi, biar bisa ngumpulin duit buat beli hp, hihihi. Akhirnya ya balik juga ke hp, karena menurutku itu memang suatu kebutuhan. Susah banget deh kalau gak megang hp. Tapi selalu ada hal positif yang bisa diambil dari suatu kejadian, kaaannn.

Ngomong-ngomong, kayaknya sekarang belum terlalu terlambat buat ngasih pendapat tentang masa-masa awal SMA, berhubung aku juga baru masuk tahun ini dan baru aja ngelewatin ujian semester satu berseragam putih abu-abu.

SMA itu jauh lebih seru daripada SMP. Dulu aku ngerasa kakak-kakak SMA itu jauh lebih dewasa. Sekarang pas udah SMA masih suka ga percaya, aku ada di posisi dewasa yang dulu kupikirkan. Eh, gimana sih? Aku juga gak ngerti gimana jelasinnya. Pokoknya seru. Aku yang dulu jaraaaang banget punya temen cowo (pokoknya dulu entah kenapa jarang ada cowok yang mau maen ama aku), sekarang ya lumayan. Mereka pada baik-baik, mau nganterin pulang kalau aku gak ada yang jemput.

Mungkin juga karena faktor zona kali ya. Dulu, SMPku jauh dari rumah. Sekarang aku sekolah di SMA favorit deket rumah, dan yang daftar disana campur-campur dari sekolah lain. Aku jadi kenal banyak teman-teman baru yang baik banget, enggak kayak teman teman di SMPku dulu. Beda jauh lah pokoknya.

Tapi untuk kategori sahabat, sampai sekarang belum ada teman SMA yang bisa kupercaya menampung segala cerita. Bahkan, teman sekelasku pun aku masih kurang nyaman. Meski aku lebih sering bergaul dengan teman-teman dari kelas lain, bukan berarti aku gak dekat dengan teman sekelasku. Aku punya geng di kelas, tapi aku belum merasa mereka sanggup kupercaya. Untuk saat ini sih mereka hanya teman dalam bersenang-senang.

Kenalanku banyak, teman dekat juga banyak. Tapi enggak yang deket banget kayak teman SMPku dulu. Mungkin belum kali, ya. Enggak tahu akan berjalan seperti apa nanti. Jadi inget kekhawatiranku dulu sebelum masuk sekolah. Khawatir enggak bisa nyari teman baru. Khawatir kalah cepat dengan orang lain dan teman-teman di SMA sudah berkubu sebelum aku berhasil mendapatkan barang seorang.

Ternyata setelah dijalani, ya gitu deh. Aku punya teman baru berbekal kepedeanku nongol di grup angkatan bahkan sebelum masa pengenalan lingkungan sekolah dimulai. Saat sudah masuk sekolah, aku enggak langsung kenalan sama random people. Awal-awal masih sama teman yang sudah kenal, kemudian kenal dengan yang lain enggak pakai jabat tangan dan tanya nama, karena lama-lama aku jadi kenal banyak orang seiring waktu berjalan.

Itu aja sih untuk hal pertemanan. Semua tergantung diri masing-masing. Pengalaman tiap orang berbeda-beda berdasarkan kepribadian dan lingkungannya, menurut Ilmu Sosiologi. Ahaha. Masalah pelajaran, relatif sih tergantung masing-masing juga. Karena aku jurusan IPA, rumus yang dihapal untuk persiapan ujian semester jadi banyak bangettt. Gitu deh.

Kalau masalah asmara, entah kenapa aku merasa diriku masih terlalu kecil untuk nulis sesuatu tentang cinta-cintaan. Gak berani juga, takut nanti akan malu sendiri membacanya ketika dewasa. Yang jelas sih, aku bukan orang yang jauh dari cerita cinta. Aku punya banyak pengalaman soal itu. Mulai dari patah hati, gagal moveon, dideketin banyak orang dalam waktu bersamaan, direbutin dua cowok, ditembak face to face, jalan bareng, ditembak pakai bunga, dan sebagainya pernah kurasakan. Sekarang pun, aku sedang berhubungan dengan cowok dari kelas Mipa 3. Pacar pertamaku di SMA. Hahaha.

Kira-kira segitu dulu aja deh gambaran masa awal SMAku. Aku gak tau mau nulis apa, dan bagaimana. Anggap aja tulisan ini sebagai pemanasan, karena otakku udah jarang dipakai, huhuhu. Mungkin nanti, aku bakal ceritain bagaimana serunya jadi OSIS dan panitia berbagai acara.

Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

PORCELINE (Short Story)

Panas sekali.

            Itu adalah yang terlintas di pikiranku saat baru saja membuka pintu mobil. Cahaya matahari pagi yang katanya menyehatkan, terasa begitu terik untukku. Baru pukul tujuh, masih ada satu jam lagi sebelum ujian dimulai.

            “Celine, mama tinggal ke pasar, ya. Kamu tunggu di depan ruangan ini saja. Nanti akan ada guru pengawas yang membimbingmu.” Kata Mama begitu kami sampai ke depan ruangan tempat aku akan melaksanakan ujian. Mama membungkukkan badannya ke arahku, “dan jangan pedulikan kata orang.” Bisiknya.

            Aku mengangguk kemudian mengambil tempat di kursi keramik di depan ruangan. Menatap mama yang berjalan meninggalkanku sendirian.

            Hari ini hari Minggu, dan aku sedang berada di sekolah. Bukan, bukan sekolahku. Tapi di tempat ini, aku dan sekumpulan anak-anak homeschool lainnya akan melaksanakan ujian nasional paket A.

            Sudah lima belas menit sejak mama meninggalkanku di depan ruangan ini. Beberapa anak yang juga akan mengikuti ujian sudah mulai berdatangan. Beberapa dari mereka terlihat bermain bersama, sepertinya mereka sudah saling kenal sebelumnya. Entahlah. Yang jelas aku di sini sendiri, dan tak beranjak dari dudukku sama sekali.

            Yang kutahu, hari ini akan ada dua ruangan yang dipakai untuk ujian. Satu ruangan berisi anak-anak homeschool dari lembaga homeschooling yang ada di kotaku. Sedangkan ruangan satunya untuk anak-anak homeschooling yang benar-benar homeschooling. Maksudku, mereka benar-benar belajar di rumah sepertiku. Tidak pergi ke lembaga tiga kali seminggu dan belajar di kelas bersama-sama. Aku homeschool mandiri, tidak terikat lembaga apapun, dan sehari-hari diajar oleh kakak sepupuku yang pernah sekolah di Australia.

            “Sekolah ini punya taman bermain, loh. Di sebelah sana. Kamu nggak mau coba?” Tiba-tiba saja, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Di hadapanku sekarang berdiri seorang anak lelaki berkaos biru muda, kurasa suara tadi berasal dari dia.

            “Hei, kamu ngomong sama aku?” tanyaku setelah cukup risih ditatap terus-terusan olehnya.

            “Iya. Kamu nggak mau coba?” ulangnya.

            “Maaf, aku enggak bisa kena sinar matahari.” Tolakku singkat. Anak lelaki tersebut mendesah pelan, kemudian dengan lunglai duduk di sebelahku. Aku menggeser dudukku dengan canggung. Di antara kami, tak ada yang memulai untuk bicara.

Sepuluh menit lagi ujian akan dilaksanakan. Anak lelaki tadi memecah keheningan, “Kita belum kenalan. Namaku Sian, dari lembaga homeschooling Tiara Kota. Kamu siapa?”

            “Celine, dari homeschooling yang tidak terikat lembaga manapun.”

            “Maksudmu mandiri?”

            Aku mengangguk. Sian kemudian mengeluarkan ponselnya, “Ketik nomor teleponmu, dong. Kita kan baru jadi teman. Biar nanti bisa komunikasi.” Katanya sembari menyodorkan smartphone berwarna hitam miliknya.

            Aku tidak langsung menyambutnya. Kupandangi ia dengan heran, lalu sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku, “Kamu.. kenapa mau jadi temanku?”

            Kali ini Sian yang menatapku heran. “Maksudmu?”

            “Iya, kamu nggak takut denganku? Dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Jelasku sedikit terisak.

Selama ini aku belum pernah punya teman. Hidupku sehari-hari dihabiskan di rumah dan kadang-kadang pergi ke supermarket untuk beli krim saat malam tiba. Meski begitu, aku punya keluarga yang harmonis dan rumah yang cukup luas. Berbagai fasilitas disediakan orangtuaku untuk membuatku betah tinggal di rumah.

Sian tergelak, “Kuntilanak beruban katamu? Selagi kakimu masih menapak di tanah, untuk apa aku takut?” ujarnya.

Aku tersinggung. Apakah kata-kataku barusan terdengar seperti candaan? Rasanya aku ingin memarahinya karena bersikap begitu menyebalkan. Tapi tidak bisa, bel sudah berbunyi dan kami harus melaksanakan ujian. Buru-buru aku masuk ke dalam ruanganku. Kami berpisah. Sian di ruangan sebelah.

                                                   ***

Sudah seminggu sejak perkenalanku dengan anak lelaki berkaos biru muda yang kutemui saat ujian nasional, kini aku dan Sian semakin dekat. Rupanya Sian tinggal tak begitu jauh dari rumahku, dan enak diajak mengobrol. Satu hal yang kusyukuri dari perkanalanku dengannya adalah aku bisa kapanpun memintanya datang ke rumah untuk menemaniku mengobrol dan Sian selalu menyanggupinya.

Kami bahkan berencana untuk melanjutkan studi bersama. Entah bagaimana caranya, dan kapan jadinya, aku masih bimbang. Seminggu ini juga Sian terus-terusan menghasutku untuk melanjutkan di sekolah umum. Setidaknya di SMP dekat rumah, katanya.
            “Ayolah, Celine. Bersekolah di sekolah umum enggak semengerikan yang kau bayangkan.” Bujuknya setelah menenggak es susu coklat buatan kak Vani. Sian sedang ada di rumahku. Dan seperti biasa, agenda rutinnya tak pernah ketinggalan. Membujuk dan menghasutku.

“Memangnya kamu pernah sekolah umum?” tanyaku. Sian meringis.

“Makanya, yuk, kita coba bareng.”

Aku menghela napas. “Kamu mau jamin aku apa kalau aku sekolah umum?”

Tanpa berpikir panjang, Sian langsung menjawab, “Kamu akan punya banyak teman di sana. Aku akan membantumu. Nanti kita bakal main bareng. Aku pastikan enggak akan ada yang membullymu.”

                                                             ***

Kemudian di sinilah aku, gadis albino yang baru saja membuka lembar kehidupan barunya dengan berdiri canggung di depan gerbang sekolah. Akhirnya, setelah berada di ambang kebimbangan yang cukup lama, keinginan Sian kukabulkan. Bersekolah dengannya di sekolah umum.

Di sebelahku, Sian berdiri dengan tegap. Ia terlihat bangga dapat mengenakan seragam putih biru. “Yuk, Celine. Kita cari kelas kita. Semoga sekelas ya.” Ajaknya.

Aku memandangnya, “Ini serius? Kita enggak bisa pulang saja?”

            Tapi terlambat, Sian tak mendengarnya. Anak lelaki itu terlalu bersemangat mencari namanya di daftar kelas 7 hingga meninggalkanku yang ingin pulang sendirian. Terpaksa aku mengejar Sian tanpa peduli dengan tatapan murid-murid lain.

            “Celine! Ke sebelah sini!” seru Sian saat aku tengah bingung mencarinya di kerumunan. Sian menarik pergelangan tanganku menjauh, “Kamu gak perlu lihat. Aku sudah dapat nama kita. Kita enggak sekelas.” Nada suaranya merendah. 

            “Maaf ya Celine. Dengan begini, aku cuma bisa menjaga kamu saat di luar kelas. Kita istirahat bareng, ya.” Ucapnya. Aku mengangguk lesu. Aku jadi takut masuk ke kelas.

            Sian menepuk bahuku. Menguatkanku.

                                                            ***

            “N-namaku Porceline Violetta. Aku dari homeschool. Salam kenal semuanya.” Ucapku dengan tergagap. Kakiku gemetar. Ini giliranku untuk memperkenalkan diri.

            Salah seorang anak mengangkat tangannya, “Kamu dari luar negeri, ya?”

            Aku terperangah, kemudian menggeleng. “Tidak. Sejak lahir aku di Indonesia, –maksudku di rumah saja.”

            “Lalu, apa sebutan untukmu kalau bukan bule?”

            Sebelum aku sempat menjawab, bu guru sudah menengahi. Beliau menjelaskan fenomena langka yang terjadi pada diriku. “Albino. Suatu kelainan genetik dimana penderita tidak memiliki pigmen melanin umumnya pada mata, rambut, dan kulit yang menyebabkan penderita tidak dapat terkena sinar matahari secara langsung. Kalian akan belajar itu di kelas 9 nanti.”

            “Bu guru, apa dia berbahaya?” ucap seorang anak menunjukku.

            “Albino tidak menular kecuali lewat keturunan. Jadi, tidak usah takut dengan Celine, ya. Dia bukan hantu. Bu guru harap kalian semua mau berteman dengannya.” Jelas wali kelasku. “Nah, Celine, sekarang kamu boleh kembali ke tempatmu.”

                                                            ***

            “Kamu sekelas dengan anak aneh itu? Siapa namanya?” aku mendengar bisik-bisik sekelompok anak di koridor. Rasanya ingin menangis saja. Aku tidak tahan ditatap terus-terusan oleh semua orang. Aku harus bertemu Sian secepatnya.

            “Seram ya, aku enggak pernah lihat manusia kayak dia sebelumnya.” Bisik sekelompok anak lain.

            “Apa bedanya sih sama bule?”

            “Kata bu guru beda.”

            Aku melangkahkan kaki lebih cepat. Setibanya aku di depan Sian, tangisku tak dapat ditahan. Buru-buru, Sian menenangkanku. “Sian! Harusnya kamu yang datang ke kelasku, dong. Aku enggak tahan mesti berjalan di tengah tatapan orang-orang!” kulampiaskan emosiku kepadanya.

            “Maaf, deh.” Raut wajahnya seperti menyesal. “Dengar, Celine. Mereka hanya belum terbiasa melihatmu. Ayo, dong, mumpung mereka belum kenal kamu, ciptakan kesan pertama yang baik. Senyum. Kalau kamu menangis begini, nanti kamu dianggap lemah. Mau?” ucapnya menyemangatiku.

            Aku tersenyum. Sian juga. “Aku kan sudah bilang aku akan membantumu mendapatkan teman. Nah, ayo ke kantin. Akan kutunjukkan caranya berteman.” Sian lalu menggiringku menuju kantin.

            Cukup lama kami mengantri, akhirnya nampan berisi dua mangkok bakso berada ditangan kami. Sian mengajakku duduk bergabung bersama tiga orang anak. Dua perempuan, dan satu laki-laki. Meja panjang itu masih menyisakan tempat untuk kami.

            “Hai, kami gabung di sini, ya?” Sian menyapa kepada tiga anak tersebut. Dapat dilihat dari raut wajahnya, mereka terkejut. Apalagi setelah melihatku. Tapi buru-buru mereka tersenyum dan mengizinkan kami untuk bergabung. 

            Sian mengulurkan tangan, “Kenalkan, aku Sian kelas 7B. Ini temanku, Celine kelas 7C.” Sian menunjukku. Satu persatu dari ketiga ‘teman semeja’ kami menyambut uluran tangannya.

            “Namaku Rahma, dan ini sepupuku, Willy. Kami kelas 7A.” Kata salah seorang anak. Kemudian, disambung oleh teman di sebelahnya, “Aku Syahra. Kita sekelas, Celine. Aku duduk di belakangmu.”

            “Benarkah? Kenapa aku baru tahu?” Aku sangat antusias mendengar Syahra adalah teman sekelasku. Itu berarti, Syahra orang pertama di kelas yang bersikap ramah kepadaku.

            “Itu karena kamu terus-terusan menunduk dan tidak memperhatikan sekitarmu.” Ucap Syahra. Seolah mengerti permasalahanku, ia melanjutkan, “Enggak usah takut. Kita semua murid baru kok. Bahkan, kami bertiga pun baru kenal tadi pagi. Iya kan, Rah? Will?”

            Saudara sepupu itu serentak mengangguk. Tak perlu waktu lama, aku mulai merasa santai dan menikmati obrolan bersama mereka. Sian dan Rahma banyak bercerita. Syahra dan aku terkadang menimpali. Sementara Willy, ia sibuk menghabiskan baksonya.

“Ngomong-ngomong, kalian kok enggak takut denganku? Padahal kan dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Tanyaku.

            Hening sesaat, kemudian Sian tergelak. “Kuntilanak beruban katamu? Selama kakimu masih menapak di tanah, untuk apa kami takut?” canda Sian. Teman-teman baruku berseru setuju. Kurasakan hangat perlahan menyusup di hatiku.

Agustus 2017.


What do you think? Cerpen di atas merupakan cerpen asli karanganku yang kukirim untuk seleksi ARKI2017, tapi enggak terpilih. Jadi aku putuskan untuk membagikannya di sini. Banyak teman yang bilang, mereka jadi inget novel karya kak Ziggy Z berjudul White Wedding. Yup, harus aku akui bahwa inspirasiku berasal dari sana. Aku menciptakan tokoh albino karena terinspirasi dari novel tersebut. Aku suka semua karya kak Ziggy, her works are totally awesome and really out of mind. Kemudian, perihal tokohnya yang homeschooling dan menjalani ujian paket A terinspirasi dari sahabatku yang kukenal dari ARKI 2015, Alifia. Anaknya kece banget, atlet panahan yang jago main musik juga. Dia homeschooling dan kemarin ikut UN SMP paket B.

Ngomong-ngomong, aku perlu tau nih pendapat kalian tentang cerpenku di atas kayak gimana. Jadi, berikan kritik dan saran kalian di kolom komentar, ya.

Dan aku harap enggak ada yang menyadur cerpenku, deh. Karena segimana jeleknya karya ini, pun, karya ini adalah hak milikku. Hehe.

Thank youuuu ❤

Friends I Can Count On

Sekarang, aku sudah kelas 1 SMA dan rasanya sangat sangat hampa. Aku punya banyak teman, tapi enggak satupun dari mereka yang kurasa sanggup mendengar segala macam permasalahanku serta menerima plus dan minus sikapku.

Akhir-akhir ini aku sering mengalami yang namanya stres. Aku enggak berani mengartikannya dengan depresi ataupun hampir depresi. Karena aku sendiri enggak betul-betul mengerti tentang depresi. Apa yang aku alami adalah, begitu banyak hal yang kupendam, yang susah untuk kuungkapkan karena tidak ada yang bisa jadi pendengar segala permasalahanku, yang mengerti dan tidak menganggap remeh apa yang terjadi pada hari-hariku.

Aku punya banyak teman untuk seru-seruan bersama. Tapi aku enggak punya teman untuk sedih dan susah bersama. Aku merasa teman-teman di kelas kurang suka denganku karena sikapku yang suka ngambek. Aku juga enggak tau kenapa sekarang aku jadi suka ngambek. Please, jangan bilang ini salahku karena tingkat kesensitifan setiap orang berbeda-beda.

Disaat aku sedang ingiiin menceritakan suatu masalah, salah satu temanku membercandaiku dan tidak mau mendengarkan apa yang sangat ingin kuceritakan. Disaat aku panik dan sangat membutuhkan bantuan, tidak ada yang peduli, mereka hanya peduli pada nilai mereka karena tugas kelompok ada di tanganku.  Aku sangat merasa mereka akan menggerutu dan membicarakanku di belakang.

Contoh yang kutulis diatas mungkin terlihat remeh, tapi bagiku kejadian aslinya tidak seremeh itu. Mengertilah bahwa untuk menuliskannya saja sangat susah. Aku berusaha menjabarkan segala yang kurasakan tapi ketika ini tentang self problem, rasanya sangat susah.

Ketahuilah, setiap orang benar-benar butuh teman. Tapi enggak semua orang cocok untuk dijadikan teman.

Apa yang kualami saat ini membawa ingatanku kembali ke masa-masa kelam kelas 7 SMP. Di kelas, ketika jam kosong, aku hanya duduk di kursiku dan membaca wattpad sementara teman-temanku berkumpul bersama gengnya di sudut-sudut kelas. Enggak ada yang mengajakku mengobrol. Begitu terus setiap hari. Aku lebih nyaman berteman dengan teman di kelas lain. Sungguh, aku enggak mau kejadian tersebut terulang walaupun enggak sama persis. Enggak lagi-lagi.

Hingga kemudian, aku mulai menemukan teman untuk seru-seruan saat kelas 8, dan mempunyai apa yang disebut middle school bestfriend di kelas 9.

Tahun terakhirku di SMP penuh dengan warna. Hampir semua tipe drama yang ada pernah terjadi padaku. Aku pernah merasakan yang namanya dijauhi teman sekelas tanpa tahu penyebabnya, pernah merasakan musuh jadi sahabat, punya orang yang disuka dan orang yang dibenci di kelas, cinta beda agama, deket sama adik kelas, deket sama teman sekelas, gebetan deketin teman sendiri, dan bahkan patah hati pertamaku kurasakan saat kelas 9.

First love and middle school bestfriend kutemukan saat kelas sembilan. Forget about that guy who might be my first love, here in this post i just wanna talk about some of my friends who’s always there for me unconditionally and truly understand me.

This slideshow requires JavaScript.

I enjoy every moment with them. Mereka di atas adalah sahabat-sahabat yang mengisi hari-hariku di tahun terakhir SMP. Tempat dimana aku bisa dengan bebas mencurahkan segala isi hati, menangis tanpa malu. Mereka adalah orang-orang yang tahu keseluruhan lika-liku kisah cinta masa SMPku. Mereka adalah orang-orang yang ada untukku, sangat mengerti, dan sampai hari ini menjadi tempatku berkeluh kesah. Friends i can count on. Kind of friend i havent found in high school. Memories with them will never be forgotten. 

I couldnt express how much i love them in words. Million words wont be enough to tell. So i hope those pictures above shows you gold memories i have with them. 

 

Some Random Tips From Me

Haii udah lama banget ya sejak aku terakhir kali nulis di sini.

Nah, kali ini aku datang membawa tips ala-ala untuk kalian semua. Berhubung beberapa temanku nanyain aku gimana sih caranya buat lolos ARKI, gimana sih caranya agar cerita kita memenuhi kehendak juri, gimana sih caranya biar terpilih, dan semacamnya, aku terpikir untuk menuliskannya di blog. Biar keren kayak teman-teman penulis lainnya gitu, haha.

Well, aku sendiri juga sebenarnya enggak merasa pantas untuk memberi tips seperti ini. Belum cukup hebat untuk itu. Lolos ARKI2015 kemarin juga bagiku hanya hoki, karena aku gagal di tahun berikutnya. Tapi, yaudah lah ya, kita sharing aja. Aku nggak akan memberi judul postingan ini Tips Lolos ARKI, enggak. Karena kalau nanti aku sendiri enggak lolos lagi kan malu, whahaha.

Jadi, ini beberapa yang menurutku perlu diperhatikan, cekidottt

  1. Ide yang fresh dan kreatif

Buat para juri tertarik dengan ceritamu yang berbeda dari kebanyakan yang sudah ada. Ide bisa didapat dari mana saja, kok. Dari pengalamanmu sendiri, dari mengamati orang-orang di sekitarmu, permasalahan yang terjadi baru-baru ini, pertengkaran kecil dengan adikmu, bahkan dari tetes hujan yang membasahi jok kendaraanmu.

Kan banyak tuh yang bisa tiba-tiba jadi puitis hanya gara-gara hujan turun atau secangkir kopi, hehe. Tapi, kalau bisa jangan ikut-ikutan ya. Karena hujan dan kopi sekarang udah mainstream banget. Aku aja bosen kalau nemu tulisan yang terinspirasi dari kedua hal tersebut. Hujan identik dengan kenangan. Kopi identik dengan dia masa lalumu. Senja identik dengan memori indah bersamanya. Aduh, aku kok jadi ngelantur gini, ya?

Intinya, bikin gebrakan baru! Penulis dituntut untuk kreatif, hehe. Mungkin kamu bisa memulai dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, kamu sudah punya kerangka karangan. Cerita tentang A yang enggak sengaja menginjak buntut kucing kemudian kakinya lecet dicakar oleh si kucing.

Coba berpikir bagaimana kalau tokoh utamanya diganti jadi si kucing? Bagaimana kalau melihat cerita dari sudut pandang si kucing, bagaimana kalau sedang asyik berleha-leha di suatu sore kemudian ada yang mengganggu santaimu dengan menginjak ekormu? Parahnya lagi, yang menginjak badannya besar dan menggunakan high heels, waduh langsung kabur ke rumah sakit kucing, deh!

2. Pastikan apa yang kalian tulis sesuai dengan tema

Ini kudu banget. Gak mungkin dong ya kalau temanya perbedaan, yang kita tulis malah tentang persahabatan. Bisa-bisa, naskahmu berakhir sebagai tumpukan kertas berdebu karena juri males baca. Aint nobody got time for that, kalau kata meme-meme. Hehehe. Juri sibuk mencari naskah terbaik yang sesuai tema dan menarik, tentunya. Jadi pastikan naskahmu harus sejalan dengan apa yang ditentukan.

Tapi ngomong-ngomong, kita sendiri juga harus paham betul dengan tema yang diberikan. Kalau paham, nantinya akan mudah mendapatkan ide dan menuliskannya.

3. Cara penyampaian atau gaya bercerita

Ini juga penting, cara kita menyampaikan pesan lewat sebuah cerita. Gimana ya nyebutnya? Gaya bercerita, deh. Setiap orang punya gaya bercerita yang berbeda-beda, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan dan bacaannya. Sesuai nyamannya kamu aja, ya. Kalau kamu nyaman bercerita dengan santai seperti ini, kamu tulis seperti ini. Tapi kalau menulis cerpen menggunakan gaya bahasa yang santai, sih, menurutku kurang. Walaupun unik, tapi biasanya lebih tertarik dengan gaya bahasa yang.. gimana ya, lebih mendalami gitu, mungkin? Enggak harus baku dan puitis, kok. Asal mudah dimengerti.

Ada juga orang-orang yang terbiasa menulis dengan penuh majas. Puitis, baku, penuh makna dan diksi yang bagus di setiap kalimatnya. Enggak apa-apa, asal kita sendiri benar-benar tahu artinya. Jangan cuma bisa mencari bagusnya dan asal berima saja, ya. Kita sendiri harus benar-benar paham apa yang kita tulis dan usahakan orang lain yang membacanya juga mengerti.

Sst, tapi cara penyampaikan dan alur yang unik punya kemungkinan beruntung lebih besar, lho.

4. Sering-sering baca buku

Bukan benar-benar penulis kalau enggak suka baca buku juga. Harus sering-sering baca buku untuk memperbanyak kosakata. Kita juga bisa belajar menyusun alur yang unik dengan mengamati cerita di buku, loh. Nah, untuk lomba ARKI sendiri, usahakan untuk sering membaca buku terbitan Mizan, agar tahu cerita seperti apa sih yang masuk kriteria mereka. Begitu yang aku dapat dari menonton video Tips Lolos ARKI di Youtube. Yuk, ditonton juga.

5. Kirim sebelum deadline.

Mungkin kalian mikir, “Ah ya iyalah Sal, kalau itu sih aku juga tahu.”
Tapi serius, ini penting. Sebagus apapun cerita kalian, enggak akan bisa lolos kalau kirimnya setelah deadline. Jadi, catat baik-baik tanggal deadlinenya dan jangan sampai kelewat, ya. Kalau bisa, sih, naskah ARKInya dibikin sekarang, kan temanya sudah ada, tuh. Kirimnya jangan mepet-mepet deadline, agar kalau nanti ada ide baru, kamu bisa garap lagi, dan takutnya enggak sempat ngirim. Ya siapa tahu aja kamu sibuk banget menjelang deadline.

6. Jangan lupa berdoa.

Kalau semuanya sudah beres, yang perlu kamu lakukan setiap saat sebelum pengumuman adalah berdoa. Tuhan pasti akan mendengar doamu, kalau kamu bersungguh-sungguh.

Percuma, dong, sudah susah payah menulis, kalau enggak dibarengi dengan doa? Berharap lolos ke siapa? Ke juri? Ke Tuhan, dong. Agar hati Juri terketuk saat membaca naskahmu, hehehe.

Nah, mungkin segitu dulu aja ya random tips dariku. Semoga bisa bermanfaat. Yuk, semangat nulis buat ARKI! Jangan takut gagal, dicoba dulu aja. Sama-sama berjuang, ya.  Semoga kita semua beruntung dan berkesempatan untuk bertemu di ajang sekeren itu, ya! ❤

See you @ ARKI 2017!

Salam The Next Creator!

Lots of Love,

Salsa.

Festival Literasi 2016

Senin, 17 Oktober 2016.

Pesawatku seharusnya berangkat pukul 6.30 waktu setempat. Aku seharusnya sudah tiba di Palu sebelum jam dua belas. Tapi Allah berkehendak lain. Aku, Nanda, dan dua orang pendamping kami, kak Selvia dan kak Joko terlambat check in. Keterlambatan kami yang hanya beberapa menit dipersulit oleh petugas check in bandara sehingga kami harus memutar otak lagi untuk dapat membeli (lagi) tiket dengan jadwal keberangkatan paling cepat. Musibah pertama yang kami alami bahkan sebelum kami menjejakkan kaki di tanah Sulawesi.

Seminggu yang lalu, aku dan salah seorang temanku dari Banjarbaru mewakili provinsi kami, Kalimantan Selatan dalam salah satu rangkaian acara Hari Aksara Internasional di Palu. Acara yang kami ikuti adalah Festival Literasi yang rupanya baru pertama kali digelar. Kami berangkat sebagai peserta, dan tentunya didampingi oleh dua orang penggiat literasi (penulis dan penggiat komunitas baca) dari provinsi kami. Berempat, kami dalam satu hari menjejaki tiga pulau sekaligus. Sarapan di Kalimantan, makan siang di Jawa, makan malam di Sulawesi.

Musibah telat check in tidak akan aku jabarkan secara detail di sini karena cerita itu in shaa Allah akan dijadikan cerpen oleh aku dan kak Selvi. Langsung saja, akhirnya setelah kami mempertimbangkan segala hal, kami jadi berangkat ke Palu dengan penerbangan selanjutnya, tetapi tentu saja harus bayar lagi. Karena tidak ada rute dari Banjarmasin ke Palu, kami harus transit di Surabaya untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri, Palu.

Di Surabaya, setelah makan siang dan sholat, kami masuk ke ruang tunggu dan sibuk dengan fasilitas phone charging yang tersedia di sana. Baru saja menyandarkan punggung ke kursi ruang tunggu, terdengar suara petugas yang memanggil. Rupanya, itu sudah panggilan terakhir untuk penerbangan kami. Untungnya, aku hapal nomor pesawat yang kami tumpangi, dan aku mendengar panggilan itu. Karena kalau tidak, sedikiiiiit lagi kami akan ketinggalan pesawat dan mau tidak mau harus membeli tiket lagi. Berlarilah kami memanggul barang-barang dan mencabut ponsel yang sedang diisi baterainya, kemudian masuk ke pesawat yang hampir saja meninggalkan kami di Juanda.

Skip, kami sampai di Palu. Turun dari pesawat, aku terkagum-kagum oleh pemandangan pegunungan tinggi menjulang yang terlihat sangat dekat dari tempatku. Bandar udaranya pun sangat megah. Kami menunggu dijemput oleh teman kak Joko sekitar setengah jam. Jarak dari bandara yang ada di atas gunung ke hotel tempat acara rupanya sangat jauh. Hotel Amazing Beach n Resort itu memang terletak di pinggiran kota, dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.

Akhirnya, kami tiba di hotel. Saat hendak registrasi, kami disuruh untuk langsung makan malam dan mengikuti acara pembukaan. Registrasinya biar nanti saja, katanya. Di sana, aku langsung mengenali dua orang yang memakai baju adat Riau. Mereka adalah Sausan dan De, yang sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan penulis cilik. Aku tahu Sausan karena ia penulis senior (saat aku masih jadi pembaca, ia sudah jadi penulis. Kerenlaaah, sampai aku kira seumuran kak Kinta atau kak Wanda Amyra) dan aku tahu De karena ia salah satu peserta yang beken di ARKI2016. Sering jadi perbincangan teman-temanku.

Saat bertemu pandang dengan Sausan, aku langsung menyapanya. Sementara De, saat itu ia masih belum kenal aku. Kami baru berkenalan dan mengobrol banyak di hari berikutnya.

Di acara pembukaan, selain mendengarkan sambutan dari berbagai orang penting yang terlibat dalam acara tersebut, kami disuguhkan pertunjukkan dari komunitas yang ada di Palu. Pentas itu sekalian menutup acara pembukaan. Kantukku yang sudah sedari tadi kutahan, hilang sedikit saat menyaksikan mereka bermain peran menggunakan berbagai dialek yang ada di Sulawesi Tengah.

Image_117e647.jpg

Selesai acara pembukaan, kami melakukan registrasi dan diantar menuju Hotel Palu City. Sedikit informasi, sebelum kami tiba di Palu, ada kabar bahwa peserta akan dibagi dua. Sebagian menginap di Hotel Amazing (tempat acara), dan sebagian lagi menginap di Hotel Palu City dikarenakan kamar yang tidak mencukupi. Sehingga, dari sana terbentuk dua tim di tengah-tengah peserta Festival Literasi, team Palu City dan team Amazing.

Sampai di hotel, kami tidak langsung tidur. Kami sadar, besok lomba akan dimulai. Dan kami, belum menyiapkan apapun. Akhirnya, kami begadang meringkas cerita rakyat pilihan yang tersedia di aplikasi Cerita Rakyat dari Balai Bahasa (tersedia di playstore) dan membagi giliran membaca di dalam kamar hotel yang serba kekurangan.

Kamar yang kami tempati sangat unik. Di dalamnya, hanya ada dua ranjang dan satu tilam (kasur di atas lantai, tanpa ranjang), meja yang di atasnya hanya ada televisi dan remot, dan sebuah nakas. Kamar mandi pun kosong melompong, hanya ada shower, wastafel, dan toilet. Tidak ada handuk, sabun, atau sikat dan pasta gigi seperti yang biasanya tersedia di hotel –yang bahkan bukan hotel berbintang. Bahkan, tidak ada selimut di kamar itu. Jadilah aku kedinginan tengah malam, walau AC di kamar tidak terlalu dingin.

Selasa, 18 Oktober 2016.

Pagi itu, sebelum lomba dimulai, ada materi yang disampaikan oleh seorang pembicara yang tentunya orang hebat, tapi karena persiapanku belum matang, aku dan temanku tidak fokus pada materi. Kami sibuk mengetik naskah yang akan kami bacakan, berlatih membaca dengan ekspresi, dan mengatur giliran membaca. Lomba hari itu dibagi dua. Untuk peserta usia 12-15 tahun, mengikuti lomba membaca cerita rakyat berpasangan dengan teman satu provinsi. Untuk penggiat literasi dan komunitas baca, lomba meringkas dan mengkonversi cerita rakyat.

Selesai materi, kami diminta berkumpul di Aula Hotel Amazing. Karena sibuk mematangkan persiapan, aku dan Nanda, teman satu provinsi terlambat masuk aula. Sudah tidak ada lagi kursi kosong berdua di ruangan itu. Padahal, kami harus duduk berdekatan agar semuanya menjadi mudah. Untungnya, ada dua kursi kosong di bagian belakang. Walau tidak sebaris, tapi cukup berdekatan. Aku dan Nanda masih dapat berkomunikasi, karena Nanda duduk di belakangku.

Rekan satu mejaku saat lomba berasal dari Bali. Mereka adalah Dwik, kelas 8 dan Komang, kelas 2 SMA. Meja di sampingku, ada De dan Sausan, dua orang yang sudah kukenali sebelumnya. Mereka berasal dari Riau. Sementara di belakangku, Nanda, dan dua anak dari Kalimantan Tengah. Meja di samping Nanda, ada Dinda dan Lazuardi dari Kalimantan Timur juga Andhit dari Jawa Barat. Di belakang Nanda, ada Marhama dari Gorontalo dan dua anak dari Nusa Tenggara Timur. Di samping mereka, ada dua anak dari Papua. Sementara yang duduk di depanku, Nuri dari Kalimantan Utara serta dua anak dari Sumatera Barat. Aku sampai hapal begini, ya.

This slideshow requires JavaScript.

Lomba dimulai dengan Kalimantan Timur sebagai peserta pertama yang maju membacakan cerita rakyat, dan diakhiri oleh penampilan peserta dari Riau, atau Jawa Barat, aku lupa. Selama perlombaan, aku banyak belajar dari teman-teman Festival Literasi. Selama satu hari itu, aku kenal banyak teman dan mengobrol banyak dengan mereka. Karena duduk berdekatan dengan De, aku dan De bercerita banyak tentang ARKI, teman-teman kami, semuanya, sampai panitia menegur kami berulang kali. Kalau ditegur, biasanya kami saling tatap sambil menyebutkan sudah berapa kali teguran.

Selain itu, aku juga dekat dengan Sausan, yang ternyata seumuran denganku. Kami bertiga yang paling ribut saat coffee break. ‘Menitip salam’ ke teman-teman yang tidak dikenal, hanya agar dapat lebih akrab. Bermain-main di pantai saat istirahat, membuat video ARKI2017 dengan harapan kami dapat bertemu lagi dalam kesempatan itu tahun depan.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, cerita lucu saat coffee break, De iseng berteriak ke beberapa peserta laki-laki dan mengatakan Sausan menitip salam. “Bang, ada temenku titip salam, Sausan dari Riau!”

Muka Sausan merah, malu sekali. Saat itu sedang antri mengambil snack. Kemudian, tiba-tiba saja dari belakang ada yang mencolekku, ternyata Yumna dari Jogjakarta.

“Salsa, ada yang mau kenalan sama kamu.” sambil menunjuk salah seorang anak lelaki yang berdiri di belakangnya.

“Oh iya, siapa?”

“Dia” kata Yumna.

Aku kaget. Enggak nyangka banget ada yang mau kenalan sama aku, sampai-sampai harus temannya yang mengatakan. Akhirnya, kukendalikan diriku dan kuajak anak cowok itu bersalaman. “Salsa, dari Kalsel.”

“Hijrah, dari Jogja.”

“Siapa?”

“Hijrah.”

“Hijrah?”

“Iya.”

Setelah itu, dengan malu-malu aku ceritakan kepada Sausan. Dan seperti biasa, De dan Sausan ribut ingin tahu yang mana orangnya. Teman-teman yang memalukan.

Oh iya, di hari kedua itu, aku juga kenal beberapa orang teman. Di antaranya adalah ka Syifa, yang mirip sekali dengan ayuk Ulfah, teman sekamarku di ARKI2015. Oleh karena kemiripannya –dan kebetulan ka Syifa masih kelas 2 SMA, aku mempromosikan ARKI agar tahun depan ka Syifa bisa ikut ARKI2017. Festival Literasi kuanggap tempat yang bagus untuk mempromosikan ARKI kepada teman-teman. Selain ka Syifa, ada juga ka Citra yang ternyata sama-sama bukan anggota komunitas baca, tapi entah mengapa dipilih untuk mewakili provinsi. Kak Citra mewakili provinsi DKI Jakarta, dan aktingnya saat drama, luar biasa.

Ada juga Kak Nabila dan Fadya, yang ternyata adik kelas mbak Nada, teman segengku yang sama-sama akademia ARKI2015. Masih banyak lagi teman-teman keren yang ada di sana. Setelah lomba selesai, kami berfoto bersama seluruh peserta.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, saat lomba, aku sukaaa sekali melihat wajahnya kak Andhit. Jujur, aku tertarik sebagai teman karena wajahnya mirip abang-abanganku di ARKI, kak Haidir Tamimi. Wajah kak Andhit campuran abang sama akang (temen cowok di ARKI yang paling deket, bang Mimi dan kak Dirga), rambut kak Andhit membuat kesan kalau dia itu seorang yang jago musik dan seni, kayak seniman gitu. Waktu ditanya, ternyata benar, kak Andhit bisa main musik. Piano, kalau nggak salah. Eh, apa gitar, ya? Dan yang bikin aku lebih tertarik adalah, dia anak homeschooling asal Bandung. Aku pernah satu mobil sama kak Andhit waktu pulang dari hotel, dia ngomong sunda dan itu mirip akangku banget!

*heboh*

Saat makan siang, seingatku aku dan Nanda bergabung dengan De, Sausan, dan kakak penggiat literasi mereka. Kami makan di meja bundar paling pojok, yang langsung menghadap laut dan gunung. Sambil berbincang-bincang tentang lomba-lomba yang diikuti oleh De, dan tentang De yang ditawari casting menjadi mermaid dalam sinetron Mermaid In Love.

Malamnya, aku, Nanda, dan pendamping kami bekerjasama membuat naskah drama yang diambil dari cerita rakyat Kalsel, Ampak dan Musang Cerdik. Kami berdiskusi, berbagi peran, dan berlatih di malam itu. Tapi di sela-sela ‘rapat’, aku dan Nanda sempat izin untuk berkumpul bersama teman-teman yang lain di koridor hotel Palu City.

Sekadar informasi, kamarku dan kamar Sausan dkk terpisah bangunan. Bisa dibilang, aku dapat yang messnya. Makanya, jelek banget. Jadi, untuk bisa berkumpul bersama mereka, aku dan Nanda harus turun ke lantai 1 yang langsung pintu menuju ke luar, kemudian melangkah ke luar bangunan, berjalan beberapa langkah ke bangunan sebelah, masuk ke lobby, melewati resepsionis dan ruang makan, dan terakhir naik tangga ke lantai 2. Yaaa kira-kira butuh waktu 5 menit, lah.

Karena Nanda yang mandinya lamaaaa banget, kami telat ngumpul. Teman-teman udah pada bubar. Sausan juga lagi sibuk latihan untuk besok di kamar De. Memang sebelumnya, kami disuruh beli sikat gigi sama kak Selvia, ke warung depan hotel. Aku iseng untuk berkunjung sebentar ke tempat teman-teman, ternyata mereka sedang berkumpul. Mereka mengajak kami tapi kami memilih untuk mandi dulu, daaann ketika kami kembali lagi, telat deh.

Akhirnya, untuk menghibur kami, kak Syifa dan beberapa teman lain mengajakku pergi ke pasar malam di belakang hotel. Kalau tidak salah, ada 6 orang yang ikut termasuk aku. Aku, Nanda, ka Syifa, Belia dari Sumbar dan teman sekamarnya, serta.. siapa lagi, ya, aku juga lupa. Di pasar malam, kami mencari barang-barang khas Palu, tapi enggak ketemu. Aku dan kak Syifa beli gelang yang sama, couple-an gitu. Sukaa ❤

This slideshow requires JavaScript.

Ngomong-ngomong, soal lomba membaca cerita rakyat, rupanya kami salah tangkap. Perjuangan kami begadang sepertinya sia-sia. Kami meringkas cerita rakyat, sementara teman-teman yang lain membacakan seluuuuuruuh isi cerita. Pun, naskah yang kami serahkan ke juri dan yang kami pegang untuk dibacakan juga berbeda. Sehingga kami membuat juri kebingungan dan repot. Biarlah apa kata juri, yang penting kami sudah tampil dan kemenangan bukan yang kami cari. Yang kami cari disini adalah pengalaman dan pertemanan. Persahabatan.

Rabu, 19 Oktober 2016.

Hari ketiga! Lomba drama!

Di lobby Palu City, sembari menunggu giliran diangkut ke hotel Amazing, aku, Nanda, dan kak Selvi bikin video nyanyi lagu Ampar-Ampar Pisang, lagu daerah Kalimantan Selatan yang merupakan bagian dari pertunjukkan drama kami nanti malam.

Hari itu cuma ada satu rangkaian acara. Lomba merefleksikan bahan bacaan ke dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk drama. Jadi, kita harus membawakan sebuah drama yang diambil dari cerita rakyat provinsi masing-masing yang related ke keseharian atau kehidupan masyarakat jaman sekarang. Kita diminta kreatif untuk itu.

Tapi jangan salah, walau hanya satu rangkaian acara dalam satu hari, itu memakan waktu dari pagi sampai malam. Meski begitu, hari ketiga adalah hari yang penuh suka cita dan paling kusuka di antara hari-hariku di Palu.

Nah, semua peserta baik itu anak-anak maupun penggiat literasi perwakilan provinsi, berkumpul di satu ruangan yang sama. Apa, ya, nama ruangannya? Lupa. Semacam aula di dalam hotel, yang beda, karena dindingnya dari papan. Oh ya, karena namanya Hotel Amazing Beach n Resort, sudah tau dong, kalau hotel itu adalah hotel outdoor. Eh, gitu bukan, sih?

Acara baru dimulai, semua tentunya enggak mau jadi yang paling pertama untuk tampil memainkan drama. Belum ada contohnya, takut salah. Tapi, harus ada yang pertama. Sistemnya seperti ini, para juri mencabut satu kertas dari gelas yang berisi kertas-kertas bertuliskan nama provinsi, kemudian nama provinsi yang keluar akan maju sebagai peserta pertama yang tampil. Kemudian, setelah peserta itu tampil, mereka mencabut satu nama untuk tampil berikutnya. Dan yang tampil pertama hari itu adalah.. Provinsi Jawa Barat, provinsi yang pada hari sebelumnya, dapat giliran paling akhir untuk baca cerita rakyat.

Aku langsung menyemangati Kak Andhit yang kebetulan duduk tidak jauh dariku. Kemudian, setelah penampilan dari Provinsi Jawa Barat, satu persatu Provinsi lain maju sesuai keberuntungan. Salah satu yang kusuka adalah penampilan dari Bali, selain karena aku seneng banget sama Komang dan Dwik, cerita rakyat yang mereka bawakan benar-benar menghibur, dan mereka semua jago teater. Komang menguasai panggung banget, dan dia mainnya lucu. Aula jadi penuh gelak tawa. Banggaaa!

Ada juga Provinsi Bangka Belitung, yang cerita rakyatnya menariiik banget untuk disimak. Apalagi, kedua pemainnya adalah temen-temen yang termasuk dekat denganku, Flo dan Annisa. Jujur, mereka aktingnya jago banget. Serius.

Di sela-sela perlombaan, kami tentu punya waktu istirahat dong. Nah ada tragedi kecil yang bikin perasaanku campur aduk saat jam makan siang. Jadi, temen-temen dah pada janjian untuk makan ngemper di ujung gazebo atau apa ya itu namanya, pokoknya bekas tempat pembukaan kemaren, deh. Jadi, dari atas sana kita bisa merasakan hembusan angin, dan menghadap langsung ke laut! Dari sana kita juga bisa lihat gunung, dan kota bagian lain dari kota Palu.

This slideshow requires JavaScript.

Tapiiiii, aku gak bisa ikut gabung karena waktu aku mau ambil makan, ternyata jatah makanan untuk Provinsi Kalsel sudah diambil semua sama kak Selvia. Sementara aku posisinya lagi misah sama temen satu provinsi, dan kedua kakak penggiat literasi kami. Untungnya, di sana ada kakak penggiat literasi yang kukenali, dari Kalimantan Tengah. Temannya kak Joko. Kakak itu mau membantuku dan berbicara dengan panitia agar ‘meminjami’ aku jatah makanan untuk bisa kumakan, lalu nanti setelah bertemu dengan kak Selvia, makanan jatahku yang sudah diambil oleh kak Selvi akan dikembalikan. Syukurlah, panitia yang jutek luar biasa itu akhirnya mau mengerti. Kakak penggiat dari Kalteng juga membantu menghubungi kak Joko.

Akhirnya, aku makan satu meja dengan kakak penggiat dari Kalteng. Aku gak enak kalau kabur dan gabung ke tempat teman-teman, karena sudah dibantuin banyak sama kakak penggiat itu. Singkat cerita, akhirnya Nanda, teman satu provinsi datang ke ruang makan. Ternyata ia juga mencariku. Akhirnya dihubungilah kak Joko dan kak Selvi. Rupanya, kak Selvi sedang menunggu kami di tempat lomba.

Waktu istirahat selanjutnya, ada lagi masalah kecil yang menimpaku. Saat itu, provinsiku belum juga mendapat giliran maju. Sementara aku sudah touching make up berkali-kali. Hahaha, nggak deng, cuman ngegambar lagi kumis di wajah yang mulai pudar. Pakai spidol, pensil alis, bahkan maskara!

Saat itu sudah hampir maghrib, sementara aku belum sholat dzuhur dan juga ashar. Aku dikejar waktu banget. Mencari tempat untuk berwudhu di hotel itu susaaaaaah banget. Mau wudhu di toilet seperti yang dilakukan Annisa, susah karena gak ada yang bantuin. Mau wudhu di keran depan tempat penjaga hotel, diliatin sama mas-mas dan mbak-mbaknya. Kan ga enak. Untungnya, ada Nanda yang jadi teman setia nemenin ke mana aja.

Jadi, selesai wudhu, aku mau sholat, di tengah-tengah berjalan ke gazebo tempat sholat, Nanda ngingetin aku kalau kumis di wajahku masih ada. Iyaya! Aku lupa sama kumis itu. Akhirnya aku balik lagi untuk menghapus kumis, sementara aku sendiri di kejar waktu. Udah mau maghrib. Ngehapus pakai air, gak bisa. Dicampur sabun, sama aja, tetep ga bisa. Pakai hand sanitizer Nanda, juga tetep, malah panas mulutku. Akhirnya dengan pasrah dan berurai air mata, aku sholat dengan kumis yang masih tergambar di wajahku. Di tempat sholat, ada kak Selvia, aku nangis-nangis di hadapan mereka, aku takut ketinggalan sholat dan sholatku sia-sia, gak diterima. Tapi kata kak Selvia, enggak apa-apa, in shaa Allah diterima. Yah, seenggaknya aku sedikit lebih tenang.

Saat aku sholat, De dan teman-teman lain bikin video untuk kenang-kenangan. Kayaknya asik banget gitu, suara mereka terdengar jelas karena suasana senja di hotel itu sepi. Selesai sholat, aku pengen gabung tapi gak ditawarin. Akhirnya aku cuma mau nyentuh air laut di dekat mereka bikin video. Terus De negur, “hei hei hei kamu kamu kamu! sini ayo gabung! nanti kamu gini gini gini ya.” De memberikan instruksi.

Di video itu, kami memperkenalkan nama dan asal daerah kami secara bergantian setelah meneriakkan semacam yel-yel literasi. Kemudian, kami mengambil banyaakkk sekali foto menggunakan hp Sausan dan teman-teman lainnya. Kebetulan, saat itu ponselku lowbatt.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, sore itu, selain membuat video, kami juga berkumpul di satu gazebo untuk saling mengakrabkan diri. Di sana ada aku dan Nanda perwakilan dari Kalsel, De dan Sausan perwakilan dari Riau, kak Lintang dan teman satu provinsinya dari Sumatera Utara, Risyad dan teman satu provinsinya dari Aceh, Marhama dan Iskandar dari Gorontalo, Flo dan Annisa dari Bangka Belitung, dan siapa lagi ya? Lupa. Masing-masing bersama dengan pasangan satu provinsinya.

Di gazebo itu, kami bernyanyi lagu daerah masing-masing secara bergiliran. Dimulai dari aku dan Nanda yang menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang, dan diteruskan oleh teman-teman dari provinsi lain yang sudah siap dengan lagunya. Seru sekali.

Kemudian, lomba kembali dilanjutkan. Kalsel belum juga mendapat giliran, jadi aku menunggu dan menunggu. Entah kenapa, seluruh provinsi Kalimantan saat itu mendapat giliran di akhir-akhir lomba. Sambil menunggu dan mengeluh, aku duduk bersandar di dinding bersama Sausan sambil main hp. Kami chatingan sama Angel, teman yang sama-sama kami kenal. Sementara De, mengobrol dengan anak lelaki lainnya.

Sampai akhirnya, Provinsi Riau mendapat giliran tampil. Saat itu aku baru saja kembali dari makan malam atau dari toilet, ya? Tapi, aku sempat melihat De dan Sausan bermain peran dengan penuh penghayatan. De pura-pura tertidur dengan bersandar ke dinding sambil berdiri, kemudian di akhir cerita, tangan mereka terangkat keatas seperti memohon ampunan. Aku tidak begitu memperhatikan jalan cerita drama yang mereka bawakan.

Setelah Riau tampil, De dan Sausan pergi ke luar untuk berkumpul bersama teman-teman lain yang sudah tampil di gazebo. Dengar-dengar, mereka bermain permainan di sana. Entah, kepingin banget ikutan, tapi apa daya, Kalsel belum tampil.

Senasib dengan kami, ada Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan beberapa provinsi lagi. Kak Selvia dan salah satu penggiat literasi dari Kaltim yang merupakan guru mendongeng di Kampung Dongeng Etam Samarinda, berteman dengan akrab. Kakak guru dongeng itu mendongeng cerita karangannya yang langsung dikarang saat itu juga. Mengalir sesuai imajinasi. Kisah tentang kak Selvia yang bertemu dengan kak Doni, calon suami kak Selvia saat itu. Sekarang, sih, sudah jadi suami resmi, hihihi.

Akupun juga akrab dengan Adinda, dari Kalimantan Timur. Bercengkerama sembari mengeluh satu sama lain. Pokoknya, ya, menunggu giliran maju yang dapetnya malam banget itu, bareng sama Kalimantan Timur. Ce-es banget, deh!

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, beberapa saat sebelum kami tampil, Sausan dan teman-teman lain kembali ke tempat lomba. Aku bertanya di grup line, kemana mereka. Rupanya, Sausan ada di belakangku. Padahal, aku sudah mencari dan menengok kesana kemari. Tapi aku nggak lihat kalau jauh di belakang, ada Sausan. Akhirnya, aku mendekati Sausan yang duduk tidak jauh dari kak Syifa. Aku bergabung dengan mereka. Kak Syifa sedang bercengkrama dengan kakak penggiat literasi dari Maluku Utara.

halo
Dipotret De untuk dikirim ke grup ARKI, hihihi.
Image_7decf17.jpg
Muka lelah menunggu giliran.

Kakak itu membawa sebuah alkitab. Kami yang penasaran, meminta izin untuk membukanya. Hingga kemudian, kami bergantian mengajukan pertanyaan tentang agama yang kakak itu anut. Kakak yang cantik itu menjelaskan tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tentang Tuhan mereka, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak kami mengerti. Seru sekali bincang-bincang malam itu. Sampai-sampai, seorang ibu dari provinsi Maluku Utara juga, terkesan dengan rasa ingin tahu kami yang besar. Tapi sayangnya, beliau bilang, diskusinya bisa disambung lain kali, karena teman-teman dari Maluku Utara ingin segera beristirahat. Kebetulan, mereka menginap di hotel yang sama dengan tempat acara.

Oh ya, desas-desus yang kami dapatkan seharian ini, katanya kami yang menginap di Palu City  enggak bisa balik ke hotel. Karena mobil antar jemputnya yang enggak ada. Tapi akhirnya, kami bisa balik ke sana.

Ketika nama Kalsel disebut untuk maju, kami mengambil posisi untuk naik panggung. Rencananya kami akan berjalan ke atas panggung sambil menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang. Tapi, saat berdiri di samping meja juri, aku mendengar salah satu juri bertanya dengan sewot, kenapa Kalsel enggak memberikan sinopsis drama tersebut. Padahal, dari peraturan lomba yang dibacakan MC, kami hanya disuruh membaca sinopsis selama satu menit sebelum drama dimulai, bukan mengumpulkan sinopsisnya juga. Tapi yaudah, aku cuek aja. Emang aku kesel sama jurinya dari awal, sih. Juri dan panitianya pada jutek-jutek semua.

Singkat cerita, kami akhirnya selesai tampil. Tapi, saat drama sudah setengah jalan dan sebentar lagi selesai, waktu yang diberikan panitia telah habis. Aku kelamaan akting marah-marah, sih, aduuuh hahaha. Hal yang sama juga dialami oleh Kaltim, dan beberapa provinsi lainnya. Waktu mereka juga habis. Bahkan katanya, Dinda menangis karena enggak bisa tampil maksimal di lomba tersebut, karena waktu yang diberikan juga telah habis.

Malam itu, adalah malam terakhir kami semua berkumpul. Setelah lomba berakhir, kami, anak-anak #TeamPaluCity berfoto bersama dengan teman-teman dari #TeamAmazing. Kemudian saling dadah-dadahan, peluk-pelukan perpisahan, dan membangga-banggakan acara team masing-masing malam ini.

This slideshow requires JavaScript.

#TeamPaluCity memang dari awal sudah berencana untuk selepas sampai ke hotel, berjalan-jalan sebentar ke pasar di belakang hotel. Tapi rupanya pasar sudah tutup saat kami kembali dari hotel. Karena mobil yang mengangkut hanya satu, jadi kami bergantian diangkut oleh mobil itu. Yang duluan sampai hotel, harus menunggu yang lainnya. Sementara di depan hotel Amazing, sembari menunggu mobil jemputan, aku dan teman-teman lain berfoto bersama dan mendengarkan Risyad bernyanyi dan menirukan suara binatang. Suaranya merdu dan keren sekali.

Aku, Sausan, De, dan Nanda berencana untuk pulang satu mobil. Jadi, kami menunda menaiki mobil dan memilih untuk mengikuti kloter terakhir. Yang kami lakukan sembari menunggu mobil jemputan adalah terkapar di sofa lobby hotel Amazing sambil ngecharge hp. Aku dan Sausan pergi ke toilet, kemudian aku dan De naik ke lantai dua untuk melihat ada apa di sana. Hingga akhirnya, mobil jemputan datang kembali. Tapi, tetap enggak cukup untuk kak Selvia, kak Joko, dan Nanda. Sehingga akupun harus berpisah dari mereka, aku ikut Sausan, De, dan yang lainnya pergi balik ke hotel, sementara kak Selvia, Nanda, dan kak Joko ikut kloter paling terakhir.

Sampai di hotel, aku masuk ke kamar sendirian. Sudah tahu, kan, letak kamarku? Berada di bangunan yang berbeda dengan kamar Sausan dan teman-teman, terletak di lantai 2 yang hanya sedikit isi kamarnya, dan satu bangunan dengan ruangan kosong penuh meja kursi. Saat itu jam 10 malam, aku masuk ke kamar sendirian. Benar-benar sunyi. Parno, sih, sebenernya. Tapi aku sambil chattingan di grup sama teman-teman, untuk janjian pergi ke pasar bareng-bareng. Sambil nunggu teman-teman siap, aku packing sebentar.

Teman-teman pada nanya di grup, “Salsa, kamu di mana?”

Aku bilang, “Aku di kamar. Tunggu, ya, aku kesana.”

Lalu, aku keluar kamar dan menuju gedung sebelah. Teman-teman bilang, pasar sudah tutup. Jadi, kami enggak tahu harus ngapain sementara di hotel, malam-malam begitu enggak boleh berisik, takut mengganggu yang lainnya. Akhirnya, De punya ide untuk makan bakso di depan hotel.

Berjalanlah kami semua menyebrang jalan raya untuk sampai ke bakso depan hotel. Saat itu kira-kira pukul 11 malam. #TeamPaluCity walau kurang lengkap, rame-rame ngebakso tengah malem. Saat keluar hotel, aku bertemu dengan kak Selvia dan Nanda yang juga ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel. Akhirnya, mereka ikut kami makan bakso.

Sambil makan, kami meminta kak Selvia untuk mengabadikan momen ini menggunakan hp milik Annisa.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan, De ingin beli es krim. Katanya, sekitar situ ada kafe yang menjual es krim dengan porsi gede. Tapi sayang, kafe itu juga sudah tutup. Akhirnya kami cuma beli terang bulan dua porsi. Walaupun udah kenyang, tapi lumayan untuk camilan malam terakhir kami bersama.

Naaahhh, waktu beli terang bulan, sembari menunggu terang bulan selesai dibuat, perhatian kami tertuju pada seorang anak yang dari penampilannya kira-kira berusia 10 tahun, memanjat pohon di dekat kami. Pakaiannya lusuh, kaos biasa yang sudah jelek, dan celana pendek. Aku dan beberapa teman lain mendekat dan mencoba mengajak anak itu mengobrol.

Aku yang paling banyak mengajukan pertanyaan. Sempat ingin kuajak selfie, tapi kak Syifa ragu, takutnya dia marah atau apa, aku akan kena bahaya. Dari hasil mengorek informasi, yang kudapatkan berdasarkan penuturan anak itu adalah, ia lahir pada tahun 2001, berasal dari Makassar, dan sampai ke Palu karena saat bayi ia ditinggal di bis. Di Palu, ia tinggal bersama neneknya, tapi katanya kemudian, neneknya sudah tidak ada. Ia bekerja yang entah apa, dari jam 3 pagi. Setiap malam, ia tidur di emperan toko, dan siang hari tidur di warnet karena orang warnet adalah temannya.

“Kamu suka ada yang mintain uang nggak?” tanyaku. “Nanti kalau ada yang minta uang kamu, jangan mau, ya.”

Ia mengangguk dan menjawab dengan tidak jelas, yang bisa kami tangkap, ia sudah biasa memukul orang yang meminta uang hasil ia bekerja. Saat itu, aku yang enggak tahu kebenarannya, malah bilang “Bagus tuh!”

Aku dan teman-teman mengerubunginya, hingga ia terlihat ketakutan untuk menjawab pertanyaan yang kulontarkan. “Aku pikir kamu lebih muda dari aku. Ternyata tuaan kamu, loh. Gak papa, kita semua kan teman. Kami dari berbagai daerah di Indonesia.” kata Risyad.

“Iya, enggak apa-apa. Sebagian dari kami juga seumuran kamu, loh. 15 tahun. Nah, aku sendiri 14 tahun, jadi lebih muda setahun dari kamu. Kita kan seumuran, jadi enggak perlu takut.” sambungku.

Kemudian, anak itu berpindah tempat ke belakang De yang juga baru saja mengambil posisi di sana. De kemudian langsung menjauh, karena takut tas pinggangnya dicopet. Kami memang harus waswas.

Setelah terang bulan kami selesai dibuat, aku dan teman-teman pun masuk ke hotel, ngemper di lobby. Sebelumnya, kami minta izin ke resepsionis, tapi yang nyahut malah mas-mas preman yang bukan resepsionis, kami dipelototin, enggak boleh duduk di sana, katanya. Padahal, kan, terserah kami. Tamu adalah raja. Akhirnya, kami diizinkan duduk di sana asal tidak boleh berisik.

Sambil menyantap terang bulan, kami membahas tentang anak tadi. Berbagai kecurigaan yang kami rasakan, kami ungkapkan. Ngomong-ngomong, terang bulannya rasa coklat dan rasa keju, itu hasil kesepakatan kami bersama, setelah berembuk masalah rasa.

Tiba-tiba saja, salah satu dari kami ada yang berimajinasi, “ih, gimana kalau ternyata dia nungguin kita di depan hotel?”

“Iya, tadi dia lewat depan sini kok. Diem bentar di depan, terus lewat. Sekarang udah gak ada.” sahut Annisa dengan serius yang bikin kami semua kaget.

“Hah? Beneran kamu?”

Annisa mengangguk, beberapa detik kemudian, semuanya langsung beres-beres terang bulan dan bersiap kabur ke lantai dua.

Di koridor lantai dua, kami duduk kembali membentuk sebuah lingkaran. Membahas kejadian yang tadi. “Ih, kamu serius tadi ada dia di depan pintu? Kok pada gak nyadar?”

“Iyaa serius.”

“Anak itu kayaknya nggak mungkin deh lahir 2001. Secara, wajahnya masih babyface banget. Tapi kalau masalah dia enggak sekolah, sih, wajar, ya. Dia kan hidup di kerasnya jalanan.”

“Eh, anak itu udah ngikutin dari kita di bakso tau. Dia kan dibayarin sama penggiat kamu, Sal,” kata kak Syifa.

“Iya? Masa? Aku nggak liat tuh.”

“Ih iya, dia kan tadi nendang bak sampah di depan warung bakso. Dia diajak penggiat kamu makan bakso terus ngobrol-ngobrol gitu tadi.”

“Kamu itu, Sal, bahaya banget tadi posisinya. Udah paling deket, paling banyak nanya, lagi. Makanya tadi aku pindah ke deket kamu takutnya dia ntar berontak atau apa gitu. Terus aku pindah ke belakang kan? Dia ikutan pindah, itu dia mau ngincar tasku itu aku takut banget makanya aku langsung pindah lagi.” kata De.

“Liat gak, waktu kita interogasi anak itu, ada dua om-om duduk di sepeda motor kayak lagi nungguin orang sambil bincang-bincang gitu? Mikir deh, agak janggal gitu ya kenapa itu om-om selarut ini berhenti di situ. Ngobrol-ngobrol di pinggir jalan. Pasti ada yang ditungguin, jangan-jangan dia nunggu anak tadi? Untung tadi nggak kamu ajak foto, Sal.” timpal Annisa.

“Ih, kamu teliti banget, ya, sama keadaan sekitar. Sampe tau gitu, aku aja gak merhatiin loh ada om-om di seberang jalan.” kataku.

“Oh, iya, aku liat itu om-omnya dua orang.” timpal yang lain.

“Eh, gimana kalau mas-mas preman yang di resepsionis tadi ternyata temen anak itu? Kan mas-masnya udah jelas orang sini, ya, atau seenggaknya tinggal lama di sini. Kita kan gak tau ya. Dan mas-mas itu udah pasti dengar obrolan kita dengan jelas banget. Udah gitu, tampangnya serem lagi, masa kita mau ngemper di lobby ga dibolehin. Kalau itu temennya, gimana?” kataku.

“Eh, bener ya, kejadian tadi bisa tuh dibikin ide cerita.” kata De. “Aku habis dari sini banyak deh ide cerpen.”

Kemudian, obrolan kami berlanjut sampai ke cerita santet, guna-guna, begal, dukun, dan sejenisnya dari daerah masing-masing. Yang paling bercerita, Risyad dan Annisa. Seru, sekaligus seram. Obrolan kami sempat terhenti ketika kami dikagetkan oleh langkah kaki yang menaiki tangga. Kami pikir, itu adalah resepsionis tadi. Semuanya tegang untuk sesaat. Rupanya, itu tamu-tamu khusus untuk acara penutupan besok. Ada tiga orang bapak-bapak, yang menyapa kami dengan hangat.

Sembari bertukar cerita, kami juga menyantap camilan ikan goreng dari Kalimantan Tengah yang dibawa David dan Ayu. Sementara di pojok lain, ada Sausan, Komang, dan beberapa anak laki-laki lainnya berbicara mengenai buku. Sausan juga memberikan buku karangannya kepada Komang.

Setelah dianggap terlalu larut, aku meminta teman-teman untuk mengantarkanku ke gedung sebelah, sampai ke kamarku. Mereka kebetulan juga ingin melihat bagaimana kamarku, dan aku juga takut pulang sendiri. Karena terlalu berbahaya. Senang sekali mereka yang juga ketakutan mau berbaik hati beramai-ramai mengantarkanku ke kamar. Ada De, kak Syifa, Flo, Annisa, dan Risyad, kalau aku tidak salah ingat. Sampai di kamarku, mereka mengintip sebentar ke dalam, kemudian kabur kembali ke gedung utama hotel Palu City.

Sementara itu, setelah teman-teman pulang, aku bertanya tentang anak misterius di dekat terang bulan tadi kepada kak Selvia, penggiatku. Kemudian aku menceritakan seluruh kejadian dan asumsi kami tadi.

Menurut versi kak Selvia, anak tadi mengaku berumur 10 tahun, seorang preman cilik yang tidak pernah memukul orang, hanya berani menggertak, dan melampiaskannya dengan menendang bak sampah. Pendapatan sehari kisaran 40 ribu, dan kurang lebih sama seperti apa yang ia akui kepadaku dan teman-teman. Hanya saja ada beberapa yang berbeda, entah yang mana yang benar.

Setelah mendapatkan kebenarannya dari kak Selvia, aku langsung heboh di grup dan menceritakan cerita versi kak Selvia tadi ke Annisa lewat personal chat. Kemudian pergi tidur. Hari yang panjang.

Kamis, 20 Oktober 2016.

Oke, ini adalah hari terakhirku bersama sahabat (-sahabat) ku. Pagi setelah bersiap-siap, aku mencabut handphoneku yang sedang dicharge, kemudian mengikat tali sepatu di dalam kamar yang pintunya terbuka. Nanda dan Kak Selvia sudah ada di luar kamar, menungguku dari luar.

Kemudian, kami turun ke bawah dan masuk ke gedung sebelah untuk check out dan sarapan. Di sana, aku bertemu kak Syifa, Tami, Marhama, dan beberapa teman lainnya. Aku menaruh totebag Festival Literasi yang di dalamnya ada hpku ke atas koper. Sedangkan koperku sendiri kuletakkan di dekat koper teman-teman lainnya di dekat tangga di ruang makan. Masih satu ruangan.

Kemudian, aku makan di pojok lain. Bersama dengan Nanda, Kak Selvia, dan ibu Marhama yang merupakan penggiat literasi dari Gorontalo. Kami terakhir keluar ruang makan karena asyik bercerita. Di sana masih ada kak Syifa. Kami jugalah kloter terakhir dari Palu City menuju Hotel Amazing, dan sampai di hotel, kami terlambat mengikuti acara penutupan. Pengumuman sudah diumumkan, Kalsel tidak mendapat satupun juara. Posisi itu diraih oleh Provinsi Bali, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Papua, NTB, Jawa Timur, dan masih banyak lagi.

Aku duduk di depan Dinda, karena deretan bangku di belakang yang diisi oleh teman-teman Palu City sudah penuh, begitu juga dengan bangku di deretan samping yang diisi oleh anak-anak #TeamAmazing. Saat aku ingin membuka hp, hp yang tadinya aku ingat betul sudah kumasukkan ke dalam tas setelah aku mengikat tali sepatu tiba-tiba saja enggak ada. Kukeluarkan seluruh isi tas yang berantakan, tetap enggak ada. Di koper, gak mungkin banget. Seingatku pun di mobil aku asik berbincang dengan kak Syifa, enggak ada mengeluarkan hp sama sekali. Saat di ruang makan pun, aku membetulkan kerudung dengan berkaca di tempat kopi yang bening, bukan di hp, sehingga otomatis aku enggak ada mengeluarkan hp dari dalam tas setelah pagi tadi kumasukkan.

Aku memberitahu kak Joko dan kami pun pergi dari ruang acara untuk kembali ke hotel Palu City. Mengecek kamar yang sudah dibersihkan, bertanya kepada resepsionis dan orang dapur, menghubungi mobil yang membawa kami ke Hotel Amazing, dan masih banyak lagi yang kami lakukan. Hasilnya nihil.

Baik resepsionis Palu City maupun Amazing Beach n Resort sama-sama telah meminta kontak yang bisa dihubungi kalau-kalau hp itu ditemukan. Aku memberi nomor telepon ibuku. Tapi sampai sekarang aku menulis ini, hp itu belum juga kembali ke tanganku. Saat di telepon pun, tidak aktif, padahal aku ingat dengan jelas kalau pagi tadi sebelum check out, bateraiku terisi dengan penuh dan data seluler masih menyala. Sudah ada yang mengambil dan mematikan atau mencabut kartunya.

Aku kembali lagi ke hotel Amazing, dan ternyata acara sudah selesai. Sausan dan keluarganya berpamitan kepadaku. Kemudian, aku bercerita kepada kak Syifa, Puput, Wawa, dan lainnya. Menangis di hadapan mereka. Hari itu, aku menangis berkali-kali.

This slideshow requires JavaScript.

Yang disayangkan bukan barangnya, tapi foto-foto yang ada di sana, yang enggak bisa diulang kembali kenangannya. Sehari sebelum aku kehilangan sahabatku itu, salah satu penggiat literasi dari Gorontalo juga kehilangan kamera DSLR miliknya. Kronologisnya adalah, kamera itu ditinggalkan di kamar yang terkunci di Hotel Palu City. Sore setelah rangkaian acara selesai dan kembali ke hotel, kamera itu sudah lenyap. Siapa lagi yang mengambil kalau bukan orang dalam hotel? Sejak saat itulah, aku semakin tidak suka dengan pelayanan hotel ini.

Satu persatu teman-teman pulang ke daerah masing-masing. Tinggal beberapa yang masih menunggu jemputan untuk ke bandara termasuk aku. Kami duduk di lobby hotel sembari kak Selvia sharing tentang partisipasinya dalam lomba-lomba yang diselenggarakan Balai Bahasa, dan tentang cerita rakyat yang sedang ditulisnya. Dan, disaat kami sedang mengkritik Balai Bahasa, tiba-tiba seorang ibu yang duduk tidak jauh dari kami bertanya asal daerah kami. Sepertinya, sih, orang dari Balai Bahasa sendiri. Kicep dehh._. hehehe

Di hotel Amazing, saat melaporkan kejadian hilangnya hpku, resepsionis hotel yang sedang menelepon ke hotel Palu City memintaku untuk bicara. Aku berbicara kepada resepsionis hotel Palu City melalui telepon, memojokkannya, dan saling berargumen. Terdengar jelas sekali kalau resepsionis itu kesal dituduh. Tapi aku cuek, aku omelin aja itu resepsionis. Sambil akhirnya nangis-nangis. Teman kak Joko yang baru datang ikut menenangkanku.

Kami diantar oleh teman kak Joko yang asli Palu ke Bandara. Sebelumnya, kami singgah sebentar di toko oleh-oleh. Tau, dong, untuk apa? Yap, beli oleh-oleh dengan uang yang tersisa, heheheh. Kemudian, sampai di bandara, kami berfoto sebentar di depan tulisan Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri.

Di bandara, aku menangis berkali-kali. Sampai masuk ke ruang tunggu, tangisanku reda karena aku bertemu teman-teman! Ada banyaakk sekali anak Festival Literasi yang sudah tiba terlebih dahulu di sana. Satu gate, ternyata. Ada Marhama, Iskandar, Komang, Dwik, Kak Michelle, Clarissa, Helena, dan Alvina. Kami duduk ngemper di lantai ruang tunggu sambil berbincang-bincang dan berfoto. Komang menyanyi lagu bahasa Inggris dan diberi saran-saran oleh kak Michelle dari Manado yang jago bahasa Inggris.

Saat aku baru saja tiba di lobby, Iskandar membuatku terkesan akan kebaikan hatinya. Ia bertanya bagaimana hpku dan membantu menelepon kembali nomorku. Selalu itu yang ditanyakannya setiap kali kami bercengkerama lagi. Baik banget, deh, pokoknya.

Rupanya, pesawat kami di delay. Mereka semua transit di Makassar dan aku transit di Surabaya. Saat panggilan pesawat, aku memeluk Marhama dan Kak Michelle sebagai tanda perpisahan, tapi.. olala, ternyata kami satu pesawat. Entah kenapa, penerbangan ke Surabaya dialihkan ke Makassar. Sehingga aku jadinya transit di Makassar bareng mereka semua. Yippie, satu pesawat!

Saat kami akan menaiki pesawat, Belia dan temannya –yang aku lupa namanya- dari Palembang baru saja tiba di ruang tunggu. Ada Annisa juga yang baru masuk ke ruang tunggu, berpisah dengan Flo. Flo ada di gate lain karena mereka beda pesawat. Aku dan kak Michelle yang melihat Annisa masuk ruang tunggu, langsung berlari. Sayangnya, ia memilih untuk keluar lagi menuju toilet. Belum sempat memberikan pelukan perpisahan, karena kami harus berangkat ke Makassar disaat Annisa belum kembali dari toilet.

Di pesawat, duduk di depanku adalah Komang, dan dua bangku di depan Komang, adalah Iskandar. Kak Michelle ada di bagian depan, kami di belakang. Tidak jauh dari kami, ada Marhama dan ibunya. Sementara Nanda, tidak tahu di mana. Yang aku tahu dan membuatku tenang, kami semua berada dalam satu pesawat yang sama. Berangkat dari Sulawesi Tengah menuju Sulawesi Selatan.

Di Makassar, pesawat baru saja mendarat, tetapi yang ingin melanjutkan penerbangan ke Gorontalo sudah dipanggil. Sehingga aku terpisah dengan Marhama dan Iskandar. Sebelumnya, aku sempat berpelukan dengan Marhama kalau tidak salah, dan betukar senyum dengan Iskandar.

Aku termasuk orang yang susah sekali senyum ke lawan jenis yang seumuran, tapi entah kenapa, sama Iskandar, Komang, dan teman-teman Festival Literasi lainnya yang berbeda maupun sama jenis kelamin, aku bisa senyum dengan enggak kaku.

Kemudian, setelah masuk ke ruang tunggu bandara, Komang dan Dwik enggak sempat duduk, mereka harus berlari-lari karena rupanya pesawat yang akan membawa mereka ke Bali sudah panggilan terakhir. Aku harus berpisah dengan mereka, teman satu meja saat lomba di hari kedua.

Ternyata dari Makassar, aku harus transit lagi di Surabaya. Tapi, lagi-lagi pesawatku delay 4 jam. Sampai harus dapat snack dan makanan berat. Untungnya, masih ada Clarissa dan Helena dari Kendari juga Alvina dari Jawa Timur.

Tidak berapa lama kemudian, penumpang menuju Kendari dipanggil dan kami harus berpisah dengan Clarissa dan Helena. Meski tidak terlalu akrab, tapi namanya juga teman. Pasti sedih. Tersisa Alvina dan penggiat literasinya. Mereka sama-sama transit lagi di Surabaya. Bedanya, dari Surabaya, kami ke Banjarmasin. Sementara mereka, ke Jogja dan lewat perjalanan darat ke Magelang. Sebetulnya, ada satu anak lagi dari Jawa Timur, Ara, tetapi ia pulang keesokan harinya.

Skip, sampai di Surabaya, kami langsung melapor penumpang transit. Rupanya, pesawat ke Banjarmasin sudah berangkat. Kami ketinggalan pesawat karena terlalu lama delay di Makassar. Untungnya, pihak bandara menginapkan kami malam itu di hotel Ibis Juanda dan mengalihkan penerbangan kami keesokan paginya.

Malamnya, aku mendengarkan Nanda dan kak Selvia bertukar cerita. Selama berada di Palu, kak Selvia juga banyak menceritakan tentang kisah hidupnya. Kami juga sering berdiskusi tentang banyak hal. Malam itu, Nanda dan kak Selvia melakukan sebuah gerakan. Apa, ya, namanya? Jungkir balik, gitu? Kalau dalam Bahasa Banjar, sih, besumbalit.

Nanda dan Kak Selvia punya kesamaan, yaitu sama-sama suka olahraga. Nanda adalah atlet taekwondo, sedangkan kak Selvi atlet voli saat masih muda dulu. Kak Selvia ingin mencoba melatih kekuatan otot paha. Jadi, aku diminta untuk naik dan berdiri di atas paha kak Selvia dan Nanda. Satu kaki di paha kak Selvia,  dan satu kaki di paha Nanda. Melakukan itu di kamar hotel yang sempit sambil merekamnya. Deg-degan!

Ngomong-ngomong, dinner dari hotel, ada rawon hangat yang entah kenapa enak banget malam itu. Padahal, aku gak begitu suka makan rawon. Tapi rawon malam itu cukup menenangkanku yang terlalu banyak menangis hari itu.

Oh ya, ngomong-ngomong, saat aku baru saja tiba di Surabaya, aku mendengar kabar dari teman-teman yang masih ada di Palu bahwa Hotel Palu City kebanjiran! Hahaha. Waktu itu, aku yang masih sebal, mensyukuri akan hal itu. Apes, deh, siapa suruh nyuri barang orang.

Balik lagi ke cerita, selesai makan dan melakukan hal gila tadi, saat mereka bertukar cerita, aku memilih untuk tidur lebih dahulu. Tepatnya, sih, ketiduran. Dengan terpejamnya mataku malam itu, berakhir pulalah kisahku tentang Festival Literasi 2016 yang pertama kali kuikuti dan semoga bisa berpartisipasi kembali di tahun berikutnya, heheheh.

(Ditulis tengah malam pada tanggal 19 November 2016, selesai 2 menit sebelum pukul 00.00)

__________

Mohon maaf untuk hotel yang bersangkutan, atau nama-nama yang kutulis dalam tulisanku di atas. Itu hanya untuk kebutuhan sebuah cerita dan ungkapan ekspresi. Bukan bermaksud untuk menyinggung atau mencari masalah, tapi memang seperti itu faktanya.
Semoga pelayanan Hotel Palu City bisa membaik, dan terima kasih telah membuatku enggak pingin ke Palu lagi. 🙂

What We Can Have, Is What We Deserve

“Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik di mata Allah.”

“What we can have, is what we deserve.” – #88 Love Life.

Aku baru saja membaca sebuah catatan di Facebook milik kak Adani Ghina P. S , berjudul As a Partner, I failed. As a Friend, I lost. Dimana catatan tersebut menceritakan tentang seseorang yang masih merasa tidak terima akan kehilangan sahabat yang menurutnya baik.

Di catatan itu, beberapa kali diulang kalimat “Mungkin baik menurutmu, tapi buruk dimata Allah.” Kalimat itu memang sering kudengar sebelumnya. Tapi setelah membaca catatan tersebut, aku tersadar bahwa kalimat itu dapat bermakna apa saja. Memang kalimat tersebut identik dengan jodoh dan pilihan atau impian. Tapi sahabat.. tidak terpikirkan.

Kemudian aku teringat salah satu quote yang kubaca di buku #88 Love Life oleh Diana Rikasari. Quote berbunyi seperti yang kutuliskan di awal postingan. What we can have, is what we deserve.

Postingan ini bukan review dari catatan kak Adani Ghina ataupun review dari buku #88 Love Life. Postingan ini bermaksud untuk menyuarakan pikiran dan isi hatiku, sekaligus bercerita tentang lika-liku persahabatan yang kujalani.

Aku ingat, sepanjang perjalanan hidupku, aku telah beberapa kali kehilangan sahabat. Mereka datang dan pergi, silih berganti. Mereka berubah, karena pengaruh lingkungan, waktu, dan pergaulan. Seperti di postingan sebelumnya, tentang bagaimana perubahan sikap salah satu sahabatku yang tergerus waktu.

Disini, aku akan menceritakan lika-liku persahabatan yang kujalani sejak SD sampai sekarang aku SMP. Sebenarnya dulu aku pernah menuliskan tentang ini, tapi tidak sanggup. Waktu itu, aku belum mengikhlaskan mereka. Mungkin sekarang aku sanggup melakukannya.

Saat awal masuk SD, aku terlambat satu minggu. Teman-teman SDku sudah satu minggu bersekolah di sekolah baru. Sementara aku baru saja datang dari Jogjakarta. Hal itu yang menyebabkan diriku kecil menjadi anak yang super cengeng. Berbulan-bulan kerjaannya menangis dan tidak mengizinkan ibuku pulang. Meski begitu, masih ada yang mau mengajakku berkenalan.

Hari pertama masuk sekolah, salah satu anak perempuan mendekatiku. Dia Caca. “Hai, kamu Salsa kan? Kamu sudah tau kantin kecil sama kantin besar belum? Sini, aku tunjukin kamu dimana kantinnya.”

Caca adalah teman pertamaku di SD. Ia ceria dan mudah bergaul. Hari itu, ia mengajakku keliling sekolah dan menunjukkan kepadaku dimana kantin kecil dan kantin besar. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa. Hanya itu sepenggal kenangan yang masih tersisa di memori otakku. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi dan siapa saja temanku di kelas satu SD. Tapi, aku tahu beberapa orang. Aku tahu Caca, Agnes, Tisya, dan Lia adalah teman sekelasku.

Kelas dua SD, aku mulai punya sahabat. Bukan, bukan Caca. Aku dan dia berbeda kelas. Yang akan kuceritakan setelah ini adalah Tisya. Kami berdua sudah dekat sejak kelas satu, dan berada dalam kelas yang sama di tahun kedua kami bersekolah membuat aku dan Tisya semakin dekat. Walaupun hanya dua tahun bertemu, Tisya telah banyak mengukir kenangan yang beberapa di antaranya masih kuingat dalam memoriku. Dua tahun, karena saat kelas tiga, Tisya pindah tanpa pamit terlebih dahulu. Cerita selengkapnya tentang Tisya ada di buku ketigaku yang sebentar lagi akan terbit. Jadi aku tidak akan menceritakannya banyak-banyak di sini.

Kelas tiga SD, itu adalah pertama kalinya aku kehilangan sahabat. Tapi sejak itu, aku mulai bergaul dengan teman lainnya dan mempunyai banyak teman. Ada beberapa yang dekat denganku. Mereka adalah H, A, R, dan S. Mereka terutama H, A, dan R setiap libur sering sekali bermain ke rumahku. Kemudian, di tengah terik matahari, kami pergi bersepeda ke rumah H yang kebetulan tidak jauh dari rumahku. Lalu kembali lagi ke rumahku, lalu ke rumah H, ke rumahku, ke rumah H, dan kembali lagi ke rumahku. Di rumah H, kami sering menonton film hantu bersama, sampai-sampai aku takut pulang sendirian.

Kedekatan kami hanya sampai kelas empat. Karena saat kelas lima, mereka berubah karena pergaulan. Kami berpisah kelas. Mereka semakin akrab dengan teman-teman baru di kelas mereka. Mereka yang awalnya biasa saja dan sederhana, menjelma menjadi anak-anak eksis bersama teman-teman barunya, dan membentuk sebuah geng. Sementara aku yang dijauhi, hanya bisa menatap dengan iri. Itu adalah kali kedua aku kehilangan sahabat-sahabatku.

Kelas empat SD, kuhabiskan dengan teman-teman baru. Sebut saja F dan Ab. Aku lupa bagaimana bisa dekat dengan mereka. Yang aku tahu, F sudah dekat denganku sejak kelas tiga. Itulah yang menyebabkan aku duduk sebangku dengan F. Kami bertiga sering pergi sholat bersama. Karena sekolahku adalah sekolah Islam yang di area sekolah terdapat masjid raya, kami melaksanakan sholat zuhur dan ashar di masjid tersebut. Saat jam makan siang, kami makan satu meja bertiga. Selalu bertiga. Kalau menu makan siang saat itu adalah ayam kentucky, maka kami akan mencampurkan nasi putih dengan saus sambalnya, dan terkadang makan menggunakan tangan.

Semester dua, Ab memohon kepadaku dan F untuk memasukkan W, teman sebangkunya ke dalam geng kami. Kami memang membentuk sebuah geng bernama PBG. PBG merupakan singkatan dari PurpleBlueGreen. Kemudian berganti nama menjadi RBG dimana R adalah Red. Kemudian, berganti lagi menjadi Farsabell. Akhirnya, kami menyetujui W masuk ke dalam geng kami. Berubahlah nama geng tersebut menjadi Farwasabell. Lama kelamaan, Ab mulai berubah seiring berjalannya waktu.

Kelas lima SD, bisa dibilang adalah puncak kehilangan. Aku kehilangan banyak sahabatku di kelas lima. Baik itu sahabat saat kelas tiga, maupun saat kelas 4. H, A, R, S, F, dan Ab, mereka berubah karena pergaulan. Tapi aku masih memiliki teman. Aku berteman baik dengan Caca, W, Az, dan J. Meski saling cemburu, tapi masa-masa kelas lima penuh dengan imajinasi dan petualangan-petulangan seru. Sama halnya seperti saat dengan Tisya yang pernah menceritakan sebuah kebohongan besar, yang menakutkan, yang menegangkan, tapi entah kenapa ia tetap kusayang.

Namun saat kenaikan kelas, aku kehilangan J karena kesalahan yang kuperbuat. Aku menjauhinya lantaran malu. Aku menyia-nyiakannya. Hingga sejak saat itu, hubungan kami renggang sampai sekarang. Meski sudah bermaaf-maafan, tapi mengingat kebodohan yang pernah kulakukan, itu membuatku sakit.

Kelas enam SD, aku berkumpul kembali bersama Caca, S, Az, dan H. Mereka bertiga adalah teman dekatku di kelas enam. Meski begitu, aku juga masih dekat dengan A yang kelasnya bersebelahan denganku. A adalah satu-satunya sahabatku di kelas tiga yang masih mengingat kedekatan kami dulu, yang masih ingat kenangan-kenangan masa lalu, yang menghargai persahabatan, dan yang tidak lupa kalau kami berlima pernah bersahabat.

Aku, S, dan H sangat dekat. Meski mereka masih sering datang dan pergi sesuka hati. Saat itu, aku layaknya pom bensin yang mereka datangi saat kehabisan bahan bakar. Saat tidak mempunyai teman. Saat bermusuhan dengan teman-teman barunya. Saat kehilangan teman untuk sementara, mereka datang kepadaku. Kemudian ketika bahan bakar sudah penuh, atau ketika permusuhan antara mereka dan teman-teman barunya selesai, mereka pergi. Perumpamaan diatas aku buat sendiri. Bahkan, musuhku di kelas enam mengetahui soal itu, dan ia menertawakanku, meski saat itu kami sudah berteman.

Awal masuk SMP, aku dekat dengan T dan Y. Y adalah teman sebangkuku, dan ia merupakan satu-satunya teman yang sejauh ini sangat nyambung denganku. Wawasannya luas, pemikiran kami sama. Tapi sama saja, mereka berubah karena pergaulan. Saat kelas delapan, aku dan mereka masih berteman baik, tapi tidak sedekat dulu.

Selama satu semester di kelas tujuh, kuhabiskan waktu pelajaran kosong dengan duduk di bangkuku, membaca wattpad. Karena tidak ada satupun dari mereka yang mengajakku mengobrol. Y sibuk dengan teman-teman lainnya, begitu juga dengan T. Dalam satu kelas, ada beberapa geng dan hanya aku satu-satunya anak perempuan yang tidak termasuk ke dalam geng manapun. Sepi, sunyi, bosan rasanya. Sampai-sampai rahangku sakit karena tidak dipakai mengobrol. Hanya diam memandangi hp. Begitu yang kulakukan setiap pelajaran kosong.

Ketika waktu istirahat tiba, aku melarikan diri ke atas. Ke lantai dua. Kelasku adalah satu-satunya kelas tujuh yang terletak di bawah, di lantai satu. Dibandingkan dengan kelas sendiri, aku lebih banyak mempunyai teman di kalangan atas, di kelas-kelas tujuh lainnya. Di atas, aku punya beberapa teman dekat. Mereka adalah Maura, C, R, dan Nikita. Tapi sayangnya, kami berbeda kelas, sehingga mereka hanya dapat menemaniku saat jam istriahat. Karena tentu saja jadwal pelajaran kosong kami berbeda. Masa-masa yang kelam.

Saat kelas tujuh, untungnya aku mempunyai sahabat di luar sekolah. Dia adalah teman terdekatku di tempat les. Dia orang yang kuceritakan di postingan sebelumnya. Tidak banyak yang dapat kuceritakan tentangnya disini, karena aku masih belum sanggup. Tapi sepenggal kenangan tentang kami telah kutulis di postingan sebelumnya, postingan berjudul Kenangan di Awal Ramadhan.

Aku mulai menikmati masa-masa SMPku saat duduk di kelas delapan, dimana kemudian aku kembali mendapatkan banyak teman. Meski itu hanya sebatas di kelas, tapi setidaknya aku memiliki teman akrab. Mereka adalah Fitri, Vhita, dan Maria yang pernah kuceritakan di postinganku beberapa waktu lalu, berjudul “Sedikit Cerita di Akhir Kelas 8”

Ada juga Maura, yang sudah dekat sejak kelas tujuh. Kemudian ada Salsa Harfi, teman sebangku yang mempunyai nama yang sama denganku. Masih banyak lagi, aku dekat dengan hampir setiap anak perempuan di kelasku.

Di kelas delapan juga, aku mempunyai beberapa sahabat di tempat les. Bukan, bukan tempat les yang mempertemukanku dengan sahabat kelas tujuhku. Mei tahun lalu aku sudah pindah ke lembaga lain karena suatu masalah. Tentu saja, aku berpisah dengannya dan bertemu dengan orang-orang baru. Orang-orang baru tersebut adalah Chesil, Stephanie, dan Raida. Mereka bertiga adalah teman dekatku di tempat les yang baru. Chesil paling dekat denganku, dan sudah seperti adikku sendiri.

Selain mereka semua yang kusebutkan di atas, sebetulnya masih banyak lagi sahabat-sahabatku yang lain yang datang silih berganti. Sahabat-sahabat dunia maya, sahabat-sahabat KONFA. Tapi tentu saja, aku juga mempunyai banyak sahabat yang masa kedekatannya masih berlaku, dan semoga saja akan terus berlanjut. Sahabat-sahabat dunia maya, sahabat-sahabat ARKI.

Lalu, apa hubungannya dengan quote yang menjadi judul tulisan ini?

Entah kenapa, saat teringat quote tersebut aku juga teringat dengan kisah persahabatanku yang telah kujabarkan di atas. Apa yang kita miliki adalah apa yang pantas kita miliki. Mungkin, sahabat-sahabatku dulu menjauh dan pergi dari sisiku karena Allah tahu, mereka tidak lagi pantas untukku. Mungkin, mereka yang selama ini kukenang dan belum dapat kuikhlaskan (karena menurutku mereka yang terbaik, karena mereka sahabat impianku), justru buruk untukku. Allah Maha Tahu. Ia yang merencanakan segala sesuatu, ia yang merancang semuanya.

Setelah kurenungi, memang beberapa di antara mereka mempunyai sifat yang buruk, yang sedari dulu selalu tertutupi oleh kebaikannya kepadaku. Mereka memang baik. Tapi Allah Maha Tahu. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Maka Ia menjauhkan kita dengan apa yang buruk bagi kita, dengan apa yang buruk menurutnya, karena ia Maha Tahu segalanya.

 

Kenangan di Awal Ramadhan

Hari pertama di bulan Ramadhan, satu tahun yang lalu..

Aku menjemputmu di tengah terik matahari pagi yang sudah muncul terlebih dahulu. Seharusnya aku meronta-ronta pagi itu, menunggu adzan maghrib yang akan tiba belasan jam lagi. Seharusnya aku gabut pagi itu, tidak tahu harus melakukan apa untuk membunuh waktu. Tapi rasa semangat bertemu denganmu mengalahkan kemalasanku. Aku malah mengayuh sepedaku untuk sampai ke depan rumahmu. Mewujudkan apa yang sudah kita rencanakan.

Awalnya aku ragu, karena sudah lama tidak pernah kulalui lagi jalan ini. Tapi seperti yang kubilang, semangat bertemu denganmu lagi-lagi mengalahkan keraguanku. Menyusuri jalan sepi yang penuh belokan bermenit-menit lamanya, akhirnya aku sampai di depan rumahmu.

Seperti yang direncanakan, kita berdua bersepeda di sekitar rumahmu. Bercengkarama setelah lama tidak bersua. Kau dan aku adalah teman les, sebelum aku memutuskan untuk berhenti kursus di sana. Kau dan aku adalah teman dekat, kita pernah melewati ulang tahun kita bersama. Maksudnya, kau ada di sisiku saat aku berulang tahun, dan aku ada di sisimu saat kau berulang tahun. 2015 yang indah bagi hubungan kita..

Usai bersepeda, aku dan kau beristirahat sejenak di rumahmu. Kamu menawariku minum, karena kamu tahu aku sedang tidak berpuasa. Meski posisi kita saat itu di pekarangan rumahmu yang luas dan tertutup pagar (rumahmu juga agak tersembunyi, berada di ujung sebuah gang), kita tetap minum secara sembunyi-bunyi. Seolah-olah kita minum di tengah keramaian. Bahkan kulihat, ayahmu juga ragu saat melihatku. Raut wajah beliau seakan tidak yakin anaknya menawari temannya yang memakai kerudung untuk minum di bulan ramadhan.

Kemudian, mata kita sama-sama menangkap sosok seorang yang entah masih muda atau sudah tua, aku lupa, berjalan ke arah semak-semak di tengah hutan di ujung gang. Orang itu menyusuri jalan setapak yang terbuat dari kayu panjang di atas rawa-rawa. Kita berdua penasaran, lantas mengikutinya. Awalnya kita ingin membawa sepeda, tapi takut kesusahan, kita memutuskan untuk berjalan kaki saja. Saat itu bertiga dengan adikmu. Secara bergantian, masing-masing dari kita menyeberangi rawa dan sampailah kita pada sebuah jalan yang cukup asing untuk kita bertiga.

Tepat saat kita baru saja keluar dari hutan tersebut, ada sebuah rumah kecil yang kuyakin sampai saat ini masih membekas di ingatanmu. Di rumah itu, terdapat seorang lelaki yang mengintip kita dari balik ventilasi. Kau yang terlebih dahulu melihatnya. Kau juga yang menyuruh aku dan adikmu untuk tidak menoleh ke arah rumah tersebut, dan meneruskan berjalan dengan cepat. Tapi jalan yang kita pilih ternyata buntu. Ujung jalan tersebut adalah sebuah hutan, dan kita tidak mau kembali mengambil resiko. Hingga mau tidak mau, satu-satunya jalan kembali harus melewati rumah tadi.

Kita berasumsi dengan penuh imajinasi, bahwa seseorang di balik ventilasi tersebut merupakan seorang penculik yang mengincar anak kecil seperti kita bertiga. Saat itu memang sedang marak kasus penculikan anak, yang membuat kita parno setengah mati. Kita menyesali rasa penasaran kita. Tapi kita terus berjalan dengan penuh ketakutan.

Saat itu yang ada di pikiran kita hanyalah berjalan sejauh-jauhnya dan menghindari melewati jalan yang membawa kita ke tempat ini. Kita berpikiran bahwa orang itu akan mengikuti dan dengan mudahnya mengetahui rumahmu apabila kita memutuskan untuk menyebrangi rawa-rawa lagi. Maka kita mengambil arah yang berbeda.

“Jangan lewat hutan tadi lagi, nanti kalau dia ngikutin dan tahu rumahmu, bagaimana? Mending kita mutar lewat jalan lain biar dia nyasar. Cari jalan yang rame.”

Dengan sok tahu, kita menerka-nerka arah jalan, “sepertinya aku kenal jalan ini..” kata-kata itulah yang setidaknya sedikit menenangkan hati kita. Meski kita tau, kita masih ragu. Jalan yang kita pilih membawa kita ke depan sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahmu. Akhirnya, saat itu kita bisa bernafas lega, sebelum akhirnya ayahmu menemukan kita berdiri di sudut jalan. Memarahimu dan menyuruhmu pulang.

“Jangan ceritain petualangan kita hari ini ke siapa-siapa ya. Biarin aja ini jadi rahasia kita bertiga.” katamu waktu itu.

Tapi, itu sudah setahun yang lalu. Bukannya aku tidak ingin menepati janji, tapi aku sudah tidak tahan atas perubahan sikapmu. Kamu sahabatku. Satu tahun yang lalu.

Sekarang semuanya telah berubah. Waktu yang mengubahnya. Kita berdua sama-sama tumbuh dewasa, punya kesibukan masing-masing. Tapi, menerima kenyataan bahwa masa kedekatan kita sudah kadaluarsa, itu sulit. Butuh waktu dan aku sudah melaluinya. Menulis tentang kita adalah salah satu caraku mengenang kembali memori masa lalu, meski itu artinya aku harus tenggelam di lautan kerinduan. Asal kamu tau, membuka kembali kenangan manis bersama orang yang masa kedekatannya sudah habis itu sesusah membuka kaleng soda dengan kuku jari yang pendek. Menyakitkan.

Dari kisah kita, aku belajar bahwa mau tidak mau, siap tidak siap, dan cepat atau lambat, keadaan tidak bisa selalu sama. Berubah dan mengalir. Orang-orang berubah karena mereka bertumbuh dewasa, dan juga karena waktu yang menggerusnya (itulah mengapa aku terkadang membenci waktu, ia membawa pergi semuanya). Kita hanya bisa menerima. Meski pahit, kita harus belajar untuk mengikhlaskannya.

Tapi kenangan yang sudah terukir tidak akan pernah berubah. Karena itu adalah bagian dari sejarah. Hanya kita yang berubah, yang memilih untuk terus mengingatnya atau membiarkan saja waktu menghapusnya.

People changes, memories dont.

6-7 Juni 2016.

(Lihatlah, aku menghabiskan dua hari untuk menulis ini. Kalau aku menulis secara rinci sedekat apa kita dulu, itu terlalu sakit dan aku tidak sanggup melakukannya.)