Apam Hambuku; Wadai Basah Yang Melarak

Ujian Praktek Prakarya kali ini, kami diminta untuk membawa wadai basah khas daerah kami. Wadai apa saja, asal bukan kue kering untuk nantinya dimakan bersama-sama sebagai cara lain dalam memperkenalkan kue tradisional Kalimantan Selatan.

Sebelumnya, kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok, dan di kelompokku, aku ditugaskan membawa wadai serabi, atau disini lebih dikenal dengan sebutan apam lumba.

Saat hendak pergi mencari serabi, mamaku bertanya, “Kamu nggak mau apam hambuku aja? Di depan ada yang jualan.”

“Apam Hambuku?”

Aku yang baru sekali mendengar nama itu, lantas bertanya-tanya. Seperti apa Apam Hambuku? Kemudian, sebagai anak kekinian, aku mengetikkan ‘apam hambuku’ di google image. Tidak ada gambar makanan yang keluar di hasil pencarian. Miris sekali. Tidak adakah yang pernah membahasnya di blog? Maka akupun berinisiatif untuk mengenalkan kalian kepada salah satu wadai khas daerahku, yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu.

Hambuku merupakan salah satu nama daerah di pelosok Kalimantan Selatan, tepatnya di kabupaten Hulu Sungai Utara. Seperti Nasi Padang, yang merupakan makanan khas Padang dan Soto Banjar yang merupakan makanan khas suku Banjar, Apam Hambuku juga merupakan kue khas Hambuku yang bentuknya unik.

Perlu diketahui, apam adalah salah satu wadai atau kue yang terkenal di Kalimantan Selatan. Di Barabai misalnya, daerah yang merupakan wilayah kabupaten Hulu Sungai Tengah itu terkenal dengan apam Barabai, apam yang bentuknya bulat dan berwarna coklat gelap.

Sama seperti Apam Barabai, Apam Hambuku ini juga berwarna coklat gelap karena bahan dasar pembuatan kedua apam tersebut sama-sama berasal dari tepung beras yang dicampur dengan ragi dan gula merah.

Proses pembuatannya yaitu tepung beras, dicampur dengan ragi dan gula merah kemudian diaduk dan didiamkan selama 1 hari agar bisa mengembang. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dilapisi dengan wadah kertas, lalu dikukus sebentar sampai mengembang dan mekar seperti kue bolu kukus.

Rasanya benar-benar khas gula merah, manis, dan teksturnya lembut. Persis seperti kue bolu kukus. Harganya berkisar antara Rp.8.000 sampai dengan Rp.10.000 per bungkusnya. Sementara 1 bungkus berisi 6 cup Apam Hambuku.

Di Banjarmasin, Apam Hambuku bisa kita dapatkan di depan Jl. Pramuka depan komp. Satelit dengan gerobak bertuliskan “Apam Hambuku Rohana”.

(all picture was taken by me)

———————————————————————————————————–

Wadai = Kue

Melarak = Mekar

(*ditulis pada tanggal 24 Maret 2016)

Soto Banjar; Terkenal Sampai ke Luar Pulau

Saat sedang menjelajahi facebook, aku tertarik dengan status salah satu teman sesama akademia ARKI, Muhammad Rifai dari Sulawesi Barat. Dalam statusnya, Rifai menulis tentang bagaimana ia dan teman-temannya merayakan malam tahun baru. Yang membuatku tertarik untuk mewawancarainya adalah, ia menyebutkan soto banjar berulang kali di dalam statusnya.

cr : google

Soto Banjar merupakan makanan tradisional Kalimantan Selatan, dengan bumbu yang khas dan biasanya dilengkapi perkedel, bihun, dan sayuran. Soto Banjar merupakan makanan yang wajib dicoba jika berkunjung ke Banjarmasin, dan aku akan mengajakmu makan soto Banjar bersamaku asalkan kamu mengunjungi kotaku.

Awalnya, kupikir Rifai sedang berada di Kalsel, entah untuk liburan atau apa, lalu aku menanyakan keberadaannya di kolom komentar.

Salsa :  “Kamu dimana?

Rifai : “Sulawesi Barat 😀

Salsa : “Owalah, kirain lagi liburan di Kalimantan gitu. Abisnya, nyebut-nyebut soto banjar sih 😀 kan kalo disini kita bisa meet up terus kuajak kamu makan soto banjar lagi juga hehe

Rifai : “hahaha nggak, soalnya disini makanan itu cukup terkenal 🙂

Aku menjadi penasaran, seterkenal apa sih, Soto Banjar itu?

Salsa : “iya? soto banjar dari Kalimantan, kan?

Rifai : “kayaknya, soalnya ada ‘banjar’nya

Salsa : “walaah.. keren 😀

Karena merasa tertarik dengan cerita soto banjar yang katanya terkenal di daerahnya, aku mengajak Rifai mengobrol lewat chat. Kami membahas tentang soto Banjar, aku menodongnya dengan banyak pertanyaan, seperti..

“Hai. Cerita dong, seterkenal apa sih, soto Banjar di daerahmu? Dan gimana rasanya?” tanyaku memulai percakapan.

Rifai menjawab dengan panjang, “soto banjar? disini makanan itu udah booming ya. Disana sini kalau kita sebut soto banjar, pasti semua tau. Di setiap acara, biasanya ada soto banjar sebagai makanan utamanya. Bukan hanya orang-orang Banjar saja yang tau bagaimana cara memasaknya, bahkan kami suku Mandar juga bisa dan pandai memasaknya. Selain itu, masakan ini mudah ditemukan dirumah rumah masyarakat semasa lebaran, atau acara acara pesta, dan sebagainya bahkan makanan ini sering dihidangkan di hotel hotel berbintang di sini.”

“Rasanya? enak sudah pasti. bumbunya, rasanya khas gak pasaran
aku belum rasa soto banjar yang asli, tapi disini campurannya ada laksa / bihun, kentang , kacang, dll terus pake lontong” tambahnya.

Hebat, bangga rasanya saat mendengar ceritanya tentang soto banjar yang menjadi hidangan hotel-hotel berbintang. Apalagi, saat tahu bahwa tidak hanya suku Banjar yang bisa membuat soto Banjar, tetapi suku Mandar juga.

“Wahh kalau disini campurannya kurang lebih seperti itu juga, tapi dilengkapi dengan perkedel :D” kataku. “Nah, kamu sendiri bisa gak bikin soto banjar?”

Duta Sanitasi Sulawesi Barat tahun 2014 ini mengatakan dia tidak bisa membuat Soto Banjar, karena ibunya sendiri tidak pernah membuatnya. “Tapi kalau ngerjain bahannya seperti mengiris-iris kentang, sih, bisa wkwk” katanya.

Aku mengajukan pertanyaan terakhir, “Apa ditempatmu soto Banjar hanya dihidangkan saat lebaran atau acara-acara tertentu saja?”

Rifai bilang, “dua-duanya sih, lebaran dan acara bebas.”

Setelah itu, berakhirlah percakapan kami. Aku cukup terkesan mendengar ceritanya. Selama ini, aku berpikir kalau soto Banjar cuma terkenal di daerahku saja dan jarang dijumpai di tempat lain.

Rupanya, soto itu sendiri sering dihidangkan di acara-acara bebas, bahkan sampai menjadi menu di hotel-hotel berbintang di Sulawesi Barat. Suku Mandar di Polewali juga ternyata cukup pandai memasak soto Banjar, sementara aku yang terlahir sebagai suku Banjar bahkan tidak bisa membuatnya. Bukan tidak bisa, sih, tapi belum bisa. Rifai, kita sama, heheheh.

Terima kasih untuk Rifai yang sudah bersedia diwawancara untuk bahan artikel abal-abalku ini, heheh.

(*ditulis pada tanggal 31 Desember 2015)