Moving On Is Inevitable

What is ‘move on’ actually?

It’s either to leave the place where you are staying and go somewhere else or to stop something and start a new activity instead. It is also means to accept that a situation has changed that you should get ready to deal with new experiences.

Akhir-akhir ini aku sering berkontemplasi tentang kehidupan yang kujalani, betapa ternyata move on (sampai saat ini belum ada padanan kata move on yang cocok dalam bahasa Indonesia) adalah proses yang selalu terjadi dan tidak dapat dihindari. Tidak selalu berarti melupakan, tetapi selalu berkaitan dengan perubahan.

Di titik ini, titik ketika aku seakan berada di dalam sebuah film dengan sudut pandang orang ketiga yang dapat melihat semua perubahan yang perlahan terjadi padaku dan orang-orang di sekitarku, aku jadi sedikit menengok ke belakang. Aku mengerti aku telah melewati puluhan bahkan ratusan kali proses move on, baik yang kusadari maupun yang nggak kusadari.

Namun, meski telah berulang kali jatuh bangun dalam kewajaran tersebut, aku tetap enggak terlatih menerima perubahan sepenuhnya. Aku bukan orang yang konservatif, tenang saja, aku hanya senang mengenang sesuatu yang.. mungkin telah hilang. Di usiaku sekarang, aku senang membuat diriku merasa tertantang untuk bisa survive di situasi yang baru, tetapi nggak jarang aku termenung dan menangis karena shock dengan keadaan yang perlahan enggak lagi sama. I wonder if this is normal, does everyone feels the same when they are in my age?

Mungkin karena ketika aku sedang berada di fase perpindahan (dan pengangguran) dari anak sekolahan ke dunia baru yang nggak bisa ditanggapi main-main ini situasinya sedang terjadi pandemi. Mungkin jika tatanan kehidupan berjalan seperti sebelumnya, aku nggak punya banyak waktu untuk merenung dan melihat berbagai perubahan yang biasanya terjadi tanpa disadari. Mungkin jika aku mengalami fase ini di tahun lalu atau tahun depan, aku sekarang sudah ada di Jogja, teman-temanku sudah di sudut lain di dunia, dan kami sudah nggak punya kesempatan untuk menangisi perpisahan.

Saat ini aku sedang menunggu pengumuman yang akan membawaku entah ke mana. Salah satu sahabatku, Ina, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan dirinya yang akan berangkat menuntut ilmu di Negeri Jiran akhir bulan nanti. Itu artinya sebentar lagi aku akan dihadapkan dengan perpisahan. Sahabatku yang lain, Cang Nai, juga sudah memasuki masa orientasi. Membayangkan aku dan dia tidak lagi satu sekolah dan tidak akan berada di bawah institusi yang sama membuatku sedikit tidak percaya. Pelan-pelan, aku akan kehilangan teman-teman, kebersamaan, dan rutinitasku selama ini. Meski semuanya akan terganti dengan yang baru nanti, rasa-rasanya aku terlalu.. ah aku nggak tahu mendeskripsikannya bagaimana. Rasa takut, nggak siap, penasaran, dan excited bercampur jadi satu menemani hari-hariku menunggu kepastian perkuliahan.

(Oh, astaga, sebenarnya hati kecilku juga merasa sedih tentang kehidupan yang terus berjalan. Meninggalkan Banjarmasin dan orang-orang di dalamnya, cinta pertama dan mantan-mantanku yang aku nggak tahu apakah garis takdir kami akan berpapasan kembali di masa depan nanti, kehidupan Salsa sebagai anak sekolahan dan semua kenangannya, sahabat-sahabat yang mungkin akan semakin tak terjangkau, jalanan yang biasa kususuri dengan berbagai perasaan, tempat-tempat yang kuhapal suasananya, keluarga, dan memori-memori di kehidupanku yang nggak sempat kutuliskan.)

I should move on cause life gotta go on, right?

I should accept that my life will change–the situation has slowly changed—and i should prepare myself to deal with.. something more serious, some new experiences a.k.a new life. It’s scary, honestly. But that’s life, we have no choice than to survive.

Banjarmasin, 30 Juli 2020.

hasil karya aku yang senang melebay-lebaykan sesuatu.

Beranjak Dewasa

Jumpa aku di sana, entah di mana yang aku maksud..

Kereta ini tak gentar terus melaju, aku takut..

Nadin Amizah — Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat

Aku selalu senang ulang tahun, tapi juga selalu ketakutan tentang itu. Selama ini, aku percaya momen paling nyata untuk merasakan limpahan cinta adalah ketika seseorang berulang tahun dan meninggal dunia. Itulah mengapa aku selalu menantikan hari ulang tahunku serta sering terbayang bagaimana jadinya jika aku tiba-tiba meninggal dunia, karena di saat-saat itulah seperti pusat perhatian tertuju padaku.

Di saat yang bersamaan dengan keantusiasanku menyambut hari ulang tahun, sejujurnya aku juga sangat ketakutan. Menjelang tanggal 12 Mei setiap tahunnya, aku selalu takut menjadi dewasa. Bukan tentang kematian yang semakin mendekat, tapi tentang bertambah besarnya angka penanda usia. Aku takut bertumbuh dewasa, takut dengan hal-hal yang tidak lagi sama, beban-beban yang ditimpakan, serta tuntutan untuk tak jadi manja. Aku takut pada hal-hal yang bahkan nggak tergambar jelas di kepala. Padahal, hari-hari setelah ulang tahunku–hari-hari yang kumaksud–semuanya masih abu-abu.

Bulan Mei sudah selesai. Teringat kemarin aku sempat mengucapkan kalimat panjang sebagai penenang untuk Ratu yang baru memasuki usia legalnya. Sebagai orang yang sudah legal satu tahun lebih dulu, aku memberitahu Ratu bahwa menjadi 17 nggak semenakutkan yang ia pikirkan.

Kubilang pada Ratu, “Jangan takut sama dunia, semua yang belum siap kamu hadapi gak akan datang dengan serta merta. Setiap harinya kamu berproses dan mendewasa, hal-hal dalam bayanganmu gak akan semengagetkan itu. Baru jadi 17 gak akan langsung mengubah kamu, hari ini dan esok-esok gak usah ditakuti, cuma pertambahan angka penanda usia. Kamu tetap Ratu yang kemaren, tetap Ratu yang begini adanya, tapi nanti kamu bakal jadi lebih dewasa lagi seiring berjalannya waktu. Prosesnya emang lamban makanya gak akan terasa, buktikan aja nanti saat mendekati 18, kamu udah bukan orang yang sama dengan kamu di hari ini. Prosesnya gak terasa, Ratu. Gak akan terasa kamu tiba-tiba di ujung sana nantinya. Gapapa. Gak usah takut ya. Perlahan-lahan juga lewat, perlahan-lahan juga sadar. Aku selalu gitu setiap mau ulang tahun, selalu takut, tapi setelahnya ternyata gak semengerikan yang kupikirkan. Semuanya menghampiriku perlahan dan aku pun berproses setiap harinya, jadinya gak akan begitu kaget dengan situasi yang baru.”

Sebagai yang satu tahun lebih dewasa dari Ratu, aku bisa dengan mudah mengatakan itu. Sudah merasakannya terlebih dahulu. Pun, terlahir sebagai anak sulung yang mempunyai banyak adik membuatku juga merasa seperti menjadi kakak bagi teman-teman yang usianya lebih muda. Aku punya banyak sekali adik-adikan yang bahkan kebanyakan dari mereka usianya hanya satu tahun di bawahku.

Menurutku, merasa lebih dewasa padahal perbedaan usia hanya terpaut satu tahun adalah hal yang wajar dan pantas saja. Aku juga punya kakak-kakakan yang bedanya hanya satu tahun di atasku. Kak Annet namanya.

Beberapa waktu lalu, Kak Annet memberitahuku banyak hal tentang dunia yang sebentar lagi akan kujejaki. Kalau dulu saat masih dekat-dekatnya aku dan kak Annet hanyalah anak SMP, sekarang aku sudah akan jadi mahasiswa, menyusul Kak Annet yang sudah semester dua.

Meski hanya beda satu tahun, aku melihat Kak Annet sebagai sosok yang jauh lebih dewasa dariku. Terlebih di kondisi seperti ini, aku belajar banyak sekali dari Kak Annet yang sudah berpengalaman beradaptasi di dunia perkuliahan. Aku ada di posisi seorang adik yang kagum dengan kakaknya.

Kak Annet sudah melewati beragam kejadian yang membentuknya jadi tahan banting seperti sekarang. Ia bilang, masa transisi dari anak sekolahan ke anak kuliahan akan membuatku jatuh bangun dan semuanya adalah proses menjadi lebih dewasa. Hingga nanti aku dapat dilihat oleh adik-adikku seperti aku melihat Kak Annet sekarang.

“Kamu mungkin akan kaget, Sal”

Kak Annet menganalogikan dirinya dengan olahan kentang. Saat masih jadi anak sekolah, ia adalah kentang mentah. Saat jadi mahasiswa baru selama dua semester, dirinya direbus, digoreng, ditempa sedemikian rupa hingga menjadi olahan kentang yang berguna. Kak Annet mempersiapkanku untuk direbus. Atau mungkin digoreng, atau bisa juga dikukus.

Seperti lirik lagu Beranjak Dewasa oleh Nadin Amizah yang dirilisnya untuk merayakan usia barunya, pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan. Menjadi 18 bagiku adalah permulaan untuk kisah-kisah yang lebih serius. Cerita pahit dan manis yang terjadi sebelum itu sudah kututup sebagai prolog hidupku.

***

Hari ini, sebelum aku memutuskan untuk menuliskan ini, aku mengobrol singkat dengan salah satu mantan yang membuatku belajar banyak hal. Salah satunya adalah memperluas hati.

Dari semua kisah cinta yang pernah kujalani, dua yang terakhir adalah yang paling berkesan. Cinta masa SMA yang sedikit banyak berpengaruh pada hidupku. Mantanku yang terakhir ini usianya dua tahun lebih muda dariku. Aku tau sekali seperti apa orangnya. Terlebih di usianya yang baru 15 tahun Oktober kemarin, aku tahu kalau saat ini ia masih ada di usia dating someone for experiences.

Sebelum bisa jadi teman, hubunganku dengannya sangat complicated. Kenal karena pernah satu SMP, dan putus karena ternyata dia hanya menjadikanku pelampiasan. Aku lagi-lagi belajar mengikhlaskan.

Aku senang bisa sampai di titik memaklumi apa yang pernah terjadi. Hari ini, saat berkirim pesan dengannya lagi, aku jadi paham sesuatu. Aku mengerti bahwa hubungan dengan perbedaan usia di masa sekolah sulit untuk dijalani. Berbeda jika terjadi di usia 20-an. Di kondisi kami, aku sudah beranjak dewasa, sedang butuh-butuhnya support system untuk menunjangku menjalani hari sembari berjuang. Sedangkan ia terjebak di status anak SMA kelas dua (sekarang kelas tiga) dengan usia yang masih senang untuk mencoba-coba. Aku paham alasan hubungan kami pernah terjadi. Ini untuk mendewasakanku dan mungkin untuk mempertemukannya dengan orang yang menyadarkannya. Aku akhirnya bisa menerima hal-hal yang terjadi di luar kendali kami berdua. Semuanya murni proses mendewasa.

Dia mungkin enggak pernah benar-benar suka padaku seperti aku jatuh padanya. Tapi aku tahu apa yang telah terjadi akan selalu punya tempat di pikirannya, akan selalu jadi bagian dari hidupnya.

Perihal perasaan, aku senang berhasil merelakan. Sebelum dengannya, aku punya cinta pertama. Untuk mengikhlaskan kalau aku dengan mantan pertamaku saat SMA itu ternyata nggak berjalan lama, aku butuh waktu kurang lebih dua tahun sampai akhirnya bisa jadi baik-baik saja.

Di titik ini, aku sudah enggak menyesali apa-apa yang pernah terjadi. Justru, aku bersyukur dapat ditempa dan bertemu mereka sebagai media bekalku memperluas hati. Selain karena dengan mereka aku pernah bersungguh-sungguh, apa yang terjadi di antara kami turut membentukku jadi seperti ini. Cerita cinta masa SMA yang akan selalu punya tempat di hati. Akan selalu ada bagian dari hatiku yang tertinggal untuk Adit dan Fasya, nggak peduli seberapa jauh kakiku melangkah nantinya.

Aku senang bisa menulis seperti ini, menandakan aku sudah satu level lebih dewasa dibanding diriku di tahun lalu.

Menjadi 18 ternyata nggak buruk ketika aku sadar dan bersyukur.

Desember lalu aku pernah bilang kalau tahun ini akan terjadi banyak hal yang besar. Desember lalu aku pernah berkata mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih serius di tahun ini, mengingat usiaku akan jadi delapan belas. Benar saja, bahkan saat belum genap 18 aku sudah memulai hal-hal baru. Sesuatu yang cukup besar untuk ada di tanganku.

Setengah bulan setelah jadi 18 pun banyak membawaku pada kesibukan yang kutahu pasti memengaruhi proses diri. Banyak hal yang perlahan namun tiba-tiba sampai padaku, hal-hal yang tak pernah terpikir akan terjangkau olehku. Pelan-pelan aku menerima beban, pelan-pelan aku mengambil tanggung jawab. Berbagai tawaran dan pilihan datang padaku di tahun ini sebagai pertanda dari Tuhan bahwa aku sudah bukan anak remaja yang gentar jadi besar. Sedikit-sedikit aku sudah jadi diriku yang baru.

Menjadi 18 ternyata nggak menakutkan ketika aku sadar dan bersyukur.

Di ulang tahunku tahun ini, aku dikelilingi orang-orang yang kusayang dan menyayangiku. Meski nggak secara langsung seperti tahun kemarin, aku bersyukur karena kebahagiaannya berlanjut sampai hari-hari setelahnya. Nggak seperti di tahun lalu, satu hari setelah ulang tahun aku sudah ingin mati, yang kupikir-pikir karena waktu itu aku belum bisa merelakan sesuatu.

Tahun ini aku punya catatan panjang tentang kebahagiaan. Terima kasih untuk Rani–maba IPB–yang membuatkanku tulisan tentang betapa berharganya aku di kehidupannya. Terima kasih untuk Qanita atas rekaman suara wujud syukurnya akan hadirku di dunianya. Terima kasih untuk Dinda yang mengucapiku dengan surat formal m, juga kepada Salma yang memberi ucapan lewat kode barcode yang harus di-scan. Terima kasih untuk Elian yang menyelamatiku di secreto, untuk Bunda Caca yang membuatkanku video, untuk Tika yang membuatkanku video handletter-nya, untuk Denisa yang kalimatnya selalu bisa membuatku bahagia, juga untuk Ina yang menemani pergantian usiaku lewat panggilan suara.

Terkhusus untuk teman-teman yang mengirimiku kue dan bingkisan, Widya dengan kue coklat paling enak yang pernah kumakan, Juliyanti dengan risol coklat dan tahu bakso langganannya, Ivena dengan kue lebaran produksi rumahnya serta kado yang tak kusangka, Nida dengan kue bantal lembut yang tiba-tiba, serta Halida dengan dessert box dan bingkisan lainnya, terima kasih atas usaha dan wujud cinta kalian.

Untuk teman-teman yang turut melangitkan doa, mengirimiku pesan cinta, ucapan selamat dengan bahagia, atau bahkan mengunggah fotoku di story instagram, terima kasih. Terima kasih telah jadi bagian dari rasa syukurku.

Teman-temanku tersayang, nggak peduli seberapa banyak orang yang akan kukenal dan menjadi bagian hidupku nanti, kalian yang ada sampai saat ini nggak akan pernah terganti. Semuanya punya porsi masing-masing di hidupku, nggak akan ada yang bisa menggeser posisi kalian, siapa pun dan kapan pun itu.

Banjarmasin, 6 Juni 2020.

Amerta

Amerta, kata yang menggambarkan perjalanan kita. Ia berarti abadi, seperti rangkaian kisah yang terpatri serta rajutan mimpi-mimpi. 

Hari ini, tepat pada Hari Pendidikan Nasional, angkatan 2017-2020 resmi dinyatakan lulus tanpa adanya suatu prosesi. Berpisah secara tiba-tiba, dipaksa menghadapi kenyataan ketika pandemi usai sudah tercerai-berai. Kisah kita selesai.

(Bahkan sejak kau menanggalkan seragam pramuka hari itu, sejak kau meninggalkan gerbang sekolah yang membisu)

–bielb

 

“Mulai hari ini kita tiada status. Pelajar, sudah bukan. Mahasiswa, belum juga. Lantas, apakah kita?” 

“Pejuang.”

–bielb

Rasanya aneh. Tak terdefinisikan. Yang aku dan teman-teman sekolahku tahu hari itu adalah hari terakhir ujian sekolah di minggu pertama. Masih ada minggu kedua dan ujian nasional. Melangkah keluar gerbang sekolah dengan santai, tanpa gelagat perpisahan, tanpa mengabadikan kebersamaan.

Keadaan begitu cepat berubah. Dalam waktu dua hari selama kami menikmati akhir pekan sebagai rehat di sela-sela ujian, terputuskan bahwa kami tidak bisa masuk sekolah lagi. Kemudian minggu-minggu berikutnya sungguh di luar dugaan.

Ujian Nasional dihapuskan, kebijakan seleksi masuk perguruan tinggi berubah mengikuti kondisi. Beberapa daerah dilockdown, kota-kota menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Semua orang dikarantina, baik itu di rumah sakit, maupun di rumah sendiri. Keadaan dunia begitu mengkhawatirkan.

Imbasnya sungguh terasa padaku dan teman-teman seangkatan. Semua jadi serba daring, bahkan kelulusan. Tiada perpisahan. Rasanya aneh, tak terdefinisikan. Tiba-tiba lulus tak bersyarat, tanpa jabat tangan dan prosesi pengalungan, tanpa bersolek dengan jas atau kebaya, tanpa toga, tanpa perayaan.

Tadi malam aku menangis. Menyadari akan jadi alumni dan menutup lembaran masa SMA. Mengakhiri 12 tahun wajib belajar. Aku menghubungi dua orang teman lama. Salah satunya adalah mantan pacar saat baru masuk SMA, cinta pertama. Sudah dua tahun sejak kisah kami berdua yang penuh drama. Aku hanya mengungkapkan emosi sedih dan terima kasih karena ia pernah mau saat aku masih buruk-buruknya, sudah jadi bagian besar dari perjalananku di SMA. Sekarang, usai sudah bab hidupku yang ada dirinya. Kami sudah lulus SMA.

Selain teringat kisah kasih di sekolah, aku juga seakan terbayang rangkaian cerita yang pernah kulalui tiga tahun ini. Pahit manis yang membuatku jatuh bangun berkali-kali. Di otakku bagai film yang menayangkan rangkuman perjalanan. Seperti baru beberapa waktu lalu aku memantau PPDB, sudah berakhir saja.

Aku pun teringat kata-kata yang kupilih di profil buku tahunanku, “Wow i survived highschool.” And yes, i survived it. I closed the book. 

SMA adalah perjalanan yang sangat melelahkan. Kenangan sekolah yang mustahil selalu indah. Seringkali aku jatuh, tak mampu berdiri, mencoba bangkit, tertatih dan terseok. Enggak, aku nggak akan berkata prosesku seorang diri. Faktanya, selalu ada teman yang menemaniku menjalani hari-hari mencari terang. Selalu ada yang berusaha dan belajar menerimaku, seburuk-buruknya aku. Terima kasih, terima kasih sudah jadi bagian dari itu.

Tapi aku nggak ingin mengingat SMA dengan kelam-kelamnya saja. Tak terhitung berapa ratus hari bahagia yang dianugerahkan padaku. Semuanya berharga karena gak akan pernah bisa diulang kembali.

SMA sudah begitu banyak mengubahku. Mulai dari penampilan, sifat, bahkan pelajaran hidup yang kudapat di luar materi sekolah. Proses menjadi dewasa rasanya nano-nano, ya. Meski kuakui gak semua materi IPA melekat di kepala, banyak sekali yang kupelajari di SMA. Termasuk tentang kita hanya bisa berteman dengan beberapa, di antara seluruh raga yang dipertemukan di sana. Garis takdir yang kebetulan bertemu di satu titik, tapi nggak berjalan searah.

Sedih sudah harus berhenti mencipta cita rasa masa remaja. Tadi malam kuhabiskan dengan mengedit video kenangan kelas yang ingin kuunggah di IGTV, tapi sampai sekarang selalu gagal disimpan. Tadi malam juga aku menemukan lagu perpisahan dengan suasana 90an yang nyaman untuk didengarkan. Judulnya Masa SMA dari Angel 9 Band. Mungkin kalian bisa coba dengar, enggak kalah sedih dari lagu Sampai Jumpanya Endak Soekamti atau lagu-lagu Sheila On 7. Kayaknya nanti kalau aku dengar lagi lagu ini akan ingat masa-masa kelulusan.

Hidup gak pernah terlepas dari proses adaptasi, ya. Ketika kita sudah berhasil mengenal dan mencocokkan diri dengan situasi, kita malah harus pergi. Sekolah sudah bukan untuk kita, tapi akan selalu jadi tempat kita. Tempat aku dan kalian pernah bersama.

Seorang adik kelas menyelamatiku saat aku mengunggah surat pernyataan kelulusan. Aku tertegun membacanya. Aku bahkan lupa memberi selamat untuk diri sendiri. Selamat karena seharusnya aku senang, selamat karena aku sudah berhasil, selamat karena sudah lewat, selamat aku mampu berjuang. Aku lupa menghargai diriku sendiri. Selama ini aku hanya terfokus pada kesedihan harus berpisah.

Kata mama, “Nanti kalau kalian bertemu lagi, namanya sudah bukan perpisahan, tapi reunian.”

Benar juga. Jadi, kapan kita reunian?

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat merayakan kelulusan tanpa perayaan. Selamat merelakan.

 

Banjarmasin, 2 Mei 2020. 

yang selalu mengeluh karena seluruh sekolah warnanya hijau.

 

 

 

 

 

Di Penghujung April

Ada hal yang membuatku tertegun tadi pagi. Story kenangan satu tahun lalu di instagram yang kusadari sedikit kulupa rasanya.

30 April 2019 lalu aku masih jadi anak SMA kelas 11 yang benar-benar menghabiskan satu hari di sekolah full kegiatan. Gak kayak beberapa bulan belakangan selama di kelas 12 semester dua yang banyak jam kosongnya, waktu itu aku beneran berkegiatan seharian. Ada perasaan aneh di hatiku melihat fakta itu, aku sudah lupa rasanya full belajar dan berinteraksi satu hari penuh. Ditambah lagi, mulai dari kelas dua belas aku sudah tidak begitu memperhatikan pelajaran di sekolah, jadi yaa.. kayak gak belajar. Gak ingat apa-apa, terakhir fokus belajar di sekolah mungkin saat kelas sebelas. Aku kangen rasanya jadi anak sekolah.

Hari itu, satu angkatan dikumpulkan di aula untuk pengundian sidang karya tulis ilmiah. Sekolahku memang punya program karya tulis ilmiah untuk anak kelas sebelas. Nah, yang kebagian sidang hari itu salah satunya adalah Ravi, sahabatku. Aku ingat betapa gugupnya saat guru-guru penguji mengambil acak karya tulis yang ditumpuk di meja. Saat itu aku bikin story dua kali. Foto banner sidang dengan caption “Wish us luck”, dan foto Ravi yang sedang presentasi karya tulisnya di depan satu angkatan dengan caption “Mendengarkan ravi untuk kedua kali” karena memang malam sebelumnya dia menelponku untuk ‘presentasi’.

Agak siangan dikit, sebelum pelajaran matematika wajib (aku ingat karena waktu itu kami ditegur wali kelas), aku dan Halida memetik buah jambu di depan ruang guru bersama Pak Jali, guru olahraga. Seru banget. Persis di depan ruang guru, kemudian ibu Samitun keluar dan menegur kami yang masih di luar. Kami seharusnya berada di kelas pada saat itu, menunggu beliau datang ke kelas. Waktu itu aku bikin story dua kali, ngevideoin Halida yang mengumpulkan buah jambu yang jatuh dari pohon, dan foto hasil kami memetik.

Saat istirahat, aku dan teman-teman cewekku mengeluarkan dessert banoffee yang kami buat sehari sebelumnya di rumah Halida. Waktu itu seru banget, di tengah-tengah bikin banoffee, Salgong lari-lari dikejar adiknya Halida sambil berdebat yang nggak penting. Aku ingat karena kemarin juga ngelihat story kenangan satu tahun lalu. Seperti biasanya, anak-anak cowok selalu berebut makanan apapun yang kami bawa. Aku bikin story waktu mereka berebut makan banoffee kami. Mereka –teman teman cowokku itu, masih terlihat culun dan gak sekeren sekarang, haha.

Sebelum pulang sekolah, ada pelajaran Kimia. Aku bikin story foto Dimas lagi ngaduk gelas beaker di atas spiritus (aku googling dulu sih ini nama-nama alatnya, terbukti gagal jadi anak IPA kan haha). Aku lupa waktu itu lagi praktikum apa, yang jelas kangen pake jas lab dan main ke laboratorium. Laboratorium di sekolahku letaknya di sebelah kantin, jadi kalau mau ke lab mesti lewat kantin dulu. Enak banget, selesai praktikum langsung jajan.

Pulang sekolah, seperti biasa aku kulineran dulu sama Cangnai dan Ozan. Mereka berdua partner makan dan partner jalanku banget sejak kelas 11. Kami bertiga sering banget kelilingin Banjarmasin buat nyari makan. Biasanya sih nyobain bakso-bakso atau warung kepiting. Nah hari itu, kami makan di BPJS. Warung makan yang ada di kawasan kuliner dekat sekolahku, murah meriah dan sering jadi basecamp anak-anak Smaven. Pokoknya, kalau kesana pasti ketemu anak Smaven, entah itu temen seangkatan, kakak kelas, adik kelas, atau alumni. Serius deh! Buktinya waktu itu kami ketemu sama Suci dan Rifky. Aku ingat karena waktu itu bikin story, captionnya “Definisi kesedihan hidup” karena dikelilingi dua pasangan.

Melihat semua story kenangan hari ini satu tahun lalu membuatku menghela napas. Betapa kondisinya sekarang sangat berbeda. Aku ditampar fakta yang sering

kali kulupa, kalau hidup terus berjalan. Dikarantina di rumah saja dan sudah lulus dari sekolah membuatku sedikit lupa rasanya berkegiatan layaknya anak sekolah. Keseharian yang mungkin saat aku sudah kuliah nanti bakal bener-bener kulupa suasananya. Sedih aja.

Hari ini tadi aku memakai kembali seragam putih abu-abuku, untuk keperluan konten tiktok. Aku memasang lensa lagi, dandan lagi, merapikan kerudung sekolah yang licin lagi, rutinitas pagiku selama masih sekolah. Aku menghabiskan sekitar dua jam cuma untuk bikin video tiktok doang, aku masih cocok banget pakai seragam anak SMA. Styleku emang rada feminim gitu sih, apalagi didukung tubuhku yang kecil pendek, aku gak bisa ngebayangin gimana penampilanku saat kuliah nanti. Bakal gimana ya?

Hari ini dan satu tahun lalu beda banget. Selesai sahur aku gak belajar, malah tidur lagi dan bikin video tiktok begitu bangun. Setelahnya, aku rekaman untuk podcast yang bener-bener bikin frustasi karena ada aja kendalanya. Belum selesai recording seluruh isi naskah (karena terkendala di tengah-tengah), aku nulis ini untuk jadi catatan pengingat saja. Belum ada belajar sama sekali, mungkin setelah ini. Beberapa jam lagi buka puasa. Aku rindu bukber, rindu pergi ke luar, rindu berinteraksi langsung dengan teman-teman, rindu suasana kota, rindu keseharianku sebelum new normal ini, rindu dunia di luar sana serta keseruannya.

Ya ampun, mellow banget ya? Emang udah mendekati harinya aku datang bulan, sih. Besok udah bulan Mei aja, tinggal hitungan hari lagi waktuku sebagai remaja 17 tahun. Kadang, aku takut jadi dewasa. Aku ingat duluuuu waktu masih berusia 13 tahun, aku takut banget membayangkan bakal berumur 14. Kayak.. di pikiranku waktu itu 14 tahun tuh tua banget dan gak kebayang di otakku. Kayak serem aja.

Eh tau-taunya aku sekarang sudah mau 18 tahun, dan kembali merasakan ketakutan. Sebenernya hampir tiap tahun sih aku ketakutan saat menjelang ulang tahun. Takut berumur tujuh belas, gak nyangka udah terhitung bukan anak-anak. Takut berumur delapan belas, memasuki usia kuliah dan menuju dewasa. Heran, kok usia 35 bisa dibilang muda? Persepsi sih ya.. kalau yang belum 35 pasti mikirnya tua umur segitu, tapi kalau yang sudah lewat 35, 35 tuh muda…

Gak jelas banget, ya? Cewek mau haid emang gak jelas banget. Bahkan, sekarang aja aku lagi mikir untuk belajar atau bikin cireng, ya? Di rumah ada dua kotak kue bolu kiriman teman mamaku, tapi sekeluarga kurang sreg lidahnya dengan kue-kuean. Lebih suka cireng, seblak, boci, dan yang pedes asin (tapi ini cuma berlaku untuk aku dan adikku), padahal aku suka banget bikin kue atau dessert, cuma kalo makannya kurang suka.

Iya, aneh banget ya? Gak sih kalo kataku…

Tuh kan gak jelas banget ini udah macam tulisan anak SD yang baru ngeblog aja.. kayaknya tulisan ini sih yang paling gak berbobot di antara semua tulisanku di blog ini. Oiya, doain record podcastnya lancar ya temen-temen, frustasi banget!!

Banjarmasin, 30 April 2020. 

Cewek yang katanya bentar lagi 18, tapi kok sekarang kayak anak-anak.

(tapi bisa dewasa kok!!)  

 

Tentang 2020, bagian satu.

Mari kita bicara tentang tahun dua ribu dua puluh.

Ini sudah hampir sebulan sejak postingan ketigaku di tahun ini yang kusetting jadi private karena berisikan ungkapan perasaan pada seseorang secara gamblang. Tulisan pertama yang kubuat dengan lancar dan tanpa kendala, yang kemudian langsung kutarik setelah dibaca orang yang bersangkutan. Surat cinta itu cuma salah satu dari hal-hal gila di awal tahun ini.

Teringat Desember tahun kemarin, betapa aku menggembor-gemborkan pada dunia kalau 2020 adalah tahun dimana aku akan memulai diriku yang baru. Tahun pergantian fase sekolah ke fase kuliah. Tahun yang akan kuperjuangkan habis-habisan. Tahun yang membawa kita semua pada ujung sekaligus awal mula bagian lain hidup kita.

Pada saat itu, aku maupun kamu, cuma bisa memperkirakan akan jadi seperti apa kita nantinya. Aku membayangkan diriku menginjakkan kaki keluar dari zona nyaman, kamu mungkin berencana ke luar kota. Kita semua mungkin sudah merancang langkah-langkah tujuan indah.

Nyatanya saat ini kita malah terperangkap situasi. Benar-benar gak ada yang menduga kalau awal tahun sebegini kacaunya. Kita semua dikarantina. Bahkan, kotaku sendiri sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala hal gak berjalan sesuai rencana awal. Pandemi ini sudah jadi bencana nasional yang berdampak pada.. sepertinya semua faktor kehidupan?

Ekonomi, krisis. Pekerjaan, dibawa ke rumah. Pendidikan, sudah gak perlu ditanya. Apalagi untuk anak kelas tiga SMA, dampaknya pada pendidikan sangat terasa. UN dihapus, perpisahan ditunda atau bahkan gak ada, UTBK diundur dan dikurangi beban ujiannya, tapi tahun ajaran baru pun masih belum jelas kapan. Hanya bisa berharap semoga tahun ini gak dihabiskan di rumah saja.

Ngomong-ngomong di rumah, aku diam-diam menikmatinya. Bersyukur dapat di rumah saja, enggak harus berjuang di tengah keadaan sekarang. Meski hobiku masih tetap keluyuran, aku tetap bisa menikmati keberuntungan ini. Aku bilang keberuntungan, karena gak semua orang punya privilege sepertiku. Seperti kita.

Kelas dua belas semester satu jadi hari-hari tersibukku. Sekolah sampai sore, dilanjutkan bimbel sampai magrib, kemudian les TOEFL pada malam harinya dan begitu terus rutinitas yang kujalankan selama berbulan-bulan. Capek, gak ada waktu untuk hal-hal lain karena begitu di rumah langsung ketemu kasur. Tidur. Weekend gak ada yang namanya belajar, aku memaksimalkan waktu liburku untuk bermalas-malasan. Atau kadang-kadang pergi ke luar untuk kulineran.

Waktu itu, sering banget curi-curi kesempatan untuk bolos les. Masih teringat betapa masa itu aku sangat mendambakan hari libur agar aku bisa istirahat dan mulai membenahi hal lain dari hidupku selain belajar. Sekarang, aku punya hari libur yang belum jelas batasnya.

Selama masa karantina, aku seperti gak bisa santai ketika tersadar bahwa aku masih harus belajar. Aku belum punya kampus. Makanya, bulan-bulan di rumah saja ini kusadari harus kumaksimalkan untuk mempersiapkan masa depan. Aku ingat pernah ngeluh di kelas kalau rasa-rasanya ingin gak masuk sekolah satu hari aja untuk fokus belajar UTBK, karena aku memilih untuk lintas jurusan dari IPA. Sekarang, aku sudah gak masuk sekolah lagi.

Aku gak pernah terlatih jadi ambis sebelumnya. Ini suatu keharusan yang kadangkala juga membuatku tertekan. Minggu lalu aku berada di fase jenuh belajar. Muak dan pusing ketika membuka semua sosial media yang kupunya, selalu kutemukan materi pelajaran atau konten bernuansa masa depan. Sampai akhirnya aku membuat akun instagram dan twitter baru khusus untuk hiburan. Yang isinya bersih dari poster pendaftaran tryout online atau hasil capaian belajar saingan-sainganku di luar sana.

Selain lebih serius lagi dalam belajar, aku menyadari sedikit perubahan pada diriku di tahun ini. Mungkin buah dari kata-kataku Desember lalu tentang aku yang akan memulai versi diriku yang baru.

Hal-hal yang kurasakan berbeda pada diriku utamanya adalah kestabilan emosi. Aku jadi lebih bisa mengontrol suasana hati dan menjaganya untuk tidak mengacaukan hari. Quality time bersama keluarga benar-benar terasa. Aku jadi lebih sering ngobrol dengan adik-adikku, melakukan pekerjaan rumah seperti beres-beres yang jarang kulakukan waktu masih sekolah, masak dan mencoba berbagai resep dessert karena aku lebih suka baking daripada cooking.

Aku juga jadi lebih produktif. Hari-hari pertama karantina kuhabiskan dengan melahap buku yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca. Cuma dua buku sih, karena stok bukuku sudah habis dan sedang gak bisa ke gramedia. Mau belanja buku online, tapi takut malah jadi enggak belajar. Sedangkan prioritasku selama karantina adalah belajar, belajar, istirahat, tidur, dan belajar.

Hari-hari selanjutnya, aku mengurus project JPTB 2019. Aku dan teman-teman tim kreatif membuat project video persembahan alumni Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019 sebagai bentuk kepedulian atas isu yang sedang menimpa dunia. Virus corona. Aku bertindak jadi yang lumayan sibuk, rencananya proses dibalik pembuatan video akan kutulis nanti kalau videonya sudah jadi. Sekarang, sih, sedang proses editing.

Bangga rasanya di usia 17 tahun sudah ikut menghandle project segede itu.

Oh iya, aku juga bikin podcast. Bareng sama Rani. Rilis perdana bulan April, aku lupa tanggal berapa. Episode pertamanya dirilis tanggal 14 kemarin, bertepatan dengan ulang tahun Rani. Namanya Interferensi Cahaya. Berisi tentang hal-hal yang mengganggu pikiran kami berdua. Punya podcast dan didengarkan oleh banyak orang adalah salah satu perubahan yang lumayan besar dalam hidupku dan Rani di tahun ini.

Rasanya senang dan puas di usia 17 tahun aku sudah punya podcast dan berpengalaman menghandle project secara online, yang mana pengalaman tersebut sangat berkesan buatku. Mewarnai hari-hari terakhirku di usia tujuh belas.

Aku juga sudah mulai olahraga. Kalau dulu hanya sebatas wacana, sekarang sudah jalan tiga hari dan semoga aku bisa konsisten melakukannya.

Perlahan, aku mewujudkan kata-kataku tentang menjadi diri yang baru. Olahraga sebagai tahap menuju puberty, rutin merawat wajah dan tubuh, belajar serta menyerap ilmu dari sekitar, latihan ngomong di podcast, nulis, masak-masak, latihan berorganisasi lewat project kemarin, semuanya adalah bagian dari proses meningkatkan kualitas diri. Targetku, ketika masuk kuliah nanti, aku benar-benar jadi Salsa yang berbeda dari Salsa waktu SMA, dengan penampilan dan isi pikiran yang lebih baik tentunya.

Karantina masih panjang. Entah akan berapa bulan lagi. Masih punya cukup waktu untuk menggapai semua tujuan, atau setidaknya resolusi tahun ini. Masih punya kesempatan untuk menikmati hidup sebelum masuk kuliah, bercengkerama dengan keluarga atau mengurus diri sendiri yang bisa jadi akan kulewatkan nanti ketika sudah jadi mahasiswi.

Nanti aku pasti rindu rumah.

Nanti aku pasti rindu waktu luang tanpa terikat peraturan orang lain selain diriku sendiri. Nanti aku pasti rindu ketika uang tabunganku aman karena gak pernah kupakai kulineran, ketika kunci motor gak lagi hilang-hilangan karena sudah gak pernah kuambil dari gantungan, ketika sepatu tergeletak rapi dan mataku gak harus dipasang lensa setiap hari.

Banjarmasin, 20 April 2020. 

Pukul sembilan lewat empat puluh delapan.

 

 

 

 

 

 

Yang Dibuat Waktu

Februari 2020, waktu membuat sesuatu. Salah satu pembuktian semesta bahwa kata-kata yang sudah lama ada memang benar nyatanya. Waktu akan menjelaskan semuanya.

Salah satu teman dekatku di kelas baru saja putus cinta. Kesalahpahaman dan ketidakcocokan dari keduanya yang makin lama makin terlihat membuat perdebatan yang berujung pada kesepakatan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan. Aku mengikuti kisah mereka dari awal, sehingga ketika berakhir, aku cukup tahu bagaimana semuanya, selain karena mereka berdua bercerita padaku dari sudut pandang masing-masing.

Menjadi pendengar sekaligus penghubung keduanya, memasang telinga untuk setiap keluh dan emosi mereka, dan bertindak sebagai orang ketiga pengamat sekaligus serbatahu untuk cerita cinta mereka, membuatku sedikit banyak merasa lelah. Energiku seolah ikut terserap bersamaan dengan emosi yang mereka perdengarkan padaku. Bukannya aku mengeluh dicurhatin teman. Entah karena terpengaruh emosi mereka, atau karena aku seperti teringat masa lalu.

Bertindak sebagai orang ketiga pengamat, aku jadi menyadari sesuatu. Kalau aku pernah berada di posisi si cowok dua tahun lalu. Aku pernah jadi toxic untuk seseorang, pernah sangat tidak terima keadaan, menyalahkan diri sendiri terus-terusan, dan jadi terpuruk kemudian. Situasi yang sedang dialami si cowok mirip dengan situasi yang sangat kumengerti pernah terjadi padaku. Dulu aku sangat terpuruk karena itu, sampai enggak bisa berpikir jernih, sampai pada kondisi mengerikan, dan hal-hal yang masih susah untuk kuceritakan.

Aku seperti bisa melihat diriku dua tahun lalu. Aku seperti berada di posisi temanku dulu, teman yang memasang telinga untukku dan mantanku, yang berakhir memusuhiku karena ternyata aku juga jadi berujung toxic pada lingkunganku, teman yang tidak tahan menghadapi segala keburukanku di masa silam. Klarifikasi dulu, aku enggak pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal pada mantanku di masa lalu. Toxic yang dimaksud lebih ke sikap-sikapku yang membuat lelah dan tidak tahan.

Dua tahun setelah kejadian dan perbaikan diri mati-matian, aku diberi jalan untuk mengerti kenapa hal semenyakitkan dahulu pernah terjadi padaku. Dulu aku enggak bisa mengambil hal positif dari kejadian itu, dulu aku enggak bisa paham kenapa semesta bertindak sejahat itu, dulu aku sudah sangat kenyang diberi nasehat kalau.. waktu akan menjelaskan semuanya. Kalau selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Kalau kita bisa belajar dari apa saja.

Sekarang, setelah aku tanpa bermaksud sengaja terjebak dalam kisah cinta temanku, setelah aku diposisikan di posisi teman curhatku dulu, setelah aku menyadari pernah berada di fase si cowok, aku jadi tau kalau kata-kata yang sering kudengar untuk menenangkan manusia, yang kebanyakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan ternyata memang benar-benar nyata. Mungkin dicipta oleh orang-orang yang lebih dulu merasakannya. Kata-kata magical seolah membuktikan semesta memang bekerja. Aku jadi tau, mungkin begini orang lain memandangku dulu. Mungkin begini yang dirasakan teman-temanku dulu. Aku jadi belajar kalau.. kalau yang terjadi padaku di masa lalu, semenyakitkan apapun itu, adalah proses pendewasaan diri hingga kini aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

Waktu akan menjelaskan semuanya, katanya. Aku dulu enggak percaya. Enggak terima. Kenapa nggak sekarang aja? Belum waktunya, gak semuanya ada jawabannya sekarang, katanya. Lalu, kapan waktu yang tepat? Harus berada di kondisi seperti apa dulu agar waktu akan kasihan menjelaskan?

Ternyata setelah dua tahun. Setelah aku cukup mampu untuk berlari dengan kaki sendiri, setelah aku cukup ditempa dan berbenah. Setelah aku siap untuk berdamai, setelah aku menguasai ikhlas. Ternyata butuh waktu yang lama untuk semesta membuatku belajar, untuk semesta akhirnya dapat berkata bahwa aku sudah jadi Salsa yang berbeda. Aku terlalu disayang sehingga proses menjadi dewasa yang kualami begitu menyakitkan. Ini bukan tentang “hanya putus cinta”, ini lebih dari yang kutuliskan, menyangkut banyak kehilangan. Aku terlalu disayang sehingga semesta gak membiarkanku jadi selamanya buruk. Aku diberi kesempatan untuk punya pengalaman yang dapat berguna baik untuk temanku, atau mungkin untuk studiku nanti. Untuk kepribadianku yang jadi lebih aware dengan permasalahan sekitar.

Masih banyak.. banyak sekali hal-hal yang luput dari kesadaran dan ingatanku sekarang saat menuliskan ini, yang kupelajari dari hal-hal yang pernah terjadi. Aku memang gak langsung mengerti, tapi ketika aku mengerti, aku enggak berhenti memuji kalau Tuhan ternyata sangat baik. Rencana yang indah dan tentu saja terbaik untuk kita.

Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini, aku mungkin enggak tau apa yang kamu lalui sekarang. Kamu boleh enggak percaya, cukup diingat saja, bahwa semuanya bukan tanpa alasan. Bahwa kita bisa belajar dari apa saja, dan gak mengerti semuanya dengan serta merta. Bahwa semesta benar-benar bekerja, bahwa waktu akan menjelaskan semuanya lewat sesuatu yang takkan terduga.

Kita tunggu saja.

Nanti juga percaya.

 

 

Kita dan Kota Istimewa

Gak salah ya orang-orang memberikan gelar Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa. Seperti lirik lagu milik Adithya Sofyan, selalu ada sesuatu di Jogja. Setiap insan yang jatuh hati padanya juga tak enggan mengakui bahwa Jogjakarta memang gudang cerita. Termasuk aku.

Kota Jogja bagiku lebih dari sekadar istimewa. Setelah 11 tahun tidak berjumpa, kembali lagi ke Jogja bagai nikmat Tuhan paling luar biasa. Begitu ada kesempatan, rasanya ingin berlama-lama di sana. Kini sudah satu minggu sejak aku meninggalkan kota itu. Meski demikian, segala kenangan tentangnya akan tetap tinggal, tak peduli waktu yang terus berlalu.

Hadiah kecil dari Tuhan kutemukan di akhir tahun. Setelah berlelah-lelah merasakan tekanan dan semua beban, aku diizinkan kembali jadi diriku yang dulu, sekaligus jadi orang yang baru. Bingung gak?

Waktu SMP dulu, aku aktif banget menulis dan berpartisipasi dalam kegiatan nasional. Hingga ketika bertemu dengan suka duka SMA, aku berubah jadi pelajar yang biasa-biasa saja. Prestasi gak bertambah, malah mantan yang bertambah. Melihat teman-temanku yang aktif banget lomba sana-sini dan juga karena dendamku pada teman-teman yang dulu menyakiti, aku jadi termotivasi untuk menambah deretan prestasi sebelum lulus SMA. Biar waktu perpisahan slide prestasiku gak kosong-kosong amat.

Salah satu hal yang membuatku jadi malas dan tidak produktif selama SMA adalah intensitas gagal yang sering sekali. Makanya, waktu lolos seleksi Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019, rasa-rasanya kayak Tuhan terlalu baik padaku. Dan emang Tuhan itu baik banget.

Aku akhirnya bisa merasakan lagi suasana event nasional yang jadi hobiku dulu. Aku seperti hidup kembali, seperti diriku sudah terisi penuh oleh energi. Fakta bahwa aku akan pergi ke Jogja setelah sekian lama membuatku sangat-sangat excited. Aku bahkan sudah menyusun rencana perjalanan jauh sebelum tiket pesawatku dibeli. Tak ada yang menyangka, bersamaan dengan perjalananku di Jogja, Tuhan mengabulkan satu lagi doa hamba-Nya.

Sekitar seminggu sebelum aku berangkat ke Jogja, aku kembali berada pada titik terrendahku. Aku ingin bilang kumat, tapi malu seolah-olah punya penyakit. Aku hanya tidak tahu bagaimana menuliskannya. Hari itu aku benar-benar pusing dan menyerah pada dunia. Gak ingin mati, tapi ingin cepat-cepat sampai pada masa depan di mana aku sudah merasakan hasil dari bertahan. Gak ingin mati, hanya ingin jadi orang baru yang gak mereka kenal sama sekali. Ingin meninggalkan Banjarmasin, SMA, dan seluruh yang ada di dalamnya. Ingin jadi orang baru yang benar-benar baru, begitu doaku.

9 hari berada di Jogja memberiku banyak hal yang kewalahan untuk kusyukuri. Pertama kalinya naik pesawat sendiri tanpa orang tua, bikin aku deg-degan parah, takut bayar bagasi. Apalagi, aku pergi bersama Retha yang lebih muda 2 tahun dariku, membuatku jadi yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu padanya.

Semua berjalan lancar. Hari pertama dan kedua di Jogja kuhabiskan untuk bernostalgia. Menginap di kamar sederhana Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan membuatku sedikit merasakan jadi anak perantauan. Mengunjungi TK tempat aku bersekolah dulu, melunasi janji bertemu dengan teman-teman masa kecilku, bersilaturahmi dengan guru, dan berputar-putar di daerah tempat tinggalku dulu adalah kegiatan yang memang sudah kurencanakan untuk dilakukan sebelum berangkat ke PPPTK Seni Budaya Kaliurang.

Rasanya luar biasa bahagia dapat kembali ke Jogja. Seakan terlena dalam nostalgia, aku sampai-sampai malas sekali harus pergi ke tempat acara. Tiba-tiba ingin mengundurkan diri, tiba-tiba ingin liburan saja di sini. Beruntungnya, aku tidak benar-benar mengikuti pikiranku yang tiba-tiba itu.

Sekali lagi, 9 hari berada di Jogja memberiku banyak hal yang kewalahan untuk kusyukuri. Khususnya menjadi bagian dari Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019 yang membawaku pada cerita yang tak kutemukan di Kalimantan. Aku seperti terlahir jadi orang baru.

Di JPTB, aku mengenalkan diriku sebagai Bila. Nama tersebut kuputuskan setelah berhari-hari galau dan menimbang-nimbang. Sudah ada Salsa, aku nggak ingin sama. Mau dipanggil Caca, sudah ada Priesca Ayu yang kalau aku jadi dia, aku akan bangga dipanggil Priesca. Karena di JPTB enggak ada yang kenal aku selain Aning yang minta dipanggil Yaya, Najma, Nadia, dan delegasi Kalimantan Selatan lainnya, aku mencoba membiasakan diri dipanggil Bila.

Hingga akhirnya aku menyukai nama Bila. Menjalani hari sebagai Bila, aku benar-benar merasa dilahirkan sebagai orang lain yang bukan aku. Selama menjadi Bila, aku lupa akan Salsa, gadis problematik yang berharap ingin segera meninggalkan kotanya. Aku lupa akan Salsa dan masalah mentalnya. Aku lupa teman-teman sekolahku, masalahku, bahkan aku lupa kalau punya adik bayi di rumah. Aku hampir lupa semua adikku kalau di JPTB gak ketemu Fawaz yang namanya sama dengan adik cowokku dan Salma yang wajahnya sumber copy paste Tuhan untuk adik cewekku. Iya, aku punya tiga adik.

Meski begitu, menjalani hari sebagai Bila membuatku benar-benar seperti orang lain dengan masalahnya sendiri. 9 hari di Jogja seperti hidup lama sebagai Bila. Perjalanan singkat yang punya turun naiknya. Di JPTB khususnya, di mana seharusnya aku menciptakan memori indah karena waktunya yang terbatas, aku malah seperti sudah jadi Bila dan akan tetap jadi Bila setelah selesai acara. Sempat-sempatnya aku salah paham dengan Qanita yang membuatku gundah gulana, menjadi faktor rusaknya hubungan Dimas dan pacarnya, terlibat cinta lokasi, kesal dengan Hana yang mandinya lama, dan mengalami kejadian horor yang sangat jauh di luar jangkauan Salsa si gadis biasa-biasa saja.

Bersamaan dengan serentetan masalah yang menggelapkan kanvasku, hidup Bila tetap cantik karena warna gembiranya yang mendominasi. Ada banyak hal yang sangat kusyukuri terjadi. Termasuk berkenalan denganmu yang sedang membaca ini. Meskipun seandainya materi-materi yang diberikan tidak lantas melekat pada otak, semua kejadian dan kegiatan tetap jadi bagian penting yang gak akan kalah saing. Banyak life skill dan pengetahuan baru yang kupelajari di kesempatan kali ini.

Satu-satunya yang kusesali adalah Bila masih terlalu sombong untuk berkenalan dengan semua orang. Masih terlalu sinis untuk disapa terlebih dahulu, masih tergesa-gesa memberi penilaian sebelum berteman.

Hari-hari pertama di JPTB, aku masih menempel pada Aning dan Najma, teman satu generasi di KKPK yang sudah kukenal lewat dunia maya. Satu kamar dengan Adhinda dan Hana, membuatku jadi dekat dengan satu circle pertemanan yang membuatku hanya terfokus ke sana. Ada Adhin, Nita, Rahma, Gek Syah, dan Ratu, orang-orang tersayang yang gak akan kulupakan.

Satu lagi hal yang paling kusuka adalah kelompok belajarku. Kelompok paling eksklusif karena punya dua orang co-fasil dan teman-temannya yang seru. Senang karena satu kelompok sama Aning yang sudah jadi sahabatku sejak 2014, kenal Kiki yang jadi kusayang banget, Salma yang waktu pertama ngumpul bikin aku salah fokus karena berasa liat adik sendiri, Ratu yang satu circle, Dinda yang memunculkan jiwa kekakakkanku, Herd dan Intan yang pendiam, juga Dani satu-satunya imam.

Bersama mereka, aku belajar dan menemukan kerjasama yang menakjubkan. Setiap misi yang diberikan selalu selesai dengan hasil yang memuaskan, seperti waktu yang terbatas gak jadi kendala. Mereka gak banyak bicara, tiba-tiba bisa saling mengerti dan berbagi tugas, bekerja sendiri kemudian bekerja bersama, tiba-tiba sudah selesai saja. Benar-benar kagum pada mereka. Pun, aku berkesempatan mengasah kemampuan public speaking berkat jadi juru bicara saat presentasi mading dan MC saat ice breaking. Tak lupa, storytelling saat pentas budaya. Pengalaman yang sungguh sangat mengesankan.

Hal berkesan lainnya yaitu mengenal Fawaz, Noval, Ozan, Rafly, Dimas, dan Syuja. Teman sharing dan diskusi tengah malam yang buatku berdecak kagum sepanjang menyimaknya. Pemikiran luar biasa dari anak-anak cowok yang gak kutemukan di sekolahku. Topik diskusi yang gak akan kusebutkan di sini karena kesensitifannya. Terkhusus Rafly dan Dimas yang menjelma menjadi sahabatku di sana, aku sangat bersyukur mengenal mereka.

Malam terakhir acara jadi bumbu paling berwarna. Di tengah-tengah packing, aku pergi ke lobby untuk mengembalikan beberapa barang yang kupinjam dari teman. Setelah itu berencana untuk menginap di kamar Rahma, maskeran dan quality time maunya. Rupa-rupanya, terjadi sesuatu yang gak akan kusesali pernah mengalaminya. 17 tahun hidup sebagai Salsa yang biasa-biasa saja, malam itu adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengan hal-hal yang seharusnya di luar nalar.

Ternyata begitu, ya, rasanya kesurupan. Lemas, linglung, mau ambruk, gak sadar, setengah tubuh dingin dan mati rasa, mual, pusing, dan gemeteran hebat. Sudah dinetralisir, tapi masih tetap terbentur. Semakin kencang teman-temanku berteriak, semakin kencang aku mengaji dan menangis. Terjaga sampai adzan subuh dan rentetan detail kejadian yang gak akan terlupakan. Membuatku shock dan sangat ketakutan, tapi juga gak kusesali dan masih bisa dimaafkan. Alhasil, dua malam terakhir aku jadi ngungsi di asrama cowok.

Selalu ada yang dapat disyukuri dari semua yang terjadi. Aku jadi dekat banget sama Bunda Caca yang awalnya gak begitu kuhiraukan, jadi dikenal oleh Kang Pipit yang turut menanganiku, jadi punya cerita dan pengetahuan baru soal hal seperti itu, jadi dikawal pulang oleh teman-teman ARKI seusai ketemuan, jadi punya pengalaman kesurupan yang sebelumnya gak pernah ada dalam bayangan.

Sabtu satu minggu yang lalu, semua yang tersisa berbondong-bondong mencari penginapan hingga tersisa aku, Retha, Gita, Dinda, Bunda, Rika, Dela, dan Nila yang tidur satu kamar di hostel yang ciamik, serta beberapa anak cowok di kamar warna ungu. Ada Mazdad, Fikri, Sultan Reyza, Abdul, Sugi, dan Kholis yang berbaik hati memikul bawaanku selama di Malioboro. Malam bersama mereka adalah pertama kalinya aku makan ketoprak, serius. Dua malam sebelumnya aku makan gado-gado soalnya.

Hingga tibalah kepulanganku pada hari Minggu kedua aku di Jogja. Mengenakan baju kembar tiga bersama Retha dan Gita lalu berangkat lagi ke bandara dua jam setelah mengantar Dinda. Meninggalkan Jogja yang semoga akan jadi tempat tinggal beberapa tahun ke depan.

Di sinilah aku sekarang, kembali ke Banjarmasin membawa satu perubahan, mengenal kalian. Kutemukan sahabat, orang-orang hebat, teman diskusi satu frekuensi, wajah-wajah baru yang membuatku merasakan kentalnya kekeluargaan didasari perbedaan. Konsep pembelajaran yang dikemas menarik dalam Jambore Pelajar Teladan Bangsa, materi-materi yang bisa langsung kuterapkan di sana, khususnya tentang toleransi, bersahabat, dan penilaian. Acara yang begitu luar biasa, salut untuk kakak-kakak panitia yang hangat dan hebat. Karena bahkan satu minggu seusai acara, grup masih berfungsi untuk hal-hal yang lebih dari sekadar silaturahmi.

Ah, Jogjakarta memang gudang cerita. Tempat aku bertumbuh pertama kalinya, tempat aku melebur segala rasa bersama mereka, teman-teman satu Indonesia. Untuk Jogjakarta dan seluruh kenang-kenangannya, bagai magnet yang menarik langkah tuk kembali ke sana, terima kasih telah ada pada suatu masa yang kusebut istimewa.

Banjarmasin, 30 November 2019, pukul 19:55. 

Tepuk cinta dari Bila yang berbahagia. 

Semoga lain waktu dapat berjumpa. 

 

 

 

 

 

 

Suara yang Menyatukan Kita (NSDC 2019 dari sudut pandang bukan peserta)

Masih dalam suasana 17an, di kepalaku terus terngiang-ngiang lagu Indonesia Jaya, yang sukses membuatku merinding kala dinyanyikan pada upacara kemerdekaan dua minggu yang lalu.

Bukan karena paduan suara yang terlalu sempurna, namun karena di sebelahku berdiri satu Indonesia, menginjak tanah lapang yang sama, serentak memberi hormat pada sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan yang dikumandangkan.

Tahun ini, kotaku tercinta mendapat kehormatan sebagai tuan rumah lomba debat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tingkat nasional. Dan sekolahku berkesempatan untuk menjadi tempat diselenggarakannya babak penyisihan National School Debating Championship yang bertepatan pada Hari Kemerdekaan.

Karena pernah bergabung dalam klub debat di sekolah, aku diminta untuk menjadi Liaison Officer untuk hari itu. Bertugas sebagai chairperson, aku memegang Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat di ronde keempat, serta Jambi dan Aceh di ronde kelima. Tiga ronde pertama sudah dilaksanakan di hari sebelumnya, yang bertempat di SMAN 1.

1566092339790

Sebelum babak penyisihan, peserta NSDC ikut melangsungkan upacara di sekolahku. Bersama-sama dengan panitia, MPKOSIS, siswa-siswi, guru-guru, dan para juri.  Tiba saat bagian menyanyikan lagu wajib nasional, diriku yang sempat tenggelam dalam lantunan paduan suara tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku sedang berdiri bersama teman-teman perwakilan dari 34 provinsi, bersama-sama melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan yang sakral dan khidmat. Fakta bahwa benar-benar satu Indonesia hadir di sini, sukses membuatku merinding sekaligus terharu.

Hal ini kusadari sedikit banyak meningkatkan rasa nasionalisme dalam diriku. Menghayati dan menikmati lagu wajib nasional dinyanyikan dengan rasa bangga oleh kelompok paduan suara di hadapan seluruh peserta, hatiku pun diam-diam diselimuti rasa bangga.

Tiba saatnya lomba dimulai, ronde pertama di chamber 7 adalah Sulawesi Utara sebagai opposition melawan Nusa Tenggara Barat sebagai government. Jujur, mosinya tidak begitu kupahami. Tetapi, melihat mereka dengan lancar berpidato dan beradu argumen membuatku banyak belajar.

Oh, begini lomba debat nasional.”, “Oh, ternyata banyak banget ya yang jago debat bahasa inggris di seluruh Indonesia.” , “Oh, ini orang-orang pintar dari provinsinya.”, “Oh, iya-ya. Bener juga, gini ternyata ya..” dan masih banyak oh-oh lainnya.

Di akhir ronde keempat, ada verbal adjudication yang diberikan oleh juri. Turut hadir di dalam ruangan dan mendengarkan ilmu yang sangat berharga yang tidak semua bisa berkesempatan mendengarnya, menyadarkanku bahwa aku sepatutnya bangga dan mengambil banyak pelajaran dalam menjadi bagian dari suksesnya acara.

Bukan hanya mempelajari sistem perlombaan nasional, aku pun belajar bagaimana menjadi Liaison Officer sebuah acara besar. Memang sebelumnya aku sudah pernah menjadi bagian dari lomba debat, baik sebagai peserta maupun panitia, tapi masih tingkat sekolah. Berpartisipasi dalam suksesnya NSDC tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya.

Ronde kelima, ada Aceh sebagai affirmative dan Jambi sebagai opposition. Yang unik dari tim yang kupegang kali ini, mereka semua perempuan dengan dua non muslim dan satu muslim di masing-masing tim. Yang unik pula, aku dan tim debat dari Aceh menjadi teman setelah pertandingan hari itu usai.

Ronde kelima adalah silent round. Tidak ada verbal adjudication di dalam ruangan debat sehingga seluruh peserta langsung kembali ke debater hall usai menyelesaikan pertandingan. Di sana, diumumkan tim dari provinsi mana saja yang masuk ke 16 besar berdasarkan banyaknya victory point yang mereka dapatkan selama lima kali debat dalam dua harı. Tim dari provinsiku sendiri, Kalimantan Selatan, belum beruntung untuk melanjutkan perjuangan mereka. Begitu pula Bangka Belitung, yang salah satu di antaranya adalah temanku saat Festival Literasi 2016 di Palu dulu, Annisa.

Salah satu tim yang masuk 16 besar adalah tim dari Aceh, yang sebelumnya berada di chamberku. Usai pengumuman, banyak teman-teman LO yang menyelamati dan meminta foto kepada para peserta. Aku dan Cangnai menghampiri tim Aceh dan mengobrol sedikit tentang stigma masyarakat terhadap Aceh yang selama ini didengar dari internet dan televisi.

Aku menyampaikan bahwa ketika melihat mereka keluar dari debater hall di SMAN 1 pada hari pertama perlombaan, aku sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa yang mewakili provinsi Aceh yang terkenal sangat islami justru non muslim. Karena hal tersebut, aku membuka topik obrolan dengan menanyakan bagaimana kehidupan mereka sebagai minoritas di Aceh. Benarkah disana perempuan tidak boleh pakai celana, benarkah duduk di sepeda motor harus menyamping, dan bagaimana cara mereka berpakaian di Aceh.

Obrolan singkat tersebut membukakan pikiranku terhadap Aceh dan segala keabuabuannya di otakku. Aku yang belum pernah menginjak tanah Sumatera, jadi tahu kalau Aceh tidak seketat yang ditayangkan dan diberitakan. Kalau Aceh sama saja seperti Banjarmasin dan kota-kota lainnya, hanya memang kita sudah sepatutnya menyesuaikan dengan peraturan yang diterapkan.

Sejak itu, aku dan Cangnai jadi berteman dengan mereka. Kebetulan, pada ronde keempat, Cangnai yang menjadi LO untuk Jaza, Clara, dan Nathania, tim dari Aceh. Setelahnya, kami berfoto bersama dan bertukar akun instagram.

LRM_EXPORT_35733072730534_20190819_102227873.jpeg

LRM_EXPORT_35866017428452_20190819_102440818

Acara hari itu berakhir dengan penuh kegembiraan. Para LO menyaksikan seluruh peserta NSDC berfoto bersama di tengah lapangan sekolah. Meski beberapa harus gugur pada hari itu, mereka masih tetap tersenyum. Tampaknya mereka merasakan senasib seperjuangan, tidak kalah sendiri, tidak merasa buruk sendirian.

Bersamaan dengan langkah kaki para peserta yang meninggalkan sekolah tempat acara, usailah tugasku pada hari itu.

Aku yang pernah beberapa kali mengikuti lomba nasional, sangat merasakan suasana perlombaan nasional yang begitu kurindukan. Aku menikmati melihat mereka bercanda tawa. Aku bahkan jadi berkenalan dengan beberapa peserta. Mendapatkan banyak teman baru dan pelajaran, padahal bukan bagian dari mereka.

Sejak hari itu, timbul keinginan untuk kembali mengikuti lomba-lomba dan kembali produktif menulis. Suasana yang sangat kukenali dan kurindui membangkitkan semangatku untuk beranjak dari zona nyamanku selama ini. Hari yang penuh motivasi.

Aku berniat untuk mengikuti jalannya perlombaan sampai selesai. Hari pertama menjadi penonton di SMA 1, hari kedua menjadi LO di sekolah, hari ketiga dan keempat berhadir sebagai penonton yang memeriahkan perlombaan.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai meninggi, aku dan teman-temanku berangkat ke SMAN Banua untuk menonton quarterfinal dan semifinal. Itu adalah pertama kalinya aku masuk ke lingkungan sekolah tersebut. Sangat sangat luas.

Awal menginjakkan kaki di sana, kami sempat bingung harus pergi kemana. Kami melintasi lapangan rumput yang luas dan melewati stand yang dijaga oleh banyak sekali siswa sekolah itu untuk menuju balairung.

Tiba di sana, kami melihat tim dari Aceh menuruni tangga balairung. Karena quarterfinal sudah hendak dimulai dan kami tidak tahu harus menuju kemana, kami bertanya pada salah satu panitia dan berlari-lari mencari chamber DIY – Lampung untuk menonton mereka.

Ngomong-ngomong, setibanya di depan chamber yang kami cari, aku tertegun karena langsung mengenali kelas itu dari luar. Meski baru pertama kali kesini, aku langsung tahu dari nama kelasnya, bahwa kelas yang dipakai sebagai chamber yang kami cari adalah kelas salah satu anak laki-laki yang pernah terlibat hubungan emosional denganku, hahaha. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Kebetulan berikutnya adalah ketika memasuki kelas tersebut, aku disapa oleh Clara dari Aceh yang ternyata mengingatku. Aku duduk di sebelah mereka yang rupanya juga menonton di chamber DIY – Lampung. Mereka gugur di octofinal tadi pagi. Aku mengobrol dengan Clara, bercerita tentang kebetulan pertama yang kusebutkan di paragraf sebelumnya.

Pertandingan berlangsung dengan seru. Tim dari DIY dan Lampung sama-sama kuat dan mengesankan. Berakhir dengan Lampung yang memenangkan pertandingan dan maju ke babak semifinal.

Semifinal diadakan di balairung dengan Lampung dan DKI Jakarta saling berhadapan dan Banten dengan Kalimantan Timur di gedung lain. Aku menonton Lampung dan DKI Jakarta, tim yang sama-sama kuat dan banyak cogannya. Meski di depanku tersaji debaters keren yang menarik perhatian mata, hatiku pada saat itu tertaut ke barisan penonton paling belakang.

Ada orang itu di sana. Sudah memperhatikanku setiap kali aku menoleh ke belakang. Selalu tersenyum, sangat manis hingga mampu menggetarkan hati. Berjalan jauh dari asrama menuju balairung di bawah terik matahari demi agar aku dapat melihatnya, meskipun hanya dari jauh dan tanpa suara. Menyenangkan, karena terlukis kisah asmara di tengah-tengah tujuan awalku untuk menonton lomba.

Semifinal dimenangkan oleh DKI Jakarta yang akan melawan Kalimantan Timur pada babak final keesokan harinya. Final diadakan pada sore hari di ballroom Hotel Rattan Inn. Aku bersama Cangnai dan teman-teman lain kembali berhadir menonton babak yang ditunggu-tunggu. Kedua tim adalah tim yang kuat dan ditakuti, terkenal dengan kepiawaian mereka dalam berdebat. Tim dari DKI Jakarta mengenakan pakaian adat dan tim dari Kalimantan Timur mengenakan jas formal yang membuat mereka semua terlihat berkharisma.

Pertandingan berjalan dengan sengit namun tenang. Disaksikan oleh ratusan mata peserta NSDC, LDBI, para juri dan penonton yang memenuhi ruangan ballroom hingga tak ada kursi tersisa. Sore itu, ditandai dengan selesainya reply speaker dari tim affirmative berbicara, berakhirlah seluruh rangkaian lomba NSDC 2019. Para peserta diburu oleh waktu, mereka bergegas kembali ke hotel tempat menginap untuk berbenah menyiapkan closing ceremony.

Meski begitu, Clara dan Nathania menyempatkan untuk berfoto lagi bersamaku dan teman-teman sebelum akhirnya menyusul Jaza yang sudah terlebih dahulu naik ke dalam bis. Usai berfoto, aku dan teman-teman pergi makan dan mencari kenang-kenangan untuk diberikan kepada tim dari Aceh yang tiga hari belakangan menjadi temanku dan tim dari Bangka Belitung yang juga berkenalan denganku.

IMG-20190819-WA0027IMG-20190819-WA0028IMG-20190819-WA0014

Sebelum closing ceremony dimulai, aku meminta waktu mereka sebentar untuk menemuiku di depan lobi hotel. Aku memberi mereka sambal acan khas Banjar sebagai hadiah kecil sebelum mereka kembali ke daerah masing-masing esok pagi.

Senang sekali rasanya mendapatkan teman baru dan pengalaman baru. Sayang sekali tidak ada Vina di sana, hanya ada Annisa dan Stephanie dari Bangka Belitung dan cewek-cewek dari Aceh yang menemuiku malam itu. Kami semua berboomerang untuk terakhir kalinya sebelum aku pulang ke rumah.

Berakhirlah kisah keseruan NSDC 2019 dari sudut pandangku sebagai LO dan penonton. Bukan sebagai peserta, namun dapat merasakan suasananya. Berkenalan dan mengambil banyak pelajaran dari orang-orang hebat seluruh Indonesia, memotivasiku untuk dapat kembali hadir dalam riuh perlombaan nasional sebagai peserta, dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia yang hadirnya lewat jalan yang tak kusangka-sangka

LRM_EXPORT_47782470457605_20190817_185848348LRM_EXPORT_47696319863054_20190817_1857221971566036527655156603658349315660369755341566036945980156603696468915660365305151565954250863

IMG-20190819-WA0018IMG-20190819-WA0017IMG-20190819-WA0019

IMG-20190819-WA00161566036455130156603642731015660369703641566036436107

1566036412987

1567226503770

1567226515068

What happens when we don’t care about having a career

i reach this well but not with my parents

Kirana M.S.

As I finished my high school diploma and getting ready to pursue a bachelor’s degree in political science, I encounter quite a large number of people in my age being abudantly worried and confused of which college major is worth to choose and eventually choose certain major based on job prospects. While I understand where this consternation comes from, given the fact that we need to earn a decent income to live comfortably and to survive in this crazy world, I’d argue that this mindset is not best one to embrace, at least for me.

For one thing, choosing a college major based on future job outlook tends to be quite stressful. Pursuing fancy majors and therefore having ‘respected’ jobs and good money, the idea that the society dictated us to have, is what I think as one of the reason to why depression has surged to epidemic levels in…

View original post 691 more words