random aja

if you ever forget how much you really mean to me, everyday i will remind you.

Hari ini ada kuliah pengganti. Rasanya capek dan beban banget. Tugas yang mengalir deras berbanding lurus dengan tangisan kelelahan. Di tengah jeda mengerjakan tugas yang seakan mengejar, aku melihat lagi video IGTV yang pernah kubuat di tahun lalu. Ada video tentang Juliyanti, sahabatku saat SMP. Ada video tentang Ina, sahabatku saat SMA. Sedikit banyak menunjukkan gambaran kehidupanku di masa lalu. Menyadari betapa aku yang sedang rebahan sekarang adalah sosok yang sudah berbeda dari yang ada di video itu, aku sedikit meneteskan air mata. Aku yang sebentar lagi masuk usia 19 tahun (usia yang menurutku sangat cantik), sudah menjelma jadi lebih dewasa dalam berpenampilan dan berkepribadian, sedang menata kewajiban tugas-tugas kuliah, dikelilingi lingkungan baru, sangat jauh dari diriku yang tertangkap memori di situ. Rasanya kayak udah jauh banget, rasanya kayak.. ternyata aku sudah melewati banyak hal dan ternyata aku sudah jadi dewasa. Aku sudah melepas banyaakk sekali yang ada pada diriku di masa lalu, namun satu hal yang kutahu masih tetap sama adalah ketulusanku.

Kalau saja aku bisa jadi teman-temanku selama satu minggu, aku mau. Aku ingin tau seperti apa rasanya jadi temanku. Ikut merasakan keterharuan atas afeksi yang sering kali tiba-tiba, dan ketulusan yang kuberi pada mereka. Aku pengen deh punya teman seperti diriku sendiri.

Hari ini, ada momen berkesan buatku. Tadi siang semua orang lagi kecapean, aku nanya sama Ocha, “Ca, mau kopi kenangan ga?”, tapi satu menit kemudian Ocha malah balik nanya, “Bil alamat lu dimana?” Rupanya kami punya niat yang sama.

Setelah itu, aku mengirim foto bertuliskan “Lets be bestfriend” kepada Ocha, random aja tiba-tiba. Ocha kesel karena udah nganggep aku sahabat dari lama tapi aku malah baru ngajakin. Hahaha. Rasanya lucu aja, berasa kayak anak SD padahal udah kuliah. Nggak tau kenapa, Ocha matches my energy banget. Aku kayak udah kenal lama sama dia. Seneng aja.

Orang-orang bilang, hati-hati sama pertemanan di kuliahan. Mungkin karena aku belum pernah offline, aku belum merasakan kekejaman pertemanan di masa kuliah. Tapi aku bersyukur punya temen-temen yang baik-baik banget, di lingkunganku yang dulu dan di lingkungan yang sekarang. Meski begitu, lagi-lagi karena ketulusanku, aku menganggap teman-teman kuliah seperti teman-teman SMAku. Aku mengamati dan mengenali mereka dengan caraku. Aku nggak akan langsung mengatakan mereka sahabat kalau mereka nggak menganggapku seperti itu juga. Aku juga nggak akan terburu-buru. Makanya, setelah menjalani pertemanan selama satu setengah semester dengan Ocha, aku akhirnya mengajak bersahabat. Biar nggak cuman aku doang yang nganggep, biar labelnya nggak sepihak. Hahaha. Lucu aja.

Kalau ingat gimana aku nyaman dengan teman-teman kuliahku, aku jadi ingat teman-temanku di timeline kehidupanku sebelum sekarang. Call me susah move on, iya, bener banget. Aku sayang banget sama banyak orang. Aku tulus banget sama banyak orang. Beruntung nggak sih jadi temenku? Beruntung nggak ya?

Beberapa hari yang lalu, pernah ada seorang teman yang nanya sama aku, “Kak, di Kalsel banyak chinesenya ya? soalnya aku liat temen Kak Bila banyak chinesenya”. Aku nggak kaget sih ditanya begitu, karena aku sadar banget dari dulu sampai sekarang aku lebih gampang bersahabat dengan teman-teman non muslim. Aku cuma kaget ada yang memperhatikan kehidupan pertemananku sedetail itu aja hahah. Menilik ke kehidupanku sebelum sekarang, saat SMP aku bersahabat dengan Juliyanti, Widya, dan Nikita yang beragama Kristen. Aku bahkan punya foto saat aku sakit di UKS sekolah dan semua teman-teman yang menjengukku di waktu istirahat adalah teman-teman Kristenku. Di les-lesan, aku berteman baik dengan Ivena, Chesil, dan Stephanie yang juga Protestan dan Katolik. Di SMA, sahabatku paling dekat adalah Cang Nai seorang Budha. Saat kuliah, aku bersahabat dengan Vanessa yang merupakan seorang Yehuwa. Keren banget ya aku? Padahal orang tuaku masih sangat konservatif terhadap agama lain, padahal sebelumnya aku bersekolah di SD swasta Islam. Menyadari hal ini rasanya kayak wow aja. Aku keren banget.

Sebelum nulis ini, aku dengerin lagu Count On Me – Bruno Mars. Ada lirik yang aku suka banget, “if you ever forget how much you really mean to me, everyday i will remind you.” Relate banget sama aku, bahasa cintaku adalah lewat tulisan, aku senang mengapresiasi orang lain. Karena aku juga senang diapresiasi dan beberapa alasan pribadi lainnya tentang ini. Aku senang berkata jujur dan tulus, berbuat baik sama orang lain, nulis surat cinta untuk teman-temanku atau bahkan bikinin video. Aku sayang sama banyak teman-temanku, terutama yang juga sayang sama aku. Aku suka banget sifatku yang ini. Tapi kenapa ya, kenapa kalau kita dikasih kehidupan pertemanan yang baik, kehidupan percintaan kita suka berjalan sebaliknya? Wkwkwkw sumpah random banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s