Yang Dibuat Waktu

Februari 2020, waktu membuat sesuatu. Salah satu pembuktian semesta bahwa kata-kata yang sudah lama ada memang benar nyatanya. Waktu akan menjelaskan semuanya.

Salah satu teman dekatku di kelas baru saja putus cinta. Kesalahpahaman dan ketidakcocokan dari keduanya yang makin lama makin terlihat membuat perdebatan yang berujung pada kesepakatan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan. Aku mengikuti kisah mereka dari awal, sehingga ketika berakhir, aku cukup tahu bagaimana semuanya, selain karena mereka berdua bercerita padaku dari sudut pandang masing-masing.

Menjadi pendengar sekaligus penghubung keduanya, memasang telinga untuk setiap keluh dan emosi mereka, dan bertindak sebagai orang ketiga pengamat sekaligus serbatahu untuk cerita cinta mereka, membuatku sedikit banyak merasa lelah. Energiku seolah ikut terserap bersamaan dengan emosi yang mereka perdengarkan padaku. Bukannya aku mengeluh dicurhatin teman. Entah karena terpengaruh emosi mereka, atau karena aku seperti teringat masa lalu.

Bertindak sebagai orang ketiga pengamat, aku jadi menyadari sesuatu. Kalau aku pernah berada di posisi si cowok dua tahun lalu. Aku pernah jadi toxic untuk seseorang, pernah sangat tidak terima keadaan, menyalahkan diri sendiri terus-terusan, dan jadi terpuruk kemudian. Situasi yang sedang dialami si cowok mirip dengan situasi yang sangat kumengerti pernah terjadi padaku. Dulu aku sangat terpuruk karena itu, sampai enggak bisa berpikir jernih, sampai pada kondisi mengerikan, dan hal-hal yang masih susah untuk kuceritakan.

Aku seperti bisa melihat diriku dua tahun lalu. Aku seperti berada di posisi temanku dulu, teman yang memasang telinga untukku dan mantanku, yang berakhir memusuhiku karena ternyata aku juga jadi berujung toxic pada lingkunganku, teman yang tidak tahan menghadapi segala keburukanku di masa silam. Klarifikasi dulu, aku enggak pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal pada mantanku di masa lalu. Toxic yang dimaksud lebih ke sikap-sikapku yang membuat lelah dan tidak tahan.

Dua tahun setelah kejadian dan perbaikan diri mati-matian, aku diberi jalan untuk mengerti kenapa hal semenyakitkan dahulu pernah terjadi padaku. Dulu aku enggak bisa mengambil hal positif dari kejadian itu, dulu aku enggak bisa paham kenapa semesta bertindak sejahat itu, dulu aku sudah sangat kenyang diberi nasehat kalau.. waktu akan menjelaskan semuanya. Kalau selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Kalau kita bisa belajar dari apa saja.

Sekarang, setelah aku tanpa bermaksud sengaja terjebak dalam kisah cinta temanku, setelah aku diposisikan di posisi teman curhatku dulu, setelah aku menyadari pernah berada di fase si cowok, aku jadi tau kalau kata-kata yang sering kudengar untuk menenangkan manusia, yang kebanyakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan ternyata memang benar-benar nyata. Mungkin dicipta oleh orang-orang yang lebih dulu merasakannya. Kata-kata magical seolah membuktikan semesta memang bekerja. Aku jadi tau, mungkin begini orang lain memandangku dulu. Mungkin begini yang dirasakan teman-temanku dulu. Aku jadi belajar kalau.. kalau yang terjadi padaku di masa lalu, semenyakitkan apapun itu, adalah proses pendewasaan diri hingga kini aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

Waktu akan menjelaskan semuanya, katanya. Aku dulu enggak percaya. Enggak terima. Kenapa nggak sekarang aja? Belum waktunya, gak semuanya ada jawabannya sekarang, katanya. Lalu, kapan waktu yang tepat? Harus berada di kondisi seperti apa dulu agar waktu akan kasihan menjelaskan?

Ternyata setelah dua tahun. Setelah aku cukup mampu untuk berlari dengan kaki sendiri, setelah aku cukup ditempa dan berbenah. Setelah aku siap untuk berdamai, setelah aku menguasai ikhlas. Ternyata butuh waktu yang lama untuk semesta membuatku belajar, untuk semesta akhirnya dapat berkata bahwa aku sudah jadi Salsa yang berbeda. Aku terlalu disayang sehingga proses menjadi dewasa yang kualami begitu menyakitkan. Ini bukan tentang “hanya putus cinta”, ini lebih dari yang kutuliskan, menyangkut banyak kehilangan. Aku terlalu disayang sehingga semesta gak membiarkanku jadi selamanya buruk. Aku diberi kesempatan untuk punya pengalaman yang dapat berguna baik untuk temanku, atau mungkin untuk studiku nanti. Untuk kepribadianku yang jadi lebih aware dengan permasalahan sekitar.

Masih banyak.. banyak sekali hal-hal yang luput dari kesadaran dan ingatanku sekarang saat menuliskan ini, yang kupelajari dari hal-hal yang pernah terjadi. Aku memang gak langsung mengerti, tapi ketika aku mengerti, aku enggak berhenti memuji kalau Tuhan ternyata sangat baik. Rencana yang indah dan tentu saja terbaik untuk kita.

Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini, aku mungkin enggak tau apa yang kamu lalui sekarang. Kamu boleh enggak percaya, cukup diingat saja, bahwa semuanya bukan tanpa alasan. Bahwa kita bisa belajar dari apa saja, dan gak mengerti semuanya dengan serta merta. Bahwa semesta benar-benar bekerja, bahwa waktu akan menjelaskan semuanya lewat sesuatu yang takkan terduga.

Kita tunggu saja.

Nanti juga percaya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s