Karya Rasa

Ini adalah kali pertama aku, seorang remaja yang tahun ini menginjak usia dewasa, berani menuliskan tentang rasa dan mempublikasikannya. Bahkan meski aku dan orang ini tidak pernah jadi. Karena selama ini, aku selalu merasa belum cukup umur untuk menuliskan tentang cinta, meski aku cukup berpengalaman merasakannya.

Anehnya, sosok ini adalah yang pertama yang membuat otak tumpulku sedikit lebih terasah. Bayangkan, dari pertama rasa ini berkembang, hingga harapan untuknya telah pupus, aku jadi memproduksi dua seri puisi. Cerita Yogya dan Awan & Darani yang entah akan berlanjut atau tidak.

Tulisan ini hanya akan jadi catatan bahwa di akhir 2019 hingga awal tahun ini, ada rasa yang tak ikut sampai, meski semua tulisanku sudah dibacanya. Ada rasa yang tak berbalas, ada yang terasa jauh untuk digapai, ada yang hanya bisa kusentuh lewat kata-kata. Tulisan ini hanya akan jadi caraku mengekspresikan apa yang tak tersalurkan.

Sebelum rasa ini jadi diksi atau puisi
Atau ingatan tentangmu menjelma abadi
Atau aku yang terbelenggu candu
Bisakah menjauh dariku?

Terlambat
Hatiku tertawan begitu cepat
Seakan diracun terpikat
Aku menderita hebat

Cerita Yogya
bagian satu.

 

Ternyata saat terpesona buat kita jadi puitis
dan susu segar nasional jadi gratis
Pun jalan kaki dari parkiran bis terasa begitu romantis
Padahal kita hanya diam bersama
Baru bicara di alun-alun kota 

Cerita Yogya
bagian dua. 

Alun-alun utara jadi tempat pertama kita bercerita
Sebelum aku mencarimu di keramaian kota
Dalam hiruk pikuk malioboro pada sore menjelang malam

Lalu, menemukanmu di resto cepat saji
dan bukannya angkringan yang jadi ciri
buatku geleng-geleng sendiri
Kamu aneh, kataku

“Curiga di kotamu nggak ada KFC” 

“Jember kota kecil tapi maju. Sebutin apa, semua ada di sini,” katamu membela diri (Tapi aku tetap beranggapan kamu konyol.
Jauh-jauh ke malioboro, makannya di dalam mall. Rugi pol) 

Hal yang diam-diam kusyukuri, karena lambat laun jadi pertengkaran kecil yang kunikmati

(Tapi akan lebih berkesan lagi kalau waktu itu kita makan bareng di alun-alun utara, bukannya berpisah dan baru bertemu lagi di kamarmu, dengan ceritaku yang menemanimu melipat baju)

Cerita Yogya
bagian tiga.

Desember ini Jogja tak mempertemukan kita
Mungkin semesta cemburu pada tulisan-tulisan yang kutujukan padamu
Mungkin juga ia ingin kita memupuk rindu 
sebelum akhirnya kembali bertemu
Di waktu yang sesuai rencana semesta
Di waktu yang sudah cukup untuk kita
Di tempat yang mungkin bukan Jogja
Di tempat yang menjelma abadi
Suatu saat nanti 

Biarkan semesta melakukan kerjanya

Cerita Yogya
bagian empat

Desember ini Jogja tak mempertemukan kita

Keretamu meninggalkan kota di hari yang sama aku menujunya
Mungkin benar, semesta cemburu padamu

yang selalu jadi objek tulisanku
tatkala ragaku di kota kita

Mungkin ia tak ingin ada Cerita Yogya
bagian selanjutnya

Nyatanya, bertemu atau tidak,
aku tetap menuliskan kamu

Sebab hatiku tertaut pada Jogja serta kamu di dalamnya

Cerita Yogya
bagian lima

“Kamu tahu tidak, kalau orang-orang sepertiku hanya butuh didengarkan dan dikuatkan?” Darani masih memeluk lutut, namun kini pandangannya nampak kosong, meski terlihat menuju pada pecah mbak yang menabrak batu karang. 

Awan diam. Ia memeprsilahkan Darani melanjutkan kalimatnya. 

“Kuberitahu, Wan, kamu tidak perlu memutar otak untuk mencari saran,” Darani menghela napas, “Karena sungguh, seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Orang-orang sepertiku yang tenggelam dalam kalut pemikiran, tidak akan bisa mencerna saran,” lanjut Darani sedikit berteriak, oleh karena suaranya bersahut-sahutan dengan desir angin yang mengacak rambut dan pasang ombak yang tak pernah surut. 

Awan diam, tak berani menyela Darani yang dipenuhi emosi. Jika saja ia tahu mata gadis di sampingnya menjelma bening kaca, Awan sungguh akan membawa saputangan atau sekotak tisu. Diam-diam, Awan merutuki dirinya yang sangat payah dalam menghadapi perempuan, khususnya Darani, yang ia tahu menaruh banyak harap pada Awan. 

“Ceritaku cukup ditenangkan, respon dengan keberadaan..” kali ini Darani berucap dengan nada yang merendah pilu. Membuat Awan semakin berada pada posisi tidak nyaman. 

“Darani, maaf, kurasa aku tak mampu menampung derasnya kamu. Sepanjang hidupku tak pernah menyelami—“

“Aku tahu, Wan, aku pun begitu. Kurasa, memang tidak akan ada yang siap menghadapi manusia seproblematik aku.”

Kali ini, Awan benar-benar bungkam. Ia menyesali dirinya yang tak pandai memilih kata. 

Awan & Darani

Lihatlah, betapa hebatnya perasaan yang senang sakitnya mampu mencipta karya.

Awan dan Darani sendiri baru tercipta setelah sebelumnya aku terguncang atas resiko dari apa yang berani kusampaikan padanya. Entah, mempermalukan diri sendiri seperti sudah melekat pada diri yang menganggap hal-hal seperti ini adalah hal yang bukan murahan. Nama Awan untuk menggambarkan dirinya kupilih karena jika harus diibaratkan, ia seperti awan yang fana. Jauh dan tak bisa disentuh. Sedangkan Darani adalah tanah dalam Bahasa Sansekerta. Tercipta pada Januari di musim penghujan, Darani adalah tanah yang basah. Menjelaskan suasana hatiku sesaat sebelum menciptakannya. Aku menggambarkan diriku sebagai tanah. Tanah yang sangat jauh dari awan yang dikaguminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s