Kita dan Kota Istimewa

Gak salah ya orang-orang memberikan gelar Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa. Seperti lirik lagu milik Adithya Sofyan, selalu ada sesuatu di Jogja. Setiap insan yang jatuh hati padanya juga tak enggan mengakui bahwa Jogjakarta memang gudang cerita. Termasuk aku.

Kota Jogja bagiku lebih dari sekadar istimewa. Setelah 11 tahun tidak berjumpa, kembali lagi ke Jogja bagai nikmat Tuhan paling luar biasa. Begitu ada kesempatan, rasanya ingin berlama-lama di sana. Kini sudah satu minggu sejak aku meninggalkan kota itu. Meski demikian, segala kenangan tentangnya akan tetap tinggal, tak peduli waktu yang terus berlalu.

Hadiah kecil dari Tuhan kutemukan di akhir tahun. Setelah berlelah-lelah merasakan tekanan dan semua beban, aku diizinkan kembali jadi diriku yang dulu, sekaligus jadi orang yang baru. Bingung gak?

Waktu SMP dulu, aku aktif banget menulis dan berpartisipasi dalam kegiatan nasional. Hingga ketika bertemu dengan suka duka SMA, aku berubah jadi pelajar yang biasa-biasa saja. Prestasi gak bertambah, malah mantan yang bertambah. Melihat teman-temanku yang aktif banget lomba sana-sini dan juga karena dendamku pada teman-teman yang dulu menyakiti, aku jadi termotivasi untuk menambah deretan prestasi sebelum lulus SMA. Biar waktu perpisahan slide prestasiku gak kosong-kosong amat.

Salah satu hal yang membuatku jadi malas dan tidak produktif selama SMA adalah intensitas gagal yang sering sekali. Makanya, waktu lolos seleksi Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019, rasa-rasanya kayak Tuhan terlalu baik padaku. Dan emang Tuhan itu baik banget.

Aku akhirnya bisa merasakan lagi suasana event nasional yang jadi hobiku dulu. Aku seperti hidup kembali, seperti diriku sudah terisi penuh oleh energi. Fakta bahwa aku akan pergi ke Jogja setelah sekian lama membuatku sangat-sangat excited. Aku bahkan sudah menyusun rencana perjalanan jauh sebelum tiket pesawatku dibeli. Tak ada yang menyangka, bersamaan dengan perjalananku di Jogja, Tuhan mengabulkan satu lagi doa hamba-Nya.

Sekitar seminggu sebelum aku berangkat ke Jogja, aku kembali berada pada titik terrendahku. Aku ingin bilang kumat, tapi malu seolah-olah punya penyakit. Aku hanya tidak tahu bagaimana menuliskannya. Hari itu aku benar-benar pusing dan menyerah pada dunia. Gak ingin mati, tapi ingin cepat-cepat sampai pada masa depan di mana aku sudah merasakan hasil dari bertahan. Gak ingin mati, hanya ingin jadi orang baru yang gak mereka kenal sama sekali. Ingin meninggalkan Banjarmasin, SMA, dan seluruh yang ada di dalamnya. Ingin jadi orang baru yang benar-benar baru, begitu doaku.

9 hari berada di Jogja memberiku banyak hal yang kewalahan untuk kusyukuri. Pertama kalinya naik pesawat sendiri tanpa orang tua, bikin aku deg-degan parah, takut bayar bagasi. Apalagi, aku pergi bersama Retha yang lebih muda 2 tahun dariku, membuatku jadi yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu padanya.

Semua berjalan lancar. Hari pertama dan kedua di Jogja kuhabiskan untuk bernostalgia. Menginap di kamar sederhana Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan membuatku sedikit merasakan jadi anak perantauan. Mengunjungi TK tempat aku bersekolah dulu, melunasi janji bertemu dengan teman-teman masa kecilku, bersilaturahmi dengan guru, dan berputar-putar di daerah tempat tinggalku dulu adalah kegiatan yang memang sudah kurencanakan untuk dilakukan sebelum berangkat ke PPPTK Seni Budaya Kaliurang.

Rasanya luar biasa bahagia dapat kembali ke Jogja. Seakan terlena dalam nostalgia, aku sampai-sampai malas sekali harus pergi ke tempat acara. Tiba-tiba ingin mengundurkan diri, tiba-tiba ingin liburan saja di sini. Beruntungnya, aku tidak benar-benar mengikuti pikiranku yang tiba-tiba itu.

Sekali lagi, 9 hari berada di Jogja memberiku banyak hal yang kewalahan untuk kusyukuri. Khususnya menjadi bagian dari Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019 yang membawaku pada cerita yang tak kutemukan di Kalimantan. Aku seperti terlahir jadi orang baru.

Di JPTB, aku mengenalkan diriku sebagai Bila. Nama tersebut kuputuskan setelah berhari-hari galau dan menimbang-nimbang. Sudah ada Salsa, aku nggak ingin sama. Mau dipanggil Caca, sudah ada Priesca Ayu yang kalau aku jadi dia, aku akan bangga dipanggil Priesca. Karena di JPTB enggak ada yang kenal aku selain Aning yang minta dipanggil Yaya, Najma, Nadia, dan delegasi Kalimantan Selatan lainnya, aku mencoba membiasakan diri dipanggil Bila.

Hingga akhirnya aku menyukai nama Bila. Menjalani hari sebagai Bila, aku benar-benar merasa dilahirkan sebagai orang lain yang bukan aku. Selama menjadi Bila, aku lupa akan Salsa, gadis problematik yang berharap ingin segera meninggalkan kotanya. Aku lupa akan Salsa dan masalah mentalnya. Aku lupa teman-teman sekolahku, masalahku, bahkan aku lupa kalau punya adik bayi di rumah. Aku hampir lupa semua adikku kalau di JPTB gak ketemu Fawaz yang namanya sama dengan adik cowokku dan Salma yang wajahnya sumber copy paste Tuhan untuk adik cewekku. Iya, aku punya tiga adik.

Meski begitu, menjalani hari sebagai Bila membuatku benar-benar seperti orang lain dengan masalahnya sendiri. 9 hari di Jogja seperti hidup lama sebagai Bila. Perjalanan singkat yang punya turun naiknya. Di JPTB khususnya, di mana seharusnya aku menciptakan memori indah karena waktunya yang terbatas, aku malah seperti sudah jadi Bila dan akan tetap jadi Bila setelah selesai acara. Sempat-sempatnya aku salah paham dengan Qanita yang membuatku gundah gulana, menjadi faktor rusaknya hubungan Dimas dan pacarnya, terlibat cinta lokasi, kesal dengan Hana yang mandinya lama, dan mengalami kejadian horor yang sangat jauh di luar jangkauan Salsa si gadis biasa-biasa saja.

Bersamaan dengan serentetan masalah yang menggelapkan kanvasku, hidup Bila tetap cantik karena warna gembiranya yang mendominasi. Ada banyak hal yang sangat kusyukuri terjadi. Termasuk berkenalan denganmu yang sedang membaca ini. Meskipun seandainya materi-materi yang diberikan tidak lantas melekat pada otak, semua kejadian dan kegiatan tetap jadi bagian penting yang gak akan kalah saing. Banyak life skill dan pengetahuan baru yang kupelajari di kesempatan kali ini.

Satu-satunya yang kusesali adalah Bila masih terlalu sombong untuk berkenalan dengan semua orang. Masih terlalu sinis untuk disapa terlebih dahulu, masih tergesa-gesa memberi penilaian sebelum berteman.

Hari-hari pertama di JPTB, aku masih menempel pada Aning dan Najma, teman satu generasi di KKPK yang sudah kukenal lewat dunia maya. Satu kamar dengan Adhinda dan Hana, membuatku jadi dekat dengan satu circle pertemanan yang membuatku hanya terfokus ke sana. Ada Adhin, Nita, Rahma, Gek Syah, dan Ratu, orang-orang tersayang yang gak akan kulupakan.

Satu lagi hal yang paling kusuka adalah kelompok belajarku. Kelompok paling eksklusif karena punya dua orang co-fasil dan teman-temannya yang seru. Senang karena satu kelompok sama Aning yang sudah jadi sahabatku sejak 2014, kenal Kiki yang jadi kusayang banget, Salma yang waktu pertama ngumpul bikin aku salah fokus karena berasa liat adik sendiri, Ratu yang satu circle, Dinda yang memunculkan jiwa kekakakkanku, Herd dan Intan yang pendiam, juga Dani satu-satunya imam.

Bersama mereka, aku belajar dan menemukan kerjasama yang menakjubkan. Setiap misi yang diberikan selalu selesai dengan hasil yang memuaskan, seperti waktu yang terbatas gak jadi kendala. Mereka gak banyak bicara, tiba-tiba bisa saling mengerti dan berbagi tugas, bekerja sendiri kemudian bekerja bersama, tiba-tiba sudah selesai saja. Benar-benar kagum pada mereka. Pun, aku berkesempatan mengasah kemampuan public speaking berkat jadi juru bicara saat presentasi mading dan MC saat ice breaking. Tak lupa, storytelling saat pentas budaya. Pengalaman yang sungguh sangat mengesankan.

Hal berkesan lainnya yaitu mengenal Fawaz, Noval, Ozan, Rafly, Dimas, dan Syuja. Teman sharing dan diskusi tengah malam yang buatku berdecak kagum sepanjang menyimaknya. Pemikiran luar biasa dari anak-anak cowok yang gak kutemukan di sekolahku. Topik diskusi yang gak akan kusebutkan di sini karena kesensitifannya. Terkhusus Rafly dan Dimas yang menjelma menjadi sahabatku di sana, aku sangat bersyukur mengenal mereka.

Malam terakhir acara jadi bumbu paling berwarna. Di tengah-tengah packing, aku pergi ke lobby untuk mengembalikan beberapa barang yang kupinjam dari teman. Setelah itu berencana untuk menginap di kamar Rahma, maskeran dan quality time maunya. Rupa-rupanya, terjadi sesuatu yang gak akan kusesali pernah mengalaminya. 17 tahun hidup sebagai Salsa yang biasa-biasa saja, malam itu adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengan hal-hal yang seharusnya di luar nalar.

Ternyata begitu, ya, rasanya kesurupan. Lemas, linglung, mau ambruk, gak sadar, setengah tubuh dingin dan mati rasa, mual, pusing, dan gemeteran hebat. Sudah dinetralisir, tapi masih tetap terbentur. Semakin kencang teman-temanku berteriak, semakin kencang aku mengaji dan menangis. Terjaga sampai adzan subuh dan rentetan detail kejadian yang gak akan terlupakan. Membuatku shock dan sangat ketakutan, tapi juga gak kusesali dan masih bisa dimaafkan. Alhasil, dua malam terakhir aku jadi ngungsi di asrama cowok.

Selalu ada yang dapat disyukuri dari semua yang terjadi. Aku jadi dekat banget sama Bunda Caca yang awalnya gak begitu kuhiraukan, jadi dikenal oleh Kang Pipit yang turut menanganiku, jadi punya cerita dan pengetahuan baru soal hal seperti itu, jadi dikawal pulang oleh teman-teman ARKI seusai ketemuan, jadi punya pengalaman kesurupan yang sebelumnya gak pernah ada dalam bayangan.

Sabtu satu minggu yang lalu, semua yang tersisa berbondong-bondong mencari penginapan hingga tersisa aku, Retha, Gita, Dinda, Bunda, Rika, Dela, dan Nila yang tidur satu kamar di hostel yang ciamik, serta beberapa anak cowok di kamar warna ungu. Ada Mazdad, Fikri, Sultan Reyza, Abdul, Sugi, dan Kholis yang berbaik hati memikul bawaanku selama di Malioboro. Malam bersama mereka adalah pertama kalinya aku makan ketoprak, serius. Dua malam sebelumnya aku makan gado-gado soalnya.

Hingga tibalah kepulanganku pada hari Minggu kedua aku di Jogja. Mengenakan baju kembar tiga bersama Retha dan Gita lalu berangkat lagi ke bandara dua jam setelah mengantar Dinda. Meninggalkan Jogja yang semoga akan jadi tempat tinggal beberapa tahun ke depan.

Di sinilah aku sekarang, kembali ke Banjarmasin membawa satu perubahan, mengenal kalian. Kutemukan sahabat, orang-orang hebat, teman diskusi satu frekuensi, wajah-wajah baru yang membuatku merasakan kentalnya kekeluargaan didasari perbedaan. Konsep pembelajaran yang dikemas menarik dalam Jambore Pelajar Teladan Bangsa, materi-materi yang bisa langsung kuterapkan di sana, khususnya tentang toleransi, bersahabat, dan penilaian. Acara yang begitu luar biasa, salut untuk kakak-kakak panitia yang hangat dan hebat. Karena bahkan satu minggu seusai acara, grup masih berfungsi untuk hal-hal yang lebih dari sekadar silaturahmi.

Ah, Jogjakarta memang gudang cerita. Tempat aku bertumbuh pertama kalinya, tempat aku melebur segala rasa bersama mereka, teman-teman satu Indonesia. Untuk Jogjakarta dan seluruh kenang-kenangannya, bagai magnet yang menarik langkah tuk kembali ke sana, terima kasih telah ada pada suatu masa yang kusebut istimewa.

Banjarmasin, 30 November 2019, pukul 19:55. 

Tepuk cinta dari Bila yang berbahagia. 

Semoga lain waktu dapat berjumpa. 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s