Suara yang Menyatukan Kita (NSDC 2019 dari sudut pandang bukan peserta)

Masih dalam suasana 17an, di kepalaku terus terngiang-ngiang lagu Indonesia Jaya, yang sukses membuatku merinding kala dinyanyikan pada upacara kemerdekaan dua minggu yang lalu.

Bukan karena paduan suara yang terlalu sempurna, namun karena di sebelahku berdiri satu Indonesia, menginjak tanah lapang yang sama, serentak memberi hormat pada sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan yang dikumandangkan.

Tahun ini, kotaku tercinta mendapat kehormatan sebagai tuan rumah lomba debat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tingkat nasional. Dan sekolahku berkesempatan untuk menjadi tempat diselenggarakannya babak penyisihan National School Debating Championship yang bertepatan pada Hari Kemerdekaan.

Karena pernah bergabung dalam klub debat di sekolah, aku diminta untuk menjadi Liaison Officer untuk hari itu. Bertugas sebagai chairperson, aku memegang Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat di ronde keempat, serta Jambi dan Aceh di ronde kelima. Tiga ronde pertama sudah dilaksanakan di hari sebelumnya, yang bertempat di SMAN 1.

1566092339790

Sebelum babak penyisihan, peserta NSDC ikut melangsungkan upacara di sekolahku. Bersama-sama dengan panitia, MPKOSIS, siswa-siswi, guru-guru, dan para juri.  Tiba saat bagian menyanyikan lagu wajib nasional, diriku yang sempat tenggelam dalam lantunan paduan suara tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku sedang berdiri bersama teman-teman perwakilan dari 34 provinsi, bersama-sama melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan yang sakral dan khidmat. Fakta bahwa benar-benar satu Indonesia hadir di sini, sukses membuatku merinding sekaligus terharu.

Hal ini kusadari sedikit banyak meningkatkan rasa nasionalisme dalam diriku. Menghayati dan menikmati lagu wajib nasional dinyanyikan dengan rasa bangga oleh kelompok paduan suara di hadapan seluruh peserta, hatiku pun diam-diam diselimuti rasa bangga.

Tiba saatnya lomba dimulai, ronde pertama di chamber 7 adalah Sulawesi Utara sebagai opposition melawan Nusa Tenggara Barat sebagai government. Jujur, mosinya tidak begitu kupahami. Tetapi, melihat mereka dengan lancar berpidato dan beradu argumen membuatku banyak belajar.

Oh, begini lomba debat nasional.”, “Oh, ternyata banyak banget ya yang jago debat bahasa inggris di seluruh Indonesia.” , “Oh, ini orang-orang pintar dari provinsinya.”, “Oh, iya-ya. Bener juga, gini ternyata ya..” dan masih banyak oh-oh lainnya.

Di akhir ronde keempat, ada verbal adjudication yang diberikan oleh juri. Turut hadir di dalam ruangan dan mendengarkan ilmu yang sangat berharga yang tidak semua bisa berkesempatan mendengarnya, menyadarkanku bahwa aku sepatutnya bangga dan mengambil banyak pelajaran dalam menjadi bagian dari suksesnya acara.

Bukan hanya mempelajari sistem perlombaan nasional, aku pun belajar bagaimana menjadi Liaison Officer sebuah acara besar. Memang sebelumnya aku sudah pernah menjadi bagian dari lomba debat, baik sebagai peserta maupun panitia, tapi masih tingkat sekolah. Berpartisipasi dalam suksesnya NSDC tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya.

Ronde kelima, ada Aceh sebagai affirmative dan Jambi sebagai opposition. Yang unik dari tim yang kupegang kali ini, mereka semua perempuan dengan dua non muslim dan satu muslim di masing-masing tim. Yang unik pula, aku dan tim debat dari Aceh menjadi teman setelah pertandingan hari itu usai.

Ronde kelima adalah silent round. Tidak ada verbal adjudication di dalam ruangan debat sehingga seluruh peserta langsung kembali ke debater hall usai menyelesaikan pertandingan. Di sana, diumumkan tim dari provinsi mana saja yang masuk ke 16 besar berdasarkan banyaknya victory point yang mereka dapatkan selama lima kali debat dalam dua harı. Tim dari provinsiku sendiri, Kalimantan Selatan, belum beruntung untuk melanjutkan perjuangan mereka. Begitu pula Bangka Belitung, yang salah satu di antaranya adalah temanku saat Festival Literasi 2016 di Palu dulu, Annisa.

Salah satu tim yang masuk 16 besar adalah tim dari Aceh, yang sebelumnya berada di chamberku. Usai pengumuman, banyak teman-teman LO yang menyelamati dan meminta foto kepada para peserta. Aku dan Cangnai menghampiri tim Aceh dan mengobrol sedikit tentang stigma masyarakat terhadap Aceh yang selama ini didengar dari internet dan televisi.

Aku menyampaikan bahwa ketika melihat mereka keluar dari debater hall di SMAN 1 pada hari pertama perlombaan, aku sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa yang mewakili provinsi Aceh yang terkenal sangat islami justru non muslim. Karena hal tersebut, aku membuka topik obrolan dengan menanyakan bagaimana kehidupan mereka sebagai minoritas di Aceh. Benarkah disana perempuan tidak boleh pakai celana, benarkah duduk di sepeda motor harus menyamping, dan bagaimana cara mereka berpakaian di Aceh.

Obrolan singkat tersebut membukakan pikiranku terhadap Aceh dan segala keabuabuannya di otakku. Aku yang belum pernah menginjak tanah Sumatera, jadi tahu kalau Aceh tidak seketat yang ditayangkan dan diberitakan. Kalau Aceh sama saja seperti Banjarmasin dan kota-kota lainnya, hanya memang kita sudah sepatutnya menyesuaikan dengan peraturan yang diterapkan.

Sejak itu, aku dan Cangnai jadi berteman dengan mereka. Kebetulan, pada ronde keempat, Cangnai yang menjadi LO untuk Jaza, Clara, dan Nathania, tim dari Aceh. Setelahnya, kami berfoto bersama dan bertukar akun instagram.

LRM_EXPORT_35733072730534_20190819_102227873.jpeg

LRM_EXPORT_35866017428452_20190819_102440818

Acara hari itu berakhir dengan penuh kegembiraan. Para LO menyaksikan seluruh peserta NSDC berfoto bersama di tengah lapangan sekolah. Meski beberapa harus gugur pada hari itu, mereka masih tetap tersenyum. Tampaknya mereka merasakan senasib seperjuangan, tidak kalah sendiri, tidak merasa buruk sendirian.

Bersamaan dengan langkah kaki para peserta yang meninggalkan sekolah tempat acara, usailah tugasku pada hari itu.

Aku yang pernah beberapa kali mengikuti lomba nasional, sangat merasakan suasana perlombaan nasional yang begitu kurindukan. Aku menikmati melihat mereka bercanda tawa. Aku bahkan jadi berkenalan dengan beberapa peserta. Mendapatkan banyak teman baru dan pelajaran, padahal bukan bagian dari mereka.

Sejak hari itu, timbul keinginan untuk kembali mengikuti lomba-lomba dan kembali produktif menulis. Suasana yang sangat kukenali dan kurindui membangkitkan semangatku untuk beranjak dari zona nyamanku selama ini. Hari yang penuh motivasi.

Aku berniat untuk mengikuti jalannya perlombaan sampai selesai. Hari pertama menjadi penonton di SMA 1, hari kedua menjadi LO di sekolah, hari ketiga dan keempat berhadir sebagai penonton yang memeriahkan perlombaan.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai meninggi, aku dan teman-temanku berangkat ke SMAN Banua untuk menonton quarterfinal dan semifinal. Itu adalah pertama kalinya aku masuk ke lingkungan sekolah tersebut. Sangat sangat luas.

Awal menginjakkan kaki di sana, kami sempat bingung harus pergi kemana. Kami melintasi lapangan rumput yang luas dan melewati stand yang dijaga oleh banyak sekali siswa sekolah itu untuk menuju balairung.

Tiba di sana, kami melihat tim dari Aceh menuruni tangga balairung. Karena quarterfinal sudah hendak dimulai dan kami tidak tahu harus menuju kemana, kami bertanya pada salah satu panitia dan berlari-lari mencari chamber DIY – Lampung untuk menonton mereka.

Ngomong-ngomong, setibanya di depan chamber yang kami cari, aku tertegun karena langsung mengenali kelas itu dari luar. Meski baru pertama kali kesini, aku langsung tahu dari nama kelasnya, bahwa kelas yang dipakai sebagai chamber yang kami cari adalah kelas salah satu anak laki-laki yang pernah terlibat hubungan emosional denganku, hahaha. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Kebetulan berikutnya adalah ketika memasuki kelas tersebut, aku disapa oleh Clara dari Aceh yang ternyata mengingatku. Aku duduk di sebelah mereka yang rupanya juga menonton di chamber DIY – Lampung. Mereka gugur di octofinal tadi pagi. Aku mengobrol dengan Clara, bercerita tentang kebetulan pertama yang kusebutkan di paragraf sebelumnya.

Pertandingan berlangsung dengan seru. Tim dari DIY dan Lampung sama-sama kuat dan mengesankan. Berakhir dengan Lampung yang memenangkan pertandingan dan maju ke babak semifinal.

Semifinal diadakan di balairung dengan Lampung dan DKI Jakarta saling berhadapan dan Banten dengan Kalimantan Timur di gedung lain. Aku menonton Lampung dan DKI Jakarta, tim yang sama-sama kuat dan banyak cogannya. Meski di depanku tersaji debaters keren yang menarik perhatian mata, hatiku pada saat itu tertaut ke barisan penonton paling belakang.

Ada orang itu di sana. Sudah memperhatikanku setiap kali aku menoleh ke belakang. Selalu tersenyum, sangat manis hingga mampu menggetarkan hati. Berjalan jauh dari asrama menuju balairung di bawah terik matahari demi agar aku dapat melihatnya, meskipun hanya dari jauh dan tanpa suara. Menyenangkan, karena terlukis kisah asmara di tengah-tengah tujuan awalku untuk menonton lomba.

Semifinal dimenangkan oleh DKI Jakarta yang akan melawan Kalimantan Timur pada babak final keesokan harinya. Final diadakan pada sore hari di ballroom Hotel Rattan Inn. Aku bersama Cangnai dan teman-teman lain kembali berhadir menonton babak yang ditunggu-tunggu. Kedua tim adalah tim yang kuat dan ditakuti, terkenal dengan kepiawaian mereka dalam berdebat. Tim dari DKI Jakarta mengenakan pakaian adat dan tim dari Kalimantan Timur mengenakan jas formal yang membuat mereka semua terlihat berkharisma.

Pertandingan berjalan dengan sengit namun tenang. Disaksikan oleh ratusan mata peserta NSDC, LDBI, para juri dan penonton yang memenuhi ruangan ballroom hingga tak ada kursi tersisa. Sore itu, ditandai dengan selesainya reply speaker dari tim affirmative berbicara, berakhirlah seluruh rangkaian lomba NSDC 2019. Para peserta diburu oleh waktu, mereka bergegas kembali ke hotel tempat menginap untuk berbenah menyiapkan closing ceremony.

Meski begitu, Clara dan Nathania menyempatkan untuk berfoto lagi bersamaku dan teman-teman sebelum akhirnya menyusul Jaza yang sudah terlebih dahulu naik ke dalam bis. Usai berfoto, aku dan teman-teman pergi makan dan mencari kenang-kenangan untuk diberikan kepada tim dari Aceh yang tiga hari belakangan menjadi temanku dan tim dari Bangka Belitung yang juga berkenalan denganku.

IMG-20190819-WA0027IMG-20190819-WA0028IMG-20190819-WA0014

Sebelum closing ceremony dimulai, aku meminta waktu mereka sebentar untuk menemuiku di depan lobi hotel. Aku memberi mereka sambal acan khas Banjar sebagai hadiah kecil sebelum mereka kembali ke daerah masing-masing esok pagi.

Senang sekali rasanya mendapatkan teman baru dan pengalaman baru. Sayang sekali tidak ada Vina di sana, hanya ada Annisa dan Stephanie dari Bangka Belitung dan cewek-cewek dari Aceh yang menemuiku malam itu. Kami semua berboomerang untuk terakhir kalinya sebelum aku pulang ke rumah.

Berakhirlah kisah keseruan NSDC 2019 dari sudut pandangku sebagai LO dan penonton. Bukan sebagai peserta, namun dapat merasakan suasananya. Berkenalan dan mengambil banyak pelajaran dari orang-orang hebat seluruh Indonesia, memotivasiku untuk dapat kembali hadir dalam riuh perlombaan nasional sebagai peserta, dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia yang hadirnya lewat jalan yang tak kusangka-sangka

LRM_EXPORT_47782470457605_20190817_185848348LRM_EXPORT_47696319863054_20190817_1857221971566036527655156603658349315660369755341566036945980156603696468915660365305151565954250863

IMG-20190819-WA0018IMG-20190819-WA0017IMG-20190819-WA0019

IMG-20190819-WA00161566036455130156603642731015660369703641566036436107

1566036412987

1567226503770

1567226515068

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s