Tentang Kehilangan

Berawal dari pikiran yang secara random muncul di otakku, tentang betapa di masa-masa SMA begitu banyak orang yang tak pernah berbincang. I realize that, in high school, i dont talk to everyone. I know a lot but i dont know all. I see their faces sometimes when i go to canteen or in other corner of school, i met them in a toilet queue at school, but i dont talk to them. We dont even smile at each other. We just knew that we’re a school friend. 

Hari ini entah kenapa terasa damai sekali. Aku baru saja sembuh dari sakit. Kegiatanku masih sama seperti Sabtu biasanya, mencuci seragam dan sedikit me time pada pagi hari, kemudian kerja kelompok di siang harinya. Yang beda adalah, hari ini aku tidak sengaja melihat kembali kenangan di instastoryku satu tahun yang lalu saat berniat membuka arsip foto. Boomerang bersama orang yang pada akhirnya kurelakan, yang baru saja dapat kulepaskan pada awal bulan ini.

Sebut saja X, dan menurut kenangan satu tahun lalu, X datang ke rumahku sepulang sekolah dengan membawakan obat-obatan untukku yang sedang sakit di rumah. Reaksi pertamaku melihat kenangan tersebut, tertawa pahit. Berbulan-bulan yang lalu aku masih tidak bisa menerima. Sekarang aku sudah bisa melihatnya dengan hati yang seolah tak berfungsi. Mati rasa, aku menyebutnya.

Semua tak jauh dari cerita pahit di ujung tahun lalu. Akhir 2018, semester satu kelas 11. Hal yang pada awalnya sangat sulit kubagikan, kini dapat kutuliskan dengan damai. Hal yang membuatku tertuju pada random thoughts di awal tadi. Tentang betapa banyak orang yang tak kutegur dan kusapa. Entah tidak cocok dari awal, hanya kenal lewat mulut orang lain, atau yang berubah seolah tidak saling kenal karena pertemanan yang gagal.

September 2018 adalah awal sekaligus puncak semuanya. Berada di titik terendah kehidupan selama 16 tahun belakangan, aku kehilangan banyak hal besar dalam hidupku. Kesempatan di OSIS, teman-teman di lingkupku yang dulu, orang yang kusayang, lepas dari genggamanku secara bersamaan. Aku sudah pernah membahasnya sedikit di postinganku beberapa waktu lalu.

Kali ini, aku akan fokus kepada bagaimana aku melewati segalanya dan seperti apa aku setelahnya.

Banyak yang kudengar baik langsung maupun tak langsung, tentang aku di mata mereka. Dari keungahan, sampai murahan. Dari a small brained bitchy sampai aku yang childish dan toxic serta mereka yang justru senang dijauhi olehku. Dari yang awalnya aku menangis tiap hari tanpa henti, sampai hatiku seolah dibuat mati rasa begini. Aku patut bangga bisa melewati hari-hari depresi dan mulai bangkit dari keterpurukan.

Aku banyak belajar dari sana. Memperbaiki diri, mengubah sikap, dan tentunya belajar melepaskan dan merelakan. Lebih berhati-hati dalam bicara, dalam memilih teman untuk dibagikan cerita, belajar agar tidak mudah percaya, dan bahwa sedekat-dekatnya aku dengan mereka, aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentangku.

Masa-masa ujian akhir semester lalu, aku memutuskan rehat sejenak dari dunia instagram yang toxic. Aku menghapus kedua akunku sementara dengan alasan fokus ulangan, padahal sebenarnya aku berusaha menghilang dan belajar tidak peduli dengan semua cacian yang kuterima di instagram. Kira-kira dua minggu lamanya, aku kembali mengaktifkan main accountku dan menghapus permanen akun keduaku.

Aku merasa untuk apa aku tetap memainkan akun keduaku kalau isinya adalah circle lamaku yang penuh palsu? Aku ingin keluar dan memutuskan hubungan dengan mereka. Meski niatku ini sebelumnya mendapat sindiran keras dari mereka di instagram hanya karena aku membuat mereka tidak dapat melihat story instagramku lagi. Lihat kan siapa yang childish dan toxic seperti yang mereka bilang?

Padahal, aku menyembunyikan story dari mereka karena merasa tidak nyaman. Di sekolah sudah jarang bertegur sapa, kemudian aku tahu bahwa setiap tingkahku dibicarakannya, aku pun merasa diawasi dan serba salah. Hingga pada akhirnya, kuhapus saja akun tersebut dan kubuat yang baru.

Akun keduaku yang baru tidak akan begitu menyampah seperti yang lama. Aku sudah banyak belajar untuk tidak terlalu membuka diri. Akun keduaku yang baru tidak akan dilihat maupun diisi oleh orang-orang lama. I cut off all toxic people in my life, i changed, and they cant be as close to me as before. I wont let them judge my new life.

Akun keduaku akan merepresentasikan diriku yang baru. Diriku yang berbeda dari yang mereka kenal dulu. Akun keduaku hanya difollow oleh teman-teman sekelasku, dan yang memang benar-benar dekat denganku sampai sekarang. Toh, aku tidak akan mengisinya seperti yang dulu.

Rasanya melegakan. Seperti membangun kembali privasi yang telah kuhancurkan sendiri. Rasanya seperti diam-diam menang, seakan punya rahasia yang tidak bisa mereka lihat dan cela. Pada awalnya memang berat, memang menyakitkan, sampai akhirnya kusadari bahwa hidupku jauh lebih tenang tanpa mereka yang tak baik untukku.

They used to be my close friends. We got a lot of memories which contains happiness. Time flies, people changes. We can’t stay friends forever. There are things we dont like from each other. I try to understand theirs, but they cant keep their mouth from saying hurtful words about me. Thats why our friendship is kind of friendship that has an expired date. We cant be friends anymore. Sure i had what might be called mental breakdown in the past 5 months, but i began to realize that i cant let them ruin me wholly. I deserve to be happy and do what i want to do. I have right to throw away toxic people that makes me unhappy. So i choose to let them go and get away from them. I choose to rebuild what have been destroyed, i choose to accept reality and focus on myself just like they used to do. Focus on myself. I was too busy loving and caring for them that i forgot to love myself.

Kupikir, kalimat panjang di atas cukup menjelaskan. Entah kenapa lebih enak nulisinnya pakai bahasa Inggris, meski grammarnya kacau balau begitu. Intinya, dari kehilangan dan pengalaman tersebut aku mati rasa untuk mereka. Meski sempat terpuruk, langkahku tidak boleh terhenti karenanya. Aku harus bangkit dan mengaktifkan rasa untuk dunia di luar sana. Dunia tanpa mereka.

Untuk itulah, aku tidak mengapa tidak pernah berbincang dengan semua orang di masa sekolah. Bagiku, garis takdirku dan orang-orang itu tidak menyatu. Hanya kebetulan berkumpul di titik temu dan berbeda arah. Untuk orang-orang yang sudah lepas dariku, garis takdir kami sudah tak lagi beriring dan sejalan. Sudah tak ada kecocokan untuk melanjutkan pertemanan.

Untuk orang-orang yang masih ada padaku, akan ada saatnya kita berjalan masing-masing, tak lagi seiring. Hanya semoga saja bukan karena pertikaian yang tak penting.

 

Jangan menyerah. 

Jangan kalah dari luka. 

Jangan terus terpuruk menangisi yang sudah tak ada.

Bersabarlah, mekarmu pasti ‘kan tiba. 

-Apinja Anastasia-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s