Tentang Seseorang

Ini tentang seseorang yang selalu ada. Seseorang yang selalu memasang telinga, yang menjadi pendengar paling sabar di setiap cerita. Baik suka maupun duka.

Kepada seseorang yang kuceritakan, ini adalah tulisan apresiasi untuk kamu yang telah berhasil kutemukan, setelah dahulu bergumam dalam pencarian.

Kepada seseorang yang kuceritakan, sebenarnya masih ada delapan soal biologi yang belum dan harus kuselesaikan. Tapi sejak mengerjakannya tadi, aku malah lebih ingin menuliskan ini, dibanding harus susah-susah mencari jawaban.

Kepada seseorang yang kuceritakan, kamu patut terharu karena ini sudah jam satu malam, dan aku masih menahan punggung yang sudah meronta ingin rebahan.

Teringat dulu, aku pernah mengunggah foto yang disertai pemikiranku. Kataku, semua orang seperti telah menemukan sahabat yang tak tergantikan. Sedangkan aku masih harus beradaptasi dengan jiwa-jiwa baru di masa putih abu. Kala itu, aku masih belum menemukan definisi sahabat di sekolah baru. Yang kupunya hanya sahabat putih biru, itupun baru kutemukan 6 bulan sebelum perpisahan.

Kemudian ketika melihat sekarang, setelah apa yang terjadi beberapa bulan belakangan, aku bersyukur garis takdir kita bertemu.

Aku tak benar-benar ingat kapan kiranya kita menjadi dekat. Tapi sekali lagi, melihat apa yang terjadi padaku di tahun kedua, aku bersyukur kamu ada. Aku tak benar-benar ingat atas alasan apa aku percaya untuk menceritakan semuanya padamu kali pertama. Yang kutahu, aku bersyukur telah bercerita.

Kuingat dulu kamu duduk di tembok pembatas di depan kelas, menunggu giliran seleksi ESDC. Satu hal yang tak kusesali, sikap SKSDku padamu saat itu. Kemudian kita dipertemukan lagi pada seksi bidang yang sama, dalam organisasi yang menjadi sejarah di hidup kita.

Sekarang kamu menjelma menjadi sosok paling mengerti, yang selalu memasang telinga tak peduli sepanjang apa aku bercerita. Sosok paling setia dan menerima. Sosok yang masih bertahan disaat semua orang pergi meninggalkan. Sosok yang menguatkan saat aku dijatuhkan. Sosok yang menemani saat jalanku terseok-seok seorang diri.

Kita berteman sejak kelas sepuluh. Baru satu tahun dan kupikir ini masih terlalu dini untuk memujamu seperti ini. Namun, yang kusyukuri tak ingin kulewati.

Di antara masalah-masalah yang kuhadapi, Tuhan masih baik dengan menjadikanmu sahabatku. Untuk itu, kubuatlah tulisan ini untukmu. Tulisan apresiasi yang disertai harapan agar persahabatan ini kekal hingga kelak. Tak peduli perbedaan besar yang tak dapat dielak.

Atas sikapmu yang tak pernah menghakimiku, atas waktumu yang terbuang untukku, atas eskrim, teh kotak, roti, kako, mango juice, dan mango float yang pernah kau beri secara cuma-cuma, atas lembaran tisu yang menjadi sampah setelah basah, atas pengertian yang kau berikan, atas pembelaan yang kau lakukan, atas materi yang kau ajarkan, atas obrolan larut malam yang baru saja kita habiskan, atas semua tumpanganmu untukku (untuk adikku), atas keberadaanmu saat aku di kantor polisi, atas senyum dan pelukan yang kau berikan, atas shopping time yang berkesan, atas semua yang tak tersebutkan, tanpa letih kuucapkan terima kasih.

Cang Nai Fang, semoga ini cukup manis untuk dikenang.

Semoga aku tidak membuat kesalahan 

dan semoga tidak ada yang membuat suasana jadi tidak nyaman. 

Cang Nai Fang, semoga kamu senang selalu kurepotkan. 

 

27 November 2018, pukul 1:52 malam. 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s