What Changes Me To Be Me

Sudah hampir setahun sejak postku yang berjudul How My Highschool Life Is Going. Banyak sekali yang berubah dalam satu tahun belakangan. Kelasku yang tadinya sangat kaku, kini mulai mencair dan menyatu. Pertemananku dengan teman-teman kelas lain yang sangat erat saat kelas 10 dulu, kini kian renggang. Bertegur sapa pun sudah jarang. Hubunganku juga sudah selesai. Banyak sekali yang terjadi yang turut mengubah aku menjadi seperti sekarang.

Beberapa bulan belakangan, aku mengalami gejala depresi. Entah, tapi yang jelas aku merasa sangat takut, tertekan, dan tidak bebas untuk bergerak. Aku selalu merasa diawasi, akan digunjing, dan pikiran-pikiran negatif lain memenuhi otakku.

September lalu, selama satu bulan penuh aku merasa sangat down. Aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku saat itu. Aku bukan lagi bagian dari OSIS (dimana aku merasa berorganisasi adalah passionku), aku menemukan fakta bahwa teman-teman dekat yang aku sangat nyaman bekerjasama dengan mereka hingga teman-teman yang tidak pernah punya masalah denganku ternyata tidak menyukaiku. Aku gugur dalam ajang lomba nasional, aku kehilangan kesempatan untuk bisa jadi murid pertukaran pelajar yang mana adalah impian terbesarku, dan orang penting dalam hidupku memutuskan untuk tidak bersamaku lagi.

Semua terjadi dalam satu hari. Aku merasa buruk sekali. Apalagi ketika teman yang kukenal terlihat sangat mudah mendapatkan dua hal yang hilang dariku. Apalagi ketika teman yang kukenal menggantikan posisiku. Apalagi ketika orang yang sangat kubutuhkan ternyata juga pergi meninggalkan.

Aku menjalaninya seorang diri. Aku mulai jadi pribadi yang tertutup, tetapi juga diam-diam mulai introspeksi diri. Ketika aku sudah mulai pulih, seorang teman yang lama tidak berbicara padahal kerapkali berpapasan di sekolah datang ke rumah. Ia menceritakan hal yang sayangnya membuatku kembali down. Maksudnya baik, untuk mengingatkan aku bahwa masih banyak orang-orang yang tidak suka padaku. Maksudnya baik, untuk mengutarakan hal-hal yang tidak ia suka tentangku secara langsung agar menghindari membicarakan tentangku di belakang.

Tapi dua hal yang tidak ia tahu,

Pertama, aku sangat excited menunggu kedatangannya. Dari hari-hari sebelumnya, aku sangat senang memikirkan rencana ia akan datang lagi ke rumahku setelah sekian lama. Kedua, saat itu aku sudah mulai bangkit dari keterpurukanku September lalu. Aku sudah mulai pulih dan mulai mengikhlaskan.

Darinya aku mengetahui bahwa hal-hal yang sudah berusaha kuubah masih dikomentari. Darinya aku mengetahui bahwa prosesku tidak terlihat. Darinya aku mengetahui bahwa caraku berkomunikasi mengusik seseorang. Darinya aku mengetahui bahwa hal yang kulakukan yang tidak berkaitan dengan siapapun, dianggap menyindir. Karenanya aku merasa, apa yang kulakukan selalu salah.

Hal ini berpengaruh pada emosiku. Ketika terjaga dari tidurku di malam yang sepi, aku merasa seperti monster di pikiran sedang menggerayangi. Mereka berlarian, berteriak nyaring, membuat kegaduhan di dalam otakku. Pikiran-pikiran buruk, perasaan takut, perasaan tertekan dan terbebani tak luput kehadirannya.

Aku takut untuk bercerita. Takut dianggap drama. Takut kembali digunjingkan.

Aku takut untuk bergerak, membagikan cerita. Takut ada yang salah paham. Takut dianggap salah. Takut disalahkan. Takut dianggap menyindir.

Aku sangat merasa dibenci oleh teman-temanku di sekolah. Betul-betul merasa. Aku takut untuk hal-hal yang tidak jelas. Semuanya terasa palsu.

Kemudian, terjadi beberapa hal yang menambah beban pikiranku. Berkaitan dengan aku yang selalu disalahkan. Berkaitan dengan orang penting di hidupku. Berkaitan dengan organisasi, berkaitan dengan teman ekstrakurikuler, berkaitan dengan teman yang datang kemarin. Banyak hal yang turut mendukung segala bentuk energi negatif untuk tetap ada pada diriku. Aku lelah akan semua itu.

Sangat sulit bagiku untuk mengungkapkan detail perasaan sejak kejadian itu. Bahkan untuk menuangkannya dalam tulisan pun aku masih merasa itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Bayangan tentang teman-teman yang akan menyalahkanku di hadapanku tentang apa yang kuperbuat selalu menghantui.

Hingga akhirnya aku membiarkan kalian membacanya di sini.

Inilah yang mengubahku. Inilah yang menyakitiku.

Ucapkan selamat tinggal pada aku yang dulu,

dan selamat datang untuk aku yang baru.

Selamat berjuang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s