PORCELINE (Short Story)

Panas sekali.

            Itu adalah yang terlintas di pikiranku saat baru saja membuka pintu mobil. Cahaya matahari pagi yang katanya menyehatkan, terasa begitu terik untukku. Baru pukul tujuh, masih ada satu jam lagi sebelum ujian dimulai.

            “Celine, mama tinggal ke pasar, ya. Kamu tunggu di depan ruangan ini saja. Nanti akan ada guru pengawas yang membimbingmu.” Kata Mama begitu kami sampai ke depan ruangan tempat aku akan melaksanakan ujian. Mama membungkukkan badannya ke arahku, “dan jangan pedulikan kata orang.” Bisiknya.

            Aku mengangguk kemudian mengambil tempat di kursi keramik di depan ruangan. Menatap mama yang berjalan meninggalkanku sendirian.

            Hari ini hari Minggu, dan aku sedang berada di sekolah. Bukan, bukan sekolahku. Tapi di tempat ini, aku dan sekumpulan anak-anak homeschool lainnya akan melaksanakan ujian nasional paket A.

            Sudah lima belas menit sejak mama meninggalkanku di depan ruangan ini. Beberapa anak yang juga akan mengikuti ujian sudah mulai berdatangan. Beberapa dari mereka terlihat bermain bersama, sepertinya mereka sudah saling kenal sebelumnya. Entahlah. Yang jelas aku di sini sendiri, dan tak beranjak dari dudukku sama sekali.

            Yang kutahu, hari ini akan ada dua ruangan yang dipakai untuk ujian. Satu ruangan berisi anak-anak homeschool dari lembaga homeschooling yang ada di kotaku. Sedangkan ruangan satunya untuk anak-anak homeschooling yang benar-benar homeschooling. Maksudku, mereka benar-benar belajar di rumah sepertiku. Tidak pergi ke lembaga tiga kali seminggu dan belajar di kelas bersama-sama. Aku homeschool mandiri, tidak terikat lembaga apapun, dan sehari-hari diajar oleh kakak sepupuku yang pernah sekolah di Australia.

            “Sekolah ini punya taman bermain, loh. Di sebelah sana. Kamu nggak mau coba?” Tiba-tiba saja, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Di hadapanku sekarang berdiri seorang anak lelaki berkaos biru muda, kurasa suara tadi berasal dari dia.

            “Hei, kamu ngomong sama aku?” tanyaku setelah cukup risih ditatap terus-terusan olehnya.

            “Iya. Kamu nggak mau coba?” ulangnya.

            “Maaf, aku enggak bisa kena sinar matahari.” Tolakku singkat. Anak lelaki tersebut mendesah pelan, kemudian dengan lunglai duduk di sebelahku. Aku menggeser dudukku dengan canggung. Di antara kami, tak ada yang memulai untuk bicara.

Sepuluh menit lagi ujian akan dilaksanakan. Anak lelaki tadi memecah keheningan, “Kita belum kenalan. Namaku Sian, dari lembaga homeschooling Tiara Kota. Kamu siapa?”

            “Celine, dari homeschooling yang tidak terikat lembaga manapun.”

            “Maksudmu mandiri?”

            Aku mengangguk. Sian kemudian mengeluarkan ponselnya, “Ketik nomor teleponmu, dong. Kita kan baru jadi teman. Biar nanti bisa komunikasi.” Katanya sembari menyodorkan smartphone berwarna hitam miliknya.

            Aku tidak langsung menyambutnya. Kupandangi ia dengan heran, lalu sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku, “Kamu.. kenapa mau jadi temanku?”

            Kali ini Sian yang menatapku heran. “Maksudmu?”

            “Iya, kamu nggak takut denganku? Dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Jelasku sedikit terisak.

Selama ini aku belum pernah punya teman. Hidupku sehari-hari dihabiskan di rumah dan kadang-kadang pergi ke supermarket untuk beli krim saat malam tiba. Meski begitu, aku punya keluarga yang harmonis dan rumah yang cukup luas. Berbagai fasilitas disediakan orangtuaku untuk membuatku betah tinggal di rumah.

Sian tergelak, “Kuntilanak beruban katamu? Selagi kakimu masih menapak di tanah, untuk apa aku takut?” ujarnya.

Aku tersinggung. Apakah kata-kataku barusan terdengar seperti candaan? Rasanya aku ingin memarahinya karena bersikap begitu menyebalkan. Tapi tidak bisa, bel sudah berbunyi dan kami harus melaksanakan ujian. Buru-buru aku masuk ke dalam ruanganku. Kami berpisah. Sian di ruangan sebelah.

                                                   ***

Sudah seminggu sejak perkenalanku dengan anak lelaki berkaos biru muda yang kutemui saat ujian nasional, kini aku dan Sian semakin dekat. Rupanya Sian tinggal tak begitu jauh dari rumahku, dan enak diajak mengobrol. Satu hal yang kusyukuri dari perkanalanku dengannya adalah aku bisa kapanpun memintanya datang ke rumah untuk menemaniku mengobrol dan Sian selalu menyanggupinya.

Kami bahkan berencana untuk melanjutkan studi bersama. Entah bagaimana caranya, dan kapan jadinya, aku masih bimbang. Seminggu ini juga Sian terus-terusan menghasutku untuk melanjutkan di sekolah umum. Setidaknya di SMP dekat rumah, katanya.
            “Ayolah, Celine. Bersekolah di sekolah umum enggak semengerikan yang kau bayangkan.” Bujuknya setelah menenggak es susu coklat buatan kak Vani. Sian sedang ada di rumahku. Dan seperti biasa, agenda rutinnya tak pernah ketinggalan. Membujuk dan menghasutku.

“Memangnya kamu pernah sekolah umum?” tanyaku. Sian meringis.

“Makanya, yuk, kita coba bareng.”

Aku menghela napas. “Kamu mau jamin aku apa kalau aku sekolah umum?”

Tanpa berpikir panjang, Sian langsung menjawab, “Kamu akan punya banyak teman di sana. Aku akan membantumu. Nanti kita bakal main bareng. Aku pastikan enggak akan ada yang membullymu.”

                                                             ***

Kemudian di sinilah aku, gadis albino yang baru saja membuka lembar kehidupan barunya dengan berdiri canggung di depan gerbang sekolah. Akhirnya, setelah berada di ambang kebimbangan yang cukup lama, keinginan Sian kukabulkan. Bersekolah dengannya di sekolah umum.

Di sebelahku, Sian berdiri dengan tegap. Ia terlihat bangga dapat mengenakan seragam putih biru. “Yuk, Celine. Kita cari kelas kita. Semoga sekelas ya.” Ajaknya.

Aku memandangnya, “Ini serius? Kita enggak bisa pulang saja?”

            Tapi terlambat, Sian tak mendengarnya. Anak lelaki itu terlalu bersemangat mencari namanya di daftar kelas 7 hingga meninggalkanku yang ingin pulang sendirian. Terpaksa aku mengejar Sian tanpa peduli dengan tatapan murid-murid lain.

            “Celine! Ke sebelah sini!” seru Sian saat aku tengah bingung mencarinya di kerumunan. Sian menarik pergelangan tanganku menjauh, “Kamu gak perlu lihat. Aku sudah dapat nama kita. Kita enggak sekelas.” Nada suaranya merendah. 

            “Maaf ya Celine. Dengan begini, aku cuma bisa menjaga kamu saat di luar kelas. Kita istirahat bareng, ya.” Ucapnya. Aku mengangguk lesu. Aku jadi takut masuk ke kelas.

            Sian menepuk bahuku. Menguatkanku.

                                                            ***

            “N-namaku Porceline Violetta. Aku dari homeschool. Salam kenal semuanya.” Ucapku dengan tergagap. Kakiku gemetar. Ini giliranku untuk memperkenalkan diri.

            Salah seorang anak mengangkat tangannya, “Kamu dari luar negeri, ya?”

            Aku terperangah, kemudian menggeleng. “Tidak. Sejak lahir aku di Indonesia, –maksudku di rumah saja.”

            “Lalu, apa sebutan untukmu kalau bukan bule?”

            Sebelum aku sempat menjawab, bu guru sudah menengahi. Beliau menjelaskan fenomena langka yang terjadi pada diriku. “Albino. Suatu kelainan genetik dimana penderita tidak memiliki pigmen melanin umumnya pada mata, rambut, dan kulit yang menyebabkan penderita tidak dapat terkena sinar matahari secara langsung. Kalian akan belajar itu di kelas 9 nanti.”

            “Bu guru, apa dia berbahaya?” ucap seorang anak menunjukku.

            “Albino tidak menular kecuali lewat keturunan. Jadi, tidak usah takut dengan Celine, ya. Dia bukan hantu. Bu guru harap kalian semua mau berteman dengannya.” Jelas wali kelasku. “Nah, Celine, sekarang kamu boleh kembali ke tempatmu.”

                                                            ***

            “Kamu sekelas dengan anak aneh itu? Siapa namanya?” aku mendengar bisik-bisik sekelompok anak di koridor. Rasanya ingin menangis saja. Aku tidak tahan ditatap terus-terusan oleh semua orang. Aku harus bertemu Sian secepatnya.

            “Seram ya, aku enggak pernah lihat manusia kayak dia sebelumnya.” Bisik sekelompok anak lain.

            “Apa bedanya sih sama bule?”

            “Kata bu guru beda.”

            Aku melangkahkan kaki lebih cepat. Setibanya aku di depan Sian, tangisku tak dapat ditahan. Buru-buru, Sian menenangkanku. “Sian! Harusnya kamu yang datang ke kelasku, dong. Aku enggak tahan mesti berjalan di tengah tatapan orang-orang!” kulampiaskan emosiku kepadanya.

            “Maaf, deh.” Raut wajahnya seperti menyesal. “Dengar, Celine. Mereka hanya belum terbiasa melihatmu. Ayo, dong, mumpung mereka belum kenal kamu, ciptakan kesan pertama yang baik. Senyum. Kalau kamu menangis begini, nanti kamu dianggap lemah. Mau?” ucapnya menyemangatiku.

            Aku tersenyum. Sian juga. “Aku kan sudah bilang aku akan membantumu mendapatkan teman. Nah, ayo ke kantin. Akan kutunjukkan caranya berteman.” Sian lalu menggiringku menuju kantin.

            Cukup lama kami mengantri, akhirnya nampan berisi dua mangkok bakso berada ditangan kami. Sian mengajakku duduk bergabung bersama tiga orang anak. Dua perempuan, dan satu laki-laki. Meja panjang itu masih menyisakan tempat untuk kami.

            “Hai, kami gabung di sini, ya?” Sian menyapa kepada tiga anak tersebut. Dapat dilihat dari raut wajahnya, mereka terkejut. Apalagi setelah melihatku. Tapi buru-buru mereka tersenyum dan mengizinkan kami untuk bergabung. 

            Sian mengulurkan tangan, “Kenalkan, aku Sian kelas 7B. Ini temanku, Celine kelas 7C.” Sian menunjukku. Satu persatu dari ketiga ‘teman semeja’ kami menyambut uluran tangannya.

            “Namaku Rahma, dan ini sepupuku, Willy. Kami kelas 7A.” Kata salah seorang anak. Kemudian, disambung oleh teman di sebelahnya, “Aku Syahra. Kita sekelas, Celine. Aku duduk di belakangmu.”

            “Benarkah? Kenapa aku baru tahu?” Aku sangat antusias mendengar Syahra adalah teman sekelasku. Itu berarti, Syahra orang pertama di kelas yang bersikap ramah kepadaku.

            “Itu karena kamu terus-terusan menunduk dan tidak memperhatikan sekitarmu.” Ucap Syahra. Seolah mengerti permasalahanku, ia melanjutkan, “Enggak usah takut. Kita semua murid baru kok. Bahkan, kami bertiga pun baru kenal tadi pagi. Iya kan, Rah? Will?”

            Saudara sepupu itu serentak mengangguk. Tak perlu waktu lama, aku mulai merasa santai dan menikmati obrolan bersama mereka. Sian dan Rahma banyak bercerita. Syahra dan aku terkadang menimpali. Sementara Willy, ia sibuk menghabiskan baksonya.

“Ngomong-ngomong, kalian kok enggak takut denganku? Padahal kan dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Tanyaku.

            Hening sesaat, kemudian Sian tergelak. “Kuntilanak beruban katamu? Selama kakimu masih menapak di tanah, untuk apa kami takut?” canda Sian. Teman-teman baruku berseru setuju. Kurasakan hangat perlahan menyusup di hatiku.

Agustus 2017.


What do you think? Cerpen di atas merupakan cerpen asli karanganku yang kukirim untuk seleksi ARKI2017, tapi enggak terpilih. Jadi aku putuskan untuk membagikannya di sini. Banyak teman yang bilang, mereka jadi inget novel karya kak Ziggy Z berjudul White Wedding. Yup, harus aku akui bahwa inspirasiku berasal dari sana. Aku menciptakan tokoh albino karena terinspirasi dari novel tersebut. Aku suka semua karya kak Ziggy, her works are totally awesome and really out of mind. Kemudian, perihal tokohnya yang homeschooling dan menjalani ujian paket A terinspirasi dari sahabatku yang kukenal dari ARKI 2015, Alifia. Anaknya kece banget, atlet panahan yang jago main musik juga. Dia homeschooling dan kemarin ikut UN SMP paket B.

Ngomong-ngomong, aku perlu tau nih pendapat kalian tentang cerpenku di atas kayak gimana. Jadi, berikan kritik dan saran kalian di kolom komentar, ya.

Dan aku harap enggak ada yang menyadur cerpenku, deh. Karena segimana jeleknya karya ini, pun, karya ini adalah hak milikku. Hehe.

Thank youuuu ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s