Festival Literasi 2016

Senin, 17 Oktober 2016.

Pesawatku seharusnya berangkat pukul 6.30 waktu setempat. Aku seharusnya sudah tiba di Palu sebelum jam dua belas. Tapi Allah berkehendak lain. Aku, Nanda, dan dua orang pendamping kami, kak Selvia dan kak Joko terlambat check in. Keterlambatan kami yang hanya beberapa menit dipersulit oleh petugas check in bandara sehingga kami harus memutar otak lagi untuk dapat membeli (lagi) tiket dengan jadwal keberangkatan paling cepat. Musibah pertama yang kami alami bahkan sebelum kami menjejakkan kaki di tanah Sulawesi.

Seminggu yang lalu, aku dan salah seorang temanku dari Banjarbaru mewakili provinsi kami, Kalimantan Selatan dalam salah satu rangkaian acara Hari Aksara Internasional di Palu. Acara yang kami ikuti adalah Festival Literasi yang rupanya baru pertama kali digelar. Kami berangkat sebagai peserta, dan tentunya didampingi oleh dua orang penggiat literasi (penulis dan penggiat komunitas baca) dari provinsi kami. Berempat, kami dalam satu hari menjejaki tiga pulau sekaligus. Sarapan di Kalimantan, makan siang di Jawa, makan malam di Sulawesi.

Musibah telat check in tidak akan aku jabarkan secara detail di sini karena cerita itu in shaa Allah akan dijadikan cerpen oleh aku dan kak Selvi. Langsung saja, akhirnya setelah kami mempertimbangkan segala hal, kami jadi berangkat ke Palu dengan penerbangan selanjutnya, tetapi tentu saja harus bayar lagi. Karena tidak ada rute dari Banjarmasin ke Palu, kami harus transit di Surabaya untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri, Palu.

Di Surabaya, setelah makan siang dan sholat, kami masuk ke ruang tunggu dan sibuk dengan fasilitas phone charging yang tersedia di sana. Baru saja menyandarkan punggung ke kursi ruang tunggu, terdengar suara petugas yang memanggil. Rupanya, itu sudah panggilan terakhir untuk penerbangan kami. Untungnya, aku hapal nomor pesawat yang kami tumpangi, dan aku mendengar panggilan itu. Karena kalau tidak, sedikiiiiit lagi kami akan ketinggalan pesawat dan mau tidak mau harus membeli tiket lagi. Berlarilah kami memanggul barang-barang dan mencabut ponsel yang sedang diisi baterainya, kemudian masuk ke pesawat yang hampir saja meninggalkan kami di Juanda.

Skip, kami sampai di Palu. Turun dari pesawat, aku terkagum-kagum oleh pemandangan pegunungan tinggi menjulang yang terlihat sangat dekat dari tempatku. Bandar udaranya pun sangat megah. Kami menunggu dijemput oleh teman kak Joko sekitar setengah jam. Jarak dari bandara yang ada di atas gunung ke hotel tempat acara rupanya sangat jauh. Hotel Amazing Beach n Resort itu memang terletak di pinggiran kota, dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.

Akhirnya, kami tiba di hotel. Saat hendak registrasi, kami disuruh untuk langsung makan malam dan mengikuti acara pembukaan. Registrasinya biar nanti saja, katanya. Di sana, aku langsung mengenali dua orang yang memakai baju adat Riau. Mereka adalah Sausan dan De, yang sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan penulis cilik. Aku tahu Sausan karena ia penulis senior (saat aku masih jadi pembaca, ia sudah jadi penulis. Kerenlaaah, sampai aku kira seumuran kak Kinta atau kak Wanda Amyra) dan aku tahu De karena ia salah satu peserta yang beken di ARKI2016. Sering jadi perbincangan teman-temanku.

Saat bertemu pandang dengan Sausan, aku langsung menyapanya. Sementara De, saat itu ia masih belum kenal aku. Kami baru berkenalan dan mengobrol banyak di hari berikutnya.

Di acara pembukaan, selain mendengarkan sambutan dari berbagai orang penting yang terlibat dalam acara tersebut, kami disuguhkan pertunjukkan dari komunitas yang ada di Palu. Pentas itu sekalian menutup acara pembukaan. Kantukku yang sudah sedari tadi kutahan, hilang sedikit saat menyaksikan mereka bermain peran menggunakan berbagai dialek yang ada di Sulawesi Tengah.

Image_117e647.jpg

Selesai acara pembukaan, kami melakukan registrasi dan diantar menuju Hotel Palu City. Sedikit informasi, sebelum kami tiba di Palu, ada kabar bahwa peserta akan dibagi dua. Sebagian menginap di Hotel Amazing (tempat acara), dan sebagian lagi menginap di Hotel Palu City dikarenakan kamar yang tidak mencukupi. Sehingga, dari sana terbentuk dua tim di tengah-tengah peserta Festival Literasi, team Palu City dan team Amazing.

Sampai di hotel, kami tidak langsung tidur. Kami sadar, besok lomba akan dimulai. Dan kami, belum menyiapkan apapun. Akhirnya, kami begadang meringkas cerita rakyat pilihan yang tersedia di aplikasi Cerita Rakyat dari Balai Bahasa (tersedia di playstore) dan membagi giliran membaca di dalam kamar hotel yang serba kekurangan.

Kamar yang kami tempati sangat unik. Di dalamnya, hanya ada dua ranjang dan satu tilam (kasur di atas lantai, tanpa ranjang), meja yang di atasnya hanya ada televisi dan remot, dan sebuah nakas. Kamar mandi pun kosong melompong, hanya ada shower, wastafel, dan toilet. Tidak ada handuk, sabun, atau sikat dan pasta gigi seperti yang biasanya tersedia di hotel –yang bahkan bukan hotel berbintang. Bahkan, tidak ada selimut di kamar itu. Jadilah aku kedinginan tengah malam, walau AC di kamar tidak terlalu dingin.

Selasa, 18 Oktober 2016.

Pagi itu, sebelum lomba dimulai, ada materi yang disampaikan oleh seorang pembicara yang tentunya orang hebat, tapi karena persiapanku belum matang, aku dan temanku tidak fokus pada materi. Kami sibuk mengetik naskah yang akan kami bacakan, berlatih membaca dengan ekspresi, dan mengatur giliran membaca. Lomba hari itu dibagi dua. Untuk peserta usia 12-15 tahun, mengikuti lomba membaca cerita rakyat berpasangan dengan teman satu provinsi. Untuk penggiat literasi dan komunitas baca, lomba meringkas dan mengkonversi cerita rakyat.

Selesai materi, kami diminta berkumpul di Aula Hotel Amazing. Karena sibuk mematangkan persiapan, aku dan Nanda, teman satu provinsi terlambat masuk aula. Sudah tidak ada lagi kursi kosong berdua di ruangan itu. Padahal, kami harus duduk berdekatan agar semuanya menjadi mudah. Untungnya, ada dua kursi kosong di bagian belakang. Walau tidak sebaris, tapi cukup berdekatan. Aku dan Nanda masih dapat berkomunikasi, karena Nanda duduk di belakangku.

Rekan satu mejaku saat lomba berasal dari Bali. Mereka adalah Dwik, kelas 8 dan Komang, kelas 2 SMA. Meja di sampingku, ada De dan Sausan, dua orang yang sudah kukenali sebelumnya. Mereka berasal dari Riau. Sementara di belakangku, Nanda, dan dua anak dari Kalimantan Tengah. Meja di samping Nanda, ada Dinda dan Lazuardi dari Kalimantan Timur juga Andhit dari Jawa Barat. Di belakang Nanda, ada Marhama dari Gorontalo dan dua anak dari Nusa Tenggara Timur. Di samping mereka, ada dua anak dari Papua. Sementara yang duduk di depanku, Nuri dari Kalimantan Utara serta dua anak dari Sumatera Barat. Aku sampai hapal begini, ya.

This slideshow requires JavaScript.

Lomba dimulai dengan Kalimantan Timur sebagai peserta pertama yang maju membacakan cerita rakyat, dan diakhiri oleh penampilan peserta dari Riau, atau Jawa Barat, aku lupa. Selama perlombaan, aku banyak belajar dari teman-teman Festival Literasi. Selama satu hari itu, aku kenal banyak teman dan mengobrol banyak dengan mereka. Karena duduk berdekatan dengan De, aku dan De bercerita banyak tentang ARKI, teman-teman kami, semuanya, sampai panitia menegur kami berulang kali. Kalau ditegur, biasanya kami saling tatap sambil menyebutkan sudah berapa kali teguran.

Selain itu, aku juga dekat dengan Sausan, yang ternyata seumuran denganku. Kami bertiga yang paling ribut saat coffee break. ‘Menitip salam’ ke teman-teman yang tidak dikenal, hanya agar dapat lebih akrab. Bermain-main di pantai saat istirahat, membuat video ARKI2017 dengan harapan kami dapat bertemu lagi dalam kesempatan itu tahun depan.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, cerita lucu saat coffee break, De iseng berteriak ke beberapa peserta laki-laki dan mengatakan Sausan menitip salam. “Bang, ada temenku titip salam, Sausan dari Riau!”

Muka Sausan merah, malu sekali. Saat itu sedang antri mengambil snack. Kemudian, tiba-tiba saja dari belakang ada yang mencolekku, ternyata Yumna dari Jogjakarta.

“Salsa, ada yang mau kenalan sama kamu.” sambil menunjuk salah seorang anak lelaki yang berdiri di belakangnya.

“Oh iya, siapa?”

“Dia” kata Yumna.

Aku kaget. Enggak nyangka banget ada yang mau kenalan sama aku, sampai-sampai harus temannya yang mengatakan. Akhirnya, kukendalikan diriku dan kuajak anak cowok itu bersalaman. “Salsa, dari Kalsel.”

“Hijrah, dari Jogja.”

“Siapa?”

“Hijrah.”

“Hijrah?”

“Iya.”

Setelah itu, dengan malu-malu aku ceritakan kepada Sausan. Dan seperti biasa, De dan Sausan ribut ingin tahu yang mana orangnya. Teman-teman yang memalukan.

Oh iya, di hari kedua itu, aku juga kenal beberapa orang teman. Di antaranya adalah ka Syifa, yang mirip sekali dengan ayuk Ulfah, teman sekamarku di ARKI2015. Oleh karena kemiripannya –dan kebetulan ka Syifa masih kelas 2 SMA, aku mempromosikan ARKI agar tahun depan ka Syifa bisa ikut ARKI2017. Festival Literasi kuanggap tempat yang bagus untuk mempromosikan ARKI kepada teman-teman. Selain ka Syifa, ada juga ka Citra yang ternyata sama-sama bukan anggota komunitas baca, tapi entah mengapa dipilih untuk mewakili provinsi. Kak Citra mewakili provinsi DKI Jakarta, dan aktingnya saat drama, luar biasa.

Ada juga Kak Nabila dan Fadya, yang ternyata adik kelas mbak Nada, teman segengku yang sama-sama akademia ARKI2015. Masih banyak lagi teman-teman keren yang ada di sana. Setelah lomba selesai, kami berfoto bersama seluruh peserta.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, saat lomba, aku sukaaa sekali melihat wajahnya kak Andhit. Jujur, aku tertarik sebagai teman karena wajahnya mirip abang-abanganku di ARKI, kak Haidir Tamimi. Wajah kak Andhit campuran abang sama akang (temen cowok di ARKI yang paling deket, bang Mimi dan kak Dirga), rambut kak Andhit membuat kesan kalau dia itu seorang yang jago musik dan seni, kayak seniman gitu. Waktu ditanya, ternyata benar, kak Andhit bisa main musik. Piano, kalau nggak salah. Eh, apa gitar, ya? Dan yang bikin aku lebih tertarik adalah, dia anak homeschooling asal Bandung. Aku pernah satu mobil sama kak Andhit waktu pulang dari hotel, dia ngomong sunda dan itu mirip akangku banget!

*heboh*

Saat makan siang, seingatku aku dan Nanda bergabung dengan De, Sausan, dan kakak penggiat literasi mereka. Kami makan di meja bundar paling pojok, yang langsung menghadap laut dan gunung. Sambil berbincang-bincang tentang lomba-lomba yang diikuti oleh De, dan tentang De yang ditawari casting menjadi mermaid dalam sinetron Mermaid In Love.

Malamnya, aku, Nanda, dan pendamping kami bekerjasama membuat naskah drama yang diambil dari cerita rakyat Kalsel, Ampak dan Musang Cerdik. Kami berdiskusi, berbagi peran, dan berlatih di malam itu. Tapi di sela-sela ‘rapat’, aku dan Nanda sempat izin untuk berkumpul bersama teman-teman yang lain di koridor hotel Palu City.

Sekadar informasi, kamarku dan kamar Sausan dkk terpisah bangunan. Bisa dibilang, aku dapat yang messnya. Makanya, jelek banget. Jadi, untuk bisa berkumpul bersama mereka, aku dan Nanda harus turun ke lantai 1 yang langsung pintu menuju ke luar, kemudian melangkah ke luar bangunan, berjalan beberapa langkah ke bangunan sebelah, masuk ke lobby, melewati resepsionis dan ruang makan, dan terakhir naik tangga ke lantai 2. Yaaa kira-kira butuh waktu 5 menit, lah.

Karena Nanda yang mandinya lamaaaa banget, kami telat ngumpul. Teman-teman udah pada bubar. Sausan juga lagi sibuk latihan untuk besok di kamar De. Memang sebelumnya, kami disuruh beli sikat gigi sama kak Selvia, ke warung depan hotel. Aku iseng untuk berkunjung sebentar ke tempat teman-teman, ternyata mereka sedang berkumpul. Mereka mengajak kami tapi kami memilih untuk mandi dulu, daaann ketika kami kembali lagi, telat deh.

Akhirnya, untuk menghibur kami, kak Syifa dan beberapa teman lain mengajakku pergi ke pasar malam di belakang hotel. Kalau tidak salah, ada 6 orang yang ikut termasuk aku. Aku, Nanda, ka Syifa, Belia dari Sumbar dan teman sekamarnya, serta.. siapa lagi, ya, aku juga lupa. Di pasar malam, kami mencari barang-barang khas Palu, tapi enggak ketemu. Aku dan kak Syifa beli gelang yang sama, couple-an gitu. Sukaa ❤

This slideshow requires JavaScript.

Ngomong-ngomong, soal lomba membaca cerita rakyat, rupanya kami salah tangkap. Perjuangan kami begadang sepertinya sia-sia. Kami meringkas cerita rakyat, sementara teman-teman yang lain membacakan seluuuuuruuh isi cerita. Pun, naskah yang kami serahkan ke juri dan yang kami pegang untuk dibacakan juga berbeda. Sehingga kami membuat juri kebingungan dan repot. Biarlah apa kata juri, yang penting kami sudah tampil dan kemenangan bukan yang kami cari. Yang kami cari disini adalah pengalaman dan pertemanan. Persahabatan.

Rabu, 19 Oktober 2016.

Hari ketiga! Lomba drama!

Di lobby Palu City, sembari menunggu giliran diangkut ke hotel Amazing, aku, Nanda, dan kak Selvi bikin video nyanyi lagu Ampar-Ampar Pisang, lagu daerah Kalimantan Selatan yang merupakan bagian dari pertunjukkan drama kami nanti malam.

Hari itu cuma ada satu rangkaian acara. Lomba merefleksikan bahan bacaan ke dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk drama. Jadi, kita harus membawakan sebuah drama yang diambil dari cerita rakyat provinsi masing-masing yang related ke keseharian atau kehidupan masyarakat jaman sekarang. Kita diminta kreatif untuk itu.

Tapi jangan salah, walau hanya satu rangkaian acara dalam satu hari, itu memakan waktu dari pagi sampai malam. Meski begitu, hari ketiga adalah hari yang penuh suka cita dan paling kusuka di antara hari-hariku di Palu.

Nah, semua peserta baik itu anak-anak maupun penggiat literasi perwakilan provinsi, berkumpul di satu ruangan yang sama. Apa, ya, nama ruangannya? Lupa. Semacam aula di dalam hotel, yang beda, karena dindingnya dari papan. Oh ya, karena namanya Hotel Amazing Beach n Resort, sudah tau dong, kalau hotel itu adalah hotel outdoor. Eh, gitu bukan, sih?

Acara baru dimulai, semua tentunya enggak mau jadi yang paling pertama untuk tampil memainkan drama. Belum ada contohnya, takut salah. Tapi, harus ada yang pertama. Sistemnya seperti ini, para juri mencabut satu kertas dari gelas yang berisi kertas-kertas bertuliskan nama provinsi, kemudian nama provinsi yang keluar akan maju sebagai peserta pertama yang tampil. Kemudian, setelah peserta itu tampil, mereka mencabut satu nama untuk tampil berikutnya. Dan yang tampil pertama hari itu adalah.. Provinsi Jawa Barat, provinsi yang pada hari sebelumnya, dapat giliran paling akhir untuk baca cerita rakyat.

Aku langsung menyemangati Kak Andhit yang kebetulan duduk tidak jauh dariku. Kemudian, setelah penampilan dari Provinsi Jawa Barat, satu persatu Provinsi lain maju sesuai keberuntungan. Salah satu yang kusuka adalah penampilan dari Bali, selain karena aku seneng banget sama Komang dan Dwik, cerita rakyat yang mereka bawakan benar-benar menghibur, dan mereka semua jago teater. Komang menguasai panggung banget, dan dia mainnya lucu. Aula jadi penuh gelak tawa. Banggaaa!

Ada juga Provinsi Bangka Belitung, yang cerita rakyatnya menariiik banget untuk disimak. Apalagi, kedua pemainnya adalah temen-temen yang termasuk dekat denganku, Flo dan Annisa. Jujur, mereka aktingnya jago banget. Serius.

Di sela-sela perlombaan, kami tentu punya waktu istirahat dong. Nah ada tragedi kecil yang bikin perasaanku campur aduk saat jam makan siang. Jadi, temen-temen dah pada janjian untuk makan ngemper di ujung gazebo atau apa ya itu namanya, pokoknya bekas tempat pembukaan kemaren, deh. Jadi, dari atas sana kita bisa merasakan hembusan angin, dan menghadap langsung ke laut! Dari sana kita juga bisa lihat gunung, dan kota bagian lain dari kota Palu.

This slideshow requires JavaScript.

Tapiiiii, aku gak bisa ikut gabung karena waktu aku mau ambil makan, ternyata jatah makanan untuk Provinsi Kalsel sudah diambil semua sama kak Selvia. Sementara aku posisinya lagi misah sama temen satu provinsi, dan kedua kakak penggiat literasi kami. Untungnya, di sana ada kakak penggiat literasi yang kukenali, dari Kalimantan Tengah. Temannya kak Joko. Kakak itu mau membantuku dan berbicara dengan panitia agar ‘meminjami’ aku jatah makanan untuk bisa kumakan, lalu nanti setelah bertemu dengan kak Selvia, makanan jatahku yang sudah diambil oleh kak Selvi akan dikembalikan. Syukurlah, panitia yang jutek luar biasa itu akhirnya mau mengerti. Kakak penggiat dari Kalteng juga membantu menghubungi kak Joko.

Akhirnya, aku makan satu meja dengan kakak penggiat dari Kalteng. Aku gak enak kalau kabur dan gabung ke tempat teman-teman, karena sudah dibantuin banyak sama kakak penggiat itu. Singkat cerita, akhirnya Nanda, teman satu provinsi datang ke ruang makan. Ternyata ia juga mencariku. Akhirnya dihubungilah kak Joko dan kak Selvi. Rupanya, kak Selvi sedang menunggu kami di tempat lomba.

Waktu istirahat selanjutnya, ada lagi masalah kecil yang menimpaku. Saat itu, provinsiku belum juga mendapat giliran maju. Sementara aku sudah touching make up berkali-kali. Hahaha, nggak deng, cuman ngegambar lagi kumis di wajah yang mulai pudar. Pakai spidol, pensil alis, bahkan maskara!

Saat itu sudah hampir maghrib, sementara aku belum sholat dzuhur dan juga ashar. Aku dikejar waktu banget. Mencari tempat untuk berwudhu di hotel itu susaaaaaah banget. Mau wudhu di toilet seperti yang dilakukan Annisa, susah karena gak ada yang bantuin. Mau wudhu di keran depan tempat penjaga hotel, diliatin sama mas-mas dan mbak-mbaknya. Kan ga enak. Untungnya, ada Nanda yang jadi teman setia nemenin ke mana aja.

Jadi, selesai wudhu, aku mau sholat, di tengah-tengah berjalan ke gazebo tempat sholat, Nanda ngingetin aku kalau kumis di wajahku masih ada. Iyaya! Aku lupa sama kumis itu. Akhirnya aku balik lagi untuk menghapus kumis, sementara aku sendiri di kejar waktu. Udah mau maghrib. Ngehapus pakai air, gak bisa. Dicampur sabun, sama aja, tetep ga bisa. Pakai hand sanitizer Nanda, juga tetep, malah panas mulutku. Akhirnya dengan pasrah dan berurai air mata, aku sholat dengan kumis yang masih tergambar di wajahku. Di tempat sholat, ada kak Selvia, aku nangis-nangis di hadapan mereka, aku takut ketinggalan sholat dan sholatku sia-sia, gak diterima. Tapi kata kak Selvia, enggak apa-apa, in shaa Allah diterima. Yah, seenggaknya aku sedikit lebih tenang.

Saat aku sholat, De dan teman-teman lain bikin video untuk kenang-kenangan. Kayaknya asik banget gitu, suara mereka terdengar jelas karena suasana senja di hotel itu sepi. Selesai sholat, aku pengen gabung tapi gak ditawarin. Akhirnya aku cuma mau nyentuh air laut di dekat mereka bikin video. Terus De negur, “hei hei hei kamu kamu kamu! sini ayo gabung! nanti kamu gini gini gini ya.” De memberikan instruksi.

Di video itu, kami memperkenalkan nama dan asal daerah kami secara bergantian setelah meneriakkan semacam yel-yel literasi. Kemudian, kami mengambil banyaakkk sekali foto menggunakan hp Sausan dan teman-teman lainnya. Kebetulan, saat itu ponselku lowbatt.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, sore itu, selain membuat video, kami juga berkumpul di satu gazebo untuk saling mengakrabkan diri. Di sana ada aku dan Nanda perwakilan dari Kalsel, De dan Sausan perwakilan dari Riau, kak Lintang dan teman satu provinsinya dari Sumatera Utara, Risyad dan teman satu provinsinya dari Aceh, Marhama dan Iskandar dari Gorontalo, Flo dan Annisa dari Bangka Belitung, dan siapa lagi ya? Lupa. Masing-masing bersama dengan pasangan satu provinsinya.

Di gazebo itu, kami bernyanyi lagu daerah masing-masing secara bergiliran. Dimulai dari aku dan Nanda yang menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang, dan diteruskan oleh teman-teman dari provinsi lain yang sudah siap dengan lagunya. Seru sekali.

Kemudian, lomba kembali dilanjutkan. Kalsel belum juga mendapat giliran, jadi aku menunggu dan menunggu. Entah kenapa, seluruh provinsi Kalimantan saat itu mendapat giliran di akhir-akhir lomba. Sambil menunggu dan mengeluh, aku duduk bersandar di dinding bersama Sausan sambil main hp. Kami chatingan sama Angel, teman yang sama-sama kami kenal. Sementara De, mengobrol dengan anak lelaki lainnya.

Sampai akhirnya, Provinsi Riau mendapat giliran tampil. Saat itu aku baru saja kembali dari makan malam atau dari toilet, ya? Tapi, aku sempat melihat De dan Sausan bermain peran dengan penuh penghayatan. De pura-pura tertidur dengan bersandar ke dinding sambil berdiri, kemudian di akhir cerita, tangan mereka terangkat keatas seperti memohon ampunan. Aku tidak begitu memperhatikan jalan cerita drama yang mereka bawakan.

Setelah Riau tampil, De dan Sausan pergi ke luar untuk berkumpul bersama teman-teman lain yang sudah tampil di gazebo. Dengar-dengar, mereka bermain permainan di sana. Entah, kepingin banget ikutan, tapi apa daya, Kalsel belum tampil.

Senasib dengan kami, ada Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan beberapa provinsi lagi. Kak Selvia dan salah satu penggiat literasi dari Kaltim yang merupakan guru mendongeng di Kampung Dongeng Etam Samarinda, berteman dengan akrab. Kakak guru dongeng itu mendongeng cerita karangannya yang langsung dikarang saat itu juga. Mengalir sesuai imajinasi. Kisah tentang kak Selvia yang bertemu dengan kak Doni, calon suami kak Selvia saat itu. Sekarang, sih, sudah jadi suami resmi, hihihi.

Akupun juga akrab dengan Adinda, dari Kalimantan Timur. Bercengkerama sembari mengeluh satu sama lain. Pokoknya, ya, menunggu giliran maju yang dapetnya malam banget itu, bareng sama Kalimantan Timur. Ce-es banget, deh!

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, beberapa saat sebelum kami tampil, Sausan dan teman-teman lain kembali ke tempat lomba. Aku bertanya di grup line, kemana mereka. Rupanya, Sausan ada di belakangku. Padahal, aku sudah mencari dan menengok kesana kemari. Tapi aku nggak lihat kalau jauh di belakang, ada Sausan. Akhirnya, aku mendekati Sausan yang duduk tidak jauh dari kak Syifa. Aku bergabung dengan mereka. Kak Syifa sedang bercengkrama dengan kakak penggiat literasi dari Maluku Utara.

halo
Dipotret De untuk dikirim ke grup ARKI, hihihi.
Image_7decf17.jpg
Muka lelah menunggu giliran.

Kakak itu membawa sebuah alkitab. Kami yang penasaran, meminta izin untuk membukanya. Hingga kemudian, kami bergantian mengajukan pertanyaan tentang agama yang kakak itu anut. Kakak yang cantik itu menjelaskan tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tentang Tuhan mereka, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak kami mengerti. Seru sekali bincang-bincang malam itu. Sampai-sampai, seorang ibu dari provinsi Maluku Utara juga, terkesan dengan rasa ingin tahu kami yang besar. Tapi sayangnya, beliau bilang, diskusinya bisa disambung lain kali, karena teman-teman dari Maluku Utara ingin segera beristirahat. Kebetulan, mereka menginap di hotel yang sama dengan tempat acara.

Oh ya, desas-desus yang kami dapatkan seharian ini, katanya kami yang menginap di Palu City  enggak bisa balik ke hotel. Karena mobil antar jemputnya yang enggak ada. Tapi akhirnya, kami bisa balik ke sana.

Ketika nama Kalsel disebut untuk maju, kami mengambil posisi untuk naik panggung. Rencananya kami akan berjalan ke atas panggung sambil menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang. Tapi, saat berdiri di samping meja juri, aku mendengar salah satu juri bertanya dengan sewot, kenapa Kalsel enggak memberikan sinopsis drama tersebut. Padahal, dari peraturan lomba yang dibacakan MC, kami hanya disuruh membaca sinopsis selama satu menit sebelum drama dimulai, bukan mengumpulkan sinopsisnya juga. Tapi yaudah, aku cuek aja. Emang aku kesel sama jurinya dari awal, sih. Juri dan panitianya pada jutek-jutek semua.

Singkat cerita, kami akhirnya selesai tampil. Tapi, saat drama sudah setengah jalan dan sebentar lagi selesai, waktu yang diberikan panitia telah habis. Aku kelamaan akting marah-marah, sih, aduuuh hahaha. Hal yang sama juga dialami oleh Kaltim, dan beberapa provinsi lainnya. Waktu mereka juga habis. Bahkan katanya, Dinda menangis karena enggak bisa tampil maksimal di lomba tersebut, karena waktu yang diberikan juga telah habis.

Malam itu, adalah malam terakhir kami semua berkumpul. Setelah lomba berakhir, kami, anak-anak #TeamPaluCity berfoto bersama dengan teman-teman dari #TeamAmazing. Kemudian saling dadah-dadahan, peluk-pelukan perpisahan, dan membangga-banggakan acara team masing-masing malam ini.

This slideshow requires JavaScript.

#TeamPaluCity memang dari awal sudah berencana untuk selepas sampai ke hotel, berjalan-jalan sebentar ke pasar di belakang hotel. Tapi rupanya pasar sudah tutup saat kami kembali dari hotel. Karena mobil yang mengangkut hanya satu, jadi kami bergantian diangkut oleh mobil itu. Yang duluan sampai hotel, harus menunggu yang lainnya. Sementara di depan hotel Amazing, sembari menunggu mobil jemputan, aku dan teman-teman lain berfoto bersama dan mendengarkan Risyad bernyanyi dan menirukan suara binatang. Suaranya merdu dan keren sekali.

Aku, Sausan, De, dan Nanda berencana untuk pulang satu mobil. Jadi, kami menunda menaiki mobil dan memilih untuk mengikuti kloter terakhir. Yang kami lakukan sembari menunggu mobil jemputan adalah terkapar di sofa lobby hotel Amazing sambil ngecharge hp. Aku dan Sausan pergi ke toilet, kemudian aku dan De naik ke lantai dua untuk melihat ada apa di sana. Hingga akhirnya, mobil jemputan datang kembali. Tapi, tetap enggak cukup untuk kak Selvia, kak Joko, dan Nanda. Sehingga akupun harus berpisah dari mereka, aku ikut Sausan, De, dan yang lainnya pergi balik ke hotel, sementara kak Selvia, Nanda, dan kak Joko ikut kloter paling terakhir.

Sampai di hotel, aku masuk ke kamar sendirian. Sudah tahu, kan, letak kamarku? Berada di bangunan yang berbeda dengan kamar Sausan dan teman-teman, terletak di lantai 2 yang hanya sedikit isi kamarnya, dan satu bangunan dengan ruangan kosong penuh meja kursi. Saat itu jam 10 malam, aku masuk ke kamar sendirian. Benar-benar sunyi. Parno, sih, sebenernya. Tapi aku sambil chattingan di grup sama teman-teman, untuk janjian pergi ke pasar bareng-bareng. Sambil nunggu teman-teman siap, aku packing sebentar.

Teman-teman pada nanya di grup, “Salsa, kamu di mana?”

Aku bilang, “Aku di kamar. Tunggu, ya, aku kesana.”

Lalu, aku keluar kamar dan menuju gedung sebelah. Teman-teman bilang, pasar sudah tutup. Jadi, kami enggak tahu harus ngapain sementara di hotel, malam-malam begitu enggak boleh berisik, takut mengganggu yang lainnya. Akhirnya, De punya ide untuk makan bakso di depan hotel.

Berjalanlah kami semua menyebrang jalan raya untuk sampai ke bakso depan hotel. Saat itu kira-kira pukul 11 malam. #TeamPaluCity walau kurang lengkap, rame-rame ngebakso tengah malem. Saat keluar hotel, aku bertemu dengan kak Selvia dan Nanda yang juga ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel. Akhirnya, mereka ikut kami makan bakso.

Sambil makan, kami meminta kak Selvia untuk mengabadikan momen ini menggunakan hp milik Annisa.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan, De ingin beli es krim. Katanya, sekitar situ ada kafe yang menjual es krim dengan porsi gede. Tapi sayang, kafe itu juga sudah tutup. Akhirnya kami cuma beli terang bulan dua porsi. Walaupun udah kenyang, tapi lumayan untuk camilan malam terakhir kami bersama.

Naaahhh, waktu beli terang bulan, sembari menunggu terang bulan selesai dibuat, perhatian kami tertuju pada seorang anak yang dari penampilannya kira-kira berusia 10 tahun, memanjat pohon di dekat kami. Pakaiannya lusuh, kaos biasa yang sudah jelek, dan celana pendek. Aku dan beberapa teman lain mendekat dan mencoba mengajak anak itu mengobrol.

Aku yang paling banyak mengajukan pertanyaan. Sempat ingin kuajak selfie, tapi kak Syifa ragu, takutnya dia marah atau apa, aku akan kena bahaya. Dari hasil mengorek informasi, yang kudapatkan berdasarkan penuturan anak itu adalah, ia lahir pada tahun 2001, berasal dari Makassar, dan sampai ke Palu karena saat bayi ia ditinggal di bis. Di Palu, ia tinggal bersama neneknya, tapi katanya kemudian, neneknya sudah tidak ada. Ia bekerja yang entah apa, dari jam 3 pagi. Setiap malam, ia tidur di emperan toko, dan siang hari tidur di warnet karena orang warnet adalah temannya.

“Kamu suka ada yang mintain uang nggak?” tanyaku. “Nanti kalau ada yang minta uang kamu, jangan mau, ya.”

Ia mengangguk dan menjawab dengan tidak jelas, yang bisa kami tangkap, ia sudah biasa memukul orang yang meminta uang hasil ia bekerja. Saat itu, aku yang enggak tahu kebenarannya, malah bilang “Bagus tuh!”

Aku dan teman-teman mengerubunginya, hingga ia terlihat ketakutan untuk menjawab pertanyaan yang kulontarkan. “Aku pikir kamu lebih muda dari aku. Ternyata tuaan kamu, loh. Gak papa, kita semua kan teman. Kami dari berbagai daerah di Indonesia.” kata Risyad.

“Iya, enggak apa-apa. Sebagian dari kami juga seumuran kamu, loh. 15 tahun. Nah, aku sendiri 14 tahun, jadi lebih muda setahun dari kamu. Kita kan seumuran, jadi enggak perlu takut.” sambungku.

Kemudian, anak itu berpindah tempat ke belakang De yang juga baru saja mengambil posisi di sana. De kemudian langsung menjauh, karena takut tas pinggangnya dicopet. Kami memang harus waswas.

Setelah terang bulan kami selesai dibuat, aku dan teman-teman pun masuk ke hotel, ngemper di lobby. Sebelumnya, kami minta izin ke resepsionis, tapi yang nyahut malah mas-mas preman yang bukan resepsionis, kami dipelototin, enggak boleh duduk di sana, katanya. Padahal, kan, terserah kami. Tamu adalah raja. Akhirnya, kami diizinkan duduk di sana asal tidak boleh berisik.

Sambil menyantap terang bulan, kami membahas tentang anak tadi. Berbagai kecurigaan yang kami rasakan, kami ungkapkan. Ngomong-ngomong, terang bulannya rasa coklat dan rasa keju, itu hasil kesepakatan kami bersama, setelah berembuk masalah rasa.

Tiba-tiba saja, salah satu dari kami ada yang berimajinasi, “ih, gimana kalau ternyata dia nungguin kita di depan hotel?”

“Iya, tadi dia lewat depan sini kok. Diem bentar di depan, terus lewat. Sekarang udah gak ada.” sahut Annisa dengan serius yang bikin kami semua kaget.

“Hah? Beneran kamu?”

Annisa mengangguk, beberapa detik kemudian, semuanya langsung beres-beres terang bulan dan bersiap kabur ke lantai dua.

Di koridor lantai dua, kami duduk kembali membentuk sebuah lingkaran. Membahas kejadian yang tadi. “Ih, kamu serius tadi ada dia di depan pintu? Kok pada gak nyadar?”

“Iyaa serius.”

“Anak itu kayaknya nggak mungkin deh lahir 2001. Secara, wajahnya masih babyface banget. Tapi kalau masalah dia enggak sekolah, sih, wajar, ya. Dia kan hidup di kerasnya jalanan.”

“Eh, anak itu udah ngikutin dari kita di bakso tau. Dia kan dibayarin sama penggiat kamu, Sal,” kata kak Syifa.

“Iya? Masa? Aku nggak liat tuh.”

“Ih iya, dia kan tadi nendang bak sampah di depan warung bakso. Dia diajak penggiat kamu makan bakso terus ngobrol-ngobrol gitu tadi.”

“Kamu itu, Sal, bahaya banget tadi posisinya. Udah paling deket, paling banyak nanya, lagi. Makanya tadi aku pindah ke deket kamu takutnya dia ntar berontak atau apa gitu. Terus aku pindah ke belakang kan? Dia ikutan pindah, itu dia mau ngincar tasku itu aku takut banget makanya aku langsung pindah lagi.” kata De.

“Liat gak, waktu kita interogasi anak itu, ada dua om-om duduk di sepeda motor kayak lagi nungguin orang sambil bincang-bincang gitu? Mikir deh, agak janggal gitu ya kenapa itu om-om selarut ini berhenti di situ. Ngobrol-ngobrol di pinggir jalan. Pasti ada yang ditungguin, jangan-jangan dia nunggu anak tadi? Untung tadi nggak kamu ajak foto, Sal.” timpal Annisa.

“Ih, kamu teliti banget, ya, sama keadaan sekitar. Sampe tau gitu, aku aja gak merhatiin loh ada om-om di seberang jalan.” kataku.

“Oh, iya, aku liat itu om-omnya dua orang.” timpal yang lain.

“Eh, gimana kalau mas-mas preman yang di resepsionis tadi ternyata temen anak itu? Kan mas-masnya udah jelas orang sini, ya, atau seenggaknya tinggal lama di sini. Kita kan gak tau ya. Dan mas-mas itu udah pasti dengar obrolan kita dengan jelas banget. Udah gitu, tampangnya serem lagi, masa kita mau ngemper di lobby ga dibolehin. Kalau itu temennya, gimana?” kataku.

“Eh, bener ya, kejadian tadi bisa tuh dibikin ide cerita.” kata De. “Aku habis dari sini banyak deh ide cerpen.”

Kemudian, obrolan kami berlanjut sampai ke cerita santet, guna-guna, begal, dukun, dan sejenisnya dari daerah masing-masing. Yang paling bercerita, Risyad dan Annisa. Seru, sekaligus seram. Obrolan kami sempat terhenti ketika kami dikagetkan oleh langkah kaki yang menaiki tangga. Kami pikir, itu adalah resepsionis tadi. Semuanya tegang untuk sesaat. Rupanya, itu tamu-tamu khusus untuk acara penutupan besok. Ada tiga orang bapak-bapak, yang menyapa kami dengan hangat.

Sembari bertukar cerita, kami juga menyantap camilan ikan goreng dari Kalimantan Tengah yang dibawa David dan Ayu. Sementara di pojok lain, ada Sausan, Komang, dan beberapa anak laki-laki lainnya berbicara mengenai buku. Sausan juga memberikan buku karangannya kepada Komang.

Setelah dianggap terlalu larut, aku meminta teman-teman untuk mengantarkanku ke gedung sebelah, sampai ke kamarku. Mereka kebetulan juga ingin melihat bagaimana kamarku, dan aku juga takut pulang sendiri. Karena terlalu berbahaya. Senang sekali mereka yang juga ketakutan mau berbaik hati beramai-ramai mengantarkanku ke kamar. Ada De, kak Syifa, Flo, Annisa, dan Risyad, kalau aku tidak salah ingat. Sampai di kamarku, mereka mengintip sebentar ke dalam, kemudian kabur kembali ke gedung utama hotel Palu City.

Sementara itu, setelah teman-teman pulang, aku bertanya tentang anak misterius di dekat terang bulan tadi kepada kak Selvia, penggiatku. Kemudian aku menceritakan seluruh kejadian dan asumsi kami tadi.

Menurut versi kak Selvia, anak tadi mengaku berumur 10 tahun, seorang preman cilik yang tidak pernah memukul orang, hanya berani menggertak, dan melampiaskannya dengan menendang bak sampah. Pendapatan sehari kisaran 40 ribu, dan kurang lebih sama seperti apa yang ia akui kepadaku dan teman-teman. Hanya saja ada beberapa yang berbeda, entah yang mana yang benar.

Setelah mendapatkan kebenarannya dari kak Selvia, aku langsung heboh di grup dan menceritakan cerita versi kak Selvia tadi ke Annisa lewat personal chat. Kemudian pergi tidur. Hari yang panjang.

Kamis, 20 Oktober 2016.

Oke, ini adalah hari terakhirku bersama sahabat (-sahabat) ku. Pagi setelah bersiap-siap, aku mencabut handphoneku yang sedang dicharge, kemudian mengikat tali sepatu di dalam kamar yang pintunya terbuka. Nanda dan Kak Selvia sudah ada di luar kamar, menungguku dari luar.

Kemudian, kami turun ke bawah dan masuk ke gedung sebelah untuk check out dan sarapan. Di sana, aku bertemu kak Syifa, Tami, Marhama, dan beberapa teman lainnya. Aku menaruh totebag Festival Literasi yang di dalamnya ada hpku ke atas koper. Sedangkan koperku sendiri kuletakkan di dekat koper teman-teman lainnya di dekat tangga di ruang makan. Masih satu ruangan.

Kemudian, aku makan di pojok lain. Bersama dengan Nanda, Kak Selvia, dan ibu Marhama yang merupakan penggiat literasi dari Gorontalo. Kami terakhir keluar ruang makan karena asyik bercerita. Di sana masih ada kak Syifa. Kami jugalah kloter terakhir dari Palu City menuju Hotel Amazing, dan sampai di hotel, kami terlambat mengikuti acara penutupan. Pengumuman sudah diumumkan, Kalsel tidak mendapat satupun juara. Posisi itu diraih oleh Provinsi Bali, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Papua, NTB, Jawa Timur, dan masih banyak lagi.

Aku duduk di depan Dinda, karena deretan bangku di belakang yang diisi oleh teman-teman Palu City sudah penuh, begitu juga dengan bangku di deretan samping yang diisi oleh anak-anak #TeamAmazing. Saat aku ingin membuka hp, hp yang tadinya aku ingat betul sudah kumasukkan ke dalam tas setelah aku mengikat tali sepatu tiba-tiba saja enggak ada. Kukeluarkan seluruh isi tas yang berantakan, tetap enggak ada. Di koper, gak mungkin banget. Seingatku pun di mobil aku asik berbincang dengan kak Syifa, enggak ada mengeluarkan hp sama sekali. Saat di ruang makan pun, aku membetulkan kerudung dengan berkaca di tempat kopi yang bening, bukan di hp, sehingga otomatis aku enggak ada mengeluarkan hp dari dalam tas setelah pagi tadi kumasukkan.

Aku memberitahu kak Joko dan kami pun pergi dari ruang acara untuk kembali ke hotel Palu City. Mengecek kamar yang sudah dibersihkan, bertanya kepada resepsionis dan orang dapur, menghubungi mobil yang membawa kami ke Hotel Amazing, dan masih banyak lagi yang kami lakukan. Hasilnya nihil.

Baik resepsionis Palu City maupun Amazing Beach n Resort sama-sama telah meminta kontak yang bisa dihubungi kalau-kalau hp itu ditemukan. Aku memberi nomor telepon ibuku. Tapi sampai sekarang aku menulis ini, hp itu belum juga kembali ke tanganku. Saat di telepon pun, tidak aktif, padahal aku ingat dengan jelas kalau pagi tadi sebelum check out, bateraiku terisi dengan penuh dan data seluler masih menyala. Sudah ada yang mengambil dan mematikan atau mencabut kartunya.

Aku kembali lagi ke hotel Amazing, dan ternyata acara sudah selesai. Sausan dan keluarganya berpamitan kepadaku. Kemudian, aku bercerita kepada kak Syifa, Puput, Wawa, dan lainnya. Menangis di hadapan mereka. Hari itu, aku menangis berkali-kali.

This slideshow requires JavaScript.

Yang disayangkan bukan barangnya, tapi foto-foto yang ada di sana, yang enggak bisa diulang kembali kenangannya. Sehari sebelum aku kehilangan sahabatku itu, salah satu penggiat literasi dari Gorontalo juga kehilangan kamera DSLR miliknya. Kronologisnya adalah, kamera itu ditinggalkan di kamar yang terkunci di Hotel Palu City. Sore setelah rangkaian acara selesai dan kembali ke hotel, kamera itu sudah lenyap. Siapa lagi yang mengambil kalau bukan orang dalam hotel? Sejak saat itulah, aku semakin tidak suka dengan pelayanan hotel ini.

Satu persatu teman-teman pulang ke daerah masing-masing. Tinggal beberapa yang masih menunggu jemputan untuk ke bandara termasuk aku. Kami duduk di lobby hotel sembari kak Selvia sharing tentang partisipasinya dalam lomba-lomba yang diselenggarakan Balai Bahasa, dan tentang cerita rakyat yang sedang ditulisnya. Dan, disaat kami sedang mengkritik Balai Bahasa, tiba-tiba seorang ibu yang duduk tidak jauh dari kami bertanya asal daerah kami. Sepertinya, sih, orang dari Balai Bahasa sendiri. Kicep dehh._. hehehe

Di hotel Amazing, saat melaporkan kejadian hilangnya hpku, resepsionis hotel yang sedang menelepon ke hotel Palu City memintaku untuk bicara. Aku berbicara kepada resepsionis hotel Palu City melalui telepon, memojokkannya, dan saling berargumen. Terdengar jelas sekali kalau resepsionis itu kesal dituduh. Tapi aku cuek, aku omelin aja itu resepsionis. Sambil akhirnya nangis-nangis. Teman kak Joko yang baru datang ikut menenangkanku.

Kami diantar oleh teman kak Joko yang asli Palu ke Bandara. Sebelumnya, kami singgah sebentar di toko oleh-oleh. Tau, dong, untuk apa? Yap, beli oleh-oleh dengan uang yang tersisa, heheheh. Kemudian, sampai di bandara, kami berfoto sebentar di depan tulisan Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri.

Di bandara, aku menangis berkali-kali. Sampai masuk ke ruang tunggu, tangisanku reda karena aku bertemu teman-teman! Ada banyaakk sekali anak Festival Literasi yang sudah tiba terlebih dahulu di sana. Satu gate, ternyata. Ada Marhama, Iskandar, Komang, Dwik, Kak Michelle, Clarissa, Helena, dan Alvina. Kami duduk ngemper di lantai ruang tunggu sambil berbincang-bincang dan berfoto. Komang menyanyi lagu bahasa Inggris dan diberi saran-saran oleh kak Michelle dari Manado yang jago bahasa Inggris.

Saat aku baru saja tiba di lobby, Iskandar membuatku terkesan akan kebaikan hatinya. Ia bertanya bagaimana hpku dan membantu menelepon kembali nomorku. Selalu itu yang ditanyakannya setiap kali kami bercengkerama lagi. Baik banget, deh, pokoknya.

Rupanya, pesawat kami di delay. Mereka semua transit di Makassar dan aku transit di Surabaya. Saat panggilan pesawat, aku memeluk Marhama dan Kak Michelle sebagai tanda perpisahan, tapi.. olala, ternyata kami satu pesawat. Entah kenapa, penerbangan ke Surabaya dialihkan ke Makassar. Sehingga aku jadinya transit di Makassar bareng mereka semua. Yippie, satu pesawat!

Saat kami akan menaiki pesawat, Belia dan temannya –yang aku lupa namanya- dari Palembang baru saja tiba di ruang tunggu. Ada Annisa juga yang baru masuk ke ruang tunggu, berpisah dengan Flo. Flo ada di gate lain karena mereka beda pesawat. Aku dan kak Michelle yang melihat Annisa masuk ruang tunggu, langsung berlari. Sayangnya, ia memilih untuk keluar lagi menuju toilet. Belum sempat memberikan pelukan perpisahan, karena kami harus berangkat ke Makassar disaat Annisa belum kembali dari toilet.

Di pesawat, duduk di depanku adalah Komang, dan dua bangku di depan Komang, adalah Iskandar. Kak Michelle ada di bagian depan, kami di belakang. Tidak jauh dari kami, ada Marhama dan ibunya. Sementara Nanda, tidak tahu di mana. Yang aku tahu dan membuatku tenang, kami semua berada dalam satu pesawat yang sama. Berangkat dari Sulawesi Tengah menuju Sulawesi Selatan.

Di Makassar, pesawat baru saja mendarat, tetapi yang ingin melanjutkan penerbangan ke Gorontalo sudah dipanggil. Sehingga aku terpisah dengan Marhama dan Iskandar. Sebelumnya, aku sempat berpelukan dengan Marhama kalau tidak salah, dan betukar senyum dengan Iskandar.

Aku termasuk orang yang susah sekali senyum ke lawan jenis yang seumuran, tapi entah kenapa, sama Iskandar, Komang, dan teman-teman Festival Literasi lainnya yang berbeda maupun sama jenis kelamin, aku bisa senyum dengan enggak kaku.

Kemudian, setelah masuk ke ruang tunggu bandara, Komang dan Dwik enggak sempat duduk, mereka harus berlari-lari karena rupanya pesawat yang akan membawa mereka ke Bali sudah panggilan terakhir. Aku harus berpisah dengan mereka, teman satu meja saat lomba di hari kedua.

Ternyata dari Makassar, aku harus transit lagi di Surabaya. Tapi, lagi-lagi pesawatku delay 4 jam. Sampai harus dapat snack dan makanan berat. Untungnya, masih ada Clarissa dan Helena dari Kendari juga Alvina dari Jawa Timur.

Tidak berapa lama kemudian, penumpang menuju Kendari dipanggil dan kami harus berpisah dengan Clarissa dan Helena. Meski tidak terlalu akrab, tapi namanya juga teman. Pasti sedih. Tersisa Alvina dan penggiat literasinya. Mereka sama-sama transit lagi di Surabaya. Bedanya, dari Surabaya, kami ke Banjarmasin. Sementara mereka, ke Jogja dan lewat perjalanan darat ke Magelang. Sebetulnya, ada satu anak lagi dari Jawa Timur, Ara, tetapi ia pulang keesokan harinya.

Skip, sampai di Surabaya, kami langsung melapor penumpang transit. Rupanya, pesawat ke Banjarmasin sudah berangkat. Kami ketinggalan pesawat karena terlalu lama delay di Makassar. Untungnya, pihak bandara menginapkan kami malam itu di hotel Ibis Juanda dan mengalihkan penerbangan kami keesokan paginya.

Malamnya, aku mendengarkan Nanda dan kak Selvia bertukar cerita. Selama berada di Palu, kak Selvia juga banyak menceritakan tentang kisah hidupnya. Kami juga sering berdiskusi tentang banyak hal. Malam itu, Nanda dan kak Selvia melakukan sebuah gerakan. Apa, ya, namanya? Jungkir balik, gitu? Kalau dalam Bahasa Banjar, sih, besumbalit.

Nanda dan Kak Selvia punya kesamaan, yaitu sama-sama suka olahraga. Nanda adalah atlet taekwondo, sedangkan kak Selvi atlet voli saat masih muda dulu. Kak Selvia ingin mencoba melatih kekuatan otot paha. Jadi, aku diminta untuk naik dan berdiri di atas paha kak Selvia dan Nanda. Satu kaki di paha kak Selvia,  dan satu kaki di paha Nanda. Melakukan itu di kamar hotel yang sempit sambil merekamnya. Deg-degan!

Ngomong-ngomong, dinner dari hotel, ada rawon hangat yang entah kenapa enak banget malam itu. Padahal, aku gak begitu suka makan rawon. Tapi rawon malam itu cukup menenangkanku yang terlalu banyak menangis hari itu.

Oh ya, ngomong-ngomong, saat aku baru saja tiba di Surabaya, aku mendengar kabar dari teman-teman yang masih ada di Palu bahwa Hotel Palu City kebanjiran! Hahaha. Waktu itu, aku yang masih sebal, mensyukuri akan hal itu. Apes, deh, siapa suruh nyuri barang orang.

Balik lagi ke cerita, selesai makan dan melakukan hal gila tadi, saat mereka bertukar cerita, aku memilih untuk tidur lebih dahulu. Tepatnya, sih, ketiduran. Dengan terpejamnya mataku malam itu, berakhir pulalah kisahku tentang Festival Literasi 2016 yang pertama kali kuikuti dan semoga bisa berpartisipasi kembali di tahun berikutnya, heheheh.

(Ditulis tengah malam pada tanggal 19 November 2016, selesai 2 menit sebelum pukul 00.00)

__________

Mohon maaf untuk hotel yang bersangkutan, atau nama-nama yang kutulis dalam tulisanku di atas. Itu hanya untuk kebutuhan sebuah cerita dan ungkapan ekspresi. Bukan bermaksud untuk menyinggung atau mencari masalah, tapi memang seperti itu faktanya.
Semoga pelayanan Hotel Palu City bisa membaik, dan terima kasih telah membuatku enggak pingin ke Palu lagi. 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Festival Literasi 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s