Kenangan di Awal Ramadhan

Hari pertama di bulan Ramadhan, satu tahun yang lalu..

Aku menjemputmu di tengah terik matahari pagi yang sudah muncul terlebih dahulu. Seharusnya aku meronta-ronta pagi itu, menunggu adzan maghrib yang akan tiba belasan jam lagi. Seharusnya aku gabut pagi itu, tidak tahu harus melakukan apa untuk membunuh waktu. Tapi rasa semangat bertemu denganmu mengalahkan kemalasanku. Aku malah mengayuh sepedaku untuk sampai ke depan rumahmu. Mewujudkan apa yang sudah kita rencanakan.

Awalnya aku ragu, karena sudah lama tidak pernah kulalui lagi jalan ini. Tapi seperti yang kubilang, semangat bertemu denganmu lagi-lagi mengalahkan keraguanku. Menyusuri jalan sepi yang penuh belokan bermenit-menit lamanya, akhirnya aku sampai di depan rumahmu.

Seperti yang direncanakan, kita berdua bersepeda di sekitar rumahmu. Bercengkarama setelah lama tidak bersua. Kau dan aku adalah teman les, sebelum aku memutuskan untuk berhenti kursus di sana. Kau dan aku adalah teman dekat, kita pernah melewati ulang tahun kita bersama. Maksudnya, kau ada di sisiku saat aku berulang tahun, dan aku ada di sisimu saat kau berulang tahun. 2015 yang indah bagi hubungan kita..

Usai bersepeda, aku dan kau beristirahat sejenak di rumahmu. Kamu menawariku minum, karena kamu tahu aku sedang tidak berpuasa. Meski posisi kita saat itu di pekarangan rumahmu yang luas dan tertutup pagar (rumahmu juga agak tersembunyi, berada di ujung sebuah gang), kita tetap minum secara sembunyi-bunyi. Seolah-olah kita minum di tengah keramaian. Bahkan kulihat, ayahmu juga ragu saat melihatku. Raut wajah beliau seakan tidak yakin anaknya menawari temannya yang memakai kerudung untuk minum di bulan ramadhan.

Kemudian, mata kita sama-sama menangkap sosok seorang yang entah masih muda atau sudah tua, aku lupa, berjalan ke arah semak-semak di tengah hutan di ujung gang. Orang itu menyusuri jalan setapak yang terbuat dari kayu panjang di atas rawa-rawa. Kita berdua penasaran, lantas mengikutinya. Awalnya kita ingin membawa sepeda, tapi takut kesusahan, kita memutuskan untuk berjalan kaki saja. Saat itu bertiga dengan adikmu. Secara bergantian, masing-masing dari kita menyeberangi rawa dan sampailah kita pada sebuah jalan yang cukup asing untuk kita bertiga.

Tepat saat kita baru saja keluar dari hutan tersebut, ada sebuah rumah kecil yang kuyakin sampai saat ini masih membekas di ingatanmu. Di rumah itu, terdapat seorang lelaki yang mengintip kita dari balik ventilasi. Kau yang terlebih dahulu melihatnya. Kau juga yang menyuruh aku dan adikmu untuk tidak menoleh ke arah rumah tersebut, dan meneruskan berjalan dengan cepat. Tapi jalan yang kita pilih ternyata buntu. Ujung jalan tersebut adalah sebuah hutan, dan kita tidak mau kembali mengambil resiko. Hingga mau tidak mau, satu-satunya jalan kembali harus melewati rumah tadi.

Kita berasumsi dengan penuh imajinasi, bahwa seseorang di balik ventilasi tersebut merupakan seorang penculik yang mengincar anak kecil seperti kita bertiga. Saat itu memang sedang marak kasus penculikan anak, yang membuat kita parno setengah mati. Kita menyesali rasa penasaran kita. Tapi kita terus berjalan dengan penuh ketakutan.

Saat itu yang ada di pikiran kita hanyalah berjalan sejauh-jauhnya dan menghindari melewati jalan yang membawa kita ke tempat ini. Kita berpikiran bahwa orang itu akan mengikuti dan dengan mudahnya mengetahui rumahmu apabila kita memutuskan untuk menyebrangi rawa-rawa lagi. Maka kita mengambil arah yang berbeda.

“Jangan lewat hutan tadi lagi, nanti kalau dia ngikutin dan tahu rumahmu, bagaimana? Mending kita mutar lewat jalan lain biar dia nyasar. Cari jalan yang rame.”

Dengan sok tahu, kita menerka-nerka arah jalan, “sepertinya aku kenal jalan ini..” kata-kata itulah yang setidaknya sedikit menenangkan hati kita. Meski kita tau, kita masih ragu. Jalan yang kita pilih membawa kita ke depan sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahmu. Akhirnya, saat itu kita bisa bernafas lega, sebelum akhirnya ayahmu menemukan kita berdiri di sudut jalan. Memarahimu dan menyuruhmu pulang.

“Jangan ceritain petualangan kita hari ini ke siapa-siapa ya. Biarin aja ini jadi rahasia kita bertiga.” katamu waktu itu.

Tapi, itu sudah setahun yang lalu. Bukannya aku tidak ingin menepati janji, tapi aku sudah tidak tahan atas perubahan sikapmu. Kamu sahabatku. Satu tahun yang lalu.

Sekarang semuanya telah berubah. Waktu yang mengubahnya. Kita berdua sama-sama tumbuh dewasa, punya kesibukan masing-masing. Tapi, menerima kenyataan bahwa masa kedekatan kita sudah kadaluarsa, itu sulit. Butuh waktu dan aku sudah melaluinya. Menulis tentang kita adalah salah satu caraku mengenang kembali memori masa lalu, meski itu artinya aku harus tenggelam di lautan kerinduan. Asal kamu tau, membuka kembali kenangan manis bersama orang yang masa kedekatannya sudah habis itu sesusah membuka kaleng soda dengan kuku jari yang pendek. Menyakitkan.

Dari kisah kita, aku belajar bahwa mau tidak mau, siap tidak siap, dan cepat atau lambat, keadaan tidak bisa selalu sama. Berubah dan mengalir. Orang-orang berubah karena mereka bertumbuh dewasa, dan juga karena waktu yang menggerusnya (itulah mengapa aku terkadang membenci waktu, ia membawa pergi semuanya). Kita hanya bisa menerima. Meski pahit, kita harus belajar untuk mengikhlaskannya.

Tapi kenangan yang sudah terukir tidak akan pernah berubah. Karena itu adalah bagian dari sejarah. Hanya kita yang berubah, yang memilih untuk terus mengingatnya atau membiarkan saja waktu menghapusnya.

People changes, memories dont.

6-7 Juni 2016.

(Lihatlah, aku menghabiskan dua hari untuk menulis ini. Kalau aku menulis secara rinci sedekat apa kita dulu, itu terlalu sakit dan aku tidak sanggup melakukannya.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s