Suara yang Menyatukan Kita (NSDC 2019 dari sudut pandang bukan peserta)

Masih dalam suasana 17an, di kepalaku terus terngiang-ngiang lagu Indonesia Jaya, yang sukses membuatku merinding kala dinyanyikan pada upacara kemerdekaan dua minggu yang lalu.

Bukan karena paduan suara yang terlalu sempurna, namun karena di sebelahku berdiri satu Indonesia, menginjak tanah lapang yang sama, serentak memberi hormat pada sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan yang dikumandangkan.

Tahun ini, kotaku tercinta mendapat kehormatan sebagai tuan rumah lomba debat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tingkat nasional. Dan sekolahku berkesempatan untuk menjadi tempat diselenggarakannya babak penyisihan National School Debating Championship yang bertepatan pada Hari Kemerdekaan.

Karena pernah bergabung dalam klub debat di sekolah, aku diminta untuk menjadi Liaison Officer untuk hari itu. Bertugas sebagai chairperson, aku memegang Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat di ronde keempat, serta Jambi dan Aceh di ronde kelima. Tiga ronde pertama sudah dilaksanakan di hari sebelumnya, yang bertempat di SMAN 1.

1566092339790

Sebelum babak penyisihan, peserta NSDC ikut melangsungkan upacara di sekolahku. Bersama-sama dengan panitia, MPKOSIS, siswa-siswi, guru-guru, dan para juri.  Tiba saat bagian menyanyikan lagu wajib nasional, diriku yang sempat tenggelam dalam lantunan paduan suara tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku sedang berdiri bersama teman-teman perwakilan dari 34 provinsi, bersama-sama melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan yang sakral dan khidmat. Fakta bahwa benar-benar satu Indonesia hadir di sini, sukses membuatku merinding sekaligus terharu.

Hal ini kusadari sedikit banyak meningkatkan rasa nasionalisme dalam diriku. Menghayati dan menikmati lagu wajib nasional dinyanyikan dengan rasa bangga oleh kelompok paduan suara di hadapan seluruh peserta, hatiku pun diam-diam diselimuti rasa bangga.

Tiba saatnya lomba dimulai, ronde pertama di chamber 7 adalah Sulawesi Utara sebagai opposition melawan Nusa Tenggara Barat sebagai government. Jujur, mosinya tidak begitu kupahami. Tetapi, melihat mereka dengan lancar berpidato dan beradu argumen membuatku banyak belajar.

Oh, begini lomba debat nasional.”, “Oh, ternyata banyak banget ya yang jago debat bahasa inggris di seluruh Indonesia.” , “Oh, ini orang-orang pintar dari provinsinya.”, “Oh, iya-ya. Bener juga, gini ternyata ya..” dan masih banyak oh-oh lainnya.

Di akhir ronde keempat, ada verbal adjudication yang diberikan oleh juri. Turut hadir di dalam ruangan dan mendengarkan ilmu yang sangat berharga yang tidak semua bisa berkesempatan mendengarnya, menyadarkanku bahwa aku sepatutnya bangga dan mengambil banyak pelajaran dalam menjadi bagian dari suksesnya acara.

Bukan hanya mempelajari sistem perlombaan nasional, aku pun belajar bagaimana menjadi Liaison Officer sebuah acara besar. Memang sebelumnya aku sudah pernah menjadi bagian dari lomba debat, baik sebagai peserta maupun panitia, tapi masih tingkat sekolah. Berpartisipasi dalam suksesnya NSDC tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya.

Ronde kelima, ada Aceh sebagai affirmative dan Jambi sebagai opposition. Yang unik dari tim yang kupegang kali ini, mereka semua perempuan dengan dua non muslim dan satu muslim di masing-masing tim. Yang unik pula, aku dan tim debat dari Aceh menjadi teman setelah pertandingan hari itu usai.

Ronde kelima adalah silent round. Tidak ada verbal adjudication di dalam ruangan debat sehingga seluruh peserta langsung kembali ke debater hall usai menyelesaikan pertandingan. Di sana, diumumkan tim dari provinsi mana saja yang masuk ke 16 besar berdasarkan banyaknya victory point yang mereka dapatkan selama lima kali debat dalam dua harı. Tim dari provinsiku sendiri, Kalimantan Selatan, belum beruntung untuk melanjutkan perjuangan mereka. Begitu pula Bangka Belitung, yang salah satu di antaranya adalah temanku saat Festival Literasi 2016 di Palu dulu, Annisa.

Salah satu tim yang masuk 16 besar adalah tim dari Aceh, yang sebelumnya berada di chamberku. Usai pengumuman, banyak teman-teman LO yang menyelamati dan meminta foto kepada para peserta. Aku dan Cangnai menghampiri tim Aceh dan mengobrol sedikit tentang stigma masyarakat terhadap Aceh yang selama ini didengar dari internet dan televisi.

Aku menyampaikan bahwa ketika melihat mereka keluar dari debater hall di SMAN 1 pada hari pertama perlombaan, aku sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa yang mewakili provinsi Aceh yang terkenal sangat islami justru non muslim. Karena hal tersebut, aku membuka topik obrolan dengan menanyakan bagaimana kehidupan mereka sebagai minoritas di Aceh. Benarkah disana perempuan tidak boleh pakai celana, benarkah duduk di sepeda motor harus menyamping, dan bagaimana cara mereka berpakaian di Aceh.

Obrolan singkat tersebut membukakan pikiranku terhadap Aceh dan segala keabuabuannya di otakku. Aku yang belum pernah menginjak tanah Sumatera, jadi tahu kalau Aceh tidak seketat yang ditayangkan dan diberitakan. Kalau Aceh sama saja seperti Banjarmasin dan kota-kota lainnya, hanya memang kita sudah sepatutnya menyesuaikan dengan peraturan yang diterapkan.

Sejak itu, aku dan Cangnai jadi berteman dengan mereka. Kebetulan, pada ronde keempat, Cangnai yang menjadi LO untuk Jaza, Clara, dan Nathania, tim dari Aceh. Setelahnya, kami berfoto bersama dan bertukar akun instagram.

LRM_EXPORT_35733072730534_20190819_102227873.jpeg

LRM_EXPORT_35866017428452_20190819_102440818

Acara hari itu berakhir dengan penuh kegembiraan. Para LO menyaksikan seluruh peserta NSDC berfoto bersama di tengah lapangan sekolah. Meski beberapa harus gugur pada hari itu, mereka masih tetap tersenyum. Tampaknya mereka merasakan senasib seperjuangan, tidak kalah sendiri, tidak merasa buruk sendirian.

Bersamaan dengan langkah kaki para peserta yang meninggalkan sekolah tempat acara, usailah tugasku pada hari itu.

Aku yang pernah beberapa kali mengikuti lomba nasional, sangat merasakan suasana perlombaan nasional yang begitu kurindukan. Aku menikmati melihat mereka bercanda tawa. Aku bahkan jadi berkenalan dengan beberapa peserta. Mendapatkan banyak teman baru dan pelajaran, padahal bukan bagian dari mereka.

Sejak hari itu, timbul keinginan untuk kembali mengikuti lomba-lomba dan kembali produktif menulis. Suasana yang sangat kukenali dan kurindui membangkitkan semangatku untuk beranjak dari zona nyamanku selama ini. Hari yang penuh motivasi.

Aku berniat untuk mengikuti jalannya perlombaan sampai selesai. Hari pertama menjadi penonton di SMA 1, hari kedua menjadi LO di sekolah, hari ketiga dan keempat berhadir sebagai penonton yang memeriahkan perlombaan.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai meninggi, aku dan teman-temanku berangkat ke SMAN Banua untuk menonton quarterfinal dan semifinal. Itu adalah pertama kalinya aku masuk ke lingkungan sekolah tersebut. Sangat sangat luas.

Awal menginjakkan kaki di sana, kami sempat bingung harus pergi kemana. Kami melintasi lapangan rumput yang luas dan melewati stand yang dijaga oleh banyak sekali siswa sekolah itu untuk menuju balairung.

Tiba di sana, kami melihat tim dari Aceh menuruni tangga balairung. Karena quarterfinal sudah hendak dimulai dan kami tidak tahu harus menuju kemana, kami bertanya pada salah satu panitia dan berlari-lari mencari chamber DIY – Lampung untuk menonton mereka.

Ngomong-ngomong, setibanya di depan chamber yang kami cari, aku tertegun karena langsung mengenali kelas itu dari luar. Meski baru pertama kali kesini, aku langsung tahu dari nama kelasnya, bahwa kelas yang dipakai sebagai chamber yang kami cari adalah kelas salah satu anak laki-laki yang pernah terlibat hubungan emosional denganku, hahaha. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Kebetulan berikutnya adalah ketika memasuki kelas tersebut, aku disapa oleh Clara dari Aceh yang ternyata mengingatku. Aku duduk di sebelah mereka yang rupanya juga menonton di chamber DIY – Lampung. Mereka gugur di octofinal tadi pagi. Aku mengobrol dengan Clara, bercerita tentang kebetulan pertama yang kusebutkan di paragraf sebelumnya.

Pertandingan berlangsung dengan seru. Tim dari DIY dan Lampung sama-sama kuat dan mengesankan. Berakhir dengan Lampung yang memenangkan pertandingan dan maju ke babak semifinal.

Semifinal diadakan di balairung dengan Lampung dan DKI Jakarta saling berhadapan dan Banten dengan Kalimantan Timur di gedung lain. Aku menonton Lampung dan DKI Jakarta, tim yang sama-sama kuat dan banyak cogannya. Meski di depanku tersaji debaters keren yang menarik perhatian mata, hatiku pada saat itu tertaut ke barisan penonton paling belakang.

Ada orang itu di sana. Sudah memperhatikanku setiap kali aku menoleh ke belakang. Selalu tersenyum, sangat manis hingga mampu menggetarkan hati. Berjalan jauh dari asrama menuju balairung di bawah terik matahari demi agar aku dapat melihatnya, meskipun hanya dari jauh dan tanpa suara. Menyenangkan, karena terlukis kisah asmara di tengah-tengah tujuan awalku untuk menonton lomba.

Semifinal dimenangkan oleh DKI Jakarta yang akan melawan Kalimantan Timur pada babak final keesokan harinya. Final diadakan pada sore hari di ballroom Hotel Rattan Inn. Aku bersama Cangnai dan teman-teman lain kembali berhadir menonton babak yang ditunggu-tunggu. Kedua tim adalah tim yang kuat dan ditakuti, terkenal dengan kepiawaian mereka dalam berdebat. Tim dari DKI Jakarta mengenakan pakaian adat dan tim dari Kalimantan Timur mengenakan jas formal yang membuat mereka semua terlihat berkharisma.

Pertandingan berjalan dengan sengit namun tenang. Disaksikan oleh ratusan mata peserta NSDC, LDBI, para juri dan penonton yang memenuhi ruangan ballroom hingga tak ada kursi tersisa. Sore itu, ditandai dengan selesainya reply speaker dari tim affirmative berbicara, berakhirlah seluruh rangkaian lomba NSDC 2019. Para peserta diburu oleh waktu, mereka bergegas kembali ke hotel tempat menginap untuk berbenah menyiapkan closing ceremony.

Meski begitu, Clara dan Nathania menyempatkan untuk berfoto lagi bersamaku dan teman-teman sebelum akhirnya menyusul Jaza yang sudah terlebih dahulu naik ke dalam bis. Usai berfoto, aku dan teman-teman pergi makan dan mencari kenang-kenangan untuk diberikan kepada tim dari Aceh yang tiga hari belakangan menjadi temanku dan tim dari Bangka Belitung yang juga berkenalan denganku.

IMG-20190819-WA0027IMG-20190819-WA0028IMG-20190819-WA0014

Sebelum closing ceremony dimulai, aku meminta waktu mereka sebentar untuk menemuiku di depan lobi hotel. Aku memberi mereka sambal acan khas Banjar sebagai hadiah kecil sebelum mereka kembali ke daerah masing-masing esok pagi.

Senang sekali rasanya mendapatkan teman baru dan pengalaman baru. Sayang sekali tidak ada Vina di sana, hanya ada Annisa dan Stephanie dari Bangka Belitung dan cewek-cewek dari Aceh yang menemuiku malam itu. Kami semua berboomerang untuk terakhir kalinya sebelum aku pulang ke rumah.

Berakhirlah kisah keseruan NSDC 2019 dari sudut pandangku sebagai LO dan penonton. Bukan sebagai peserta, namun dapat merasakan suasananya. Berkenalan dan mengambil banyak pelajaran dari orang-orang hebat seluruh Indonesia, memotivasiku untuk dapat kembali hadir dalam riuh perlombaan nasional sebagai peserta, dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia yang hadirnya lewat jalan yang tak kusangka-sangka

LRM_EXPORT_47782470457605_20190817_185848348LRM_EXPORT_47696319863054_20190817_1857221971566036527655156603658349315660369755341566036945980156603696468915660365305151565954250863

IMG-20190819-WA0018IMG-20190819-WA0017IMG-20190819-WA0019

IMG-20190819-WA00161566036455130156603642731015660369703641566036436107

1566036412987

1567226503770

1567226515068

Advertisements

What happens when we don’t care about having a career

i reach this well but not with my parents

Kirana M.S.

As I finished my high school diploma and getting ready to pursue a bachelor’s degree in political science, I encounter quite a large number of people in my age being abudantly worried and confused of which college major is worth to choose and eventually choose certain major based on job prospects. While I understand where this consternation comes from, given the fact that we need to earn a decent income to live comfortably and to survive in this crazy world, I’d argue that this mindset is not best one to embrace, at least for me.

For one thing, choosing a college major based on future job outlook tends to be quite stressful. Pursuing fancy majors and therefore having ‘respected’ jobs and good money, the idea that the society dictated us to have, is what I think as one of the reason to why depression has surged to epidemic levels in…

View original post 691 more words

Tentang Kehilangan

Berawal dari pikiran yang secara random muncul di otakku, tentang betapa di masa-masa SMA begitu banyak orang yang tak pernah berbincang. I realize that, in high school, i dont talk to everyone. I know a lot but i dont know all. I see their faces sometimes when i go to canteen or in other corner of school, i met them in a toilet queue at school, but i dont talk to them. We dont even smile at each other. We just knew that we’re a school friend. 

Hari ini entah kenapa terasa damai sekali. Aku baru saja sembuh dari sakit. Kegiatanku masih sama seperti Sabtu biasanya, mencuci seragam dan sedikit me time pada pagi hari, kemudian kerja kelompok di siang harinya. Yang beda adalah, hari ini aku tidak sengaja melihat kembali kenangan di instastoryku satu tahun yang lalu saat berniat membuka arsip foto. Boomerang bersama orang yang pada akhirnya kurelakan, yang baru saja dapat kulepaskan pada awal bulan ini.

Sebut saja X, dan menurut kenangan satu tahun lalu, X datang ke rumahku sepulang sekolah dengan membawakan obat-obatan untukku yang sedang sakit di rumah. Reaksi pertamaku melihat kenangan tersebut, tertawa pahit. Berbulan-bulan yang lalu aku masih tidak bisa menerima. Sekarang aku sudah bisa melihatnya dengan hati yang seolah tak berfungsi. Mati rasa, aku menyebutnya.

Semua tak jauh dari cerita pahit di ujung tahun lalu. Akhir 2018, semester satu kelas 11. Hal yang pada awalnya sangat sulit kubagikan, kini dapat kutuliskan dengan damai. Hal yang membuatku tertuju pada random thoughts di awal tadi. Tentang betapa banyak orang yang tak kutegur dan kusapa. Entah tidak cocok dari awal, hanya kenal lewat mulut orang lain, atau yang berubah seolah tidak saling kenal karena pertemanan yang gagal.

September 2018 adalah awal sekaligus puncak semuanya. Berada di titik terendah kehidupan selama 16 tahun belakangan, aku kehilangan banyak hal besar dalam hidupku. Kesempatan di OSIS, teman-teman di lingkupku yang dulu, orang yang kusayang, lepas dari genggamanku secara bersamaan. Aku sudah pernah membahasnya sedikit di postinganku beberapa waktu lalu.

Kali ini, aku akan fokus kepada bagaimana aku melewati segalanya dan seperti apa aku setelahnya.

Banyak yang kudengar baik langsung maupun tak langsung, tentang aku di mata mereka. Dari keungahan, sampai murahan. Dari a small brained bitchy sampai aku yang childish dan toxic serta mereka yang justru senang dijauhi olehku. Dari yang awalnya aku menangis tiap hari tanpa henti, sampai hatiku seolah dibuat mati rasa begini. Aku patut bangga bisa melewati hari-hari depresi dan mulai bangkit dari keterpurukan.

Aku banyak belajar dari sana. Memperbaiki diri, mengubah sikap, dan tentunya belajar melepaskan dan merelakan. Lebih berhati-hati dalam bicara, dalam memilih teman untuk dibagikan cerita, belajar agar tidak mudah percaya, dan bahwa sedekat-dekatnya aku dengan mereka, aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentangku.

Masa-masa ujian akhir semester lalu, aku memutuskan rehat sejenak dari dunia instagram yang toxic. Aku menghapus kedua akunku sementara dengan alasan fokus ulangan, padahal sebenarnya aku berusaha menghilang dan belajar tidak peduli dengan semua cacian yang kuterima di instagram. Kira-kira dua minggu lamanya, aku kembali mengaktifkan main accountku dan menghapus permanen akun keduaku.

Aku merasa untuk apa aku tetap memainkan akun keduaku kalau isinya adalah circle lamaku yang penuh palsu? Aku ingin keluar dan memutuskan hubungan dengan mereka. Meski niatku ini sebelumnya mendapat sindiran keras dari mereka di instagram hanya karena aku membuat mereka tidak dapat melihat story instagramku lagi. Lihat kan siapa yang childish dan toxic seperti yang mereka bilang?

Padahal, aku menyembunyikan story dari mereka karena merasa tidak nyaman. Di sekolah sudah jarang bertegur sapa, kemudian aku tahu bahwa setiap tingkahku dibicarakannya, aku pun merasa diawasi dan serba salah. Hingga pada akhirnya, kuhapus saja akun tersebut dan kubuat yang baru.

Akun keduaku yang baru tidak akan begitu menyampah seperti yang lama. Aku sudah banyak belajar untuk tidak terlalu membuka diri. Akun keduaku yang baru tidak akan dilihat maupun diisi oleh orang-orang lama. I cut off all toxic people in my life, i changed, and they cant be as close to me as before. I wont let them judge my new life.

Akun keduaku akan merepresentasikan diriku yang baru. Diriku yang berbeda dari yang mereka kenal dulu. Akun keduaku hanya difollow oleh teman-teman sekelasku, dan yang memang benar-benar dekat denganku sampai sekarang. Toh, aku tidak akan mengisinya seperti yang dulu.

Rasanya melegakan. Seperti membangun kembali privasi yang telah kuhancurkan sendiri. Rasanya seperti diam-diam menang, seakan punya rahasia yang tidak bisa mereka lihat dan cela. Pada awalnya memang berat, memang menyakitkan, sampai akhirnya kusadari bahwa hidupku jauh lebih tenang tanpa mereka yang tak baik untukku.

They used to be my close friends. We got a lot of memories which contains happiness. Time flies, people changes. We can’t stay friends forever. There are things we dont like from each other. I try to understand theirs, but they cant keep their mouth from saying hurtful words about me. Thats why our friendship is kind of friendship that has an expired date. We cant be friends anymore. Sure i had what might be called mental breakdown in the past 5 months, but i began to realize that i cant let them ruin me wholly. I deserve to be happy and do what i want to do. I have right to throw away toxic people that makes me unhappy. So i choose to let them go and get away from them. I choose to rebuild what have been destroyed, i choose to accept reality and focus on myself just like they used to do. Focus on myself. I was too busy loving and caring for them that i forgot to love myself.

Kupikir, kalimat panjang di atas cukup menjelaskan. Entah kenapa lebih enak nulisinnya pakai bahasa Inggris, meski grammarnya kacau balau begitu. Intinya, dari kehilangan dan pengalaman tersebut aku mati rasa untuk mereka. Meski sempat terpuruk, langkahku tidak boleh terhenti karenanya. Aku harus bangkit dan mengaktifkan rasa untuk dunia di luar sana. Dunia tanpa mereka.

Untuk itulah, aku tidak mengapa tidak pernah berbincang dengan semua orang di masa sekolah. Bagiku, garis takdirku dan orang-orang itu tidak menyatu. Hanya kebetulan berkumpul di titik temu dan berbeda arah. Untuk orang-orang yang sudah lepas dariku, garis takdir kami sudah tak lagi beriring dan sejalan. Sudah tak ada kecocokan untuk melanjutkan pertemanan.

Untuk orang-orang yang masih ada padaku, akan ada saatnya kita berjalan masing-masing, tak lagi seiring. Hanya semoga saja bukan karena pertikaian yang tak penting.

 

Jangan menyerah. 

Jangan kalah dari luka. 

Jangan terus terpuruk menangisi yang sudah tak ada.

Bersabarlah, mekarmu pasti ‘kan tiba. 

-Apinja Anastasia-

 

 

Tentang Seseorang

Ini tentang seseorang yang selalu ada. Seseorang yang selalu memasang telinga, yang menjadi pendengar paling sabar di setiap cerita. Baik suka maupun duka.

Kepada seseorang yang kuceritakan, ini adalah tulisan apresiasi untuk kamu yang telah berhasil kutemukan, setelah dahulu bergumam dalam pencarian.

Kepada seseorang yang kuceritakan, sebenarnya masih ada delapan soal biologi yang belum dan harus kuselesaikan. Tapi sejak mengerjakannya tadi, aku malah lebih ingin menuliskan ini, dibanding harus susah-susah mencari jawaban.

Kepada seseorang yang kuceritakan, kamu patut terharu karena ini sudah jam satu malam, dan aku masih menahan punggung yang sudah meronta ingin rebahan.

Teringat dulu, aku pernah mengunggah foto yang disertai pemikiranku. Kataku, semua orang seperti telah menemukan sahabat yang tak tergantikan. Sedangkan aku masih harus beradaptasi dengan jiwa-jiwa baru di masa putih abu. Kala itu, aku masih belum menemukan definisi sahabat di sekolah baru. Yang kupunya hanya sahabat putih biru, itupun baru kutemukan 6 bulan sebelum perpisahan.

Kemudian ketika melihat sekarang, setelah apa yang terjadi beberapa bulan belakangan, aku bersyukur garis takdir kita bertemu.

Aku tak benar-benar ingat kapan kiranya kita menjadi dekat. Tapi sekali lagi, melihat apa yang terjadi padaku di tahun kedua, aku bersyukur kamu ada. Aku tak benar-benar ingat atas alasan apa aku percaya untuk menceritakan semuanya padamu kali pertama. Yang kutahu, aku bersyukur telah bercerita.

Kuingat dulu kamu duduk di tembok pembatas di depan kelas, menunggu giliran seleksi ESDC. Satu hal yang tak kusesali, sikap SKSDku padamu saat itu. Kemudian kita dipertemukan lagi pada seksi bidang yang sama, dalam organisasi yang menjadi sejarah di hidup kita.

Sekarang kamu menjelma menjadi sosok paling mengerti, yang selalu memasang telinga tak peduli sepanjang apa aku bercerita. Sosok paling setia dan menerima. Sosok yang masih bertahan disaat semua orang pergi meninggalkan. Sosok yang menguatkan saat aku dijatuhkan. Sosok yang menemani saat jalanku terseok-seok seorang diri.

Kita berteman sejak kelas sepuluh. Baru satu tahun dan kupikir ini masih terlalu dini untuk memujamu seperti ini. Namun, yang kusyukuri tak ingin kulewati.

Di antara masalah-masalah yang kuhadapi, Tuhan masih baik dengan menjadikanmu sahabatku. Untuk itu, kubuatlah tulisan ini untukmu. Tulisan apresiasi yang disertai harapan agar persahabatan ini kekal hingga kelak. Tak peduli perbedaan besar yang tak dapat dielak.

Atas sikapmu yang tak pernah menghakimiku, atas waktumu yang terbuang untukku, atas eskrim, teh kotak, roti, kako, mango juice, dan mango float yang pernah kau beri secara cuma-cuma, atas lembaran tisu yang menjadi sampah setelah basah, atas pengertian yang kau berikan, atas pembelaan yang kau lakukan, atas materi yang kau ajarkan, atas obrolan larut malam yang baru saja kita habiskan, atas semua tumpanganmu untukku (untuk adikku), atas keberadaanmu saat aku di kantor polisi, atas senyum dan pelukan yang kau berikan, atas shopping time yang berkesan, atas semua yang tak tersebutkan, tanpa letih kuucapkan terima kasih.

Cang Nai Fang, semoga ini cukup manis untuk dikenang.

Semoga aku tidak membuat kesalahan 

dan semoga tidak ada yang membuat suasana jadi tidak nyaman. 

Cang Nai Fang, semoga kamu senang selalu kurepotkan. 

 

27 November 2018, pukul 1:52 malam. 

 

 

 

About My Journey

Seorang teman mengusulkan agar aku menulis tentang pengalamanku di dunia ini. Dunia tulis menulis. Aku akan menuliskannya ala-ala QnA di majalah gitu-gitu, deh, haha.

  • Kapan pertama kali menulis?

Well, aku pertama kali menulis cerita sejak kelas 1 atau 2 SD. Sekitar tahun 2009. Waktu itu, aku sedang semangat-semangatnya berimajinasi. Aku membuat serial Barbie. Banyak sekali tokoh ciptaanku yang visualnya seperti boneka Barbie. Aku menulis banyak judul untuk banyak konflik. Tapi setiap cerita tidak pernah lebih panjang dari satu halaman. Rata-rata, sih, setengah halaman. Yang kuceritakan seperti gelang tokoh Ditta yang hilang, tokoh Catty yang baru saja punya tetangga baru, dan lain-lain. Inspirasinya dari acara televisi Suami-Suami Takut Istri, hahaha. Aku suka nonton itu waktu kecil dulu, dan menjadikannya inspirasi komplek perumahan tokoh-tokoh Barbieku.

  • Kapan hobi nulisku mulai berkembang?

Waktu kelas 6 SD, aku terpilih menjadi delegasi Konferensi Anak Indonesia 2013 yang diadakan oleh Majalah Bobo. Seleksinya melalui karya tulis tentang Makanan Sehat Untukku. Aku menulis tentang Soto Banjar dan Ubi Ungu. Sepulangnya dari karantina di Jakarta, aku jadi kenal banyak teman-teman. Selain itu, aku juga aktif di sosial media facebook dan berkomunikasi dengan penulis-penulis cilik. Saat SD dulu, aku suka sekali membaca seri Kecil Kecil Punya Karya. Rata-rata penulisnya menggunakan facebook. Dari sana, aku belajar banyak dari teman-teman lain dan mendapatkan informasi lomba-lomba menulis.

Kemudian saat SMP, aku sering mewakili sekolahku untuk lomba menulis cerpen dan alhamdulillahnya selalu mendapat juara. Pernah menyabet juara harapan 2 se-kota Banjarmasin di Gerakan Literasi Menulis tahun 2015, kemudian juara 1 di perlombaan yang sama tahun 2016, menjadi pemenang ketiga tingkat kota Banjarmasin di FLS2N bidang Cipta Cerpen tahun 2016, juara 2 lomba menulis surat untuk walikota, jadi pengisi talkshow tentang menulis di acara Roadshow KKPK Goes To Korea di SD Muhammadiyah 8-10 akhir 2017 lalu, dan dua kali menjadi perwakilan provinsi untuk perlombaan tingkat nasional.

  • Pernah nerbitin buku? 

Aku punya tiga buah buku antologi. Belum ada buku solo, sih. Enggak punya waktu dan motivasi untuk mengerjakannya, hehe. Doakan saja. Buku pertamaku tidak dijual di toko buku manapun, karena merupakan antologi karya tulis yang hanya dimiliki delegasi KONFA2013. Buku keduaku, Tersesat di Kota Orang (Kecil-Kecil Punya Karya seri JuiceMe, Mizan 2015) merupakan proyek pertamaku dengan teman-teman sesama penulis yang kenal dari dunia maya. Buku ketigaku, Semua Karena Sayang (PECI Lintang Indiva, 2016) merupakan hasil dari mengikuti proyek salah satu teman penulisku. Kemudian, cerpenku juga pernah muncul di Majalah SOKA tahun 2016 lalu.

  • Suka duka saat menulis? 

Sukanya adalah ketika kita lancar sekali merealisasikan ide menjadi sebuah cerita. Enggak merasa terburu-buru adalah perasaan yang nyaman sekali. Kemudian ketika kita berhasil membuat satu karya (entah itu postingan blog, cerpen, artikel, puisi, atau opini) tentu kita merasa puas dan bangga, dong. Merasa senang sekali. Ketika tulisan kita dibaca orang lain apalagi jika itu bermanfaat untuk orang lain, duh bahagianya tiada kira.

Perasaan senang waktu berhasil mengalahkan rasa malas dan writer block. Perasaan senang ketika menang lomba. Serius. Perasaan senang ketika berhasil dalam perlombaan. Apalagi ketika lomba yang diikuti adalah event nasional, dan kita berhasil lolos seleksi melalui karya kita, duh bahagianya tiada kira.

Ada lagi, nih, perasaan senang ketika dapat komentar positif dari orang yang membaca tulisan kita. Pernah terjadi sama aku. Aku pernah dapat message dari orang yang enggak aku kenal, tapi dia kenal aku dari bukuku. Duh, seneng banget dong. Aku juga pernah diajak kenalan sama pembaca KKPK dari Banjarmasin, waktu itu jarang banget aku nemu teman seumuran yang sama-sama suka membaca di kotaku sendiri. Mungkin karena lingkup pertemananku waktu SD itu sempit kali, ya. Tapi yang jelas, orang itu sekarang jadi teman SMAku, dan kenalnya dari facebook ketika dia message aku setelah baca bukuku.

Aku juga pernah dapat message di blog dari orang yang enggak aku kenal, dia menyatakan perasaannya setelah baca blog aku. Komentar positif gitu, deh. Seneng bgt. Waktu baru masuk SMA, teman sekelasku yang baru aku kenal (orang yang beda dengan yang kenal di facebook) ternyata pernah dengar namaku sebagai penulis KKPK karena dia suka baca KKPK (padahal aku enggak punya buku KKPK selain antologi). Rasanya tentu kaget, enggak nyangka, berasa famous dan senang banget banget banget dong ya. Haha.

Terus, ketika guru SMA yang kupikir enggak tahu-menahu tentang keikutsertaanku dalam bidang tulis menulis, tiba-tiba mengontakku dan memintaku jadi perwakilan sekolah dalam lomba karya tulis. Kaget dan diam-diam senang, sih. Karena di SMA dikit banget yang tau tentang apa yang kuceritakan di sini.

Kalau dukanya enggak jauh-jauh dari writer block. Keadaan ketika kita buntu dan sama sekali enggak tahu bagaimana cara menuangkan isi pikiran. Kadang-kadang, enggak ada motivasi dan perasaan malas juga jadi musuh, sih. Tapi yang paling menorehkan sedih itu waktu aku gagal dalam perlombaan nasional 3 tahun berturut-turut sementara teman-temanku dapat berkumpul di ajang itu. Iri dan sedih banget.

  • Sering banget nyebut perlombaan nasional, apa sih yang dimaksud? 

Yang kumaksud disini Akademi Remaja Kreatif Indonesia atau ARKI (sekarang namanya jadi Festival Literasi Sekolah atau FLS), lomba nasional yang diadakan oleh penerbit Mizan. Aku merupakan alumni tahun 2015. Di ARKI, ada 3 cabang lomba yang bisa diikuti. Cipta Cerpen, Cipta Syair, dan Komik.

ARKI tentunya ajang tahunan yang sangat bergengsi dan besar. Untuk bisa menjadi akademia ARKI, kita harus mengirimkan karya terbaik sesuai tema untuk proses seleksi. Kemudian ketika lolos seleksi, kita akan mengikuti rangkaian acara selama kira-kira satu minggu di lokasi acara. Kemarin, aku di Jakarta untuk 4 hari 3 malam.

Di sana, kita dibagi jadi beberapa kelompok dan mengikuti pelatihan sesuai bidang yang kita ikuti, kemudian dilombakan kembali untuk menentukan juara yang akan diumumkan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain workshop dan lomba, ada juga talkshow, games, dan jalan-jalannya. Sangat berkesan, sih.

Waktu tahunku dulu, kami menginap di Twin Plaza Hotel Jakarta. Berkesempatan untuk mengunjungi kantor Kemendikbud, bertemu dan berfoto bersama (sempat group selfie juga) dengan bapak Anies Baswedan yang pada saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengunjungi Gramedia dengan konsep baru di Central Park Mall, belajar mendaur ulang kain bersama WWF, bertemu dengan pemateri-pemateri keren yang sukses di bidang cerpen, komik, dan syair.

Selain itu, yang tak kalah berkesan adalah kenangan bersama teman-teman di sana. Jadi kenal banyak penulis dan teman-teman keren lainnya. Snack party di lobby hotel malam pertama, tour ke lantai hotel paling atas yang menyeramkan di jam 12 malam bersama teman-teman, menginap ramai-ramai, dan masih banyak lagi.

Selain ARKI, seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku juga alumni Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2013. Di KONFA, kegiatannya juga enggak jauh berbeda dengan ARKI. Bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, belajar tentang pangan yang baik di Kebun Wisata Pasirmukti Bogor, meneliti makanan di Laboratorium MBRIO Bogor, merumuskan deklarasi di depan orangtua, Menteri, dan tamu penting lainnya, dan bersenang-senang di Botani Square juga Dufan bersama teman-teman.

Selanjutnya, event nasional yang kuikuti adalah Festival Literasi 2016 di Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka Hari Aksara Internasional. Kegiatannya adalah lomba merefleksikan cerita rakyat dalam bentuk drama, dan lomba membaca cerita rakyat. Berlangsung selama 4 hari 3 malam juga di pesisir kota Palu yang sekarang sudah hancur. Kisahku di sana sudah kuceritakan dalam postingan blogku yang berjudul Festival Literasi 2016 (bisa discroll ke bawah).

  • Kapan terakhir ikut lomba? 

Waktu ada acara Bulan Bahasa di sekolahku, aku menyabet posisi juara 1. Benar-benar enggak kusangka, sih, karena itu pertama kalinya aku menulis lagi setelah sekian lama. Tangan rasanya capek banget, apalagi kemarin terburu-buru karena mau nonton pensi. Ide juga baru dapat beberapa jam sebelum lomba dimulai. Ceritanya pun semakin mendekati ending semakin terlihat dipaksakan. Tapi, entah kenapa bisa mendapat perolehan nilai paling tinggi dari kedua juri.

Jujur, speechless waktu dapat kabar. Sedikit merasa tidak enak, sih, karena teman-teman yang ada di ruangan pada saat perlombaan tahu bahwa aku juga adalah koordinator panitia lomba cerpen tersebut. Perasaan takut muncul lagi, takut dianggap curang. Meski aku panitia merangkap peserta, yang mengambil hasil penjurian bukan aku. Aku pun tahu dari partner kerjaku dan saat tahu bahwa aku mendapat juara 1, speechless banget tapi takut juga. Haha. Senang sih. Tidak menyangka bisa jadi yang paling unggul, setidaknya di sekolahku sendiri.

  • Nanti kuliah mau ngambil Sastra Indonesia, dong? Gede nanti pengen jadi penulis ya? 

Err.., kayaknya enggak, deh. Enggak terlalu berminat di jurusan itu. Mungkin nanti Ilmu Komunikasi, atau Psikologi, atau mungkin Hubungan Internasional. Meski hobiku menulis, kurasa passionku enggak seratus persen di dunia ini. Entah, namanya juga masih mencari jati diri.

Pekerjaan penulis bukan suatu yang menjanjikan sih menurutku. Lebih ke hobi aja. Bakat, mungkin? Aku lebih tertarik kerja di redaksi majalah, atau di penerbit sebagai editor atau bahkan CEOnya hahaha.


Cukup sampai di sini saja Question n Answer ala-ala majalahnya. Semoga dari tulisanku kali ini ada yang dapat diambil manfaatnya, deh, haha.

See you in another chance!

Lots of Love, 

Salsa.

 

 

 

What Changes Me To Be Me

Sudah hampir setahun sejak postku yang berjudul How My Highschool Life Is Going. Banyak sekali yang berubah dalam satu tahun belakangan. Kelasku yang tadinya sangat kaku, kini mulai mencair dan menyatu. Pertemananku dengan teman-teman kelas lain yang sangat erat saat kelas 10 dulu, kini kian renggang. Bertegur sapa pun sudah jarang. Hubunganku juga sudah selesai. Banyak sekali yang terjadi yang turut mengubah aku menjadi seperti sekarang.

Beberapa bulan belakangan, aku mengalami gejala depresi. Entah, tapi yang jelas aku merasa sangat takut, tertekan, dan tidak bebas untuk bergerak. Aku selalu merasa diawasi, akan digunjing, dan pikiran-pikiran negatif lain memenuhi otakku.

September lalu, selama satu bulan penuh aku merasa sangat down. Aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku saat itu. Aku bukan lagi bagian dari OSIS (dimana aku merasa berorganisasi adalah passionku), aku menemukan fakta bahwa teman-teman dekat yang aku sangat nyaman bekerjasama dengan mereka hingga teman-teman yang tidak pernah punya masalah denganku ternyata tidak menyukaiku. Aku gugur dalam ajang lomba nasional, aku kehilangan kesempatan untuk bisa jadi murid pertukaran pelajar yang mana adalah impian terbesarku, dan orang penting dalam hidupku memutuskan untuk tidak bersamaku lagi.

Semua terjadi dalam satu hari. Aku merasa buruk sekali. Apalagi ketika teman yang kukenal terlihat sangat mudah mendapatkan dua hal yang hilang dariku. Apalagi ketika teman yang kukenal menggantikan posisiku. Apalagi ketika orang yang sangat kubutuhkan ternyata juga pergi meninggalkan.

Aku menjalaninya seorang diri. Aku mulai jadi pribadi yang tertutup, tetapi juga diam-diam mulai introspeksi diri. Ketika aku sudah mulai pulih, seorang teman yang lama tidak berbicara padahal kerapkali berpapasan di sekolah datang ke rumah. Ia menceritakan hal yang sayangnya membuatku kembali down. Maksudnya baik, untuk mengingatkan aku bahwa masih banyak orang-orang yang tidak suka padaku. Maksudnya baik, untuk mengutarakan hal-hal yang tidak ia suka tentangku secara langsung agar menghindari membicarakan tentangku di belakang.

Tapi dua hal yang tidak ia tahu,

Pertama, aku sangat excited menunggu kedatangannya. Dari hari-hari sebelumnya, aku sangat senang memikirkan rencana ia akan datang lagi ke rumahku setelah sekian lama. Kedua, saat itu aku sudah mulai bangkit dari keterpurukanku September lalu. Aku sudah mulai pulih dan mulai mengikhlaskan.

Darinya aku mengetahui bahwa hal-hal yang sudah berusaha kuubah masih dikomentari. Darinya aku mengetahui bahwa prosesku tidak terlihat. Darinya aku mengetahui bahwa caraku berkomunikasi mengusik seseorang. Darinya aku mengetahui bahwa hal yang kulakukan yang tidak berkaitan dengan siapapun, dianggap menyindir. Karenanya aku merasa, apa yang kulakukan selalu salah.

Hal ini berpengaruh pada emosiku. Ketika terjaga dari tidurku di malam yang sepi, aku merasa seperti monster di pikiran sedang menggerayangi. Mereka berlarian, berteriak nyaring, membuat kegaduhan di dalam otakku. Pikiran-pikiran buruk, perasaan takut, perasaan tertekan dan terbebani tak luput kehadirannya.

Aku takut untuk bercerita. Takut dianggap drama. Takut kembali digunjingkan.

Aku takut untuk bergerak, membagikan cerita. Takut ada yang salah paham. Takut dianggap salah. Takut disalahkan. Takut dianggap menyindir.

Aku sangat merasa dibenci oleh teman-temanku di sekolah. Betul-betul merasa. Aku takut untuk hal-hal yang tidak jelas. Semuanya terasa palsu.

Kemudian, terjadi beberapa hal yang menambah beban pikiranku. Berkaitan dengan aku yang selalu disalahkan. Berkaitan dengan orang penting di hidupku. Berkaitan dengan organisasi, berkaitan dengan teman ekstrakurikuler, berkaitan dengan teman yang datang kemarin. Banyak hal yang turut mendukung segala bentuk energi negatif untuk tetap ada pada diriku. Aku lelah akan semua itu.

Sangat sulit bagiku untuk mengungkapkan detail perasaan sejak kejadian itu. Bahkan untuk menuangkannya dalam tulisan pun aku masih merasa itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Bayangan tentang teman-teman yang akan menyalahkanku di hadapanku tentang apa yang kuperbuat selalu menghantui.

Hingga akhirnya aku membiarkan kalian membacanya di sini.

Inilah yang mengubahku. Inilah yang menyakitiku.

Ucapkan selamat tinggal pada aku yang dulu,

dan selamat datang untuk aku yang baru.

Selamat berjuang.

How My Highschool Life Is Going

Its been so longgggg i haven’t write. I dont know what to write! 

Baru-baru ini, nyawaku ilang lagi. Setelah akhir tahun lalu menghilangkan ponselku di Palu, tahun ini aku kembali dengan cerobohnya menghilangkan ponselku sendiri. Beneran ilang nih, enggak nyelap nyelip doang. Gak perlu dijelasin lah ya kronologisnya gimana, aku mau bahas efek yang kurasain setelah aku gak punya hp lagi.

Karena hpku ilang, hidupku sekarang bergantung pada laptop. Laptop yang dulu jarang banget kusentuh, sekarang tiap bangun tidur ampe mau tidur laptop selalu nyala. Aktif line dan instagram di laptop. Selain kedua sosmed tersebut, yang sering kubuka cuman dua, youtube dan facebook.

Kalau di hp dulu, facebook udah aku uninstall karena memorinya gak cukup. Jadi jarang buka facebook. Sekarang udah ga punya hp, balik lagi deh maenan facebook. Stalking my own timeline, looking back to how productive i was. Isi facebookku dulu jauh banget dari tautan joox biar dapet VIP gratis. Dulu, sekarang mah jangan ditanya.

Scrolling, scrolling, scrolling, jadi kangen nulis lagi. Udah lama hiatus dari nulis-nulis sejak sibuk UN pertengahan tahun tadi. Libur bulan Ramadhan, ada kejadian yang bikin aku cuman bisa ngepost blog satu kali. Kemudian masuk sekolah baru, disibukkan oleh pelajaran, OSIS, ekskul debat Bahasa Inggris, dan hp yang gak bisa lepas. Mau nulis gak ada waktu. Mau nulis gak punya ide.

Nah, berhubung sekarang lagi libur semester + natal + tahun baru, aku punya cukup banyak waktu luang untuk nulis lagi. Tapi tetep masih bingung mau mulai darimana. Jadilah nulis ini sebagai permulaan. Mumpung enggak sibuk dengan ponsel jugak. Pengennya sih produktif nulis lagi, biar bisa ngumpulin duit buat beli hp, hihihi. Akhirnya ya balik juga ke hp, karena menurutku itu memang suatu kebutuhan. Susah banget deh kalau gak megang hp. Tapi selalu ada hal positif yang bisa diambil dari suatu kejadian, kaaannn.

Ngomong-ngomong, kayaknya sekarang belum terlalu terlambat buat ngasih pendapat tentang masa-masa awal SMA, berhubung aku juga baru masuk tahun ini dan baru aja ngelewatin ujian semester satu berseragam putih abu-abu.

SMA itu jauh lebih seru daripada SMP. Dulu aku ngerasa kakak-kakak SMA itu jauh lebih dewasa. Sekarang pas udah SMA masih suka ga percaya, aku ada di posisi dewasa yang dulu kupikirkan. Eh, gimana sih? Aku juga gak ngerti gimana jelasinnya. Pokoknya seru. Aku yang dulu jaraaaang banget punya temen cowo (pokoknya dulu entah kenapa jarang ada cowok yang mau maen ama aku), sekarang ya lumayan. Mereka pada baik-baik, mau nganterin pulang kalau aku gak ada yang jemput.

Mungkin juga karena faktor zona kali ya. Dulu, SMPku jauh dari rumah. Sekarang aku sekolah di SMA favorit deket rumah, dan yang daftar disana campur-campur dari sekolah lain. Aku jadi kenal banyak teman-teman baru yang baik banget, enggak kayak teman teman di SMPku dulu. Beda jauh lah pokoknya.

Tapi untuk kategori sahabat, sampai sekarang belum ada teman SMA yang bisa kupercaya menampung segala cerita. Bahkan, teman sekelasku pun aku masih kurang nyaman. Meski aku lebih sering bergaul dengan teman-teman dari kelas lain, bukan berarti aku gak dekat dengan teman sekelasku. Aku punya geng di kelas, tapi aku belum merasa mereka sanggup kupercaya. Untuk saat ini sih mereka hanya teman dalam bersenang-senang.

Kenalanku banyak, teman dekat juga banyak. Tapi enggak yang deket banget kayak teman SMPku dulu. Mungkin belum kali, ya. Enggak tahu akan berjalan seperti apa nanti. Jadi inget kekhawatiranku dulu sebelum masuk sekolah. Khawatir enggak bisa nyari teman baru. Khawatir kalah cepat dengan orang lain dan teman-teman di SMA sudah berkubu sebelum aku berhasil mendapatkan barang seorang.

Ternyata setelah dijalani, ya gitu deh. Aku punya teman baru berbekal kepedeanku nongol di grup angkatan bahkan sebelum masa pengenalan lingkungan sekolah dimulai. Saat sudah masuk sekolah, aku enggak langsung kenalan sama random people. Awal-awal masih sama teman yang sudah kenal, kemudian kenal dengan yang lain enggak pakai jabat tangan dan tanya nama, karena lama-lama aku jadi kenal banyak orang seiring waktu berjalan.

Itu aja sih untuk hal pertemanan. Semua tergantung diri masing-masing. Pengalaman tiap orang berbeda-beda berdasarkan kepribadian dan lingkungannya, menurut Ilmu Sosiologi. Ahaha. Masalah pelajaran, relatif sih tergantung masing-masing juga. Karena aku jurusan IPA, rumus yang dihapal untuk persiapan ujian semester jadi banyak bangettt. Gitu deh.

Kalau masalah asmara, entah kenapa aku merasa diriku masih terlalu kecil untuk nulis sesuatu tentang cinta-cintaan. Gak berani juga, takut nanti akan malu sendiri membacanya ketika dewasa. Yang jelas sih, aku bukan orang yang jauh dari cerita cinta. Aku punya banyak pengalaman soal itu. Mulai dari patah hati, gagal moveon, dideketin banyak orang dalam waktu bersamaan, direbutin dua cowok, ditembak face to face, jalan bareng, ditembak pakai bunga, dan sebagainya pernah kurasakan. Sekarang pun, aku sedang berhubungan dengan cowok dari kelas Mipa 3. Pacar pertamaku di SMA. Hahaha.

Kira-kira segitu dulu aja deh gambaran masa awal SMAku. Aku gak tau mau nulis apa, dan bagaimana. Anggap aja tulisan ini sebagai pemanasan, karena otakku udah jarang dipakai, huhuhu. Mungkin nanti, aku bakal ceritain bagaimana serunya jadi OSIS dan panitia berbagai acara.

Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

PORCELINE (Short Story)

Panas sekali.

            Itu adalah yang terlintas di pikiranku saat baru saja membuka pintu mobil. Cahaya matahari pagi yang katanya menyehatkan, terasa begitu terik untukku. Baru pukul tujuh, masih ada satu jam lagi sebelum ujian dimulai.

            “Celine, mama tinggal ke pasar, ya. Kamu tunggu di depan ruangan ini saja. Nanti akan ada guru pengawas yang membimbingmu.” Kata Mama begitu kami sampai ke depan ruangan tempat aku akan melaksanakan ujian. Mama membungkukkan badannya ke arahku, “dan jangan pedulikan kata orang.” Bisiknya.

            Aku mengangguk kemudian mengambil tempat di kursi keramik di depan ruangan. Menatap mama yang berjalan meninggalkanku sendirian.

            Hari ini hari Minggu, dan aku sedang berada di sekolah. Bukan, bukan sekolahku. Tapi di tempat ini, aku dan sekumpulan anak-anak homeschool lainnya akan melaksanakan ujian nasional paket A.

            Sudah lima belas menit sejak mama meninggalkanku di depan ruangan ini. Beberapa anak yang juga akan mengikuti ujian sudah mulai berdatangan. Beberapa dari mereka terlihat bermain bersama, sepertinya mereka sudah saling kenal sebelumnya. Entahlah. Yang jelas aku di sini sendiri, dan tak beranjak dari dudukku sama sekali.

            Yang kutahu, hari ini akan ada dua ruangan yang dipakai untuk ujian. Satu ruangan berisi anak-anak homeschool dari lembaga homeschooling yang ada di kotaku. Sedangkan ruangan satunya untuk anak-anak homeschooling yang benar-benar homeschooling. Maksudku, mereka benar-benar belajar di rumah sepertiku. Tidak pergi ke lembaga tiga kali seminggu dan belajar di kelas bersama-sama. Aku homeschool mandiri, tidak terikat lembaga apapun, dan sehari-hari diajar oleh kakak sepupuku yang pernah sekolah di Australia.

            “Sekolah ini punya taman bermain, loh. Di sebelah sana. Kamu nggak mau coba?” Tiba-tiba saja, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Di hadapanku sekarang berdiri seorang anak lelaki berkaos biru muda, kurasa suara tadi berasal dari dia.

            “Hei, kamu ngomong sama aku?” tanyaku setelah cukup risih ditatap terus-terusan olehnya.

            “Iya. Kamu nggak mau coba?” ulangnya.

            “Maaf, aku enggak bisa kena sinar matahari.” Tolakku singkat. Anak lelaki tersebut mendesah pelan, kemudian dengan lunglai duduk di sebelahku. Aku menggeser dudukku dengan canggung. Di antara kami, tak ada yang memulai untuk bicara.

Sepuluh menit lagi ujian akan dilaksanakan. Anak lelaki tadi memecah keheningan, “Kita belum kenalan. Namaku Sian, dari lembaga homeschooling Tiara Kota. Kamu siapa?”

            “Celine, dari homeschooling yang tidak terikat lembaga manapun.”

            “Maksudmu mandiri?”

            Aku mengangguk. Sian kemudian mengeluarkan ponselnya, “Ketik nomor teleponmu, dong. Kita kan baru jadi teman. Biar nanti bisa komunikasi.” Katanya sembari menyodorkan smartphone berwarna hitam miliknya.

            Aku tidak langsung menyambutnya. Kupandangi ia dengan heran, lalu sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku, “Kamu.. kenapa mau jadi temanku?”

            Kali ini Sian yang menatapku heran. “Maksudmu?”

            “Iya, kamu nggak takut denganku? Dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Jelasku sedikit terisak.

Selama ini aku belum pernah punya teman. Hidupku sehari-hari dihabiskan di rumah dan kadang-kadang pergi ke supermarket untuk beli krim saat malam tiba. Meski begitu, aku punya keluarga yang harmonis dan rumah yang cukup luas. Berbagai fasilitas disediakan orangtuaku untuk membuatku betah tinggal di rumah.

Sian tergelak, “Kuntilanak beruban katamu? Selagi kakimu masih menapak di tanah, untuk apa aku takut?” ujarnya.

Aku tersinggung. Apakah kata-kataku barusan terdengar seperti candaan? Rasanya aku ingin memarahinya karena bersikap begitu menyebalkan. Tapi tidak bisa, bel sudah berbunyi dan kami harus melaksanakan ujian. Buru-buru aku masuk ke dalam ruanganku. Kami berpisah. Sian di ruangan sebelah.

                                                   ***

Sudah seminggu sejak perkenalanku dengan anak lelaki berkaos biru muda yang kutemui saat ujian nasional, kini aku dan Sian semakin dekat. Rupanya Sian tinggal tak begitu jauh dari rumahku, dan enak diajak mengobrol. Satu hal yang kusyukuri dari perkanalanku dengannya adalah aku bisa kapanpun memintanya datang ke rumah untuk menemaniku mengobrol dan Sian selalu menyanggupinya.

Kami bahkan berencana untuk melanjutkan studi bersama. Entah bagaimana caranya, dan kapan jadinya, aku masih bimbang. Seminggu ini juga Sian terus-terusan menghasutku untuk melanjutkan di sekolah umum. Setidaknya di SMP dekat rumah, katanya.
            “Ayolah, Celine. Bersekolah di sekolah umum enggak semengerikan yang kau bayangkan.” Bujuknya setelah menenggak es susu coklat buatan kak Vani. Sian sedang ada di rumahku. Dan seperti biasa, agenda rutinnya tak pernah ketinggalan. Membujuk dan menghasutku.

“Memangnya kamu pernah sekolah umum?” tanyaku. Sian meringis.

“Makanya, yuk, kita coba bareng.”

Aku menghela napas. “Kamu mau jamin aku apa kalau aku sekolah umum?”

Tanpa berpikir panjang, Sian langsung menjawab, “Kamu akan punya banyak teman di sana. Aku akan membantumu. Nanti kita bakal main bareng. Aku pastikan enggak akan ada yang membullymu.”

                                                             ***

Kemudian di sinilah aku, gadis albino yang baru saja membuka lembar kehidupan barunya dengan berdiri canggung di depan gerbang sekolah. Akhirnya, setelah berada di ambang kebimbangan yang cukup lama, keinginan Sian kukabulkan. Bersekolah dengannya di sekolah umum.

Di sebelahku, Sian berdiri dengan tegap. Ia terlihat bangga dapat mengenakan seragam putih biru. “Yuk, Celine. Kita cari kelas kita. Semoga sekelas ya.” Ajaknya.

Aku memandangnya, “Ini serius? Kita enggak bisa pulang saja?”

            Tapi terlambat, Sian tak mendengarnya. Anak lelaki itu terlalu bersemangat mencari namanya di daftar kelas 7 hingga meninggalkanku yang ingin pulang sendirian. Terpaksa aku mengejar Sian tanpa peduli dengan tatapan murid-murid lain.

            “Celine! Ke sebelah sini!” seru Sian saat aku tengah bingung mencarinya di kerumunan. Sian menarik pergelangan tanganku menjauh, “Kamu gak perlu lihat. Aku sudah dapat nama kita. Kita enggak sekelas.” Nada suaranya merendah. 

            “Maaf ya Celine. Dengan begini, aku cuma bisa menjaga kamu saat di luar kelas. Kita istirahat bareng, ya.” Ucapnya. Aku mengangguk lesu. Aku jadi takut masuk ke kelas.

            Sian menepuk bahuku. Menguatkanku.

                                                            ***

            “N-namaku Porceline Violetta. Aku dari homeschool. Salam kenal semuanya.” Ucapku dengan tergagap. Kakiku gemetar. Ini giliranku untuk memperkenalkan diri.

            Salah seorang anak mengangkat tangannya, “Kamu dari luar negeri, ya?”

            Aku terperangah, kemudian menggeleng. “Tidak. Sejak lahir aku di Indonesia, –maksudku di rumah saja.”

            “Lalu, apa sebutan untukmu kalau bukan bule?”

            Sebelum aku sempat menjawab, bu guru sudah menengahi. Beliau menjelaskan fenomena langka yang terjadi pada diriku. “Albino. Suatu kelainan genetik dimana penderita tidak memiliki pigmen melanin umumnya pada mata, rambut, dan kulit yang menyebabkan penderita tidak dapat terkena sinar matahari secara langsung. Kalian akan belajar itu di kelas 9 nanti.”

            “Bu guru, apa dia berbahaya?” ucap seorang anak menunjukku.

            “Albino tidak menular kecuali lewat keturunan. Jadi, tidak usah takut dengan Celine, ya. Dia bukan hantu. Bu guru harap kalian semua mau berteman dengannya.” Jelas wali kelasku. “Nah, Celine, sekarang kamu boleh kembali ke tempatmu.”

                                                            ***

            “Kamu sekelas dengan anak aneh itu? Siapa namanya?” aku mendengar bisik-bisik sekelompok anak di koridor. Rasanya ingin menangis saja. Aku tidak tahan ditatap terus-terusan oleh semua orang. Aku harus bertemu Sian secepatnya.

            “Seram ya, aku enggak pernah lihat manusia kayak dia sebelumnya.” Bisik sekelompok anak lain.

            “Apa bedanya sih sama bule?”

            “Kata bu guru beda.”

            Aku melangkahkan kaki lebih cepat. Setibanya aku di depan Sian, tangisku tak dapat ditahan. Buru-buru, Sian menenangkanku. “Sian! Harusnya kamu yang datang ke kelasku, dong. Aku enggak tahan mesti berjalan di tengah tatapan orang-orang!” kulampiaskan emosiku kepadanya.

            “Maaf, deh.” Raut wajahnya seperti menyesal. “Dengar, Celine. Mereka hanya belum terbiasa melihatmu. Ayo, dong, mumpung mereka belum kenal kamu, ciptakan kesan pertama yang baik. Senyum. Kalau kamu menangis begini, nanti kamu dianggap lemah. Mau?” ucapnya menyemangatiku.

            Aku tersenyum. Sian juga. “Aku kan sudah bilang aku akan membantumu mendapatkan teman. Nah, ayo ke kantin. Akan kutunjukkan caranya berteman.” Sian lalu menggiringku menuju kantin.

            Cukup lama kami mengantri, akhirnya nampan berisi dua mangkok bakso berada ditangan kami. Sian mengajakku duduk bergabung bersama tiga orang anak. Dua perempuan, dan satu laki-laki. Meja panjang itu masih menyisakan tempat untuk kami.

            “Hai, kami gabung di sini, ya?” Sian menyapa kepada tiga anak tersebut. Dapat dilihat dari raut wajahnya, mereka terkejut. Apalagi setelah melihatku. Tapi buru-buru mereka tersenyum dan mengizinkan kami untuk bergabung. 

            Sian mengulurkan tangan, “Kenalkan, aku Sian kelas 7B. Ini temanku, Celine kelas 7C.” Sian menunjukku. Satu persatu dari ketiga ‘teman semeja’ kami menyambut uluran tangannya.

            “Namaku Rahma, dan ini sepupuku, Willy. Kami kelas 7A.” Kata salah seorang anak. Kemudian, disambung oleh teman di sebelahnya, “Aku Syahra. Kita sekelas, Celine. Aku duduk di belakangmu.”

            “Benarkah? Kenapa aku baru tahu?” Aku sangat antusias mendengar Syahra adalah teman sekelasku. Itu berarti, Syahra orang pertama di kelas yang bersikap ramah kepadaku.

            “Itu karena kamu terus-terusan menunduk dan tidak memperhatikan sekitarmu.” Ucap Syahra. Seolah mengerti permasalahanku, ia melanjutkan, “Enggak usah takut. Kita semua murid baru kok. Bahkan, kami bertiga pun baru kenal tadi pagi. Iya kan, Rah? Will?”

            Saudara sepupu itu serentak mengangguk. Tak perlu waktu lama, aku mulai merasa santai dan menikmati obrolan bersama mereka. Sian dan Rahma banyak bercerita. Syahra dan aku terkadang menimpali. Sementara Willy, ia sibuk menghabiskan baksonya.

“Ngomong-ngomong, kalian kok enggak takut denganku? Padahal kan dari ujung kepala sampai ujung kaki aku berwarna putih. Seperti kuntilanak beruban.” Tanyaku.

            Hening sesaat, kemudian Sian tergelak. “Kuntilanak beruban katamu? Selama kakimu masih menapak di tanah, untuk apa kami takut?” canda Sian. Teman-teman baruku berseru setuju. Kurasakan hangat perlahan menyusup di hatiku.

Agustus 2017.


What do you think? Cerpen di atas merupakan cerpen asli karanganku yang kukirim untuk seleksi ARKI2017, tapi enggak terpilih. Jadi aku putuskan untuk membagikannya di sini. Banyak teman yang bilang, mereka jadi inget novel karya kak Ziggy Z berjudul White Wedding. Yup, harus aku akui bahwa inspirasiku berasal dari sana. Aku menciptakan tokoh albino karena terinspirasi dari novel tersebut. Aku suka semua karya kak Ziggy, her works are totally awesome and really out of mind. Kemudian, perihal tokohnya yang homeschooling dan menjalani ujian paket A terinspirasi dari sahabatku yang kukenal dari ARKI 2015, Alifia. Anaknya kece banget, atlet panahan yang jago main musik juga. Dia homeschooling dan kemarin ikut UN SMP paket B.

Ngomong-ngomong, aku perlu tau nih pendapat kalian tentang cerpenku di atas kayak gimana. Jadi, berikan kritik dan saran kalian di kolom komentar, ya.

Dan aku harap enggak ada yang menyadur cerpenku, deh. Karena segimana jeleknya karya ini, pun, karya ini adalah hak milikku. Hehe.

Thank youuuu ❤

Friends I Can Count On

Sekarang, aku sudah kelas 1 SMA dan rasanya sangat sangat hampa. Aku punya banyak teman, tapi enggak satupun dari mereka yang kurasa sanggup mendengar segala macam permasalahanku serta menerima plus dan minus sikapku.

Akhir-akhir ini aku sering mengalami yang namanya stres. Aku enggak berani mengartikannya dengan depresi ataupun hampir depresi. Karena aku sendiri enggak betul-betul mengerti tentang depresi. Apa yang aku alami adalah, begitu banyak hal yang kupendam, yang susah untuk kuungkapkan karena tidak ada yang bisa jadi pendengar segala permasalahanku, yang mengerti dan tidak menganggap remeh apa yang terjadi pada hari-hariku.

Aku punya banyak teman untuk seru-seruan bersama. Tapi aku enggak punya teman untuk sedih dan susah bersama. Aku merasa teman-teman di kelas kurang suka denganku karena sikapku yang suka ngambek. Aku juga enggak tau kenapa sekarang aku jadi suka ngambek. Please, jangan bilang ini salahku karena tingkat kesensitifan setiap orang berbeda-beda.

Disaat aku sedang ingiiin menceritakan suatu masalah, salah satu temanku membercandaiku dan tidak mau mendengarkan apa yang sangat ingin kuceritakan. Disaat aku panik dan sangat membutuhkan bantuan, tidak ada yang peduli, mereka hanya peduli pada nilai mereka karena tugas kelompok ada di tanganku.  Aku sangat merasa mereka akan menggerutu dan membicarakanku di belakang.

Contoh yang kutulis diatas mungkin terlihat remeh, tapi bagiku kejadian aslinya tidak seremeh itu. Mengertilah bahwa untuk menuliskannya saja sangat susah. Aku berusaha menjabarkan segala yang kurasakan tapi ketika ini tentang self problem, rasanya sangat susah.

Ketahuilah, setiap orang benar-benar butuh teman. Tapi enggak semua orang cocok untuk dijadikan teman.

Apa yang kualami saat ini membawa ingatanku kembali ke masa-masa kelam kelas 7 SMP. Di kelas, ketika jam kosong, aku hanya duduk di kursiku dan membaca wattpad sementara teman-temanku berkumpul bersama gengnya di sudut-sudut kelas. Enggak ada yang mengajakku mengobrol. Begitu terus setiap hari. Aku lebih nyaman berteman dengan teman di kelas lain. Sungguh, aku enggak mau kejadian tersebut terulang walaupun enggak sama persis. Enggak lagi-lagi.

Hingga kemudian, aku mulai menemukan teman untuk seru-seruan saat kelas 8, dan mempunyai apa yang disebut middle school bestfriend di kelas 9.

Tahun terakhirku di SMP penuh dengan warna. Hampir semua tipe drama yang ada pernah terjadi padaku. Aku pernah merasakan yang namanya dijauhi teman sekelas tanpa tahu penyebabnya, pernah merasakan musuh jadi sahabat, punya orang yang disuka dan orang yang dibenci di kelas, cinta beda agama, deket sama adik kelas, deket sama teman sekelas, gebetan deketin teman sendiri, dan bahkan patah hati pertamaku kurasakan saat kelas 9.

First love and middle school bestfriend kutemukan saat kelas sembilan. Forget about that guy who might be my first love, here in this post i just wanna talk about some of my friends who’s always there for me unconditionally and truly understand me.

This slideshow requires JavaScript.

I enjoy every moment with them. Mereka di atas adalah sahabat-sahabat yang mengisi hari-hariku di tahun terakhir SMP. Tempat dimana aku bisa dengan bebas mencurahkan segala isi hati, menangis tanpa malu. Mereka adalah orang-orang yang tahu keseluruhan lika-liku kisah cinta masa SMPku. Mereka adalah orang-orang yang ada untukku, sangat mengerti, dan sampai hari ini menjadi tempatku berkeluh kesah. Friends i can count on. Kind of friend i havent found in high school. Memories with them will never be forgotten. 

I couldnt express how much i love them in words. Million words wont be enough to tell. So i hope those pictures above shows you gold memories i have with them. 

 

Some Random Tips From Me

Haii udah lama banget ya sejak aku terakhir kali nulis di sini.

Nah, kali ini aku datang membawa tips ala-ala untuk kalian semua. Berhubung beberapa temanku nanyain aku gimana sih caranya buat lolos ARKI, gimana sih caranya agar cerita kita memenuhi kehendak juri, gimana sih caranya biar terpilih, dan semacamnya, aku terpikir untuk menuliskannya di blog. Biar keren kayak teman-teman penulis lainnya gitu, haha.

Well, aku sendiri juga sebenarnya enggak merasa pantas untuk memberi tips seperti ini. Belum cukup hebat untuk itu. Lolos ARKI2015 kemarin juga bagiku hanya hoki, karena aku gagal di tahun berikutnya. Tapi, yaudah lah ya, kita sharing aja. Aku nggak akan memberi judul postingan ini Tips Lolos ARKI, enggak. Karena kalau nanti aku sendiri enggak lolos lagi kan malu, whahaha.

Jadi, ini beberapa yang menurutku perlu diperhatikan, cekidottt

  1. Ide yang fresh dan kreatif

Buat para juri tertarik dengan ceritamu yang berbeda dari kebanyakan yang sudah ada. Ide bisa didapat dari mana saja, kok. Dari pengalamanmu sendiri, dari mengamati orang-orang di sekitarmu, permasalahan yang terjadi baru-baru ini, pertengkaran kecil dengan adikmu, bahkan dari tetes hujan yang membasahi jok kendaraanmu.

Kan banyak tuh yang bisa tiba-tiba jadi puitis hanya gara-gara hujan turun atau secangkir kopi, hehe. Tapi, kalau bisa jangan ikut-ikutan ya. Karena hujan dan kopi sekarang udah mainstream banget. Aku aja bosen kalau nemu tulisan yang terinspirasi dari kedua hal tersebut. Hujan identik dengan kenangan. Kopi identik dengan dia masa lalumu. Senja identik dengan memori indah bersamanya. Aduh, aku kok jadi ngelantur gini, ya?

Intinya, bikin gebrakan baru! Penulis dituntut untuk kreatif, hehe. Mungkin kamu bisa memulai dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, kamu sudah punya kerangka karangan. Cerita tentang A yang enggak sengaja menginjak buntut kucing kemudian kakinya lecet dicakar oleh si kucing.

Coba berpikir bagaimana kalau tokoh utamanya diganti jadi si kucing? Bagaimana kalau melihat cerita dari sudut pandang si kucing, bagaimana kalau sedang asyik berleha-leha di suatu sore kemudian ada yang mengganggu santaimu dengan menginjak ekormu? Parahnya lagi, yang menginjak badannya besar dan menggunakan high heels, waduh langsung kabur ke rumah sakit kucing, deh!

2. Pastikan apa yang kalian tulis sesuai dengan tema

Ini kudu banget. Gak mungkin dong ya kalau temanya perbedaan, yang kita tulis malah tentang persahabatan. Bisa-bisa, naskahmu berakhir sebagai tumpukan kertas berdebu karena juri males baca. Aint nobody got time for that, kalau kata meme-meme. Hehehe. Juri sibuk mencari naskah terbaik yang sesuai tema dan menarik, tentunya. Jadi pastikan naskahmu harus sejalan dengan apa yang ditentukan.

Tapi ngomong-ngomong, kita sendiri juga harus paham betul dengan tema yang diberikan. Kalau paham, nantinya akan mudah mendapatkan ide dan menuliskannya.

3. Cara penyampaian atau gaya bercerita

Ini juga penting, cara kita menyampaikan pesan lewat sebuah cerita. Gimana ya nyebutnya? Gaya bercerita, deh. Setiap orang punya gaya bercerita yang berbeda-beda, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan dan bacaannya. Sesuai nyamannya kamu aja, ya. Kalau kamu nyaman bercerita dengan santai seperti ini, kamu tulis seperti ini. Tapi kalau menulis cerpen menggunakan gaya bahasa yang santai, sih, menurutku kurang. Walaupun unik, tapi biasanya lebih tertarik dengan gaya bahasa yang.. gimana ya, lebih mendalami gitu, mungkin? Enggak harus baku dan puitis, kok. Asal mudah dimengerti.

Ada juga orang-orang yang terbiasa menulis dengan penuh majas. Puitis, baku, penuh makna dan diksi yang bagus di setiap kalimatnya. Enggak apa-apa, asal kita sendiri benar-benar tahu artinya. Jangan cuma bisa mencari bagusnya dan asal berima saja, ya. Kita sendiri harus benar-benar paham apa yang kita tulis dan usahakan orang lain yang membacanya juga mengerti.

Sst, tapi cara penyampaikan dan alur yang unik punya kemungkinan beruntung lebih besar, lho.

4. Sering-sering baca buku

Bukan benar-benar penulis kalau enggak suka baca buku juga. Harus sering-sering baca buku untuk memperbanyak kosakata. Kita juga bisa belajar menyusun alur yang unik dengan mengamati cerita di buku, loh. Nah, untuk lomba ARKI sendiri, usahakan untuk sering membaca buku terbitan Mizan, agar tahu cerita seperti apa sih yang masuk kriteria mereka. Begitu yang aku dapat dari menonton video Tips Lolos ARKI di Youtube. Yuk, ditonton juga.

5. Kirim sebelum deadline.

Mungkin kalian mikir, “Ah ya iyalah Sal, kalau itu sih aku juga tahu.”
Tapi serius, ini penting. Sebagus apapun cerita kalian, enggak akan bisa lolos kalau kirimnya setelah deadline. Jadi, catat baik-baik tanggal deadlinenya dan jangan sampai kelewat, ya. Kalau bisa, sih, naskah ARKInya dibikin sekarang, kan temanya sudah ada, tuh. Kirimnya jangan mepet-mepet deadline, agar kalau nanti ada ide baru, kamu bisa garap lagi, dan takutnya enggak sempat ngirim. Ya siapa tahu aja kamu sibuk banget menjelang deadline.

6. Jangan lupa berdoa.

Kalau semuanya sudah beres, yang perlu kamu lakukan setiap saat sebelum pengumuman adalah berdoa. Tuhan pasti akan mendengar doamu, kalau kamu bersungguh-sungguh.

Percuma, dong, sudah susah payah menulis, kalau enggak dibarengi dengan doa? Berharap lolos ke siapa? Ke juri? Ke Tuhan, dong. Agar hati Juri terketuk saat membaca naskahmu, hehehe.

Nah, mungkin segitu dulu aja ya random tips dariku. Semoga bisa bermanfaat. Yuk, semangat nulis buat ARKI! Jangan takut gagal, dicoba dulu aja. Sama-sama berjuang, ya.  Semoga kita semua beruntung dan berkesempatan untuk bertemu di ajang sekeren itu, ya! ❤

See you @ ARKI 2017!

Salam The Next Creator!

Lots of Love,

Salsa.