random aja

if you ever forget how much you really mean to me, everyday i will remind you.

Hari ini ada kuliah pengganti. Rasanya capek dan beban banget. Tugas yang mengalir deras berbanding lurus dengan tangisan kelelahan. Di tengah jeda mengerjakan tugas yang seakan mengejar, aku melihat lagi video IGTV yang pernah kubuat di tahun lalu. Ada video tentang Juliyanti, sahabatku saat SMP. Ada video tentang Ina, sahabatku saat SMA. Sedikit banyak menunjukkan gambaran kehidupanku di masa lalu. Menyadari betapa aku yang sedang rebahan sekarang adalah sosok yang sudah berbeda dari yang ada di video itu, aku sedikit meneteskan air mata. Aku yang sebentar lagi masuk usia 19 tahun (usia yang menurutku sangat cantik), sudah menjelma jadi lebih dewasa dalam berpenampilan dan berkepribadian, sedang menata kewajiban tugas-tugas kuliah, dikelilingi lingkungan baru, sangat jauh dari diriku yang tertangkap memori di situ. Rasanya kayak udah jauh banget, rasanya kayak.. ternyata aku sudah melewati banyak hal dan ternyata aku sudah jadi dewasa. Aku sudah melepas banyaakk sekali yang ada pada diriku di masa lalu, namun satu hal yang kutahu masih tetap sama adalah ketulusanku.

Kalau saja aku bisa jadi teman-temanku selama satu minggu, aku mau. Aku ingin tau seperti apa rasanya jadi temanku. Ikut merasakan keterharuan atas afeksi yang sering kali tiba-tiba, dan ketulusan yang kuberi pada mereka. Aku pengen deh punya teman seperti diriku sendiri.

Hari ini, ada momen berkesan buatku. Tadi siang semua orang lagi kecapean, aku nanya sama Ocha, “Ca, mau kopi kenangan ga?”, tapi satu menit kemudian Ocha malah balik nanya, “Bil alamat lu dimana?” Rupanya kami punya niat yang sama.

Setelah itu, aku mengirim foto bertuliskan “Lets be bestfriend” kepada Ocha, random aja tiba-tiba. Ocha kesel karena udah nganggep aku sahabat dari lama tapi aku malah baru ngajakin. Hahaha. Rasanya lucu aja, berasa kayak anak SD padahal udah kuliah. Nggak tau kenapa, Ocha matches my energy banget. Aku kayak udah kenal lama sama dia. Seneng aja.

Orang-orang bilang, hati-hati sama pertemanan di kuliahan. Mungkin karena aku belum pernah offline, aku belum merasakan kekejaman pertemanan di masa kuliah. Tapi aku bersyukur punya temen-temen yang baik-baik banget, di lingkunganku yang dulu dan di lingkungan yang sekarang. Meski begitu, lagi-lagi karena ketulusanku, aku menganggap teman-teman kuliah seperti teman-teman SMAku. Aku mengamati dan mengenali mereka dengan caraku. Aku nggak akan langsung mengatakan mereka sahabat kalau mereka nggak menganggapku seperti itu juga. Aku juga nggak akan terburu-buru. Makanya, setelah menjalani pertemanan selama satu setengah semester dengan Ocha, aku akhirnya mengajak bersahabat. Biar nggak cuman aku doang yang nganggep, biar labelnya nggak sepihak. Hahaha. Lucu aja.

Kalau ingat gimana aku nyaman dengan teman-teman kuliahku, aku jadi ingat teman-temanku di timeline kehidupanku sebelum sekarang. Call me susah move on, iya, bener banget. Aku sayang banget sama banyak orang. Aku tulus banget sama banyak orang. Beruntung nggak sih jadi temenku? Beruntung nggak ya?

Beberapa hari yang lalu, pernah ada seorang teman yang nanya sama aku, “Kak, di Kalsel banyak chinesenya ya? soalnya aku liat temen Kak Bila banyak chinesenya”. Aku nggak kaget sih ditanya begitu, karena aku sadar banget dari dulu sampai sekarang aku lebih gampang bersahabat dengan teman-teman non muslim. Aku cuma kaget ada yang memperhatikan kehidupan pertemananku sedetail itu aja hahah. Menilik ke kehidupanku sebelum sekarang, saat SMP aku bersahabat dengan Juliyanti, Widya, dan Nikita yang beragama Kristen. Aku bahkan punya foto saat aku sakit di UKS sekolah dan semua teman-teman yang menjengukku di waktu istirahat adalah teman-teman Kristenku. Di les-lesan, aku berteman baik dengan Ivena, Chesil, dan Stephanie yang juga Protestan dan Katolik. Di SMA, sahabatku paling dekat adalah Cang Nai seorang Budha. Saat kuliah, aku bersahabat dengan Vanessa yang merupakan seorang Yehuwa. Keren banget ya aku? Padahal orang tuaku masih sangat konservatif terhadap agama lain, padahal sebelumnya aku bersekolah di SD swasta Islam. Menyadari hal ini rasanya kayak wow aja. Aku keren banget.

Sebelum nulis ini, aku dengerin lagu Count On Me – Bruno Mars. Ada lirik yang aku suka banget, “if you ever forget how much you really mean to me, everyday i will remind you.” Relate banget sama aku, bahasa cintaku adalah lewat tulisan, aku senang mengapresiasi orang lain. Karena aku juga senang diapresiasi dan beberapa alasan pribadi lainnya tentang ini. Aku senang berkata jujur dan tulus, berbuat baik sama orang lain, nulis surat cinta untuk teman-temanku atau bahkan bikinin video. Aku sayang sama banyak teman-temanku, terutama yang juga sayang sama aku. Aku suka banget sifatku yang ini. Tapi kenapa ya, kenapa kalau kita dikasih kehidupan pertemanan yang baik, kehidupan percintaan kita suka berjalan sebaliknya? Wkwkwkw sumpah random banget.

Ceritera Agustus dan 2020

“Someday you will look back on all the progress you made and be so glad you didn’t give up when you felt like that was your only option.”

Hai, sudah lama aku nggak melaporkan kabarku di sini. Hari ini sedang libur, minggu tenang sebelum ujian akhir semester dilaksanakan. Kegiatan belajar mengajar daring selama satu semester sudah berakhir minggu lalu. Surprise! Aku sudah kuliah. Tebak di mana? Di IPB! Siapa yang menyangka?

Bahkan aku pun masih nggak percaya.

Aku nggak pernah sebegitu menginginkan IPB selain saat ditolak SBMPTN dan pasrah pada universitas mana saja yang mau menerimaku lewat jalur mandiri. Sebelum itu, nggak pernah sama sekali di pikiranku membayangkan Bogor, IPB, dan kehidupan di sana. Aku sangat asing dengan suasana Jawa Barat, mengingat hatiku tertuju pada bagian lain pulau Jawa. Diterima di IPB University lewat 19 dari 25 soal TPS yang kukerjakan tanpa belajar dan tiba-tiba saja IPB menduduki peringkat nomor satu kampus terbaik versi Kemendikud, rasanya.. nggak ada. Heran. Kayak.. “apa sih yang barusan terjadi?”. Seperti nggak nyata. Ini karena aku ternyata pinter, hoki, atau takdir, sih?

Belakangan ini aku super sibuk banget. Sejak diterima di Sekolah Vokasi IPB tanggal 23 Agustus, aku sudah nggak bisa tiduran seharian. Mengurus daftar ulang, penugasan pra-MPKMB yang banyak banget, MPKMB yang melelahkan, kemudian libur satu hari lalu langsung memulai perkuliahan dengan jadwal senin yang padat (5 mata kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam) membuatku nggak sempat menulis tulisan bulan Agustus, yang kemudian berlanjut hingga akhir tahun tanpa menulis blog secara berkala.

Berbicara tentang itu, Agustus 2020 adalah bulan yang cukup sulit untukku. Mulai dari dicut-off oleh salah satu temanku tanpa tahu alasannya, nggak lolos SBMPTN, ditolak tiga universitas idaman, sakit demam yang nggak jelas dan nggak enak banget, sampai akhirnya diterima di IPB di pilihan ketiga. Aku nggak tahu harus sedih atau bersyukur saat membuka pengumuman. Pilihan ketiga yang nggak pernah menarik untuk kubayangkan, yang kuisi tanpa niat dengan sungguh karena (berani terjun ke diploma) hanya (demi) mengincar prodi pilihan pertama, malah menjadi takdirku. Kubilang takdir karena hanya itu yang menerimaku. Aku termasuk beruntung masih lolos di pilihan ketiga, sedikit lagi saja aku gagal di mana-mana.

Rasanya campur aduk. Tentu saja aku patah hati karena ditolak dua kali oleh kampus yang selalu membuatku merinding mupeng, sedih karena aku gagal di SBMPTN, pasrah dan senang akhirnya diterima (saat itu masih belum sadar kalau.. aku akan kuliah di IPB!), kecewa karena bukan jurusan yang kumau, lalu berusaha mengikhlaskan semua yang terasa sangat cepat terjadi di bulan ini. Hal paling besar yang mati-matian kuikhlaskan adalah mimpiku berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, khususnya di UGM. Hal kedua adalah mengikhlaskan Jogja dan bayangan yang sudah kuciptakan sebelumnya. Hal ketiga adalah.. jurusanku sekarang.

Satu tahun bertempur berlawanan arah–memperjuangkan soshum demi linjur–nggak membuatku sampai ke tujuan yang kuinginkan. Takdir malah membawaku berbalik, merasa diriku sanggup untuk kembali terperangkap dalam jurusan saintek. Meski sejujurnya aku berminat pada pangan–jurusanku sekarang–, rasanya berat untukku mengikuti mata kuliah Fisika, Kimia, dan Biologi yang diwajibkan pada semester satu. Berat untukku menerima bahwa aku nggak belajar Komunikasi, bahwa aku belajar tentang Jaminan Mutu Pangan dan aku nggak akan kerja di media. Alur hidup yang sangat berlainan dengan apa yang sudah kurancang, seperti benang jahitan yang longgar yang tiba-tiba ditarik lurus dan kencang.

Hingga kini aku masih terus mencari alasan untuk lebih mensyukuri apa yang diberikan. Semua orang tahu aku punya minat besar pada bidang soshum, bahkan aku sempat menuliskan “social soul trapped in science class” pada profil instagramku tahun lalu. Namun tanpa disangka, diriku di minggu ketiga kuliah sudah nggak berpikir untuk kembali mengejar yang bukan takdir. Bisa dibilang aku mulai menikmati apa yang sedang kujalani.

Ada cerita menarik yang maknanya dapat kupetik dibalik kejadian ini. Pernah dengar gak sih kalimat kalau kita lolos di pilihan pertama itu keinginan kita, tapi kalau kita lolos di pilihan kedua itu pilihan Allah?

Hal yang mirip-mirip terjadi padaku. Aku lolos di pilihan ketiga. Memang bukan jurusan yang kuinginkan, tetapi sedikit banyak kuterima bahwa itulah yang terbaik untukku. Meski di awal sempat ada sedikit sedih, sekarang aku cukup mengerti dan bersyukur karena bukan doaku yang terkabul, tetapi doa ibuku. Mama senang sekali aku masuk jurusan ini. Nggak munafik kalau aku juga jadi ikut senang, dan ternyata.. hey, aku bisa melewati tiga minggu tanpa menangisi tugas-tugasku. Mungkin karena ridho orangtuaku, ya?

Kalau mengingat perkenalanku dengan IPB dan sekolah vokasinya, aku seperti memang ditakdirkan di tempat ini. Tepat satu tahun yang lalu, September 2019, aku kembali dipertemukan dengan sahabat lamaku yang sempat lost contact bertahun-tahun sebelumnya. Hanya karena aku nggak sengaja menemukan blog lamaku. Pada tahun 2014, aku pernah menulis deskripsi tentang orang-orang yang dekat denganku di dunia maya dan nama Rani tertera di sana. Aku jadi teringat kalau masih saling follow dengan Rani di instagram, betapa waktu sudah lama bergulir sejak saat itu dan aku merindukannya.

Singkat cerita, aku kembali berhubungan dengan Rani dan menjadi semakin dekat hingga berbagi cerita setiap hari. Bertahun-tahun sibuk menjalani kehidupan nyata tanpa bersentuhan lagi dengan teman-teman dunia maya, berbincang dengan Rani membuatku seperti kembali menghidupkan sisi diri yang sudah lama tersembunyi. Aku jadi menumbuhkan karakter baru, melatih berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia secara lisan lagi, beradaptasi dengan lingkungan Jabodetabek yang jauh dari keseharianku, dan tentunya menjadi orang yang lebih baik.

Pada bulan Mei, Rani diterima di Sekolah Vokasi IPB program studi Komunikasi. Sejak itulah aku mulai mendengar tentang IPB dan mengetahui keberadaan sekolah vokasinya. Karena aku bucin Komunikasi, aku penasaran dengan mata kuliah yang akan Rani pelajari di Komunikasi SV IPB. Mata kuliah yang dijadwalkan sangat menarik untukku hingga aku mencari tahu lewat jalur mana lagi aku bisa bergabung ke sana. Rupanya ada UTMBK. Akhirnya, aku memberanikan diri meminta izin kepada mama untuk mencoba UTMBK SV IPB. Tentu saja, kuliah diploma sangat menjadi pertimbangan untuk lulusan non-SMK sepertiku.

Kalau bukan karena Rani, saat ini aku mungkin berada entah di mana. Bisa saja aku tetap terkurung di kota ini dan nggak akan merantau ke Jawa. Kalau bukan karena aku menghubungi Rani lagi, kalau bukan karena aku membaca-baca tulisan lama, kalau bukan karena kedekatanku dengan Rani, nggak akan pernah terpikirkan olehku berkuliah di vokasi. Kalau bukan karena satu tahun yang lalu garis takdirku dengan Rani bertemu kembali, aku mungkin nggak akan jadi mahasiswi IPB tahun ini. Seperti memang sudah ditakdirkan, aku dapat mengaitkan rangkaian ceritanya. Dimulai dari tahun 2012 ketika aku berkenalan dengan Rani untuk kemudian menuliskan namanya di blog pada tahun 2014, lalu tulisan itu akan kubaca lagi pada 2019 dan membawaku kembali bersahabat dengan Rani yang akan mengajariku banyak hal tentang dunianya di sana selama satu tahun agar ketika tahun 2020 aku menjadi mahasiswa baru di IPB bersamanya aku tidak akan begitu kagok dengan budaya jabodetabek. Lucu ya.

Selain hal-hal yang saling berkaitan tersebut, ada satu lagi yang memperkuat keyakinan bahwa aku memang ditakdirkan di sini. Dulu, tahun 2013, pertama kali aku ke Bogor adalah ketika mengikuti acara Konferensi Anak Indonesia 2013 yang salah satu rangkaian acaranya adalah mengunjungi Laboratorium MBRIO di Kota Bogor dan makan siang di Botani Square. Kemudian, di tahun kedua SMA, aku sempat tertarik pada jurusan Teknologi Pangan namun merasa tidak mampu mewujudkannya. Siapa sangka aku akan kembali lagi ke Bogor menjadi mahasiswa Pangan yang salah satu gedung kampusnya berdekatan dengan Botani Square?

Kehidupan menjadi mahasiswa baru di tengah pandemi lumayan mengesankan. Hanya dalam tiga bulan pertama berkuliah, aku sudah merasa menjadi sosok yang berbeda. Kualitas diri dalam hal belajar, karakter, dan pertemanan sangat meningkat dan membuatku menjadi sosok yang lebih percaya diri. Kesulitan dalam mengikuti perkuliahan dan drama-drama di dalamnya tentu mewarnai cerita maba, rasa ingin menyerah pun pasti ada, namun aku bersyukur dapat bertahan setidaknya sampai sekarang.

Aku menemukan teman-teman yang peduli dan saling menyayangi, membantu seperti saudara sendiri, dan mau menemani bersama-sama melewati susah senang situasi baru. Aku menemukan teman-teman yang baik, membuatku lebih percaya diri, dan merasa dihargai. Aku menemukan keluarga baru yang menerima dengan hangat dan nyaman meski perjumpaan tak pernah terwujudkan. Ada Lubbiya, Vanessa, Adinda, Ima, Layla, Rai, Qaani, dan Taufan yang membersamaiku di semester pertama berkuliah.

Di tahun ini, aku dikelilingi banyak cinta yang luar biasa. Dari teman-teman di kehidupan nyata dan maya, saat aku berulang tahun, saat aku merilis podcast, akan melaksanakan UTBK, gagal di SBMPTN, diterima IPB, menjadi narasumber podcast Universitalks, dan dalam momen-momen bermakna lainnya. Di pertengahan tahun, Ina pernah menyemangatiku dan mengirim quote yang kusematkan di awal tulisan ini, “Someday you will look back on all the progress you made and be so glad you didn’t give up when you felt like that was your only option”. Kalimat tersebutlah yang mengawaliku menulis tulisan ini.

2020 memang bukan tahun terbaik, tapi setidaknya lebih baik dari 2018 dan 2019-ku. Dua tahun lalu adalah tahun terburukku, dan tahun kemarin dipenuhi perjuangan menerima diri. Tahun ini aku sudah bisa berbicara tentang penerimaan terhadap diri sendiri, sudah lebih percaya diri, sudah jadi versi terbaru dan terbaik yang kumiliki saat ini. Sama seperti 2019, tahun ini juga merupakan tahun perjuangan. Banyak hari-hari gloomy dan happy yang terjadi, namun tak pernah sekalipun aku berpikiran ingin mati. Tidak seperti tahun lalu di mana aku sudah kembali ingin mati sehari setelah ulang tahunku, tidak seperti tahun lalu yang dipenuhi rasa sesak dan takut, tidak seperti tahun lalu yang membuat langkahku tertatih; berjuang membalikkan setiap lembarnya; dan hampir kehabisan napas mengikuti alurnya. Tahun ini tidak bebas dari lika liku namun cukup stabil dibanding tahun lalu.

Di tahun ini juga, aku berkenalan dan belajar banyak sekali dari orang-orang hebat yang kutemukan di dunia maya. Aku menemukan Tisya yang sejak lama kucari keberadaannya, sedikit berbincang dengan Abel di malam tahun baru, berdiskusi dengan Hana dan teman-teman lainnya, lulus dari SMA, berkenalan dengan Khansa, Syifa, Dey, Giava, dan masih banyak lagi little bless yang sangat berharga. Meski kehilangan beberapa teman lama, aku berkenalan dengan orang-orang baru dan menjadi mengerti bahwa hidup memang mengalir begini, di setiap langkah selalu ada yang datang dan pergi. Aku belajar merelakan mimpi terbesar, menerima kenyataan yang digariskan, dan mengetahui bahwa menjadi dewasa berarti mengikhlaskan jalan yang berbeda dengan kawan. Lebih mengerti diri sendiri dan orang lain, belajar banyak sebelum siap berkomitmen, juga fokus pada diri sendiri. Sepanjang tahun ini, meski memiliki orang yang kusuka dan sudah merelakannya, aku tidak menjalin hubungan spesial dengan siapapun. Ini adalah tahun pertama aku sendirian setahun penuh sejak pertama kali pacaran 6 tahun lalu.

Tahun ini, dengan jatuh bangun yang kualami, teman-teman yang masih membersamai, pandemi yang memberi waktu untuk memperbaiki diri, inilah hasilnya. Mengutip dari quote yang pernah kutemukan, “The greatest project you will ever work on is you”.

Selamat tahun baru, teman-teman. Semoga bertemu di tahun 2021 dengan bahagia dan menikmatinya.

Part of Growing Up

“I miss her a lot. She taught me a lot. She changed me a lot. Meskipun begitu, ada hal-hal dalam hidup yang memang harus dilepaskan.. karena sudah nggak baik untuk diri sendiri, so i let go of her. Kehidupan, diriku, dirinya, juga udah nggak lagi sama. So i moved on. I’m glad to know her in my previous life-chapter.”

Mengetik kata-kata tersebut tadi pagi rasanya setengah nggak percaya. Rasanya menyakitkan, tapi ini bukan sekadar pilihan. Ini takdir yang pernah kupaksakan untuk kuterima, dan akhirnya kuterima.

Hari ini Tyas berulang tahun. Meski samar-samar dan sering tertukar, aku masih ingat tanggal lahirnya. Tadi malam selesai mengerjakan tugas, aku sengaja menunda tidurku beberapa menit untuk menunggu pergantian hari. “Sudah hampir jam 12, sekalian saja, mumpung belum tidur”, pikirku.

Aku menyusun kata sedemikian rupa agar tidak terdengar berlebihan. Aku mendoakannya dengan tulus karena kami pernah berteman. Paginya, aku melihat balasan Tyas dan tersenyum. Tyas bilang, terima kasih aku sudah ingat ulang tahunnya. “It means a lot to me”, katanya.

Aku membuka story-nya. Aku senang melihatnya bahagia, dikelilingi banyak cinta dari lingkungan sekitarnya. Selalu begitu setiap tahunnya. Tyas adalah teman yang luar biasa. Rasanya agak sedih karena aku sangat merindukannya tapi aku nggak bisa bilang padanya. Rasanya agak sedih karena aku sangat merindukannya tapi aku memilih untuk melepaskannya.

Aku membuka arsip story instagramku, ingin melihat kalau-kalau aku pernah mengucapinya tahun-tahun lalu. Rupanya, 2019 aku pernah merayakan ulang tahunnya, di close friend dan tanpa pernah ia tahu, tentu saja. Saat itu, aku mengunggah video-video kami tahun 2018 dan mengucapkannya ulang tahun dengan setulus yang kurasa. Tahun ini, aku mengunggah kembali ‘perayaan’ tersebut. Melihat potret kebersamaanku dengannya, rekaman menyanyinya, rasanya sedih tapi aku sadar kalau aku sudah berhasil melangkah jauh dari sana, pada akhirnya.

Aku teringat banyak hal tentang aku dan Tyas. Saat pertama kali ia memboncengku dan kami digoda orang aneh di jalan, saat ia hampir tiap hari menghabiskan waktu di rumahku, saat perakaju, saat ia memintaku menontonnya menyanyi di entah acara sekolah yang mana tahun 2018 tapi tiba-tiba aku berhalangan hadir, saat setahun kemudian aku menontonnya menyanyi di acara ulang tahun sekolah dan menangisinya dari jauh, saat aku dengan sok beraninya mengajaknya bertemu dan membicarakan masalah kami.

Lalu aku teringat betapa kata-katanya sangat menyakitiku, betapa jahatnya hingga aku terpuruk waktu itu. Aku teringat bagaimana aku melewati semua ini, teringat bahwa semua orang berkata tinggalkanlah hal yang nggak baik untuk dirimu. Aku teringat ketika aku menyadari dan memahami bahwa semua yang terjadi antara kami punya maksud dan alasan dan Tyas.. sejahat-jahatnya ia, ia pernah bermaksud baik pada awalnya. Aku teringat ketika aku berhasil menerima kejadian menyakitkan tersebut. Aku teringat ketika aku berhasil berdamai dengan takdir itu.

Semuanya kurangkum dan aku masih menganggap Tyas, dengan segala kabar yang kudengar tentangnya, adalah teman yang baik. Teman yang baik, hanya saja nggak lagi cocok denganku. Teman yang baik, tapi lebih baik untuk jadi seperti ini. Semuanya kurangkum dan membawaku pada pemikiran tadi pagi bahwa ada hal-hal di dalam hidup yang memang harus kulepaskan, nggak peduli kalau aku masih menyayanginya. Aku sudah berjalan sejauh ini dari masa-masa menyakitkan itu dan nggak mungkin kembali seperti orang bodoh pada yang menyakitiku hanya karena aku terlalu baik dan masih merindukannya. I’ve learned to accept that life is going on and that i have moved on. I gotta keep going on. No matter how priceless and irreplacable our memories are, it shouldn’t make me go back drowned.

Aku sudah melangkah jauh dan itu tidak mudah. Mengutip dari twit Ninda yang kusuka dan sedikit kumodifikasi, “Turns out everything, suffering and delight, never lasts forever. The fact is nothing can ever really be replaced. And the thing is I never forget my past, I’m just moving on and letting go. Tanpa mereka di masa lalu, aku ga bakal bisa di posisi yang sekarang. I highly appreciate them even if they’re no longer in my life. Even if it’s them who left. Parting ways is inevitable, but it never reduces the price; the memories are still priceless.”

This is a part of growing up.

Moving On Is Inevitable

What is ‘move on’ actually?

It’s either to leave the place where you are staying and go somewhere else or to stop something and start a new activity instead. It is also means to accept that a situation has changed that you should get ready to deal with new experiences.

Akhir-akhir ini aku sering berkontemplasi tentang kehidupan yang kujalani, betapa ternyata move on (sampai saat ini belum ada padanan kata move on yang cocok dalam bahasa Indonesia) adalah proses yang selalu terjadi dan tidak dapat dihindari. Tidak selalu berarti melupakan, tetapi selalu berkaitan dengan perubahan.

Di titik ini, titik ketika aku seakan berada di dalam sebuah film dengan sudut pandang orang ketiga yang dapat melihat semua perubahan yang perlahan terjadi padaku dan orang-orang di sekitarku, aku jadi sedikit menengok ke belakang. Aku mengerti aku telah melewati puluhan bahkan ratusan kali proses move on, baik yang kusadari maupun yang nggak kusadari.

Namun, meski telah berulang kali jatuh bangun dalam kewajaran tersebut, aku tetap enggak terlatih menerima perubahan sepenuhnya. Aku bukan orang yang konservatif, tenang saja, aku hanya senang mengenang sesuatu yang.. mungkin telah hilang. Di usiaku sekarang, aku senang membuat diriku merasa tertantang untuk bisa survive di situasi yang baru, tetapi nggak jarang aku termenung dan menangis karena shock dengan keadaan yang perlahan enggak lagi sama. I wonder if this is normal, does everyone feels the same when they are in my age?

Mungkin karena ketika aku sedang berada di fase perpindahan (dan pengangguran) dari anak sekolahan ke dunia baru yang nggak bisa ditanggapi main-main ini situasinya sedang terjadi pandemi. Mungkin jika tatanan kehidupan berjalan seperti sebelumnya, aku nggak punya banyak waktu untuk merenung dan melihat berbagai perubahan yang biasanya terjadi tanpa disadari. Mungkin jika aku mengalami fase ini di tahun lalu atau tahun depan, aku sekarang sudah ada di Jogja, teman-temanku sudah di sudut lain di dunia, dan kami sudah nggak punya kesempatan untuk menangisi perpisahan.

Saat ini aku sedang menunggu pengumuman yang akan membawaku entah ke mana. Salah satu sahabatku, Ina, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan dirinya yang akan berangkat menuntut ilmu di Negeri Jiran akhir bulan nanti. Itu artinya sebentar lagi aku akan dihadapkan dengan perpisahan. Sahabatku yang lain, Cang Nai, juga sudah memasuki masa orientasi. Membayangkan aku dan dia tidak lagi satu sekolah dan tidak akan berada di bawah institusi yang sama membuatku sedikit tidak percaya. Pelan-pelan, aku akan kehilangan teman-teman, kebersamaan, dan rutinitasku selama ini. Meski semuanya akan terganti dengan yang baru nanti, rasa-rasanya aku terlalu.. ah aku nggak tahu mendeskripsikannya bagaimana. Rasa takut, nggak siap, penasaran, dan excited bercampur jadi satu menemani hari-hariku menunggu kepastian perkuliahan.

(Oh, astaga, sebenarnya hati kecilku juga merasa sedih tentang kehidupan yang terus berjalan. Meninggalkan Banjarmasin dan orang-orang di dalamnya, cinta pertama dan mantan-mantanku yang aku nggak tahu apakah garis takdir kami akan berpapasan kembali di masa depan nanti, kehidupan Salsa sebagai anak sekolahan dan semua kenangannya, sahabat-sahabat yang mungkin akan semakin tak terjangkau, jalanan yang biasa kususuri dengan berbagai perasaan, tempat-tempat yang kuhapal suasananya, keluarga, dan memori-memori di kehidupanku yang nggak sempat kutuliskan.)

I should move on cause life gotta go on, right?

I should accept that my life will change–the situation has slowly changed—and i should prepare myself to deal with.. something more serious, some new experiences a.k.a new life. It’s scary, honestly. But that’s life, we have no choice than to survive.

Banjarmasin, 30 Juli 2020.

hasil karya aku yang senang melebay-lebaykan sesuatu.

Beranjak Dewasa

Jumpa aku di sana, entah di mana yang aku maksud..

Kereta ini tak gentar terus melaju, aku takut..

Nadin Amizah — Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat

Aku selalu senang ulang tahun, tapi juga selalu ketakutan tentang itu. Selama ini, aku percaya momen paling nyata untuk merasakan limpahan cinta adalah ketika seseorang berulang tahun dan meninggal dunia. Itulah mengapa aku selalu menantikan hari ulang tahunku serta sering terbayang bagaimana jadinya jika aku tiba-tiba meninggal dunia, karena di saat-saat itulah seperti pusat perhatian tertuju padaku.

Di saat yang bersamaan dengan keantusiasanku menyambut hari ulang tahun, sejujurnya aku juga sangat ketakutan. Menjelang tanggal 12 Mei setiap tahunnya, aku selalu takut menjadi dewasa. Bukan tentang kematian yang semakin mendekat, tapi tentang bertambah besarnya angka penanda usia. Aku takut bertumbuh dewasa, takut dengan hal-hal yang tidak lagi sama, beban-beban yang ditimpakan, serta tuntutan untuk tak jadi manja. Aku takut pada hal-hal yang bahkan nggak tergambar jelas di kepala. Padahal, hari-hari setelah ulang tahunku–hari-hari yang kumaksud–semuanya masih abu-abu.

Bulan Mei sudah selesai. Teringat kemarin aku sempat mengucapkan kalimat panjang sebagai penenang untuk Ratu yang baru memasuki usia legalnya. Sebagai orang yang sudah legal satu tahun lebih dulu, aku memberitahu Ratu bahwa menjadi 17 nggak semenakutkan yang ia pikirkan.

Kubilang pada Ratu, “Jangan takut sama dunia, semua yang belum siap kamu hadapi gak akan datang dengan serta merta. Setiap harinya kamu berproses dan mendewasa, hal-hal dalam bayanganmu gak akan semengagetkan itu. Baru jadi 17 gak akan langsung mengubah kamu, hari ini dan esok-esok gak usah ditakuti, cuma pertambahan angka penanda usia. Kamu tetap Ratu yang kemaren, tetap Ratu yang begini adanya, tapi nanti kamu bakal jadi lebih dewasa lagi seiring berjalannya waktu. Prosesnya emang lamban makanya gak akan terasa, buktikan aja nanti saat mendekati 18, kamu udah bukan orang yang sama dengan kamu di hari ini. Prosesnya gak terasa, Ratu. Gak akan terasa kamu tiba-tiba di ujung sana nantinya. Gapapa. Gak usah takut ya. Perlahan-lahan juga lewat, perlahan-lahan juga sadar. Aku selalu gitu setiap mau ulang tahun, selalu takut, tapi setelahnya ternyata gak semengerikan yang kupikirkan. Semuanya menghampiriku perlahan dan aku pun berproses setiap harinya, jadinya gak akan begitu kaget dengan situasi yang baru.”

Sebagai yang satu tahun lebih dewasa dari Ratu, aku bisa dengan mudah mengatakan itu. Sudah merasakannya terlebih dahulu. Pun, terlahir sebagai anak sulung yang mempunyai banyak adik membuatku juga merasa seperti menjadi kakak bagi teman-teman yang usianya lebih muda. Aku punya banyak sekali adik-adikan yang bahkan kebanyakan dari mereka usianya hanya satu tahun di bawahku.

Menurutku, merasa lebih dewasa padahal perbedaan usia hanya terpaut satu tahun adalah hal yang wajar dan pantas saja. Aku juga punya kakak-kakakan yang bedanya hanya satu tahun di atasku. Kak Annet namanya.

Beberapa waktu lalu, Kak Annet memberitahuku banyak hal tentang dunia yang sebentar lagi akan kujejaki. Kalau dulu saat masih dekat-dekatnya aku dan kak Annet hanyalah anak SMP, sekarang aku sudah akan jadi mahasiswa, menyusul Kak Annet yang sudah semester dua.

Meski hanya beda satu tahun, aku melihat Kak Annet sebagai sosok yang jauh lebih dewasa dariku. Terlebih di kondisi seperti ini, aku belajar banyak sekali dari Kak Annet yang sudah berpengalaman beradaptasi di dunia perkuliahan. Aku ada di posisi seorang adik yang kagum dengan kakaknya.

Kak Annet sudah melewati beragam kejadian yang membentuknya jadi tahan banting seperti sekarang. Ia bilang, masa transisi dari anak sekolahan ke anak kuliahan akan membuatku jatuh bangun dan semuanya adalah proses menjadi lebih dewasa. Hingga nanti aku dapat dilihat oleh adik-adikku seperti aku melihat Kak Annet sekarang.

“Kamu mungkin akan kaget, Sal”

Kak Annet menganalogikan dirinya dengan olahan kentang. Saat masih jadi anak sekolah, ia adalah kentang mentah. Saat jadi mahasiswa baru selama dua semester, dirinya direbus, digoreng, ditempa sedemikian rupa hingga menjadi olahan kentang yang berguna. Kak Annet mempersiapkanku untuk direbus. Atau mungkin digoreng, atau bisa juga dikukus.

Seperti lirik lagu Beranjak Dewasa oleh Nadin Amizah yang dirilisnya untuk merayakan usia barunya, pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan. Menjadi 18 bagiku adalah permulaan untuk kisah-kisah yang lebih serius. Cerita pahit dan manis yang terjadi sebelum itu sudah kututup sebagai prolog hidupku.

***

Hari ini, sebelum aku memutuskan untuk menuliskan ini, aku mengobrol singkat dengan salah satu mantan yang membuatku belajar banyak hal. Salah satunya adalah memperluas hati.

Dari semua kisah cinta yang pernah kujalani, dua yang terakhir adalah yang paling berkesan. Cinta masa SMA yang sedikit banyak berpengaruh pada hidupku. Mantanku yang terakhir ini usianya dua tahun lebih muda dariku. Aku tau sekali seperti apa orangnya. Terlebih di usianya yang baru 15 tahun Oktober kemarin, aku tahu kalau saat ini ia masih ada di usia dating someone for experiences.

Sebelum bisa jadi teman, hubunganku dengannya sangat complicated. Kenal karena pernah satu SMP, dan putus karena ternyata dia hanya menjadikanku pelampiasan. Aku lagi-lagi belajar mengikhlaskan.

Aku senang bisa sampai di titik memaklumi apa yang pernah terjadi. Hari ini, saat berkirim pesan dengannya lagi, aku jadi paham sesuatu. Aku mengerti bahwa hubungan dengan perbedaan usia di masa sekolah sulit untuk dijalani. Berbeda jika terjadi di usia 20-an. Di kondisi kami, aku sudah beranjak dewasa, sedang butuh-butuhnya support system untuk menunjangku menjalani hari sembari berjuang. Sedangkan ia terjebak di status anak SMA kelas dua (sekarang kelas tiga) dengan usia yang masih senang untuk mencoba-coba. Aku paham alasan hubungan kami pernah terjadi. Ini untuk mendewasakanku dan mungkin untuk mempertemukannya dengan orang yang menyadarkannya. Aku akhirnya bisa menerima hal-hal yang terjadi di luar kendali kami berdua. Semuanya murni proses mendewasa.

Dia mungkin enggak pernah benar-benar suka padaku seperti aku jatuh padanya. Tapi aku tahu apa yang telah terjadi akan selalu punya tempat di pikirannya, akan selalu jadi bagian dari hidupnya.

Perihal perasaan, aku senang berhasil merelakan. Sebelum dengannya, aku punya cinta pertama. Untuk mengikhlaskan kalau aku dengan mantan pertamaku saat SMA itu ternyata nggak berjalan lama, aku butuh waktu kurang lebih dua tahun sampai akhirnya bisa jadi baik-baik saja.

Di titik ini, aku sudah enggak menyesali apa-apa yang pernah terjadi. Justru, aku bersyukur dapat ditempa dan bertemu mereka sebagai media bekalku memperluas hati. Selain karena dengan mereka aku pernah bersungguh-sungguh, apa yang terjadi di antara kami turut membentukku jadi seperti ini. Cerita cinta masa SMA yang akan selalu punya tempat di hati. Akan selalu ada bagian dari hatiku yang tertinggal untuk Adit dan Fasya, nggak peduli seberapa jauh kakiku melangkah nantinya.

Aku senang bisa menulis seperti ini, menandakan aku sudah satu level lebih dewasa dibanding diriku di tahun lalu.

Menjadi 18 ternyata nggak buruk ketika aku sadar dan bersyukur.

Desember lalu aku pernah bilang kalau tahun ini akan terjadi banyak hal yang besar. Desember lalu aku pernah berkata mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih serius di tahun ini, mengingat usiaku akan jadi delapan belas. Benar saja, bahkan saat belum genap 18 aku sudah memulai hal-hal baru. Sesuatu yang cukup besar untuk ada di tanganku.

Setengah bulan setelah jadi 18 pun banyak membawaku pada kesibukan yang kutahu pasti memengaruhi proses diri. Banyak hal yang perlahan namun tiba-tiba sampai padaku, hal-hal yang tak pernah terpikir akan terjangkau olehku. Pelan-pelan aku menerima beban, pelan-pelan aku mengambil tanggung jawab. Berbagai tawaran dan pilihan datang padaku di tahun ini sebagai pertanda dari Tuhan bahwa aku sudah bukan anak remaja yang gentar jadi besar. Sedikit-sedikit aku sudah jadi diriku yang baru.

Menjadi 18 ternyata nggak menakutkan ketika aku sadar dan bersyukur.

Di ulang tahunku tahun ini, aku dikelilingi orang-orang yang kusayang dan menyayangiku. Meski nggak secara langsung seperti tahun kemarin, aku bersyukur karena kebahagiaannya berlanjut sampai hari-hari setelahnya. Nggak seperti di tahun lalu, satu hari setelah ulang tahun aku sudah ingin mati, yang kupikir-pikir karena waktu itu aku belum bisa merelakan sesuatu.

Tahun ini aku punya catatan panjang tentang kebahagiaan. Terima kasih untuk Rani–maba IPB–yang membuatkanku tulisan tentang betapa berharganya aku di kehidupannya. Terima kasih untuk Qanita atas rekaman suara wujud syukurnya akan hadirku di dunianya. Terima kasih untuk Dinda yang mengucapiku dengan surat formal m, juga kepada Salma yang memberi ucapan lewat kode barcode yang harus di-scan. Terima kasih untuk Elian yang menyelamatiku di secreto, untuk Bunda Caca yang membuatkanku video, untuk Tika yang membuatkanku video handletter-nya, untuk Denisa yang kalimatnya selalu bisa membuatku bahagia, juga untuk Ina yang menemani pergantian usiaku lewat panggilan suara.

Terkhusus untuk teman-teman yang mengirimiku kue dan bingkisan, Widya dengan kue coklat paling enak yang pernah kumakan, Juliyanti dengan risol coklat dan tahu bakso langganannya, Ivena dengan kue lebaran produksi rumahnya serta kado yang tak kusangka, Nida dengan kue bantal lembut yang tiba-tiba, serta Halida dengan dessert box dan bingkisan lainnya, terima kasih atas usaha dan wujud cinta kalian.

Untuk teman-teman yang turut melangitkan doa, mengirimiku pesan cinta, ucapan selamat dengan bahagia, atau bahkan mengunggah fotoku di story instagram, terima kasih. Terima kasih telah jadi bagian dari rasa syukurku.

Teman-temanku tersayang, nggak peduli seberapa banyak orang yang akan kukenal dan menjadi bagian hidupku nanti, kalian yang ada sampai saat ini nggak akan pernah terganti. Semuanya punya porsi masing-masing di hidupku, nggak akan ada yang bisa menggeser posisi kalian, siapa pun dan kapan pun itu.

Banjarmasin, 6 Juni 2020.

Amerta

Amerta, kata yang menggambarkan perjalanan kita. Ia berarti abadi, seperti rangkaian kisah yang terpatri serta rajutan mimpi-mimpi. 

Hari ini, tepat pada Hari Pendidikan Nasional, angkatan 2017-2020 resmi dinyatakan lulus tanpa adanya suatu prosesi. Berpisah secara tiba-tiba, dipaksa menghadapi kenyataan ketika pandemi usai sudah tercerai-berai. Kisah kita selesai.

(Bahkan sejak kau menanggalkan seragam pramuka hari itu, sejak kau meninggalkan gerbang sekolah yang membisu)

–bielb

 

“Mulai hari ini kita tiada status. Pelajar, sudah bukan. Mahasiswa, belum juga. Lantas, apakah kita?” 

“Pejuang.”

–bielb

Rasanya aneh. Tak terdefinisikan. Yang aku dan teman-teman sekolahku tahu hari itu adalah hari terakhir ujian sekolah di minggu pertama. Masih ada minggu kedua dan ujian nasional. Melangkah keluar gerbang sekolah dengan santai, tanpa gelagat perpisahan, tanpa mengabadikan kebersamaan.

Keadaan begitu cepat berubah. Dalam waktu dua hari selama kami menikmati akhir pekan sebagai rehat di sela-sela ujian, terputuskan bahwa kami tidak bisa masuk sekolah lagi. Kemudian minggu-minggu berikutnya sungguh di luar dugaan.

Ujian Nasional dihapuskan, kebijakan seleksi masuk perguruan tinggi berubah mengikuti kondisi. Beberapa daerah dilockdown, kota-kota menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Semua orang dikarantina, baik itu di rumah sakit, maupun di rumah sendiri. Keadaan dunia begitu mengkhawatirkan.

Imbasnya sungguh terasa padaku dan teman-teman seangkatan. Semua jadi serba daring, bahkan kelulusan. Tiada perpisahan. Rasanya aneh, tak terdefinisikan. Tiba-tiba lulus tak bersyarat, tanpa jabat tangan dan prosesi pengalungan, tanpa bersolek dengan jas atau kebaya, tanpa toga, tanpa perayaan.

Tadi malam aku menangis. Menyadari akan jadi alumni dan menutup lembaran masa SMA. Mengakhiri 12 tahun wajib belajar. Aku menghubungi dua orang teman lama. Salah satunya adalah mantan pacar saat baru masuk SMA, cinta pertama. Sudah dua tahun sejak kisah kami berdua yang penuh drama. Aku hanya mengungkapkan emosi sedih dan terima kasih karena ia pernah mau saat aku masih buruk-buruknya, sudah jadi bagian besar dari perjalananku di SMA. Sekarang, usai sudah bab hidupku yang ada dirinya. Kami sudah lulus SMA.

Selain teringat kisah kasih di sekolah, aku juga seakan terbayang rangkaian cerita yang pernah kulalui tiga tahun ini. Pahit manis yang membuatku jatuh bangun berkali-kali. Di otakku bagai film yang menayangkan rangkuman perjalanan. Seperti baru beberapa waktu lalu aku memantau PPDB, sudah berakhir saja.

Aku pun teringat kata-kata yang kupilih di profil buku tahunanku, “Wow i survived highschool.” And yes, i survived it. I closed the book. 

SMA adalah perjalanan yang sangat melelahkan. Kenangan sekolah yang mustahil selalu indah. Seringkali aku jatuh, tak mampu berdiri, mencoba bangkit, tertatih dan terseok. Enggak, aku nggak akan berkata prosesku seorang diri. Faktanya, selalu ada teman yang menemaniku menjalani hari-hari mencari terang. Selalu ada yang berusaha dan belajar menerimaku, seburuk-buruknya aku. Terima kasih, terima kasih sudah jadi bagian dari itu.

Tapi aku nggak ingin mengingat SMA dengan kelam-kelamnya saja. Tak terhitung berapa ratus hari bahagia yang dianugerahkan padaku. Semuanya berharga karena gak akan pernah bisa diulang kembali.

SMA sudah begitu banyak mengubahku. Mulai dari penampilan, sifat, bahkan pelajaran hidup yang kudapat di luar materi sekolah. Proses menjadi dewasa rasanya nano-nano, ya. Meski kuakui gak semua materi IPA melekat di kepala, banyak sekali yang kupelajari di SMA. Termasuk tentang kita hanya bisa berteman dengan beberapa, di antara seluruh raga yang dipertemukan di sana. Garis takdir yang kebetulan bertemu di satu titik, tapi nggak berjalan searah.

Sedih sudah harus berhenti mencipta cita rasa masa remaja. Tadi malam kuhabiskan dengan mengedit video kenangan kelas yang ingin kuunggah di IGTV, tapi sampai sekarang selalu gagal disimpan. Tadi malam juga aku menemukan lagu perpisahan dengan suasana 90an yang nyaman untuk didengarkan. Judulnya Masa SMA dari Angel 9 Band. Mungkin kalian bisa coba dengar, enggak kalah sedih dari lagu Sampai Jumpanya Endak Soekamti atau lagu-lagu Sheila On 7. Kayaknya nanti kalau aku dengar lagi lagu ini akan ingat masa-masa kelulusan.

Hidup gak pernah terlepas dari proses adaptasi, ya. Ketika kita sudah berhasil mengenal dan mencocokkan diri dengan situasi, kita malah harus pergi. Sekolah sudah bukan untuk kita, tapi akan selalu jadi tempat kita. Tempat aku dan kalian pernah bersama.

Seorang adik kelas menyelamatiku saat aku mengunggah surat pernyataan kelulusan. Aku tertegun membacanya. Aku bahkan lupa memberi selamat untuk diri sendiri. Selamat karena seharusnya aku senang, selamat karena aku sudah berhasil, selamat karena sudah lewat, selamat aku mampu berjuang. Aku lupa menghargai diriku sendiri. Selama ini aku hanya terfokus pada kesedihan harus berpisah.

Kata mama, “Nanti kalau kalian bertemu lagi, namanya sudah bukan perpisahan, tapi reunian.”

Benar juga. Jadi, kapan kita reunian?

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat merayakan kelulusan tanpa perayaan. Selamat merelakan.

 

Banjarmasin, 2 Mei 2020. 

yang selalu mengeluh karena seluruh sekolah warnanya hijau.

 

 

 

 

 

Di Penghujung April

Ada hal yang membuatku tertegun tadi pagi. Story kenangan satu tahun lalu di instagram yang kusadari sedikit kulupa rasanya.

30 April 2019 lalu aku masih jadi anak SMA kelas 11 yang benar-benar menghabiskan satu hari di sekolah full kegiatan. Gak kayak beberapa bulan belakangan selama di kelas 12 semester dua yang banyak jam kosongnya, waktu itu aku beneran berkegiatan seharian. Ada perasaan aneh di hatiku melihat fakta itu, aku sudah lupa rasanya full belajar dan berinteraksi satu hari penuh. Ditambah lagi, mulai dari kelas dua belas aku sudah tidak begitu memperhatikan pelajaran di sekolah, jadi yaa.. kayak gak belajar. Gak ingat apa-apa, terakhir fokus belajar di sekolah mungkin saat kelas sebelas. Aku kangen rasanya jadi anak sekolah.

Hari itu, satu angkatan dikumpulkan di aula untuk pengundian sidang karya tulis ilmiah. Sekolahku memang punya program karya tulis ilmiah untuk anak kelas sebelas. Nah, yang kebagian sidang hari itu salah satunya adalah Ravi, sahabatku. Aku ingat betapa gugupnya saat guru-guru penguji mengambil acak karya tulis yang ditumpuk di meja. Saat itu aku bikin story dua kali. Foto banner sidang dengan caption “Wish us luck”, dan foto Ravi yang sedang presentasi karya tulisnya di depan satu angkatan dengan caption “Mendengarkan ravi untuk kedua kali” karena memang malam sebelumnya dia menelponku untuk ‘presentasi’.

Agak siangan dikit, sebelum pelajaran matematika wajib (aku ingat karena waktu itu kami ditegur wali kelas), aku dan Halida memetik buah jambu di depan ruang guru bersama Pak Jali, guru olahraga. Seru banget. Persis di depan ruang guru, kemudian ibu Samitun keluar dan menegur kami yang masih di luar. Kami seharusnya berada di kelas pada saat itu, menunggu beliau datang ke kelas. Waktu itu aku bikin story dua kali, ngevideoin Halida yang mengumpulkan buah jambu yang jatuh dari pohon, dan foto hasil kami memetik.

Saat istirahat, aku dan teman-teman cewekku mengeluarkan dessert banoffee yang kami buat sehari sebelumnya di rumah Halida. Waktu itu seru banget, di tengah-tengah bikin banoffee, Salgong lari-lari dikejar adiknya Halida sambil berdebat yang nggak penting. Aku ingat karena kemarin juga ngelihat story kenangan satu tahun lalu. Seperti biasanya, anak-anak cowok selalu berebut makanan apapun yang kami bawa. Aku bikin story waktu mereka berebut makan banoffee kami. Mereka –teman teman cowokku itu, masih terlihat culun dan gak sekeren sekarang, haha.

Sebelum pulang sekolah, ada pelajaran Kimia. Aku bikin story foto Dimas lagi ngaduk gelas beaker di atas spiritus (aku googling dulu sih ini nama-nama alatnya, terbukti gagal jadi anak IPA kan haha). Aku lupa waktu itu lagi praktikum apa, yang jelas kangen pake jas lab dan main ke laboratorium. Laboratorium di sekolahku letaknya di sebelah kantin, jadi kalau mau ke lab mesti lewat kantin dulu. Enak banget, selesai praktikum langsung jajan.

Pulang sekolah, seperti biasa aku kulineran dulu sama Cangnai dan Ozan. Mereka berdua partner makan dan partner jalanku banget sejak kelas 11. Kami bertiga sering banget kelilingin Banjarmasin buat nyari makan. Biasanya sih nyobain bakso-bakso atau warung kepiting. Nah hari itu, kami makan di BPJS. Warung makan yang ada di kawasan kuliner dekat sekolahku, murah meriah dan sering jadi basecamp anak-anak Smaven. Pokoknya, kalau kesana pasti ketemu anak Smaven, entah itu temen seangkatan, kakak kelas, adik kelas, atau alumni. Serius deh! Buktinya waktu itu kami ketemu sama Suci dan Rifky. Aku ingat karena waktu itu bikin story, captionnya “Definisi kesedihan hidup” karena dikelilingi dua pasangan.

Melihat semua story kenangan hari ini satu tahun lalu membuatku menghela napas. Betapa kondisinya sekarang sangat berbeda. Aku ditampar fakta yang sering

kali kulupa, kalau hidup terus berjalan. Dikarantina di rumah saja dan sudah lulus dari sekolah membuatku sedikit lupa rasanya berkegiatan layaknya anak sekolah. Keseharian yang mungkin saat aku sudah kuliah nanti bakal bener-bener kulupa suasananya. Sedih aja.

Hari ini tadi aku memakai kembali seragam putih abu-abuku, untuk keperluan konten tiktok. Aku memasang lensa lagi, dandan lagi, merapikan kerudung sekolah yang licin lagi, rutinitas pagiku selama masih sekolah. Aku menghabiskan sekitar dua jam cuma untuk bikin video tiktok doang, aku masih cocok banget pakai seragam anak SMA. Styleku emang rada feminim gitu sih, apalagi didukung tubuhku yang kecil pendek, aku gak bisa ngebayangin gimana penampilanku saat kuliah nanti. Bakal gimana ya?

Hari ini dan satu tahun lalu beda banget. Selesai sahur aku gak belajar, malah tidur lagi dan bikin video tiktok begitu bangun. Setelahnya, aku rekaman untuk podcast yang bener-bener bikin frustasi karena ada aja kendalanya. Belum selesai recording seluruh isi naskah (karena terkendala di tengah-tengah), aku nulis ini untuk jadi catatan pengingat saja. Belum ada belajar sama sekali, mungkin setelah ini. Beberapa jam lagi buka puasa. Aku rindu bukber, rindu pergi ke luar, rindu berinteraksi langsung dengan teman-teman, rindu suasana kota, rindu keseharianku sebelum new normal ini, rindu dunia di luar sana serta keseruannya.

Ya ampun, mellow banget ya? Emang udah mendekati harinya aku datang bulan, sih. Besok udah bulan Mei aja, tinggal hitungan hari lagi waktuku sebagai remaja 17 tahun. Kadang, aku takut jadi dewasa. Aku ingat duluuuu waktu masih berusia 13 tahun, aku takut banget membayangkan bakal berumur 14. Kayak.. di pikiranku waktu itu 14 tahun tuh tua banget dan gak kebayang di otakku. Kayak serem aja.

Eh tau-taunya aku sekarang sudah mau 18 tahun, dan kembali merasakan ketakutan. Sebenernya hampir tiap tahun sih aku ketakutan saat menjelang ulang tahun. Takut berumur tujuh belas, gak nyangka udah terhitung bukan anak-anak. Takut berumur delapan belas, memasuki usia kuliah dan menuju dewasa. Heran, kok usia 35 bisa dibilang muda? Persepsi sih ya.. kalau yang belum 35 pasti mikirnya tua umur segitu, tapi kalau yang sudah lewat 35, 35 tuh muda…

Gak jelas banget, ya? Cewek mau haid emang gak jelas banget. Bahkan, sekarang aja aku lagi mikir untuk belajar atau bikin cireng, ya? Di rumah ada dua kotak kue bolu kiriman teman mamaku, tapi sekeluarga kurang sreg lidahnya dengan kue-kuean. Lebih suka cireng, seblak, boci, dan yang pedes asin (tapi ini cuma berlaku untuk aku dan adikku), padahal aku suka banget bikin kue atau dessert, cuma kalo makannya kurang suka.

Iya, aneh banget ya? Gak sih kalo kataku…

Tuh kan gak jelas banget ini udah macam tulisan anak SD yang baru ngeblog aja.. kayaknya tulisan ini sih yang paling gak berbobot di antara semua tulisanku di blog ini. Oiya, doain record podcastnya lancar ya temen-temen, frustasi banget!!

Banjarmasin, 30 April 2020. 

Cewek yang katanya bentar lagi 18, tapi kok sekarang kayak anak-anak.

(tapi bisa dewasa kok!!)  

 

Tentang 2020, bagian satu.

Mari kita bicara tentang tahun dua ribu dua puluh.

Ini sudah hampir sebulan sejak postingan ketigaku di tahun ini yang kusetting jadi private karena berisikan ungkapan perasaan pada seseorang secara gamblang. Tulisan pertama yang kubuat dengan lancar dan tanpa kendala, yang kemudian langsung kutarik setelah dibaca orang yang bersangkutan. Surat cinta itu cuma salah satu dari hal-hal gila di awal tahun ini.

Teringat Desember tahun kemarin, betapa aku menggembor-gemborkan pada dunia kalau 2020 adalah tahun dimana aku akan memulai diriku yang baru. Tahun pergantian fase sekolah ke fase kuliah. Tahun yang akan kuperjuangkan habis-habisan. Tahun yang membawa kita semua pada ujung sekaligus awal mula bagian lain hidup kita.

Pada saat itu, aku maupun kamu, cuma bisa memperkirakan akan jadi seperti apa kita nantinya. Aku membayangkan diriku menginjakkan kaki keluar dari zona nyaman, kamu mungkin berencana ke luar kota. Kita semua mungkin sudah merancang langkah-langkah tujuan indah.

Nyatanya saat ini kita malah terperangkap situasi. Benar-benar gak ada yang menduga kalau awal tahun sebegini kacaunya. Kita semua dikarantina. Bahkan, kotaku sendiri sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala hal gak berjalan sesuai rencana awal. Pandemi ini sudah jadi bencana nasional yang berdampak pada.. sepertinya semua faktor kehidupan?

Ekonomi, krisis. Pekerjaan, dibawa ke rumah. Pendidikan, sudah gak perlu ditanya. Apalagi untuk anak kelas tiga SMA, dampaknya pada pendidikan sangat terasa. UN dihapus, perpisahan ditunda atau bahkan gak ada, UTBK diundur dan dikurangi beban ujiannya, tapi tahun ajaran baru pun masih belum jelas kapan. Hanya bisa berharap semoga tahun ini gak dihabiskan di rumah saja.

Ngomong-ngomong di rumah, aku diam-diam menikmatinya. Bersyukur dapat di rumah saja, enggak harus berjuang di tengah keadaan sekarang. Meski hobiku masih tetap keluyuran, aku tetap bisa menikmati keberuntungan ini. Aku bilang keberuntungan, karena gak semua orang punya privilege sepertiku. Seperti kita.

Kelas dua belas semester satu jadi hari-hari tersibukku. Sekolah sampai sore, dilanjutkan bimbel sampai magrib, kemudian les TOEFL pada malam harinya dan begitu terus rutinitas yang kujalankan selama berbulan-bulan. Capek, gak ada waktu untuk hal-hal lain karena begitu di rumah langsung ketemu kasur. Tidur. Weekend gak ada yang namanya belajar, aku memaksimalkan waktu liburku untuk bermalas-malasan. Atau kadang-kadang pergi ke luar untuk kulineran.

Waktu itu, sering banget curi-curi kesempatan untuk bolos les. Masih teringat betapa masa itu aku sangat mendambakan hari libur agar aku bisa istirahat dan mulai membenahi hal lain dari hidupku selain belajar. Sekarang, aku punya hari libur yang belum jelas batasnya.

Selama masa karantina, aku seperti gak bisa santai ketika tersadar bahwa aku masih harus belajar. Aku belum punya kampus. Makanya, bulan-bulan di rumah saja ini kusadari harus kumaksimalkan untuk mempersiapkan masa depan. Aku ingat pernah ngeluh di kelas kalau rasa-rasanya ingin gak masuk sekolah satu hari aja untuk fokus belajar UTBK, karena aku memilih untuk lintas jurusan dari IPA. Sekarang, aku sudah gak masuk sekolah lagi.

Aku gak pernah terlatih jadi ambis sebelumnya. Ini suatu keharusan yang kadangkala juga membuatku tertekan. Minggu lalu aku berada di fase jenuh belajar. Muak dan pusing ketika membuka semua sosial media yang kupunya, selalu kutemukan materi pelajaran atau konten bernuansa masa depan. Sampai akhirnya aku membuat akun instagram dan twitter baru khusus untuk hiburan. Yang isinya bersih dari poster pendaftaran tryout online atau hasil capaian belajar saingan-sainganku di luar sana.

Selain lebih serius lagi dalam belajar, aku menyadari sedikit perubahan pada diriku di tahun ini. Mungkin buah dari kata-kataku Desember lalu tentang aku yang akan memulai versi diriku yang baru.

Hal-hal yang kurasakan berbeda pada diriku utamanya adalah kestabilan emosi. Aku jadi lebih bisa mengontrol suasana hati dan menjaganya untuk tidak mengacaukan hari. Quality time bersama keluarga benar-benar terasa. Aku jadi lebih sering ngobrol dengan adik-adikku, melakukan pekerjaan rumah seperti beres-beres yang jarang kulakukan waktu masih sekolah, masak dan mencoba berbagai resep dessert karena aku lebih suka baking daripada cooking.

Aku juga jadi lebih produktif. Hari-hari pertama karantina kuhabiskan dengan melahap buku yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca. Cuma dua buku sih, karena stok bukuku sudah habis dan sedang gak bisa ke gramedia. Mau belanja buku online, tapi takut malah jadi enggak belajar. Sedangkan prioritasku selama karantina adalah belajar, belajar, istirahat, tidur, dan belajar.

Hari-hari selanjutnya, aku mengurus project JPTB 2019. Aku dan teman-teman tim kreatif membuat project video persembahan alumni Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2019 sebagai bentuk kepedulian atas isu yang sedang menimpa dunia. Virus corona. Aku bertindak jadi yang lumayan sibuk, rencananya proses dibalik pembuatan video akan kutulis nanti kalau videonya sudah jadi. Sekarang, sih, sedang proses editing.

Bangga rasanya di usia 17 tahun sudah ikut menghandle project segede itu.

Oh iya, aku juga bikin podcast. Bareng sama Rani. Rilis perdana bulan April, aku lupa tanggal berapa. Episode pertamanya dirilis tanggal 14 kemarin, bertepatan dengan ulang tahun Rani. Namanya Interferensi Cahaya. Berisi tentang hal-hal yang mengganggu pikiran kami berdua. Punya podcast dan didengarkan oleh banyak orang adalah salah satu perubahan yang lumayan besar dalam hidupku dan Rani di tahun ini.

Rasanya senang dan puas di usia 17 tahun aku sudah punya podcast dan berpengalaman menghandle project secara online, yang mana pengalaman tersebut sangat berkesan buatku. Mewarnai hari-hari terakhirku di usia tujuh belas.

Aku juga sudah mulai olahraga. Kalau dulu hanya sebatas wacana, sekarang sudah jalan tiga hari dan semoga aku bisa konsisten melakukannya.

Perlahan, aku mewujudkan kata-kataku tentang menjadi diri yang baru. Olahraga sebagai tahap menuju puberty, rutin merawat wajah dan tubuh, belajar serta menyerap ilmu dari sekitar, latihan ngomong di podcast, nulis, masak-masak, latihan berorganisasi lewat project kemarin, semuanya adalah bagian dari proses meningkatkan kualitas diri. Targetku, ketika masuk kuliah nanti, aku benar-benar jadi Salsa yang berbeda dari Salsa waktu SMA, dengan penampilan dan isi pikiran yang lebih baik tentunya.

Karantina masih panjang. Entah akan berapa bulan lagi. Masih punya cukup waktu untuk menggapai semua tujuan, atau setidaknya resolusi tahun ini. Masih punya kesempatan untuk menikmati hidup sebelum masuk kuliah, bercengkerama dengan keluarga atau mengurus diri sendiri yang bisa jadi akan kulewatkan nanti ketika sudah jadi mahasiswi.

Nanti aku pasti rindu rumah.

Nanti aku pasti rindu waktu luang tanpa terikat peraturan orang lain selain diriku sendiri. Nanti aku pasti rindu ketika uang tabunganku aman karena gak pernah kupakai kulineran, ketika kunci motor gak lagi hilang-hilangan karena sudah gak pernah kuambil dari gantungan, ketika sepatu tergeletak rapi dan mataku gak harus dipasang lensa setiap hari.

Banjarmasin, 20 April 2020. 

Pukul sembilan lewat empat puluh delapan.